Sebagaimana mungkin telah disebut2 oleh Sdr. Awang, hasil2 explorasi dari
NNGPM 1935-1960 (sesudah Perang Dunia II NNGPM kembali beroperasi di Papua
sampai Irian dikembalikan ke RI) telah dibukukan dan dipublikasikan dengan
judul: Geological Results of the exploration for oil in Netherlands New
Guinea" yang ditulis oleh W.A. Visser and J.J. Hermes dan diterbitkan oleh
Staatsdrukkerij-en uitgeverij Bedrijf Nederland tahun 1962.
Dalam explorasi Mineral juga hasil2nya telah dipublikasikan dengan judul
"Economic Geological Investigation of NE Vogelkop (Western New Guinea)"
ditulis oleh F.C. d'Audretch, R.B. Kluiving and W. Oudemans, tahun 1966 oleh
penerbit yang sama
Wassalam
RPK
----- Original Message -----
From: "Awang Satyana" <[email protected]>
To: "sigit prabowo" <[email protected]>
Cc: "IAGI" <[email protected]>; "Geo Unpad" <[email protected]>;
"Forum HAGI" <[email protected]>; "Eksplorasi BPMIGAS"
<[email protected]>
Sent: Wednesday, February 04, 2009 2:24 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] Kiamat di Babo (was : Papua Petroleum Exploration
1930s)
Sigit,
NNGPM hanya beroperasi di wilayah Papua, tak di PNG sebab wilayah PNG sejak
zaman Belanda di Indonesia sudah dikontrol oleh Inggris.
PNG tak punya wilayah seperti Kepala Burung Papua yang kaya minyak dan gas.
Lapangan minyak Walio yang ditemukan tahun 1973 sempat merupakan lapangan
minyak dengan perangkap reefal carbonate terbesar di Asia Tenggara (Longman,
1993). Kompleks lapangan Tangguh, kita tahu adalah lapangan2 gas raksasa.
Tetapi kekayaan hidrokarbon PNG terletak di punggung dan paparannya.
Punggung Papua dan bagian selatannya (Asmat-Merauke) relatif tak tergarap
sebab berbagai hambatan, terutama tumpang tindih dengan wilayah kehutanan
(Punggung Papua) dan akses yang jauh (Asmat-Merauke platform). Wilayah yang
sama di PNG (punggung yang fold-thrust belt dan paparannya yang foreland)
sudah terbukti sebagai wilayah yang kaya akan minyak dan gas.
Berikut sedikit petikan dari paper saya dkk. di IPA 2008 (Satyana et al.,
2008 : Collision and post-collision tectonics in Indonesia : roles for basin
formation and petroleum systems) tentang petroleum status punggung
Papua-PNG. Punggung Papua dan PNG adalah collision belt.
There has been very little exploration in the Irian
Jaya thrust fold belt to date although some
petroleum blocks have existed in the area since
1971 (Figure 8a). This is in contrast to its
counterpart in the Papuan fold belt of Papua New
Guinea with the producing fields of Moran, Agogo,
Kutubu, Hedinia/Iagifu, and Hides. A total of nine
wells have been drilled in the Irian Jaya Central
Range. Two of which resulted in non-commercial
oil discoveries in the Irian Jaya foldbelt and
foreland. Cross Catalina-1 identified a 51m oil
column in the Woniwogi Formation, but it had low
effective porosity of 8%, as a result of extensive
silicafication of the reservoir. Kau-2, near the PNG border, saw oil flow
(47 API) at 55 BOPD plus minor gas from the
Tithonian (latest Jurassic) sandstones. Oil was
recorded in the Digul-1, Kariem-1 and Kau-1 wells
in the eastern Irian Jaya fold belt.
Statistik terakhir menunjukkan bahwa 3,1 BBO telah ditemukan di foldbelt PNG
dan 320 MMBO telah ditemukan di foreland PNG. Hal yang sama tak mustahil
bisa ditemukan di foldbelt dan foreland Papua.
