Batasi dengan *GRID !* untuk mempermudah dan
menghemat.<http://rovicky.wordpress.com/2009/03/17/batasi-dengan-grid-untuk-mempermudah-dan-menghemat/>
17
Maret 2009 at 11:04 pm | In Dongeng
Geologi<http://id.wordpress.com/tag/dongeng-geologi/>,
Energi <http://id.wordpress.com/tag/energi/>,
Explorations<http://id.wordpress.com/tag/explorations/>
<http://rovicky.wordpress.com/wp-admin/post.php?action=edit&post=2647>
Tags: digitasi <http://id.wordpress.com/tag/digitasi/>,
grid<http://id.wordpress.com/tag/grid/>,
konsesi <http://id.wordpress.com/tag/konsesi/>,
perminyakan<http://id.wordpress.com/tag/perminyakan/>,
peta <http://id.wordpress.com/tag/peta/>
[image: grid1] <http://rovicky.files.wordpress.com/2009/03/grid1.jpg>

Grid (kotak-kotak beraturan)

Sudah jenuh dengan mendongeng transportasi “Aliran Jamaah Haji di
Arafah”<http://rovicky.wordpress.com/2009/03/17/2009/03/13/aliran-jamaah-haji-di-arafah/>,
“<http://rovicky.wordpress.com/2009/03/17/2009/03/13/aliran-jamaah-haji-di-arafah/>Laju
Aliran Lalulintas
<http://rovicky.wordpress.com/2009/03/17/2009/03/12/laju-aliran-lalulintas/>dan
“Gelombang lalulintas
!<http://rovicky.wordpress.com/2009/03/17/2009/03/09/gelombang-lalulintas/>”
yang ruwet sekarang mendongeng yang santai dan rileks tapi perlu
diperhatikan terutama kawan-kawan perminyakan. Walaupun idenya ini bisa
diterapkan untuk kawan-kawan yang selalu berhubungan dengan peta kehutanan,
lokasi pertanian, serta konsesi pertambangan dll.

* [image: :(] “Looh, Pakdhe, lalu-lintasnya emang dah lancar ya ?”*

* [image: :D] : Ya ben, biar ngga bikin bosen thole”*

Beberapa kali diskusi tentang grid dalam menentukan daerah operasi
perminyakan selalu saja meleset ke luasan daerah, bukan titik-tiktik lokasi
dalam penentuan daerah operasi (daerah konsesi). Banyak yang masih memiliki
pengertian GRID seperti dibawah ini :

Konon yang dibawah ini infonya dari Ditjen MIGAS.

 *Grid System yang dianut Ditjen Migas adalah :*

*Berikut adalah keterangan yang kudapat dari Ditjen Migas mengenai sistim
Migas berkenaan dengan grid system :*

   - *Satu (1) grid = 20′ X 20′ = 37 km X 37 km = 1369 sq. km.*
   - *Maksimal daerah untuk JS adalah 8 grid yang berarti 8 X 20′ X 20′
   atawa = 10,950 sq. km*
   - *Sedangkan maksimal blok yang boleh di acquired  adalah :*

*- Untuk daerah onshore maksimal adalah 4 grid = 5,475 sq. km
- Untuk daerah offshore maksimal 6 grid = 8,214 sq.km*

Dalam diskusi dengan kawan-kawanku tersebut terkesan bahwa istilah grid
hanyalah *luasan*, bukan lokasi koordinat titik-titik yang membatasi konsesi
(PSC Area). Pengertian grid diatas hanyalah menunjukkan bahwa satu grid itu
adalah satu luasan saja atau seluas  1369 Km. Walaupun sudah menyebutkan 20
menitan, tetapi itu hanyalah sekedar angka saja. Seorang sahabat yang lain
bercerita :

*ini sebenarnya sudah disarankan sekitar akhir tahun 1970′an,waktu itu yg
memberikan KONSEP/IDE adalah Pak GATOT KARIYOSO, waktu itu di LITBANG EP,
dan hanya dalam bentuk Internal Memorandum yg disetujui MENTERI PENTAMBEN
tapi belum dalam bentuk GRID hanya luasan sbb
1. ONSHORE maksimum 5000 km2
2. OFFSHORE maksimum 8000 km2
3. Daerah yg di RELINQUIST harus menyambung,spy mudah ditawarkan lagi.
4. Data INSPECTION selama 4 jam sejumlah US$ 8000,foto copy oleh LITBANG (
diadopsi PND,data inspection US$ 500 per dua jam)
5. Sesuai KPTS Direktur EP,semua data harus lewat LITBANG EP*

Wah sepertinya wacana grid sudah ada sejak tahun 1970 ? Dan sepertinya
idenya bukan sekedar luasan saja. Tapi coba kita tengok apa yang ada dalam
peta konsesi atau peta lisensi atau peta daerah PSC saat ini.

