William,
 

BHT dikoreksi menggunakan informasi yang tersedia di log header sendiri (BHT 
measurement, time since circulation, depth). 
 
Recommended BHT correction method bergantung kepada ketersediaan informasi : 
- Horner correction, bila ada tiga atau lebih pengukuran BHT dari beberapa 
kedalaman
- Last resort correction, bila tak ada pengukuran multiple BHT. Menurut 
Corrigan (2003) tinggal menambahkan 18 deg C (33 deg F) kepada measured BHT. 
Angka itu berdasarkan studinya atas hampir 1000 pengukuran BHT. 
 
Saya belum pernah menerapkan last resort correction Corrigan (2003) sebab data 
BHT umumnya multiple - kebanyakan sumur punya beberapa kali logging run.
 
Publikasi dari Waples dan Ramly (2001), tak memerlukan Horner plot untuk 
koreksi BHT. Mereka menggunakan indeks fs (correction factor) yang dirumuskan 
sebagai : 
 
fs = (-0.1462 Ln (TSC) + 1.699) / (0.572 . Z exp 0.075)
 
dengan TSC = time since end of mud circulation (dalam jam) dan Z = depth 
(meter). Indeks fs ini nanti dikalikan terhadap BHT. Saya belum pernah mencoba 
formula ini dan membandingkannya bila kita menggunakan Horner plot.
 
BHT pada log header harus dikoreksi sebab data BHT pasti lebih dingin (setelah 
sirkulasi, apalagi yang bottom-up circulation) daripada sebenarnya.
 
Tentang OBM (oil based mud), ini hanya thermal tolerance mud, saya pikir tak 
mendinginkan formasi, tetapi menahan sifat lumpur saja agar tetap bagus 
fisiknya dengan temperatur formasi yang tinggi, maka koreksinya masih bisa 
menggunakan Horner plot. Saya tak pernah membaca publikasi bahwa BHT dalam 
sistem OBM punya koreksi tersendiri. Mungkin kawan2 lain silakan kalau ada 
pengalaman soal ini.
 
salam,
awang

--- On Wed, 2/4/09, Febrie Ekaninggarani <[email protected]> 
wrote:




From: Febrie Ekaninggarani <[email protected]>
Subject: [iagi-net-l] FW: [Forum-HAGI] 1D modelling thermal calibration
To: "[email protected]" <[email protected]>
Date: Wednesday, February 4, 2009, 9:36 AM

Forward,

-febrie-

________________________________
From: William Romodhon
Sent: Wednesday, February 04, 2009 9:05 AM
To: [email protected]; Febrie Ekaninggarani; RM Iman Argakoesoemah; Forum
Himpunan Ahli Geofisika Indonesia
Cc: Eksplorasi BPMIGAS; Geo Unpad; IAGI
Subject: RE: [Forum-HAGI] 1D modelling thermal calibration

Terima kasih atas semua masukan dari Bapak2.

Pak Awang,
Kaitannya dengan GG,
Temperature diambil pada saat lumpur masih berada di dalam sumur, sehingga
pembacaan temperature pasti lebih dingin dari yang sebenarnya. Apalagi untuk
logging yang dilakukan bottom-up, artinya waktu antara berhentinya sirkulasi
dengan waktu pada saat pengukuran semakin besar.
Setahu saya koreksi BHT dengan Horner Plot dapat dilakukan apabila pengukuran
BHT dilakukan lebih dari satu kali, misalnya dua kali logging pada kedalaman
yang sama, karena hasil akhirnya adalah penarikan garis berat yang linear.
Bagaimana kalau hanya satukali pengukuran?

Jika kita mempunyai data temperature log, apakah ini bisa digunakan untuk
perhitungan GG tanpa melakukan koreksi ??
Walaupun tetap ada pendingin di dalam sumur, tentu saja akan lebih baik untuk
metode pengukuran top-bottom.

Bagaimana dengan OBM, apakah ada metode koreksi khusus yang bisa digunakan
untuk case OBM atau cukup deengan Horner Plot saja?