Tentang mineralisasi, tentu saja Pemerintah Belanda maupun para pencari
mineral independent telah masuk ke Papua sejak dulu, termasuk Dozy dan
Lorentz yang menemukan Ertsberg alias Gunung Bijih (Freeport sekarang). Juga
Dienst van Het Mijnwezen (Dinas Pertambangan Belanda) telah sejak lama
mengirimkan geologist2nya untuk menyelidiki mineral2 berharga Papua sejak
dulu, bahkan untuk area yang lebih luas daripada cakupan penyelidikan NNGPM.
Dapat dibilang bahwa laporan-laporan geologi dan pertambangan yang saya
lihat di Kanwil Pertambangan Jayapura pada Juni 1988 itu (lihat cerita saya
pertama tentang Papua exploration 1930's), 3/4-nya adalah tentang
mineralisasi. Cakupan laporan : seluruh Papua dan pulau2 sekitarnya
(Batanta, Waigeo, Kofiau, dll.) untuk eksplorasi emas, perak, nikel, dll.
salam,
awang
--- On Wed, 2/4/09, sigit prabowo <[email protected]> wrote:
From: sigit prabowo <[email protected]>
Subject: Re: [iagi-net-l] Kiamat di Babo (was : Papua Petroleum Exploration
1930s)
To: [email protected], "awang satyana" <[email protected]>
Date: Wednesday, February 4, 2009, 10:32 AM
Pak Awang YTH.,
Seiring dengan explorasi hydrocarbon di Papua oleh NNGPM, apakah NNGPM juga
melakukan explorasi di Papua New Guinea, dan juga menemukan oil
discovery...?
Kalo NNGPM melakukan explorasi minyak bumi di Papua, bagaimana dengan
explorasi tambang ya pak, seperti tembaga, emas, dsb..,... apakah dilakukan
oleh Geologist2 dari Belanda juga, mengingat kalo gak salah Van Bemmelen
juga pernah menulis tentang petensi SDA selain minyak bumi di Indonesia...
Mohon pencerahan nya pak...
Terimakasih
Best Regards
Sigit Ari Prabowo
From: Awang Satyana <[email protected]>
To: [email protected]
Cc: Geo Unpad <[email protected]>; Forum HAGI <[email protected]>;
Eksplorasi BPMIGAS <[email protected]>
Sent: Monday, February 2, 2009 8:29:50 AM
Subject: [iagi-net-l] Kiamat di Babo (was : Papua Petroleum Exploration
1930s)
Edo, sebenarnya yang menanam ranjau darat (land-mines) di sekitar Babo itu
bukan Jepang, tetapi karyawan NNGPM sendiri dalam rangka bersiap menyambut
kedatangan Jepang yang mungkin akan menduduki Babo, sebagaimana dilakukan
Jepang di lapangan-lapangan minyak lain di Indonesia saat pecah Perang
Pasifik Desember 1941.
Menyambung cerita saya tentang awal eksplorasi Papua 1930s, berikut
lanjutannya.
Bila cerita kemarin mengisahkan awal peradaban di Babo, maka cerita berikut
mengisahkan akhir peradaban di Babo.
“Kiamat di Babo” mungkin sebuah judul yang berlebihan, tetapi begitulah
mungkin perasaan para karyawan NNGPM dan keluarganya saat bom-bom mulai
berjatuhan dari langit oleh pesawat2 tempur Jepang saat mulai pecah Perang
Pasifik Desember 1941.
Kegembiraan masyarakat Belanda dan para karyawan NNGPM di tempat terpencil
Babo di ujung Teluk Berau, Kepala Burung, tidak berlangsung lama, hanya
sekitar setahun, setelah penerbangan umum ke Babo dibuka Belanda pada tahun
1940. Dua bulan dari Desember 1941 sampai awal Februari 1942 semuanya adalah
penderitaan, tak ada lagi kegembiraan, tak ada lagi pesta-pesta, tak ada
lagi nonton bioskop bersama (lihat cerita saya di bawah). Bahkan, mereka
harus “merayakan” malam tahun baru 1942 sambil bertiarap di rawa-rawa Teluk
Berau berteman nyamuk2 rawa, sambil ketakutan dimangsa buaya muara Berau.
