Pak Min,
 
Saya curiga Ro-nya mengalami retardasi atau supresi sehingga tak akurat. Itu 
bisa diuji dengan menggunakan parameter kematangan lain (Tmax, SCI, MPI, dll 
bila ada).
 
Peta Pak Thamrin dkk yang juga dipublikasi IPA (peta GG regional cekungan2 di 
Indonesia, dan peta heatflow regional cekungan2 di Indonesia) baik dipakai 
untuk melakukan pengkajian kapasitas generasi hidrokarbon setiap cekungan di 
Indonesia, terutama yang frontier.
 
Tetapi, sekali ada sumur dibor dengan BHT yang jelas, lalu dikoreksi 
menggunakan Horner plot atas time of circulation-nya, apalagi kalau ada data 
temperatur dari DST, tentu penentuan GG lebih tepat berdasarkan data sumur 
dengan menerapkan ambient surface temperature yang pas.
 
Variasi GG biasa terjadi di dalam satu cekungan. Bila satu cekungan mempunyai 
beberapa low areas yang dicurigai sebagai kitchen, maka menggunakan satu angka 
GG regional tidak akan menghasilkan modeling yang tepat. GG sumur yang terdekat 
dengan low areas akan mewakilinya, kemudian menariknya ke posisi pseudowell di 
low areas dan memodelkan 1-D thermal modelingnya.
 
Salam,
awang
 
-----Original Message-----
From: MINARWAN [mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, February 04, 2009 5:01 C++
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] RE: 1D modelling thermal calibration
 
Dengan asumsi Ro yang dipergunakan memang telah akurat, apakah tidak
ada kemungkinan bahwa Gradient Geothermal (GG) yang pernah ada dulu
ternyata lebih rendah daripada GG yang terhitung sekarang? Tapi
mestinya jika GG sekarang memang lebih tinggi daripada GG dulu,
berarti Ro yang terukur sekarang seharusnya adalah Ro maksimum dong.
 
Ada sebuah paper yang mungkin bermanfaat, ditulis oleh Pak Mochamad
Thamrin (Pertamina) dan dipublikasikan di Tectonophysics (1985).
Baliau mengukur representative thermal conductivity (k) untuk tiap
formasi di beberapa cekungan. Secara umum, hasil pengukuran beliau
menunjukkan bahwa formasi yang muda memiliki nilai k rendah sedangkan
formasi yang lebih tua memiliki k yang lebih tinggi. Nilai k ini
meningkat dengan meningkatnya kedalaman dan derajat kompaksi.
 
Kemudian, hasil pengukuran k dan perhitungan GG dari Bottom Hole
Temperature itu direratakan sedemikian rupa sehingga muncullah sebuah
angka GG yang diasumsikan bisa digunakan untuk cekungan. Mungkin,
kalau saya boleh menyarankan, Febrie coba cek GG yang digunakan dengan
GG yang dipublikasikan oleh Pak Thamrin. Jika berbeda, bandingkan
hasil thermal modelling dengan menggunakan GG hasil perhitungan
sendiri dan GG dari publikasi itu.
 
Mudah-mudahan membantu.
 
Salam
mnw

--- On Tue, 2/3/09, Awang Satyana <[email protected]> wrote:

From: Awang Satyana <[email protected]>
Subject: Re: [Forum-HAGI] 1D modelling thermal calibration
To: "Febrie Ekaninggarani" <[email protected]>, "William 
Romodhon" <[email protected]>, "RM Iman Argakoesoemah" 
<[email protected]>
Cc: "Eksplorasi BPMIGAS" <[email protected]>, "Geo Unpad" 
<[email protected]>, "IAGI" <[email protected]>, "Forum HAGI" 
<[email protected]>
Date: Tuesday, February 3, 2009, 10:03 PM







Febrie, Pak Iman, William dan rekan2 milis, 
  
Terima kasih atas jawaban Pak Iman. Hal2 yang Pak Iman kemukakan bisa merupakan 
penyebab perbedaan hasil pemodelan termal dengan measured Ro. Maka, ada baiknya 
Febrie melakukan satu per satu pemeriksaan kembali sesuai saran2 Pak Iman butir 
no.1 – 3. 
  
