Dengan asumsi Ro yang dipergunakan memang telah akurat, apakah tidak ada kemungkinan bahwa Gradient Geothermal (GG) yang pernah ada dulu ternyata lebih rendah daripada GG yang terhitung sekarang? Tapi mestinya jika GG sekarang memang lebih tinggi daripada GG dulu, berarti Ro yang terukur sekarang seharusnya adalah Ro maksimum dong.
Ada sebuah paper yang mungkin bermanfaat, ditulis oleh Pak Mochamad Thamrin (Pertamina) dan dipublikasikan di Tectonophysics (1985). Baliau mengukur representative thermal conductivity (k) untuk tiap formasi di beberapa cekungan. Secara umum, hasil pengukuran beliau menunjukkan bahwa formasi yang muda memiliki nilai k rendah sedangkan formasi yang lebih tua memiliki k yang lebih tinggi. Nilai k ini meningkat dengan meningkatnya kedalaman dan derajat kompaksi. Kemudian, hasil pengukuran k dan perhitungan GG dari Bottom Hole Temperature itu direratakan sedemikian rupa sehingga muncullah sebuah angka GG yang diasumsikan bisa digunakan untuk cekungan. Mungkin, kalau saya boleh menyarankan, Febrie coba cek GG yang digunakan dengan GG yang dipublikasikan oleh Pak Thamrin. Jika berbeda, bandingkan hasil thermal modelling dengan menggunakan GG hasil perhitungan sendiri dan GG dari publikasi itu. Mudah-mudahan membantu. Salam mnw 2009/2/3 Awang Satyana <[email protected]>: > Febrie, Pak Iman, William dan rekan2 milis, > > Terima kasih atas jawaban Pak Iman. Hal2 yang Pak Iman kemukakan bisa > merupakan penyebab perbedaan hasil pemodelan termal dengan measured Ro. Maka, > ada baiknya Febrie melakukan satu per satu pemeriksaan kembali sesuai saran2 > Pak Iman butir no.1 – 3. > > Beberapa tanggapan atas saran Pak Iman : > > (1) Pengukuran FAMM (fluorescence alteration of multiple macerals) > walaupun unggul, dan tak suka menunjukkan supression (penurunan nilai terukur > daripada nilai sebenarnya) seperti Ro, tak banyak dilakukan sebab selain > mahal juga pemahaman tentang FAMM belum menyeluruh di samping Ro sudah > terlanjur sangat populer. Masih ada metode koreksi yang jauh lebih murah > daripada FAMM dan cukup bisa diandalkan. > (2) Metode perhitungan GG kelihatannya sudah terkoreksi dengan > menggunakan corrected BHT. > (3) Pemilihan jenis litologi di modul software yang tersedia belum tentu > cocok dengan real stratigraphy yang ditembus sumur, sehingga konduktivitas > termal yang diterapkan tak cocok dengan kenyataannya. > > Menjawab pertanyaan Febrie : > > Pertanyaan no. 1 > > Kalibrasi adalah proses meminimalisasi perbedaan antara modeled output dengan > measured values sedemikian rupa agar terjadi "best fit" antara measured dan > modeled data. Pemodel yang berpengalaman biasanya punya naluri/cara > masing-masing untuk mencapai best fit ini berdasarkan trial and error yang > pernah dialaminya dan "good feeling" mereka. Tujuan mengkalibrasi juga jangan > hanya untuk mencocokkan nilai yang diperoleh dengan model terhadap nilai > terukur. Bila telah cocok lalu berhenti, maka hasil kalibrasi tersebut belum > tentu bisa dipakai di berbagai situasi/lokasi. Harus dilakukan sensitivity > anlalysis dengan menggunakan berbagai measured parameters (kalau dengan Ro > bagaimana, dengan T max bagaimana, dsb.). Bila telah dilakukan sensitivity > analysis dengan berbagai model tetap terjadi best fit, maka model bisa > diyakini benar dan berharga untuk keperluan prediksi di berbagai situasi dan > lokasi. > > Dasar (parameter terukur) yang paling tepat untuk dijadikan landasan dalam > kalibrasi thermal modeling sebenarnya tidak ada, masing-masing punya > keunggulan dan kelemahannya sendiri2; maka menggunakan berbagai parameter > daripada hanya satu saja adalah lebih baik (sensitivity analysis). > Menggunakan VR biasanya paling banyak dilakukan (tetapi dalam hal Ro > mengalami supression, kemudian langsung dipakai tanpa mengoreksinya, maka tak > akan terjadi kecocokan antara nilai model dengan nilai terukur). Menggunakan > SCI (spore coloration index) baik, tetapi kontrol stratigrafi harus lebih > hati2. Menggunakan Tmax baik karena datanya banyak, tetapi biasanya > sebarannya scattered. Menggunakan biomarker isomer ratios excellent, tetapi > jarang dilakukan analisis lab-nya. Menggunakan AFTA (apatite fission track > analysis) baik, tetapi tak umum untuk banyak kasus, cocok untuk sumur2 yang > menembus unconformity. Menggunakan smectite/illite ratios cocok