Salam,
william

PS : moderator, mohon di subscribe alamat email berikut :
[email protected]<mailto:[email protected]>


________________________________
From: Awang Satyana [mailto:[email protected]]
Sent: Wednesday, February 04, 2009 8:38 AM
To: Febrie Ekaninggarani; William Romodhon; RM Iman Argakoesoemah; Forum
Himpunan Ahli Geofisika Indonesia
Cc: Eksplorasi BPMIGAS; Geo Unpad; IAGI
Subject: Re: [Forum-HAGI] 1D modelling thermal calibration


Pak Min,



Saya curiga Ro-nya mengalami retardasi atau supresi sehingga tak akurat. Itu
bisa diuji dengan menggunakan parameter kematangan lain (Tmax, SCI, MPI, dll
bila ada).



Peta Pak Thamrin dkk yang juga dipublikasi IPA (peta GG regional cekungan2 di
Indonesia, dan peta heatflow regional cekungan2 di Indonesia) baik dipakai untuk
melakukan pengkajian kapasitas generasi hidrokarbon setiap cekungan di
Indonesia, terutama yang frontier.



Tetapi, sekali ada sumur dibor dengan BHT yang jelas, lalu dikoreksi
menggunakan Horner plot atas time of circulation-nya, apalagi kalau ada data
temperatur dari DST, tentu penentuan GG lebih tepat berdasarkan data sumur
dengan menerapkan ambient surface temperature yang pas.



Variasi GG biasa terjadi di dalam satu cekungan. Bila satu cekungan mempunyai
beberapa low areas yang dicurigai sebagai kitchen, maka menggunakan satu angka
GG regional tidak akan menghasilkan modeling yang tepat. GG sumur yang terdekat
dengan low areas akan mewakilinya, kemudian menariknya ke posisi pseudowell di
low areas dan memodelkan 1-D thermal modelingnya.



Salam,

awang



-----Original Message-----
From: MINARWAN [mailto:[email protected]]
Sent: Wednesday, February 04, 2009 5:01 C++
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] RE: 1D modelling thermal calibration



Dengan asumsi Ro yang dipergunakan memang telah akurat, apakah tidak

ada kemungkinan bahwa Gradient Geothermal (GG) yang pernah ada dulu

ternyata lebih rendah daripada GG yang terhitung sekarang? Tapi

mestinya jika GG sekarang memang lebih tinggi daripada GG dulu,

berarti Ro yang terukur sekarang seharusnya adalah Ro maksimum dong.



Ada sebuah paper yang mungkin bermanfaat, ditulis oleh Pak Mochamad

Thamrin (Pertamina) dan dipublikasikan di Tectonophysics (1985).

Baliau mengukur representative thermal conductivity (k) untuk tiap

formasi di beberapa cekungan. Secara umum, hasil pengukuran beliau

menunjukkan bahwa formasi yang muda memiliki nilai k rendah sedangkan

formasi yang lebih tua memiliki k yang lebih tinggi. Nilai k ini

meningkat dengan meningkatnya kedalaman dan derajat kompaksi.



Kemudian, hasil pengukuran k dan perhitungan GG dari Bottom Hole

Temperature itu direratakan sedemikian rupa sehingga muncullah sebuah

angka GG yang diasumsikan bisa digunakan untuk cekungan. Mungkin,

kalau saya boleh menyarankan, Febrie coba cek GG yang digunakan dengan

GG yang dipublikasikan oleh Pak Thamrin. Jika berbeda, bandingkan

hasil thermal modelling dengan menggunakan GG hasil perhitungan

sendiri dan GG dari publikasi itu.



Mudah-mudahan membantu.



Salam

mnw


--- On Tue, 2/3/09, Awang Satyana <[email protected]> wrote:
From: Awang Satyana <[email protected]>
Subject: Re: [Forum-HAGI] 1D modelling thermal calibration
To: "Febrie Ekaninggarani"
<[email protected]>, "William Romodhon"
<[email protected]>, "RM Iman Argakoesoemah"
<[email protected]>
Cc: "Eksplorasi BPMIGAS" <[email protected]>,
"Geo Unpad" <[email protected]>, "IAGI"
<[email protected]>, "Forum HAGI" <[email protected]>
Date: Tuesday, February 3, 2009, 10:03 PM
Febrie, Pak Iman, William dan rekan2 milis,

Terima kasih atas jawaban Pak Iman. Hal2 yang Pak Iman kemukakan bisa merupakan
penyebab perbedaan hasil pemodelan termal dengan measured Ro. Maka, ada baiknya
Febrie melakukan satu per satu pemeriksaan kembali sesuai saran2 Pak Iman butir
no.1 - 3.