9 Desember 1941, sebuah sumur tengah dibor di Lapangan Jeflio, Cekungan
Salawati. Malam itu, sumur mencapai kedalaman 6275 kaki. Para geologist
Belanda memperkirakan pada kedalaman 7000 kaki akan dijumpai lapisan
batugamping Miosen yang telah terkenal produktif di daerah itu (inilah
Formasi Kais). Tetapi, malam itu juga sumur diperintahkan untuk ditinggalkan
sebab genderang Perang Pasifik telah bertalu dengan pemboman Pearl Harbour
di Hawaii oleh Jepang. Ketakutan karyawan NNGPM di Jeflio beralasan sebab
tentara Jepang telah menyerang Sorong, kota terdekat.
Markas Besar Belanda di Batavia telah memerintahkan Babo untuk mengevakuasi
semua perempuan dan anak2 Eropa sesegera mungkin ke Jawa.. Maka pada tanggal
17-26 Desember 1941 rombongan pesawat2 KNILM tiba di Babo kemudian segera
berangkat membawa para perempuan dan anak2 berkulit putih. Pesawat2 itu
lenyap di balik awan di atas Kepala Burung, meninggalkan para suami dan ayah
yang melambaikan tangan dengan berat hati. Akankah mereka saling berjumpa
lagi ? Sebagian besar tidak…
Para karyawan NNGPM yang semula membawa alat las, tang besar, pipa,dll.
tiba-tiba dipersenjatai bedil double-barreled, milisi garnisun segera
terbentuk, sekitar 40 orang kulit putih ada di milisi itu. Garnisun ini
dibentuk untuk tindakan persiapan siapa tahu Jepang mendarat di Babo. Babo
cukup terpencil tempatnya, sehingga tak segera menjadi sasaran Jepang
setelah Sorong jatuh.
Kemudian, rencana tindakan perusakan sendiri atas fasilitas2 perminyakan pun
dibuat. Ini selalu dilakukan di lapangan-lapangan minyak Belanda di seluruh
Indonesia saat Jepang menyerang. Mengapa dirusak ? Sebab, Jepang memerlukan
bahan bakar untuk perang. Bila fasilitas perminyakan dirusak, maka Jepang
akan sulit mendapatkan bahan bakar untuk menjalankan mesin-mesin perangnya.
Segera setelah Jepang menyerang Pearl Harbour, telah diputuskan bahwa
seluruh material berharga dari berbagai lapangan dan pelabuhan kecil di
seluruh Kepala Burung dikumpulkan di Babo. Bila waktu mendesak,
barang-barang berharga itu dapat segera diungsikan ke Jawa dari Babo
menggunakan pesawat, atau kalau waktu begitu mendesak, maka sekalian barang
itu dapat segera dihancurkan. Daftar barang2 berharga ini antara lain :
mesin bermotor, dinamo, boiler, steam engine, juga alat2 berat seperti
traktor dan buldozer. Peralatan bengkel dan gudang juga masuk dalam daftar
barang2 siap dievakuasi atau dihancurkan. Beberapa peralatan berat
disembunyikan di hutan sekitar Babo sambil berharap Jepang tak akan
menemukannya. Stasiun radio pun mulai dihancurkan satu per satu, kecuali
satu yang terbesar dipertahankan untuk berhubungan dengan Batavia atau
Ambon.
Sementara itu, 200 tentara dari Batavia, terdiri atas orang2 Indonesia,
dipimpin Kapten van Muyen dan dua sersan Belanda mendarat di Babo pada
Januari 1942. Pasukan ini membawa banyak ranjau. Dan ranjau pun ditanam di
bawah mesin-mesin berat yang tak akan dievakuasi, juga ditanam di beberapa
tempat yang diperkirakan akan dilalui tentara Jepang saat mendarat di Babo.