Beberapa tanggapan atas saran Pak Iman : 
  
(1)     Pengukuran FAMM (fluorescence alteration of multiple macerals) walaupun 
unggul, dan tak suka menunjukkan supression (penurunan nilai terukur daripada 
nilai sebenarnya) seperti Ro, tak banyak dilakukan sebab selain mahal juga 
pemahaman tentang FAMM belum menyeluruh di samping Ro sudah terlanjur sangat 
populer. Masih ada metode koreksi yang jauh lebih murah daripada FAMM dan cukup 
bisa diandalkan. 
(2)     Metode perhitungan GG kelihatannya sudah terkoreksi dengan menggunakan 
corrected BHT. 
(3)     Pemilihan jenis litologi di modul software yang tersedia belum tentu 
cocok dengan real stratigraphy yang ditembus sumur, sehingga konduktivitas 
termal yang diterapkan tak cocok dengan kenyataannya. 
  
Menjawab pertanyaan Febrie : 
  
Pertanyaan no. 1 
  
Kalibrasi adalah proses meminimalisasi perbedaan antara modeled output dengan 
measured values sedemikian rupa agar terjadi “best fit” antara measured dan 
modeled data. Pemodel yang berpengalaman biasanya punya naluri/cara 
masing-masing untuk mencapai best fit ini berdasarkan trial and error yang 
pernah dialaminya dan “good feeling” mereka. Tujuan mengkalibrasi juga jangan 
hanya untuk mencocokkan nilai yang diperoleh dengan model terhadap nilai 
terukur. Bila telah cocok lalu berhenti, maka hasil kalibrasi tersebut belum 
tentu bisa dipakai di berbagai situasi/lokasi. Harus dilakukan sensitivity 
anlalysis dengan menggunakan berbagai measured parameters (kalau dengan Ro 
bagaimana, dengan T max bagaimana, dsb.). Bila telah dilakukan sensitivity 
analysis dengan berbagai model tetap terjadi best fit, maka model bisa diyakini 
benar dan berharga untuk keperluan prediksi di berbagai situasi dan lokasi.   
  
Dasar (parameter terukur) yang paling tepat untuk dijadikan landasan dalam 
kalibrasi thermal modeling sebenarnya tidak ada, masing-masing punya keunggulan 
dan kelemahannya sendiri2; maka menggunakan berbagai parameter daripada hanya 
satu saja adalah lebih baik (sensitivity analysis). Menggunakan VR biasanya 
paling banyak dilakukan (tetapi dalam hal Ro mengalami supression, kemudian 
langsung dipakai tanpa mengoreksinya, maka tak akan terjadi kecocokan antara 
nilai model dengan nilai terukur). Menggunakan SCI (spore coloration index) 
baik, tetapi kontrol stratigrafi harus lebih hati2. Menggunakan Tmax baik 
karena datanya banyak, tetapi biasanya sebarannya scattered. Menggunakan 
biomarker isomer ratios excellent, tetapi jarang dilakukan analisis lab-nya. 
Menggunakan AFTA (apatite fission track analysis) baik, tetapi tak umum untuk 
banyak kasus, cocok untuk sumur2 yang menembus unconformity. Menggunakan 
smectite/illite ratios cocok untuk temperatur tinggi
 saja. 
  
Saran saya : cek dulu input parameters untuk membangun 1D basin modeling itu 
(seperti saran Pak Iman), kemudian cek juga measured parameter yang akan 
mengkalibrasinya, jangan menggunakan parameter yang secara analisis tidak 
disarankan dipakai (misalnya supressed VR). 
  