Beberapa tanggapan atas saran Pak Iman :

(1)     Pengukuran FAMM (fluorescence alteration of multiple macerals) walaupun
unggul, dan tak suka menunjukkan supression (penurunan nilai terukur daripada
nilai sebenarnya) seperti Ro, tak banyak dilakukan sebab selain mahal juga
pemahaman tentang FAMM belum menyeluruh di samping Ro sudah terlanjur sangat
populer. Masih ada metode koreksi yang jauh lebih murah daripada FAMM dan cukup
bisa diandalkan.
(2)     Metode perhitungan GG kelihatannya sudah terkoreksi dengan menggunakan
corrected BHT.
(3)     Pemilihan jenis litologi di modul software yang tersedia belum tentu
cocok dengan real stratigraphy yang ditembus sumur, sehingga konduktivitas
termal yang diterapkan tak cocok dengan kenyataannya.

Menjawab pertanyaan Febrie :

Pertanyaan no. 1

Kalibrasi adalah proses meminimalisasi perbedaan antara modeled output dengan
measured values sedemikian rupa agar terjadi "best fit" antara
measured dan modeled data. Pemodel yang berpengalaman biasanya punya naluri/cara
masing-masing untuk mencapai best fit ini berdasarkan trial and error yang
pernah dialaminya dan "good feeling" mereka. Tujuan mengkalibrasi juga
jangan hanya untuk mencocokkan nilai yang diperoleh dengan model terhadap nilai
terukur. Bila telah cocok lalu berhenti, maka hasil kalibrasi tersebut belum
tentu bisa dipakai di berbagai situasi/lokasi. Harus dilakukan sensitivity
anlalysis dengan menggunakan berbagai measured parameters (kalau dengan Ro
bagaimana, dengan T max bagaimana, dsb.). Bila telah dilakukan sensitivity
analysis dengan berbagai model tetap terjadi best fit, maka model bisa diyakini
benar dan berharga untuk keperluan prediksi di berbagai situasi dan lokasi.

Dasar (parameter terukur) yang paling tepat untuk dijadikan landasan dalam
kalibrasi thermal modeling sebenarnya tidak ada, masing-masing punya keunggulan
dan kelemahannya sendiri2; maka menggunakan berbagai parameter daripada hanya
satu saja adalah lebih baik (sensitivity analysis). Menggunakan VR biasanya
paling banyak dilakukan (tetapi dalam hal Ro mengalami supression, kemudian
langsung dipakai tanpa mengoreksinya, maka tak akan terjadi kecocokan antara
nilai model dengan nilai terukur). Menggunakan SCI (spore coloration index)
baik, tetapi kontrol stratigrafi harus lebih hati2. Menggunakan Tmax baik karena
datanya banyak, tetapi biasanya sebarannya scattered. Menggunakan biomarker
isomer ratios excellent, tetapi jarang dilakukan analisis lab-nya. Menggunakan
AFTA (apatite fission track analysis) baik, tetapi tak umum untuk banyak kasus,
cocok untuk sumur2 yang menembus unconformity. Menggunakan smectite/illite
ratios cocok untuk temperatur tinggi saja.

Saran saya : cek dulu input parameters untuk membangun 1D basin modeling itu
(seperti saran Pak Iman), kemudian cek juga measured parameter yang akan
mengkalibrasinya, jangan menggunakan parameter yang secara analisis tidak
disarankan dipakai (misalnya supressed VR).

Pertanyaan no. 2

Kalau input parameters untuk 1D basin modeling (GG, jenis dan tebal litologi,
dll.) sudah benar, tetapi terjadi perbedaan signifikan dengan trend Ro, di mana
hasil thermal modeling lebih tinggi daripada measured Ro, maka yang disebutkan
Pak Iman (Ro supression) kemungkinan besar benar.