Sementara itu, Jepang yang sudah menduduki Sorong, melakukan patroli rutin
sepanjang Selat Sele (teman2 PetroChina tentu rutin melalui selat ini saat
mereka dari Sorong akan ke KMT –Kasim marine terminal –stasiun pengumpul
minyak2 Salawati; saya rutin melalui selat teduh ini saat ke lapangan di
Pulau Salawati pada 1997-2000). Dermaga Kasim saat Jepang melakukan patroli
telah termasuk yang dihancurkan.
Pada minggu-minggu pertama setelah pecah Perang Pasifik, Jepang tak
menunjukkan ketertarikan kepada Babo, sehingga evakuasi ke Jawa bisa
dilakukan beberapa kali. Tetapi, setelah hampir sebulan berlalu; tiba-tiba
karyawan NNGPM yang tengah melakukan perusakan fasilitasnya sendiri
dikejutkan dengan kedatangan sembilan pesawat bomber Jepang dari sebelah
utara yang tanpa ampun menjatuhkan bom-bom. ”Kiamat di Babo” mulai terjadi.
H.W. Minekus, seorang karyawan NNGPM menulis dalam sebuah laporan, ”Kebanyakan
dari kami lari dan menjatuhkan diri di parit-parit pinggir jalan. Kemudian
pesawat2 Jepang datang kembali, Kami makin melekatkan diri dengan tanah
parit sambil gemetaran. Tetapi saat itu tak ada bunyi bom, mungkin mereka
sudah kehabisan amunisi. Bomber2 itu pergi ke arah mereka datang.”
Serangan bom ini telah mengejutkan para pegawai NNGPM dari suku asli. Mereka
segera lari ke hutan dari mana mereka berasal dan tak pernah keluar lagi.
Sementara itu, kuli-kuli bukan suku Papua juga lari ke hutan, tetapi
beberapa hari kemudian mereka kembali ke Babo karena kelaparan.
Membalas serangan Jepang, Belanda bekerja sama dengan Tentara Sekutu
mendatangkan pesawat2 bomber dari Australia. Karyawan NNGPM menyambut
gembira kedatangan pesawat2 ini. Untuk sementara waktu,serangan Jepang dari
utara tak muncul lagi. Akhir Januari 1942, pesawat2 ini kembali ke
pangkalannya di Australia.
Pada saat yang bersamaan, Jepang berhasil merebut lapangan-lapangan minyak
di Bunyu, Tarakan, dan Miri-Sarawak. Ini membuat Batavia memutuskan agar
NNGPM merusak semua fasilitas perminyakan dan segera melakukan evakuasi.
25 Januari 1942 pukul 02.00, datang perintah dari komando militer di Belanda
agar semua fasilitas perminyakan yang telah dikumpulkan di Babo dihancurkan.
Ketika hari masih gelap, pekerjaan penghancuran dimulai. Lapangan terbang
dihancurkan menggunakan ranjau-darat. Berdrum-drum minyak ditumpahkan dan
kebakaran besar menghancurkan banyak fasilitas. Tangki-tangki air
diledakkan. Mesin-mesin dirusak menggunakan palu godam. Banyak barang
dibuang ke sungai, termasuk alat-alat berat seperti buldozer dan lori-lori.
Lubuk sungai sedalam 36 kaki di Kasira dan Kaitero cocok untuk pembuangan
barang2 ini. Laporan-laporan geologi, laporan sumur, contoh2 batuan dan
banyak dokumen dibakar di belakang gedung kantor sebelum gedungnya pun
dibakar. Yang tidak dirusak hanyalah stasiun pembangkit listrik, yang akan
disisakan sampai evakuasi dimulai. Tanggal 1 Februari Ambon jatuh, evakuasi
harus segera dimulai.