Pertanyaan no. 2 
  
Kalau input parameters untuk 1D basin modeling (GG, jenis dan tebal litologi, 
dll.) sudah benar, tetapi terjadi perbedaan signifikan dengan trend Ro, di mana 
hasil thermal modeling lebih tinggi daripada measured Ro, maka yang disebutkan 
Pak Iman (Ro supression) kemungkinan besar benar. 
  
Kita sebenarnya belum paham benar mengapa Ro supression terjadi sebab satu 
penjelasan memuaskan di satu tempat, tetapi penjelasan yang sama ketika 
diterapkan ke tempat lain ternyata tak memuaskan. Kebanyakan publikasi 
cenderung mengatakan bahwa supressed Ro terjadi karena kondisi materi maseral 
vitrinite-nya sendiri (karena itu mengukur kematangan dengan FAMM adalah lebih 
baik sebab metode ini menggunakan berbagai maseral bukan hanya vitrinite). 
Teknologi baru menggunakan VIRF (vitrinite-inertinite reflectance and 
fluorescence) pun bisa mengatasi masalah Ro supression. 
  
Penyebab utama Ro supression yang banyak disebutkan para peneliti adalah akibat 
(1) dominasi perhydrous vitrinite (kaya hidrogen) di antara maseral2 vitrinite 
dan (2) keberadaan liptinite (kaya hidrogen) di samping vitrinite dalam 
maseral. Perhatikan bahwa unsur H di sini ternyata selalu dianggap sebagai 
penyebab Ro supression. Maka, secara praktis, bila satu kerogen punya HI 
(hydrogen index) yang tinggi (>300), maka harus hati2 bahwa Ro-nya mungkin 
mengalami supresi. 
  
Supresi Ro juga menurut beberapa peneliti akan terjadi di sampel-sampel dengan 
kandungan exinite kerogen > 20 % (dari total kerogen), supresi Ro akan 
cenderung makin terjadi dengan makin banyaknya kontribusi marin, tetapi juga 
makin terjadi di lingkungan lakustrin. Juga katanya Ro supression ditemukan 
banyak terjadi di overpressured zone. 
  
Untuk membuktikan bahwa Ro supression benar terjadi, secara sederhana dapat 
dilakukan dengan membandingkan pengukuran thermal maturation menggunakan Ro vs 
Tmax untuk suatu trend kedalaman. Bandingkan trend kematangan menggunakan Ro 
dengan trend kematangan menggunakan Tmax. Bila analisis kematangan source 
lengkap, menggunakan berbagai parameter, misalnya biomarker aromatik (methyl 
phenanthrene) yang dilakukan spot di beberapa kedalaman akan lebih baik lagi; 
kumpulkan semua trend kematangan itu dan lihat apakah trend kematangan 
berdasarkan Ro lebih tak matang dibandingkan menggunakan parameter kematangan 
yang lain. Bila ya, maka Ro mengalami supresi, lebih2 lagi kalau HI-nya tinggi 
dan kerogen exinite/liptinite-nya > 20 % berdasarkan visual kerogen analysis. 
Harus diwaspadai bila sampel diambil di kedalaman yang secara termal matang, 
maka nilai HI-nya lebih rendah daripada sebenarnya. Bila benar Ro mengalami 
supresi, maka jangan gunakan nilai itu untuk
 kalibrasi sebelum dikoreksi. 
  
Cara sederhana mengoreksi nilai supressed Ro adalah menggunakan crossplot Lo 
(1993). Crossplot ini cukup dapat dipercaya sebab hasil Ro setelah dikoreksi 
menunjukkan nilai parameter yang sebanding dengan apabila menggunakan parameter 
kematangan lainnya. Crossplot terdiri atas sumbu Y measured VR (% Ro) dan sumbu 
X maximum true VR (% Ro). Di wilayah yang dibatasi dua sumbu terdapat beberapa 
trendline Hio (o = original, artinya sebelum terpengaruh kematangan –immature; 
ini bisa diperkirakan). Perbedaan antara measured Ro yang supressed dengan true 
Ro (corrected) umumnya antara 0.1 – 0.2 % Ro, tetapi perbedaan sampai 0.5 % 
secara teoretis mungkin saja. 
  