Kita sebenarnya belum paham benar mengapa Ro supression terjadi sebab satu
penjelasan memuaskan di satu tempat, tetapi penjelasan yang sama ketika
diterapkan ke tempat lain ternyata tak memuaskan. Kebanyakan publikasi cenderung
mengatakan bahwa supressed Ro terjadi karena kondisi materi maseral
vitrinite-nya sendiri (karena itu mengukur kematangan dengan FAMM adalah lebih
baik sebab metode ini menggunakan berbagai maseral bukan hanya vitrinite).
Teknologi baru menggunakan VIRF (vitrinite-inertinite reflectance and
fluorescence) pun bisa mengatasi masalah Ro supression.

Penyebab utama Ro supression yang banyak disebutkan para peneliti adalah akibat
(1) dominasi perhydrous vitrinite (kaya hidrogen) di antara maseral2 vitrinite
dan (2) keberadaan liptinite (kaya hidrogen) di samping vitrinite dalam maseral.
Perhatikan bahwa unsur H di sini ternyata selalu dianggap sebagai penyebab Ro
supression. Maka, secara praktis, bila satu kerogen punya HI (hydrogen index)
yang tinggi (>300), maka harus hati2 bahwa Ro-nya mungkin mengalami supresi.

Supresi Ro juga menurut beberapa peneliti akan terjadi di sampel-sampel dengan
kandungan exinite kerogen > 20 % (dari total kerogen), supresi Ro akan
cenderung makin terjadi dengan makin banyaknya kontribusi marin, tetapi juga
makin terjadi di lingkungan lakustrin. Juga katanya Ro supression ditemukan
banyak terjadi di overpressured zone.

Untuk membuktikan bahwa Ro supression benar terjadi, secara sederhana dapat
dilakukan dengan membandingkan pengukuran thermal maturation menggunakan Ro vs
Tmax untuk suatu trend kedalaman. Bandingkan trend kematangan menggunakan Ro
dengan trend kematangan menggunakan Tmax. Bila analisis kematangan source
lengkap, menggunakan berbagai parameter, misalnya biomarker aromatik (methyl
phenanthrene) yang dilakukan spot di beberapa kedalaman akan lebih baik lagi;
kumpulkan semua trend kematangan itu dan lihat apakah trend kematangan
berdasarkan Ro lebih tak matang dibandingkan menggunakan parameter kematangan
yang lain. Bila ya, maka Ro mengalami supresi, lebih2 lagi kalau HI-nya tinggi
dan kerogen exinite/liptinite-nya > 20 % berdasarkan visual kerogen analysis.
Harus diwaspadai bila sampel diambil di kedalaman yang secara termal matang,
maka nilai HI-nya lebih rendah daripada sebenarnya. Bila benar Ro mengalami
supresi, maka jangan gunakan nilai itu untuk kalibrasi sebelum dikoreksi.

Cara sederhana mengoreksi nilai supressed Ro adalah menggunakan crossplot Lo
(1993). Crossplot ini cukup dapat dipercaya sebab hasil Ro setelah dikoreksi
menunjukkan nilai parameter yang sebanding dengan apabila menggunakan parameter
kematangan lainnya. Crossplot terdiri atas sumbu Y measured VR (% Ro) dan sumbu
X maximum true VR (% Ro). Di wilayah yang dibatasi dua sumbu terdapat beberapa
trendline Hio (o = original, artinya sebelum terpengaruh kematangan -immature;
ini bisa diperkirakan). Perbedaan antara measured Ro yang supressed dengan true
Ro (corrected) umumnya antara 0.1 - 0.2 % Ro, tetapi perbedaan sampai 0.5 %
secara teoretis mungkin saja.

Demikian Febrie, semoga cukup membantu.

