Perdebatan kepemilikan akan sesuatu antara Malaysia dan Indonesia telah 
terjadi, dari perdebatan kepemilikan akan pulau di perbatasan kedua negara, 
reog, batik, bahkan rendang. Dalam hal ini, Malaysia selalu mengklaim bahwa itu 
miliknya, dan Indonesia mempertahankan apa yang menjadi miliknya. 
 
Menggali buku-buku lama, rupanya perdebatan semacam itu telah terjadi juga pada 
hampir 50 tahun yang lalu; terjadi pada literatur-literatur sejarah. Ada sebuah 
kontroversi di dalam sejarah yang menyangkut apa yang dimaksud oleh Caludius 
Ptolemaeus, ahli astronomi dan geografi Mesir awal abad Masehi (sekitar 87-150 
AD), sebagai “Chryse Chersonesos” yang suka diterjemahkan di kalangan sejarah 
Asia Tenggara sebagai Semenanjung Emas. 
 
Malaysia, melalui ahli sejarahnya yang terkenal Paul Wheatley menulis dalam 
sebuah buku berjudul The Golden Khersonese (University of Kuala Lumpur, 1961) 
bahwa chryse chersonesos yang dimaksud Ptolomeus itu tidak lain daripada 
Semenanjung Malaka.
 
Publikasi Wheatley segera mendapatkan serangan dari seorang ahli sejarah 
kelahiran Belanda yang lama berkarya di Indonesia : W.J. van der Meulen. 
Rohaniwan Katolik pendiri Jurusan Sejarah IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta dan 
menjadi ketua jurusannya  selama 20 tahun (1957-1977) ini menulis serangkaian 
artikel di dalam majalah Basis  yang pada pokoknya menyerang argumen-argumen 
Wheatley. Van der Meulen mengajukan argumen-argumen baru yang mendukung 
pendapatnya bahwa yang dimaksud dengan chryse chersonesos tidak lain daripada 
Sumatera. 
 
Apa hubungan kontroversi sejarah ini dengan geologi ? Barang tambang berupa 
emas dan perak yang ada di Pegunungan Barisan serta penutupan dan pembukaan 
Selat Malaka adalah beberapa argumen yang dikemukakan van der Meulen dalam 
menyerang Wheatley. Maka, keahlian geologi sebenarnya bisa terkait dalam 
kontroversi dan perdebatan ini.
 
Prof. Wheatley menulis di dalam bukunya halaman 144 (diterjemahkan), “para 
sarjana pada umumnya, meskipun dengan ragu-ragu juga, mengidentifikasikan 
“Chryse Chersonesos” dengan Semenanjung Malaka. Argumen-argumen yang 
dikemukakan sebagai dasar pendapat ini sepenglihatan kami nampaknya sama sekali 
tak tertumbangkan.” Tetapi, van der Meulen menulis artikel berjudul 
“Semenanjung Emas”, mempertanyakan “...manakah kiranya argumen-argumen yang 
mahakuat ini ?
 
Chersonesos memang berarti semenanjung. Tetapi yang selalu menimbulkan 
keheranan adalah mengapa di dalam sumber-sumber India berkali-kali 
diketengahkan adanya Tanah Emas atau Pulau Emas (Suvarnabhumi, Suvarnadvipa), 
akan tetapi tidak pernah dibicarakan adanya sebuah semenanjung. Harus 
diperhatikan bahwa Ptolomeus menulis buku geografi Asia Tenggara di awal abad 
Masehi itu tidak berdasarkan atas perjalanannya sendiri, tetapi atas dasar 
cerita orang yang sebagian besar berasal dari para pedagang India.
 
Van der Meulen menulis bahwa bentuk Chryse Chersonesos itu tidak memanjang, 
melainkan hampir persegi. Di dalam gambar Wheatley, paling tidak dua pertiganya 
terletak di laut sebelah barat Malaka. Dan, yang menarik, mengapa Selat Malaka 
tidak disebut-sebut ? Ada dua kemungkinan : Selat Malaka belum ada saat awal 
abad Masehi itu, atau Selat Malaka sudah ada hanya saat itu bukan menjadi alur 
pelayaran. Di sini para ahli geologi Kuarter bisa meneliti penutupan dan 
pembukaan selat yang pada zaman modern ini menjadi alur utama pelayaran di Asia 
Tenggara. 
 
Tahun 1911, seorang ahli sejarah bernama Wilhelm Volz menulis artikel berjudul, 
“Sudost Asien bei Ptolomaeus” dalam jurnal Geographische Zeitschrift volume 
XVII” halaman 31, “melihat bentuknya, maka Chryse Chersonesos yang digambarkan 
Ptolomeus ini tidak dapat dinyatakan lain kecuali menggambarkan Malaka-Sumatera 
menjadi satu.” Jadi menurut Volz, kapal-kapal yang datang dari India berlayar 
ke arah selatan melalui pantai barat Semenanjung Malaka sampai ke suatu titik 
tertentu dan dari tempat itu menyeberang ke pantai utara Sumatera, melanjutkan 
pelayarannya menyusur pantai barat Sumatera dan kemudian memasuki Kepulauan 
Indonesia dengan melalui Selat Sunda. Pendapat ini dengan jelas menyatakan 
bahwa saat itu Selat Malaka masih tertutup untuk pelayaran (mungkin masih 
terlalu dangkal ? – ahli geologi Kuarter bisa menelitinya lebih jauh).
 