Demikian Febrie, semoga cukup membantu. 
  
Didasari oleh minimalnya perhatian kepada ilmu petroleum geochemistry, 
sementara saya mengalami dan mengamati bahwa pengetahuan akan petroleum 
geochemistry banyak membantu mengurangi risiko kegagalan eksplorasi (jangan 
hanya mencari trap dan reservoir, pikirkan juga pengisiannya), maka sejak lima 
tahun yang lalu saya suka mengajarkan hal2 tentang petroleum geochemistry, baik 
formal (melalui kursus2) maupun nonformal (diskusi tatap muka, milis)  kepada 
kawan-kawan seprofesi. Berdasarkan pengalaman selama ini, saya menemukan bahwa 
petroleum geochemistry adalah sesuatu yang nilai prediktibilitasnya tinggi, 
karena sifatnya lebih eksak. 
  
Tentang kursus petroleum geochemistry yang saya bawakan pada dasarnya ingin 
memperkenalkan peserta kepada ilmu ini. Karena sifatnya memperkenalkan, 
sekaligus membangun dasar2-nya, maka mungkin tingkatnya bisa disebut 
elementary. Meskipun demikian, saya memilihkan konsep2 dan metode2 yang 
applicable dan ready to use untuk keperluan analisis eksplorasi maupun 
produksi. Juga dengan contoh kasus2 yang real yang sebagian besar merupakan 
hasil penelitian pribadi. 
  
Silabus kursus secara garis besar adalah sebagai berikut (jawaban atas 
pertanyaan William dan Febrie) : 
  
Introduction 
•     What is petroleum geochemistry ? 
•     What can petroleum geochemistry do ? 
•     How we have ignored petroleum geochemistry ? 
Chemical and Physical Properties of Petroleum 
Analytical Geochemistry 
•     Laboratory analyses 
•     Biomarkers 
•     Isotope geochemistry 
Source Rocks 
•     Organic matter, source, kerogen, and preservation in sediments 
•     Source rock depositional environments 
•     Source rock characterisation 
•     Evaluating source rocks from wireline logs 
Hydrocarbon Generation 
•     Maturity : optical and molecular parameters 
•     Petroleum generation and expulsion 
•     Volumetric calculations 
Hydrocarbon Migration 
•     Modeling paleo-migration 
Oil Geochemistry 
•     Oil properties 
•     Oil grouping 
Gas Geochemistry 
•     Gas properties 
•     Gas grouping (biogenic vs thermogenic gas) 
•     Non-hydrocarbon gases 
Oil/Gas to Sources Correlation 
•     Techniques using biomarkers 
•     Geochemical inversion 
In-Reservoir Alteration (biodegradation, retrograde condensation, etc.) 
Geochemistry in Petroleum System (elements and processes) 
Case Studies 
•     regional oil geochemistry of Indonesia 
•     regional gas geochemistry of Indonesia 
•     geochemistry of East Java Basin 
•     migration modeling of Salawati Basin 
•     using biomarkers for identifying new petroleum system Salawati Basin 
•          Oil alteration of Salawati Basin 
•          Coals as source rocks for oil of Barito Basin 
  
Salam, 
awang

--- On Tue, 2/3/09, RM Iman Argakoesoemah <[email protected]> 
wrote:

From: RM Iman Argakoesoemah <[email protected]>
Subject: RE: 1D modelling thermal calibration
To: "Febrie Ekaninggarani" <[email protected]>, "William 
Romodhon" <[email protected]>
Cc: "[email protected]" <[email protected]>
Date: Tuesday, February 3, 2009, 5:15 PM

Febrie, ada empat hal:

(1) lihat dulu apakah Ro plot itu terlihat sebagai supressed Ro yg bisa
mengakibatkan rendahnya nilai measured Ro. Kalau ya, harus dikoreksi melalui
pengukuran FAMM. Hal adanya suppressed Ro bisa terjadi di daerah yg inverted
basin apalagi yg sudah cukup severe.