Didasari oleh minimalnya perhatian kepada ilmu petroleum geochemistry,
sementara saya mengalami dan mengamati bahwa pengetahuan akan petroleum
geochemistry banyak membantu mengurangi risiko kegagalan eksplorasi (jangan
hanya mencari trap dan reservoir, pikirkan juga pengisiannya), maka sejak lima
tahun yang lalu saya suka mengajarkan hal2 tentang petroleum geochemistry, baik
formal (melalui kursus2) maupun nonformal (diskusi tatap muka, milis)  kepada
kawan-kawan seprofesi. Berdasarkan pengalaman selama ini, saya menemukan bahwa
petroleum geochemistry adalah sesuatu yang nilai prediktibilitasnya tinggi,
karena sifatnya lebih eksak.

Tentang kursus petroleum geochemistry yang saya bawakan pada dasarnya ingin
memperkenalkan peserta kepada ilmu ini. Karena sifatnya memperkenalkan,
sekaligus membangun dasar2-nya, maka mungkin tingkatnya bisa disebut elementary.
Meskipun demikian, saya memilihkan konsep2 dan metode2 yang applicable dan ready
to use untuk keperluan analisis eksplorasi maupun produksi. Juga dengan contoh
kasus2 yang real yang sebagian besar merupakan hasil penelitian pribadi.

Silabus kursus secara garis besar adalah sebagai berikut (jawaban atas
pertanyaan William dan Febrie) :

Introduction
*     What is petroleum geochemistry ?
*     What can petroleum geochemistry do ?
*     How we have ignored petroleum geochemistry ?
Chemical and Physical Properties of Petroleum
Analytical Geochemistry
*     Laboratory analyses
*     Biomarkers
*     Isotope geochemistry
Source Rocks
*     Organic matter, source, kerogen, and preservation in sediments
*     Source rock depositional environments
*     Source rock characterisation
*     Evaluating source rocks from wireline logs
Hydrocarbon Generation
*     Maturity : optical and molecular parameters
*     Petroleum generation and expulsion
*     Volumetric calculations
Hydrocarbon Migration
*     Modeling paleo-migration
Oil Geochemistry
*     Oil properties
*     Oil grouping
Gas Geochemistry
*     Gas properties
*     Gas grouping (biogenic vs thermogenic gas)
*     Non-hydrocarbon gases
Oil/Gas to Sources Correlation
*     Techniques using biomarkers
*     Geochemical inversion
In-Reservoir Alteration (biodegradation, retrograde condensation, etc.)
Geochemistry in Petroleum System (elements and processes)
Case Studies
*     regional oil geochemistry of Indonesia
*     regional gas geochemistry of Indonesia
*     geochemistry of East Java Basin
*     migration modeling of Salawati Basin
*     using biomarkers for identifying new petroleum system Salawati Basin
*          Oil alteration of Salawati Basin
*          Coals as source rocks for oil of Barito Basin

Salam,
awang

--- On Tue, 2/3/09, RM Iman Argakoesoemah
<[email protected]> wrote:
From: RM Iman Argakoesoemah <[email protected]>
Subject: RE: 1D modelling thermal calibration
To: "Febrie Ekaninggarani"
<[email protected]>, "William Romodhon"
<[email protected]>
Cc: "[email protected]" <[email protected]>
Date: Tuesday, February 3, 2009, 5:15 PM

Febrie, ada empat hal:



(1) lihat dulu apakah Ro plot itu terlihat sebagai supressed Ro yg bisa

mengakibatkan rendahnya nilai measured Ro. Kalau ya, harus dikoreksi melalui

pengukuran FAMM. Hal adanya suppressed Ro bisa terjadi di daerah yg inverted

basin apalagi yg sudah cukup severe.



(2) Coba lihat lagi apakah "metoda" perhitungan Geothermal Gradient

yg digunakan sudah sesuai? Apakah koreksinya sudah diterapkan dengan baik?



(3) Urut2an dan akurasi ketebalan litologi di software tsb apakah sudah sesuai

dengan litologi sumurnya? Kalau tidak, bisa ada heat conductivity yg berbeda.



(4) Suatu saat Febrie akan berhadapan dengan perbedaan yg "bisa"

lebih besar lagi, yaitu kalau temperature yg digunakan diambil dari data2 DST.



Barangkali itu yg bisa saya komentari. Komentar dari Pak Awang, tentunya akan

lebih mantap, silahkan Pak.