untuk > temperatur tinggi > saja. > > Saran saya : cek dulu input parameters untuk membangun 1D basin modeling itu > (seperti saran Pak Iman), kemudian cek juga measured parameter yang akan > mengkalibrasinya, jangan menggunakan parameter yang secara analisis tidak > disarankan dipakai (misalnya supressed VR). > > Pertanyaan no. 2 > > Kalau input parameters untuk 1D basin modeling (GG, jenis dan tebal litologi, > dll.) sudah benar, tetapi terjadi perbedaan signifikan dengan trend Ro, di > mana hasil thermal modeling lebih tinggi daripada measured Ro, maka yang > disebutkan Pak Iman (Ro supression) kemungkinan besar benar. > > Kita sebenarnya belum paham benar mengapa Ro supression terjadi sebab satu > penjelasan memuaskan di satu tempat, tetapi penjelasan yang sama ketika > diterapkan ke tempat lain ternyata tak memuaskan. Kebanyakan publikasi > cenderung mengatakan bahwa supressed Ro terjadi karena kondisi materi maseral > vitrinite-nya sendiri (karena itu mengukur kematangan dengan FAMM adalah > lebih baik sebab metode ini menggunakan berbagai maseral bukan hanya > vitrinite). Teknologi baru menggunakan VIRF (vitrinite-inertinite reflectance > and fluorescence) pun bisa mengatasi masalah Ro supression. > > Penyebab utama Ro supression yang banyak disebutkan para peneliti adalah > akibat (1) dominasi perhydrous vitrinite (kaya hidrogen) di antara maseral2 > vitrinite dan (2) keberadaan liptinite (kaya hidrogen) di samping vitrinite > dalam maseral. Perhatikan bahwa unsur H di sini ternyata selalu dianggap > sebagai penyebab Ro supression. Maka, secara praktis, bila satu kerogen punya > HI (hydrogen index) yang tinggi (>300), maka harus hati2 bahwa Ro-nya mungkin > mengalami supresi. > > Supresi Ro juga menurut beberapa peneliti akan terjadi di sampel-sampel > dengan kandungan exinite kerogen > 20 % (dari total kerogen), supresi Ro akan > cenderung makin terjadi dengan makin banyaknya kontribusi marin, tetapi juga > makin terjadi di lingkungan lakustrin. Juga katanya Ro supression ditemukan > banyak terjadi di overpressured zone. > > Untuk membuktikan bahwa Ro supression benar terjadi, secara sederhana dapat > dilakukan dengan membandingkan pengukuran thermal maturation menggunakan Ro > vs Tmax untuk suatu trend kedalaman. Bandingkan trend kematangan menggunakan > Ro dengan trend kematangan menggunakan Tmax. Bila analisis kematangan source > lengkap, menggunakan berbagai parameter, misalnya biomarker aromatik (methyl > phenanthrene) yang dilakukan spot di beberapa kedalaman akan lebih baik lagi; > kumpulkan semua trend kematangan itu dan lihat apakah trend kematangan > berdasarkan Ro lebih tak matang dibandingkan menggunakan parameter kematangan > yang lain. Bila ya, maka Ro mengalami supresi, lebih2 lagi kalau HI-nya > tinggi dan kerogen exinite/liptinite-nya > 20 % berdasarkan visual kerogen > analysis. Harus diwaspadai bila sampel diambil di kedalaman yang secara > termal matang, maka nilai HI-nya lebih rendah daripada sebenarnya. Bila benar > Ro mengalami supresi, maka jangan gunakan nilai itu untuk > kalibrasi sebelum dikoreksi. > > Cara sederhana mengoreksi nilai supressed Ro adalah menggunakan crossplot Lo > (1993). Crossplot ini cukup dapat dipercaya sebab hasil Ro setelah dikoreksi > menunjukkan nilai parameter yang sebanding dengan apabila menggunakan > parameter kematangan lainnya. Crossplot terdiri atas sumbu Y measured VR (% > Ro) dan sumbu X maximum true VR (% Ro). Di wilayah yang dibatasi dua sumbu > terdapat beberapa trendline Hio (o = original, artinya sebelum terpengaruh > kematangan –immature; ini bisa diperkirakan). Perbedaan antara measured Ro > yang supressed dengan true Ro (corrected) umumnya antara 0.1 – 0.2 % Ro, > tetapi perbedaan sampai 0.5 % secara teoretis mungkin saja. > -- - when one teaches, two learn - http://www.geotutor.tk http://www.linkedin.com/in/minarwan -------------------------------------------------------------------------------- PP-IAGI 2008-2011: ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro... -------------------------------------------------------------------------------- tunggulah 'call for paper' utk PIT IAGI ke-38!!! akan dilaksanakan di Semarang 13-14 Oktober 2009 ----------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ---------------------------------------------------------------------