Van der Meulen menantang argumen Wheatley, kalau Semenanjung Malaka adalah 
Semenanjung Emas (Chryse Chersonesos), adakah emas ditemukan di Malaka ? 
Wheatley menulis, meskipun sedikit, emas ada di Semenanjung Malaka, yaitu di 
jalur pegunungan antara Kelantan dan Malaka. Van der Meulen menulis, bahwa 
Pegunungan Barisan di pantai barat Sumatera lebih banyak mengandung emas 
daripada Semenanjung Malaka. VOC telah sejak awal mengeksplorasi dan 
mengeksploitasi emas di pegunungan ini, antara lain menghasilkan area emas 
terkenal Rejang-Lebong (pekerjaan emas pada zaman VOC di Sumatera dilaporkan 
dalam Elias Hesse, 1931 : Goldbergwerkte in Sumatera 1680-1685). 
 
Wheatley menulis bahwa para penggambar peta dari abad ke-15 dan ke-16 pada 
umumnya mempersamakan Chryse Chersonesos dengan Malaka. Tetapi Wheatley juga 
menulis bahwa ada penggambar peta lain yang penting seperti Ortelius dan Manoel 
de Eredia yang berpendapat bahwa Sumatera adalah Chryse Chersonesos-nya 
Ptolemaeus. Kedua ahli geografi ini juga berpendapat bahwa dahulu kala 
seharusnya ada sederet tanah yang merupakan jembatan penghubung antara Tanjung 
Rachado (di sekitar Negeri Sembilan Semenanjung Malaka) dan Pulau Rupat di 
Riau. Meskipun ditulisnya, Wheatley tak mempercayai analisis Ortelius dan de 
Eredia ini. Padahal, hanya de Eredia satu-satunya dari para penggambar peta itu 
yang pernah tinggal di Asia Tenggara selama bertahun-tahun.
 
Orang-orang Portugis juga menerapkan nama Ophir, yaitu nama tanah emas yang 
menyumbangkan emas dan perak kepada Raja Salomo, baik pada Gunung Talak Mau di 
Sumatera, maupun pada Gunung Ledang di dekat Johor di Malaka. Jadi, pada 
pokoknya tidak banyak kita jumpai tradisi yang secara tegas hanya menunjuk 
Malaka sebagai Chryse Chersonesos. 
 
Van der Meulen sendiri tidak percaya kepada teori jembatan darat antara Pulau 
Rupat dan Negeri Sembilan, para ahli geologi Kuarter bisa menganalisisnya. 
Tetapi van der Meulen percaya, bahwa bagian selatan Selat Malaka saat itu 
berupa rawa-rawa yang bersimpang siur dengan alur-alur dangkal. Bagian ini 
hanya bisa dilalui oleh para penduduk setempat yang tahu mana bagian yang 
dangkal mana yang dalam, mana gosong-gosong pasir yang selalu berubah 
kedudukannya; bukan oleh para pelayar dari negeri lain seperti para pedagang 
India.
 
Dalam hubungan ini, baik kiranya dikemukakan, bahwa pelaut-pelaut Arab kuno 
ternyata tidak mengenal sama sekali pedalaman Selat Malaka, kecuali muaranya di 
sebelah utara. Kenyataan ini menyebabkan banyak ahli menarik kesimpulan bahwa 
pelaut-pelaut itu hanya menggunakan jalan mengitari Sumatera. Para pelaut Arab 
baru bisa mengenal alur-alur di Selat Malaka pada abad ke-15 ketika mereka 
menerbitkan peta laut wilayah ini. Saat itu seluruh Selat Malaka bisa dilayari 
meskipun harus dengan sangat hati-hati.
 
Satu hal yang perlu diwaspadai pada bentuk Chryse Chersonesos, Ptolemaeus 
sebenarnya sama sekali tidak menggambarkan garis-garis pantai, melainkan ia 
begitu saja menghubungkan dengan garis lurus titik yang satu di dalam 
katalognya dengan titik berikutnya, tanpa menghiraukan apakah titik-titik itu 
terletak di pantai yang sama atau yang saling berhadapan, terletak di seberang 
teluk, selat, atau lautan. Garis-garis ini hanya menggambarkan jalan 
perdagangan sejauh yang dikenalnya; jadi dapat melintang pada pantai, dapat 
pula lebih kurang sejajar, atau bahkan memotong suatu kawasan.
 