(2) Coba lihat lagi apakah "metoda" perhitungan Geothermal Gradient
yg digunakan sudah sesuai? Apakah koreksinya sudah diterapkan dengan baik?

(3) Urut2an dan akurasi ketebalan litologi di software tsb apakah sudah sesuai
dengan litologi sumurnya? Kalau tidak, bisa ada heat conductivity yg berbeda.

(4) Suatu saat Febrie akan berhadapan dengan perbedaan yg "bisa"
lebih besar lagi, yaitu kalau temperature yg digunakan diambil dari data2 DST.

Barangkali itu yg bisa saya komentari. Komentar dari Pak Awang, tentunya akan
lebih mantap, silahkan Pak.

Thanks. Iman


-----Original Message-----
From: Febrie Ekaninggarani [mailto:[email protected]] 
Sent: Tuesday, February 03, 2009 3:17 PM
To: [email protected]
Cc: Geo Unpad; Forum HAGI; Eksplorasi BPMIGAS
Subject: [iagi-net-l] 1D modelling thermal calibration

Pak Awang,

Saat ini kami sedang melakukan 1D basin modeling untuk beberapa sumur dalam
suatu blok dengan menggunakan software. Hasil yang kami dapatkan menunjukkan
bahwa trend dan kisaran angka maturity dari corrected BHT (thermal maturation)
pada semua sumur tsb selalu berbeda dengan observed data vitrinite reflectance
(Ro).
Intinya : perbedaan antara thermal maturation dengan observed Ro cukup
signifikan dimana nilai thermal maturation lebih besar.

Tahap berikutnya yang biasa dilakukan adalah mengkalibrasi thermal maturation
terhadap Ro hasil pengukuran.
Sehubungan dengan itu, kami ingin menanyakan :
1. apakah dasar yang paling tepat untuk dijadikan landasan dalam kalibrasi tsb?
2. apakah ada real geological factor yang menjadi penyebabnya (perbedaan nilai
thermal maturation dengan observed Ro)?


Hal lain yang ingin kami tanyakan adalah tentang kursus. Kami menerima draft
kursus HAGI 2009 dan berminat untuk mengikuti kursus Bapak yang berjudul
Petroleum Geochemistry : Essential Concepts and Methods for Exploration &
Production yang akan diselenggarakan pada bulan April ini. Jika boleh tahu, apa
saja content dari kursus tsb Pak?

Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih.

This e-mail and any information contained are confidential and legally
privileged.  It is intended solely for the use of the individual or entity to
whom it is addressed and others authorized to receive it.  If you are not the
intended recipient, you are hereby notified that any disclosure, copying,
distribution or taking any action in reliance on the contents of this e-mail is
strictly prohibited and may be unlawful.  If you have received this e-mail in
error, please notify us immediately by responding to this e-mail or by telephone
MedcoEnergi IS Division Helpdesk on +62 21 83991234 then delete this email
including any attachment(s) from your system.  MedcoEnergi does not accept
liability for damage caused by any of the foregoing.  This e-mail is from PT
MedcoEnergi Internasional Tbk and Subsidiaries, having Registered Address at
Graha Niaga Level 16, Jakarta, Indonesia.

--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
tunggulah 'call for paper' utk PIT IAGI ke-38!!!
akan dilaksanakan di Semarang
13-14 Oktober 2009
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------


______________________________________________
The Indonesian Assosiation Of Geophysicists mailing list.
[email protected]
www.hagi.or.id


      

Kirim email ke