Awal Februari 1942, lenyaplah semua peradaban perminyakan di Babo, tak
sampai sepuluh tahun berjalan sejak dimulai pada pertengahan 1930-an.
Evakuasi semua pekerja dan keluarganya yang masih tertinggal dimulai.
Evakuasi akan dilakukan ke Dobo di Kepulauan Aru, bukan ke Jawa karena
kuatir Jepang akan menyerang Jawa, pusat pemerintahan Belanda di Hindia
Belanda. Keputusan tepat sebab Jepang menyerang Jawa dan menjatuhkannya pada
Maret 1942. Evakuasi karyawan di Babo dilakukan dari Sungai Kaitero melalui
Taniba. Setelah melintasi hutan rawa dan hutan perbukitan Taniba, rombongan
tiba di Teluk Arguni. Di teluk ini, dua kapal NNGPM menunggu : Soedoe dan
Minjak Tanah. Kedua kapal ini membawa rombongan ke Dobo, Kepulauan Aru.
Minekus, karyawan NNGPM menceritakan evakuasi ini, ”Kami merasa susah mesti
melalui sungai-sungai kecil berawa-rawa berlumpur coklat. Sebuah perjalanan
yang sangat menyiksa melalui daerah tak berpenduduk yang hanya dihuni
bakau-bakau yang tinggi. Tanda-tanda kehidupan hanyalah suitan burung
kakatua putih di atas kami. Kami juga mesti berjalan cepat sebelum pasang
naik menyergap. Ketika kami sampai di perbukitan, pemandangan lumayan indah,
tetapi di sepanjang perjalanan kami melihat kampung2 suku Papua yang sudah
ditinggalkan.”
Demikianlah sekelumit kisah berakhirnya peradaban perminyakan di Babo yang
disusun berdasarkan laporan-laporan Belanda NNGPM.
Minyak membuka dan menutup peradaban di Babo. Semoga tak terulang lagi.
Salam,
awang
--- On Fri, 1/30/09, Edward, Syafron <[email protected]> wrote:
From: Edward, Syafron <[email protected]>
Subject: RE: [iagi-net-l] Papua Petroleum Exploration 1930s
To: [email protected]
Date: Friday, January 30, 2009, 1:37 PM
Cerita yang sangat menarik dan inspiratif dari pak Awang.
Kelihatannya memang Babo telah menjadi primadona bagi Industri Petroleum
sejak
dulu, sekarangpun BP menjadikan Babo sebagai Bandara penghubung dari Biak ke
LNG
Tangguh.
Kalau masalah lapangan Golf di Babo, saya baru dengar sekarang, mungkin
sudah
dihancurkan oleh Jepang waktu menduduki Babo dulu, karena ketika BP
me-renovasi
Bandara Babo, memang banyak ditemukan Ranjau-ranjau Jepang dan juga
sisa-sisa
pesawat tempur Jepang yang menandakan bahwa Jepang juga menjadikan Babo
sebagai
basenya waktu itu.
Salam
edo
-----Original Message-----
From: Awang Satyana [mailto:[email protected]]
Sent: Friday, January 30, 2009 12:10 PM
To: IAGI; Forum HAGI; Geo Unpad; Eksplorasi BPMIGAS
Subject: [iagi-net-l] Papua Petroleum Exploration 1930s
Dua puluh tahun yang lalu, Juni 1988, di tengah saya libur setahun dari
kuliah,
saya berada di Jajayapura, bekerja selama dua minggu memilih-milih laporan
Belanda, memotokopinya, dan menerjemahkannya untuk sebuah perusahaan emas
asal
Australia. Pada saat itulah saya menemukan buku-buku lapangan asli beberapa
geologist Belanda yang pernah bekerja di Papua, yang namanya selama itu
hanya
saya baca dari buku van Bemmelen (1949), antara lain Molengraaff. Saya pun
menemukan beberapa laporan NNGPM tentang awal eksplorasi perminyakan di
wilayah
Papua.