Thanks. Iman





-----Original Message-----

From: Febrie Ekaninggarani [mailto:[email protected]]

Sent: Tuesday, February 03, 2009 3:17 PM

To: [email protected]

Cc: Geo Unpad; Forum HAGI; Eksplorasi BPMIGAS

Subject: [iagi-net-l] 1D modelling thermal calibration



Pak Awang,



Saat ini kami sedang melakukan 1D basin modeling untuk beberapa sumur dalam

suatu blok dengan menggunakan software. Hasil yang kami dapatkan menunjukkan

bahwa trend dan kisaran angka maturity dari corrected BHT (thermal maturation)

pada semua sumur tsb selalu berbeda dengan observed data vitrinite reflectance

(Ro).

Intinya : perbedaan antara thermal maturation dengan observed Ro cukup

signifikan dimana nilai thermal maturation lebih besar.



Tahap berikutnya yang biasa dilakukan adalah mengkalibrasi thermal maturation

terhadap Ro hasil pengukuran.

Sehubungan dengan itu, kami ingin menanyakan :

1. apakah dasar yang paling tepat untuk dijadikan landasan dalam kalibrasi tsb?

2. apakah ada real geological factor yang menjadi penyebabnya (perbedaan nilai

thermal maturation dengan observed Ro)?





Hal lain yang ingin kami tanyakan adalah tentang kursus. Kami menerima draft

kursus HAGI 2009 dan berminat untuk mengikuti kursus Bapak yang berjudul

Petroleum Geochemistry : Essential Concepts and Methods for Exploration &

Production yang akan diselenggarakan pada bulan April ini. Jika boleh tahu, apa

saja content dari kursus tsb Pak?



Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih.



This e-mail and any information contained are confidential and legally

privileged.  It is intended solely for the use of the individual or entity to

whom it is addressed and others authorized to receive it.  If you are not the

intended recipient, you are hereby notified that any disclosure, copying,

distribution or taking any action in reliance on the contents of this e-mail is

strictly prohibited and may be unlawful.  If you have received this e-mail in

error, please notify us immediately by responding to this e-mail or by
telephone

MedcoEnergi IS Division Helpdesk on +62 21 83991234 then delete this email

including any attachment(s) from your system.  MedcoEnergi does not accept

liability for damage caused by any of the foregoing.  This e-mail is from PT

MedcoEnergi Internasional Tbk and Subsidiaries, having Registered Address at

Graha Niaga Level 16, Jakarta, Indonesia.



--------------------------------------------------------------------------------

PP-IAGI 2008-2011:

ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]

sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]

* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...

--------------------------------------------------------------------------------

tunggulah 'call for paper' utk PIT IAGI ke-38!!!

akan dilaksanakan di Semarang

13-14 Oktober 2009

-----------------------------------------------------------------------------

To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id

To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id

Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:

Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta

No. Rek: 123 0085005314

Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia

No. Rekening: 255-1088580

A/n: Shinta Damayanti

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/

IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi

---------------------------------------------------------------------

DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on

its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and

its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect

damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or

profits, arising out of or in connection with the use of any information posted

on IAGI mailing list.

---------------------------------------------------------------------





______________________________________________

The Indonesian Assosiation Of Geophysicists mailing list.

[email protected]

www.hagi.or.id



________________________________
This e-mail and any information contained are confidential and legally
privileged. It is intended solely for the use of the individual or entity to
whom it is addressed and others authorized to receive it. If you are not the
intended recipient, you are hereby notified that any disclosure, copying,
distribution or taking any action in reliance on the contents of this e-mail is
strictly prohibited and may be unlawful. If you have received this e-mail in
error, please notify us immediately by responding to this e-mail or by telephone
MedcoEnergi IS Division Helpdesk on +62 21 83991234 then delete this email
including any attachment(s) from your system. MedcoEnergi does not accept
liability for damage caused by any of the foregoing. This e-mail is from PT
MedcoEnergi Internasional Tbk and Subsidiaries, having Registered Address at
Graha Niaga Level 16, Jakarta, Indonesia.



      

Kirim email ke