Fitri, Diskusi ini saya teruskan ya ke milis2, siapa tahu dapat respon lain. Kalau jelas tektonostratigrafinya, tentu saja kita bisa menyebut sekuen synrift dan postrift di Pegunungan Selatan Jawa sebagai rift basins. Tetapi beberapa studi yang pernah saya lakukan (sebagian dipublikasi di Satyana, 2005 -proceedings IPA), menunjukkan bahwa rift Paleogen di Pegunungan Selatan yang berisi sedimen fluvio-deltaik berumur Eosen-Oligosen tidak secara masif berkembang di seluruh Pegunungan Selatan Jawa. Di beberapa tempat memang berkembang sampai baik. Misalnya, sekuen batupasir Bayah, Ciletuh, Walat, Cikalong di Jawa Barat Selatan (Eosen-Oligosen), Jatibungkus di Kebumen-Luk Ulo, Nanggulan di Kulon Progo, dan sekuen pasir di antara Wungkal dan Gamping di Jiwo (semuanya Eosen). Sekuen postrift di atasnya sedikit lebih luas berkembang, seiring dengan naiknya muka laut setelah mid-Oligocene unconformity. Selebihnya dari itu, Pegunungan Selatan secara masif didominasi oleh intra-arc basin yang mengendapkan OAF (old andesite formation) dari Jawa Barat-Jawa Timur pada Oligo-Miosen (Jampang-Gabon-Kebobutak). Kita dan hampir semua operator perminyakan di Indonesia yang pada awal2nya bekerja di cekungan2 backarc basin di Indonesia Barat (Sumatera Utara-Tengah-Selatan, Sunda-Asri, Jawa Baratlaut, Jawa Timurlaut) di mana sekuen2 synrift-postrift-syninversion ideal sekali ditemukan dan seragam di mana2) cenderung saat bekerja di mana pun di Indonesia Barat menganalisis stratigrafinya dengan cara itu. Padahal, bila setting tektoniknya lain, kita tentu tak bisa menerapkan terminologi itu ke tempat2 lain. Kadang-kadang bisa memang, seperti paragfaf pertama saya di atas; tetapi bila suatu wilayah tak pernah jadi backarc secara penuh, tektonostratigrafi ala cekungan2 produktif di Indonesia Barat itu tak akan memuaskan untuk diterapkan. Seagai contohnya adalah Pegunungan Selatan. Penelitian para ahli akan wilayah ini bisa dibilang masih sedikit, apalagi yang menyentuh ke petroleum geology. Belakangan ada paper2 di IPA yang terkait tentang wilayah ini,tetapi juga tak segera serta merta bisa dipakai untuk analisis stratigrafi rift basins. Yang dominan menguasai Pegunungan Selatan adalah intra-arc basin sebab volcanic arc masif pertama di Jawa terjadi justru di Pegunungan Selatan, dan saat ini seluruh Pegunungan Selatan di Jawa ada dalam setting forearc relatif terhadap jalur volkanik sejak Miosen Atas di tengah Jawa. Berdasarkan pemetaan2 dan penyelidikan lapangan, memang kita menemukan sekuen2 batupasir yang baik seperti saya sebutkan di atas. Data seismik kita di wilayah ini sangat minimal, maka definisi rift basin di wilayah ini masih spekulatif. Pada saat forearc basin, pengalaman di cekungan2 definitif forearc di Sumatera, kita tak pernah menemukan lagi sekuen rift basin saat itu; yang ada subsidence yang mengembangkan karbonat dan beberapa sedimen lautdalam. Rifting terjadi setelah subduction pada gerak subduction yang melambat, tetapi wilayahnya bukan di forearc, melainkan di backarc. Kita sebut itu sebagai gerak roll back. Slab oseanik yang menunjam di bawah kerak benua akan tertarik ke belakang karena melambat dan berat (inilah gerak roll back), sebagai akibatnya, ada backarc rifting-spreading. Di wilayah forerarc, saat itu secara geometri tak mungkin ada rifting-spreading sebab terlalu dekat dengan subduction, dan mantle plume di wilayah itu, yang sirkulasinya akan membuat spreading - bukan dalam posisi akan membuka kerak. Dalam Wilson cycle, tidak dimasalahkan pembukaan cekungan sedimen, ia memasalahkan pembukaan dan pemekaran samudera skala kerak. Wilson cycle memasalahkan subduction; dan rifting karena roll-back karena subduction mungkin terjadi di backarc basin sebagai akibat susulan bila slab oseanik yang menunjam di bawah benua berumur tua >50 juta tahun dan subduction rate melambat. Dalam pull-apart terjadi opening basin. Kasus2 