Jayapura, Juni 1988 adalah sebuah kota yang mahal dan tetap terpencil.
Ongkos
fotokopi Rp 75 selembar (saat itu di Bandung fotokopi Rp 15-Rp 20). Koran
Kompas
datang terlambat 3-4 hari. Harian lokal, Cenderawasih, terbit seminggu
sekali.
Beberapa tabloid yang terbit di Jakarta terlambat satu-dua minggu di sini.
Di
kota, para pedagang makanan adalah dominan orang2 Bugis : ikan bakar. Satu
restoran Padang ada. Sementara itu, penduduk aslinya hanya menggelar tikar
1x1
meter berjualan kapur, sirih, dan buah matoa, itu saja. Malam minggu, hotel
tempat saya menginap penuh dengan penduduk asli ini (para pegawai kantor),
mereka membelanjakan gajinya untuk minum-minum bir dan membeli porkas (jenis
lotere yang populer saat itu). Minggu paginya, saya menemukan mereka
bergelimpangan di pinggir jalan - pulas tertidur. Di ujung jalan, saya
melihat
dua orang dari mereka sedang berkejaran, yang mengejar membawa pecahan botol
sambil berteriak "Kubunuh kau...!".
Hm..masih mabuk rupanya. -demikian sepenggal paragraf buku harian saya.
Belum lama ini saya membuka kembali catatan2 saya itu. Sebagian saya ingin
menceritakannya di bawah ini. Semoga menjadi variasi bacaan dari tulisan2
saya..
---------------
Ini kisah lama, sekitar 75 tahun yang lalu, mungkin masih menarik untuk
diketahui lebih luas sebab selama ini hanya tersimpan di buku-buku lama,
yang
sulit terbuka untuk umum. Ini kisah eksplorasi minyak di Papua, pulau
terakhir
yang dieksplorasi Belanda di Indonesia.
Tahun 1935, NNGPM (the Nederlandsche Nieuw-Guinee Petroleum Maatschappij)
mulai
mengeksplorasi bagian barat Papua (Vogel Kop - Bird's Head, alias Kepala
Burung) seluas 10 juta hektar. Pulau besar ini belum pernah dipetakan, peta
yang
ada hanya peta topografi kasar dalam rangka patroli militer. Maka tim besar
di
bawah pimpinan Dr A.H. Colijn, manajer eksplorasi dari Tarakan, mulai
melakukan
perkerjaan raksasa memetakan geologi Papua. Dengan berbagai pertimbangan,
NNGPM
memilih Babo di Teluk Berau sebagai basecamp. Pekerjaan pemetaan di area
yang
sangat luas ini dilakukan pertama kali menggunakan pesawat terbang. Pesawat
amfibi Sikorski yang bisa mendarat di air ditugaskan untuk pekerjaan ini.
Para
pilot pesawat ini mesti pandai-pandai membaca cuaca yang sering berkabut dan
berubah di atas Papua, mereka pun mesti pandai bermanuver di antara
celah-celah
tebing batuan gamping di beberapa pegunungan Papua. Dari ketinggian 12.000
kaki,
beberapa formasi geologi bisa diketahui. Ini adalah pekerjaan awal -semacam
reconnaissance survey.
Pekerjaan selanjutnya, yang jauh lebih menantang adalah ground survey.