Van der Meulen juga mengemukakan argumen bahwa dari segi angin, pantai barat 
Sumatera lebih mudah dilayari daripada pantai barat Semenanjung Malaka. Angin 
musim yang paling baik untuk berlayar dari India ke Asia Tenggara bertiup 
antara Oktober dan Maret (saat musim hujan di Indonesia Barat). Saat itu angin 
dari barat akan membawa kapal-kapal yang bertolak dari India Selatan atau 
Srilangka menuju Sumatera. Dengan berlayar sepanjang pantai barat Sumatera, 
maka para pelaut itu akan selalu mendapatkan tiupan angin penuh. Bagi 
kapal-kapal yang harus singgah di Teluk Martaban, selatan Myanmar, dan di 
daerah sebelah utara semenanjung, pilihannya lebih sukar. Selat Malaka memang 
lebih pendek, akan tetapi arah angin di situ pada umumnya melintang sehingga 
kemajuan berlayar sering sukar sekali.
 
Yang paling menarik dari argumen van der Meulen adalah kenyataan bahwa tidak 
terdapatnya sama sekali penemuan-penemuan arkeologi yang lebih tua daripada 
abad ke-8 di sebelah selatan Tanah Genting Kra – suatu daratan sempit di antara 
dua laut di sebelah utara Semenanjung Malaka. Henig (1930 : Molukken Reise) 
menulis (diterjemahkan) : “Tidak dapat disangsikan bahwa tempat-tempat penemuan 
arkeologi seperti Oceo dan P’ong Tuk di Kamboja menghasilkan artefak-artefak 
yang berasal dari dunia Romawi. Sedangkan, Semenanjung Malaka sangat menyolok 
karena tak satu pun artefak Romawi ditemukan di situ. Pada umumnya, kita dapat 
menghubungkan Delta Mekong, Kamboja dengan tempat-tempat penemuan budaya Romawi 
di Arikamedu (pantai timur India), tetapi tidak ada hubungan itu dengan Chaya, 
Takuapa atau Kedah di Malaya, maka tak ada bukti perdagangan dari Arikamedu 
dengan Semenanjung Malaya.”
 
Ke manakah artefak Arikamedu itu menyambung kalau bukan ke Malaka ? Rupanya ke 
pantai barat Sumatera. Alistair Lamb (1961 : Miscellaneous papers on Early 
Hindu and Buddhist Settlement in Northern Malaya and Southern Thailand, 
Federation Museum Journal VI) menulis bahwa di Sumatera Selatan dan daerah 
Bukit Barisan ditemukan manik-manik Romawi ribuan jumlahnya. Manik-manik ini 
ditemukan di kuburan-kuburan otentik zaman Perunggu. Yang juga merupakan sebuah 
bukti lagi tentang jalan dagang zaman kuno itu ialah adanya bejana-bejana 
Dinasti Han (200 BC-200 AD) yang ditemukan di daerah ini (van der Hoop, 1938 : 
De Prehistorie, dalam F.W. Stapel, Geschiedenis van Nederlandsch Indie).
 
Saya tutup tulisan ini dengan membandingkan secara geologi “siapa” yang kiranya 
lebih berhak menyandang gelar Semenanjung Emas itu, Malaysia atau Sumatera ? 
Dalam hal ini baik mengemukakan peta jalur orogen dan mineralisasi dari J. 
Westerveld (1952 : Phases of mountain building and mineral provinces in the 
East Indies). Westerveld (1952) menunjukkan bahwa Malaya hanya dilalui Jalur 
Orogen Malaya (Late Jurassic) yang membawa mineralisasi kasiterit, emas, dan 
bauksit. Sedangkan Sumatera, dilalui oleh dua jalur orogen : (1) Orogen 
Sumatera (Kapur) yang membawa mineralisasi besi, emas-perak-logam dasar, dan 
(2) Orogen Sunda (Miosen Tengah) yang membawa mineralisasi emas-perak 
epitermal. Perhatikan, bahwa Sumatera lebih kaya akan emas dibandingkan Malaya 
sebab lebih banyak jalur mineralisasinya; maka berdasarkan hal ini bahwa  
“Chryse Chersonesos” adalah Sumatera seperti ditulis van der Meulen, bukan 
Malaya/Malaysia/Semenanjung Malaka seperti ditulis
 Paul Wheatley. Pulau Emas adalah Sumatera, sedangkan Malaysia adalah 
semenanjung timah.
 
“Bendera Chryse Chersonesos” tidak seharusnya dikibarkan di atas atap 
Semenanjung Malaka seperti keinginan Prof. Wheatley; ia, berdasarkan banyak 
argumen, mesti dikibarkan di atas Pulau Sumatera. Geologi akan memperkuat 
analisis ahli sejarah kelahiran Belanda yang betah tinggal di Yogyakarta itu - 
van der Meulen.
 
salam,
awang


      

Kirim email ke