di Indonesia, opening karena pull apart oleh major strike-slip faults terjadi pada Neogen dan menyebabkan penenggelaman basin bukan rifting. Tetapi bila ada pullapart opening pada Paleogen, ia bisa membuka basin dan menghasilkan rift basins; contohnya adalah pembukaan cekungan2 rift Paleogen Melawi dan Ketungau di Kalimantan Barat (lihat publikasi saya di proceedings IAGI tahun 1995). Saya tidak yakin ada double subduction pada saat Oligo-Miocene yang membentuk Pegunungan Selatan. Double subduction semacam itu ada, tetapi jauh di baratlaut dan utara Kalimantan, atau saat Jurassic di Sumatera. Pegunungan Selatan benar2 produk volcanic arc pada subduction Oligo Miocen. Tidak ada bukti di utara Pegunungan Selatan ada melange umur yang sama yang akan mencirikan subduksi dari utara. Kalau ada pun, rifting tak akan terjadi di Pegunungan Selatan, tetapi di back arcnya yaitu di Laut Hindia sekarang. Pemendekan ATG (arc-trench gap) akan memendek sejalan waktu bila sudut Wadati- Benioff menjadi curam. Itu biasa terjadi seiring slab yang menunjam menjadi tua dan berat. Bila yang menunjam adalah slab generasi baru yang "muda" ia benar akan memanjangkan ATG sebab sudut penunjaman melandai. Sudut Benioff dapat diketahui secara tidak langsung dari jarak ATG dan umur slabnya; tetapi secara langsung pun bisa melalui focal mechanism gempa (tetapi ini untuk Kuarter). Mengetahui sejarah sudut Benioff hanya melalui metode tidak langsung. Komposisi volcanic arc akan bergantung kepada partial melting magma menembus jenis kerak di atasnya. Di kerak yang bersifat intermediate, ia akan calk alkaline, tetapi makin tebal kontinen ia akan potasic. Saya pikir Oligo-Miocene arc Pegunungan Selatan itu andesitik atau intermediate, tidak basa tholeitic atau asam. Memang saat kejadiannya, ia menembus partial melting kerak akresi yang intermediate. Semua yang Fitri sebutkan itu berhubungan dan suka dijadikan orientasi untuk memahami mana kontinen mana samudera (Dickinson dan Hatherton, 1967). Yang basa bergerak mendekati samudera, yang asam bergerak mendekati kontinen, sedangkan yang intermediate di tengahnya - tetapi ini tak berarti apa2 ke dugaan rift basin Pegunungan Selatan. salam, awang
--- On Mon, 3/16/09, pipit aja <[email protected]> wrote: From: pipit aja <[email protected]> Subject: southern mountain To: [email protected] Date: Monday, March 16, 2009, 1:56 PM pak awang, selamat siang. pak saya mau tanya, kenapa kita tidak bisa menganggap southern mountain sebagai rift basin, padahal dia memiliki sekuen2 syn rift, post rift pada paleogene? saya baca di tulisan2 bapak pada milis IAGI, hal ini karena southern mountain adalah fore arc, dan sekuen2 syn rift hanya cocok diterapkan pada bacck arc, tetapi saya belummengerti pak, mohon dijelaskan? apa tidak dapat kita menganggap southern mountain sebagai rift basin pada saat dia menjadi fore arc basin. Saya belum mengerti apakah bisa terjadi rifting setelah terjadi subduksi. Apakah rift basin hanya merupakan bagian dari wilson cycle pada awal mula pembukaan samudera, atau juga merupakan jenis basin akibat divergent seperti pull apart atau pop up akibat shearing ? yang kedua, saya pernah baca pada southern mountain terjadi double subduction, oceanict crust ke bawah continental fragment dari gondwana dan ke bawah sundaland, bagaimana menurut bapak? kemudian pak,saya juga pernah baca arc trench gap kita justru mengalami pemendekan hingga 100 km, padahal kalau zona benioff melandai harusnya ATG memanjang.apakah ada parameter lain yang dapat kita pakai untuk mengetahui apah zona benioff kita melandai atau menunjam? apakah kita bisa mengkaitkan southern mountain yang acid volcanic material dengan sunda arc present day yang di sebelah selatan bersifat basa tapi makin ke muria makin asam? tapi kemudian kembali lagi muncul yang basa di present day sunda arc di selatan terakhir? terimakasih pak, fitri