Torehan
banyak sungai di Papua menolong para geologists Belanda memetakan geologi
wilayah besar ini. Para kru lapangan semuanya adalah suku2 dari banyak
wilayah
di Indonesia : Dayak, Manado, Ambon, Jawa, Batak, dan Banda. Suku Papua
sendiri
kelihatannya tak ada sebab pada zaman itu diceritakan bahwa mereka masih
merupakan suku pengayau alias pemenggal kepala yang diceritakan tentara
Inggris
di perbatasan PNG-Papua sebagai suku pelintas batas yang suka mengejar
musuhnya
melewati garis batas demarkasi. Para geologists yang memetakan geologi Papua
memilih camp-nya di perahu, ini jauh lebih nyaman daripada di dalam hutan
yang
sangat lebat. Setiap perahu dilengkapi dengan : listrik dari genset, radio,
kulkas, lampu2, dan bak mandi untuk berendam dengan cukup nyaman. Mandi
harus di
atas perahu sebab bila mandi di sungai akan menjadi santapan ramai-ramai
para
buaya. Detasemen militer tentu selalu berjaga mengawal para geologists dan
kru-nya ini, maklum mereka berada di wilayah yang alam dan penduduknya
dinilai
tidak ramah.
Lama-kelamaan, bumi Papua pun mulai terpetakan dan terbuka. Beberapa wilayah
telah dibuka untuk dibangun jalan, dan bahkan beberapa sumur pertama telah
dibor
: Wasian, Klamono, Jef Lio, Kasim. Pemukiman2 para pendatang mulai
meramaikan
bagian barat Papua, perahu2 kecil yang pada awalnya kecil telah menjadi
kapal-kapal besar bermotor dengan nama : Jan Carstenz, Soedoe, Moeara,
Boelian,
Minjak Tanah, dan Casuaris. Desa Papua Babo, di sebuah pulau delta kecil
Sianiri Besar, tetap dipilih sebagai base. Ini karena posisinya yang berada
di
tengah di antara wilayah eksplorasi NNGPM. Sungai di depannya, Sungai
Kasira,
juga cukup dalam untuk kapal-kapal besar berlabuh. Meskipun deltanya tentu
saja
berawa-rawa, tetapi Babo base terletak diatas bukit berkerikil setinggi 30
kaki
dan masih aman dari pasang naik di sekitarnya. Di bukit ini kantor NNGPM
dibangun, juga pemukiman para pekerjanya. Dan di sekitar Babo ada ruang luas
yang telah dibuka tempat dibangun aerodrom, hanggar, perbengkelan, rumah
sakit,
lapangan golf, dan bioskop (bayangkan di tepi hutan Papua yang terpencil,
pada
tahun 1930-an telah ada lapangan golf).
Suku2 Papua pun mulai mau bekerja sama dengan para pendatang ini.
Sebelumnya,
mereka jarang melihat para pendatang berkulit putih, kecuali para pemburu
burung
cenderawasih atau para pedagang Cina. Orang2 Papua ini diperkerjakan NNGPM
untuk
membongkar muat barang-barang dari kapal2 yang berlabuh di depan Babo dan
menarik batang2 pohon dari sekitar hutan Babo untuk membangun perumahan.
Bahkan,
mereka juga mau berbulan-bulan meninggalkan kampung2nya membantu NNGPM
membuka
hutan. Mereka bekerja untuk "Tuan Merah", begitu mereka memanggil
tuan-tuan Belanda ini (mungkin karena muka Belanda ini merah bila
kepanasan).
Dari suku pemburu menjadi suku pekerja, tentu sebuah perubahan budaya yang
besar
buat mereka. Diceritakan bahwa suku-suku Papua ahli menggunakan tombak,
busur
dan anak panah. Keahlian ini telah menjadi rezeki untuk seluruh kru sebab
mereka
bisa dengan mudah makan daging segar kanguru, babi, dan merpati hutan.
Mereka
meninggalkan kewajiban mengolah sagu kepada para perempuan di sukunya.
Sebelum
kedatangan NNGPM, suku2 Papua ini masih menggunakan cangkang kerang sebagai
alat
pembayaran, kini mereka mempunyai uang Belanda sebagai upah mereka bekerja.
Dan
saat mereka membawa uang Belanda ke toko-toko yang baru dibuka, mereka
begitu
takjub bisa mendapatkan barang2 yang semula tak mereka lihat. Dan, standar
hidup
suku Papua pun meningkat dengan cepat. Mereka mengalami revolusi budaya
dalam
beberapa tahun saja, jauh lebih cepat daripada lebih dari 1000 tahun sejak
nenek
moyangnya mulai mendiami wilayah ini.
Para pekerja Eropa NNGPM pun yang semula hanya laki-laki saja mulai membawa
kaum perempuannya ke Babo. Maka komunitas seperti di kota besar pun mulai
tumbuh, laki-laki perempuan bercampur baur. Bila ada kelahiran anak, maka
bendera di kantor NNGPM dinaikkan, bila ada anak kembar lahir; maka dua
bendera
NNGPM akan dikibarkan. Rute2 penerbangan keluarga mulai ada, sekaligus
membawa
semua keperluan untuk komunitas. Inilah cikal bakal penerbangan ke Papua.
Pada
tahun 1940, diresmikan layanan terbang ke wilayah ini "Groote Oost
Luchtvaart" (Great East Flight) oleh KNILM (Koninklijke Nederlandsch
Indische Luchtvaart Maatschappij) yang punya airport di Babo.
Semua pesta2 penting tentu saja diadakan dengan meriah : Kelahiran Ratu
Belanda, festival St Nicholas, Natal, dan Tahun Baru. Setiap malam minggu
ada
pemutaran film di bioskop perusahaan, ada pertandingan hoki, sepak bola,
tenis
dan golf. Para wanita Belanda pun dengan bantuan suku2 asli yang telah
menjadi
pekerja NNGPM punya hobi baru yaitu mengumpulkan anggrek hutan dari berbagai
varietas. Para botanist dan zoologist amatir mulai bermunculan dengan
kayanya
flora dan fauna Papua ini. Komunitas ini pun menghasilkan para etnograf
amatir
yang meneliti para suku2 Papua di sekitar Babo. Suatu hari, Mr. Wissel,
seorang
insinyur NNGPM terbang di atas Punggung Papua (Pegunungan Tengah) Papua dan
menemukan beberapa danau besar di sekitar wilayah Enarotali sekarang. Pantai
danau ini dihuni oleh suku2 Papua yang belum dikenal sama-sekali oleh dunia
luar. Saat Wissel turun dari pesawat, ia disambut sebagai "dewa dari
langit". Kemudian, danau ini sekarang terkenal sebagai Danau Wissel.
Hubungan baik terbina, beberapa orang suku Papua penghuni pantai danau ini
pernah diterbangkan ke Babo untuk operasi darurat.
Begitulah sekelumit sejarah pembukaan wilayah Papua di Kepala Burung.
Membuka
semuanya : pengetahuan geologi, membawa minyak ke permukaan (lapangan
Klamono,
Mogoi, Wasian, dll.), dan membuka keterpencilan suku-suku Papua. Ini sebuah
contoh bagaimana minyak bisa membuka dunia yang semula "back of
beyond".
Teman-teman ex Petromer Trend (kini PetroChina) yang menemukan lapangan2
besar
di Salawati awal tahun 1970-an (misal Walio dan Kasim), BP yang sedang
mengembangkan Tangguh di Berau Bay, dan Genting Kasuri yang mau memulai
survey
di wilayah ex Babo, pasti punya cerita tersendiri dan terkini membuka Kepala
Burung ini; saya hanya menceritakan sedikit masa lalunya.
Salam,
awang
--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
tunggulah 'call for paper' utk PIT IAGI ke-38!!!
akan dilaksanakan di Semarang
13-14 Oktober 2009
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted
on
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI
and
its members be liable for any, including but not limited to direct or
indirect
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data
or
profits, arising out of or in connection with the use of any information
posted
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------
__________ NOD32 3823 (20090203) Information __________
This message was checked by NOD32 antivirus system.
http://www.eset.com
--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
tunggulah 'call for paper' utk PIT IAGI ke-38!!!
akan dilaksanakan di Semarang
13-14 Oktober 2009
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------