* [image: :(] “Pakdhe, di Indonesia kan sudah tidak mengenal konsesi untuk
perminyakan, kaaan ?*

* [image: :D] “Hiya Thole. Saya sebut saja konsesi untuk ‘mempermudah’”.*

[image: 
grid-1]<http://rovicky.wordpress.com/2009/03/17/batasi-dengan-grid-untuk-mempermudah-dan-menghemat/grid-1/>

Peta Konsesi PSC di Kalimantan Timur dan Selat Makasar ini menunjukkan bahwa
bentuk konsesi yang tidak beraturan. Beberapa mengikuti garis grid, tetapi
lebih banyak yang "acak". Silahkan di Klik untuk melihat dalam ukuran besar
(detail).

Diatas itu daerah konsesi (PSC Area) coba perhatikan grid-grid yang saya
buat. Grid yang besar dalam 30 menit, sedangkan grid kecil dalam 10 menitan
dengan garis terputus. Coba perhatikan bagaimana titik-titik batas ini
terlihat acak tidak beraturan. Perusahaan yang mengembalikan daerah pada
tahap pertama maupun kedua semasa eksplorasi terlihat sekali tidak diatur.

Namun kesalahan ini bukan hanya karena “kebebasan” yang diberikan oleh
Pemerintah (cq BPMIGAS atau dulu BKKA/BPPKA). Tetapi bahkan daerah-daerah
baru yang sedang ditawarkanpun tidak mengikuti titik-titik grid secara
teratur.
Bandingkan dengan negara tetangga

Saya mungkin akan dihujat dan dicibir karena selalu membandingkan dengan
negeri tetangga, tetapi apa salahnya melihat kiri kanan sebagai pembanding.
Memang betul negeri tetangga bahkan dunia telah “meniru” sistem PSC yang
berasal dari Indonesia. Tetapi meniru yang cerdas adalah meniru dengan
modifikasi.

Gambar peta dibawah ini jelas menunjukkan bagaimana negeri tetangga Malaysia
dan bahkan Vietnam melakukan pembagian daerah dengan mengikuti grid. Vietnam
mungkin menggunakan GRID yang cukup lebar dan berbentuk persegi. Sedangkan
Malaysia menggunakan GRID 10 menitan untuk seri-seri kedua dari periode
eksplorasinya.

Malaysia memiliki bentuk tidak teratur (tidak mengikuti grid hanya untuk
lapangan-lapangan yang berproduksi. Lihat bentuk kecil-kecil dimana itu
melingkupi lapangannya saja. Sedangkan daerah-daerah lain yang berwarna
kehijauan merupakan daerah-daerah yang dalam tahap eksplorasi (pencarian).
Untuk soal ini silahkan baca lagi keuntungan dari sistem pengembalian daerah
dari Malaysia disini : *Membandingkan dua PSC term antara Indonesia
dan 
Malaysia.<http://rovicky.wordpress.com/2009/03/17/2006/03/08/membandingkan-dua-psc-term-antara-indonesia-dan-malaysia/>
*

Daerah Natuna Barat memiliki bentuk koknsesi yang (maaf) ‘*amburaddul*‘.
Bentuk berliku-liku, dengan koordinat titik-titik sudutnya memiliki
koordinat yang sangat mungkin akan menimbulkan konlfik karena bukan “angka
bulat”.
[image: grid-2] <http://rovicky.files.wordpress.com/2009/03/grid-2.jpg>

Bentuk daerah operasi PSC (konsesi) di Malaysia, Indonesia dan Vietnam.
Bandingkan keteraturannya.

* [image: :(] “Pakdhe, lah terus gimana kalau sudah terlanjur begitu ?”*

* [image: :D] “Yang terlanjur ya sudah thole. Tetapi daerah Indonesia itu
LUAAAAS, masih banyak yang bisa diatur dengan menggunakan GRID”*

[image: grid-3] <http://rovicky.files.wordpress.com/2009/03/grid-3.jpg>Memang
Indonesia sudah lebih dari 100 tahun, bahkan mungkin tertua di Asia
Tenggara. Tetapi “ketuaan” ini janganlah terus dipakai untuk menyatakan
(alasan) keterlanjuran, kan ? Masih bisa daerah-daerah baru yang akan
ditawarkan nanti mengikuti pola grid yang mudah.

Misalnya daerah Indonesia Timur disebelah ini.
Adakah nilai ekonominya ?

Nah ujung-ujungnya adalah duik lagi. Coba saja lihat berapa kali seorang
drafter dan seorang ahli pemetaan harus melakukan survey di tiap-tiap titik
ini seandainya terjadi ketidak sesuaian (ketidak pastian) lokasi.

Untuk keperluan digitasi saja satu “block boundary” bisa memerlukan 1-2 jam
kerja. Karena angka-angkanya harus sesuai dengan yang ada dalam dokumen
kontrak. Yang mana seringkali dokumen kontrak atau data koordinat ini
menjadi bahan rahasia (confidential) yang tidak perlu.

Di Indonesia ada lebih dari 100 perusahaan yang melakukan eksplorasi.
Artinya kalau masing-masing perusahaan melakukan pekerjaan digitasi
titik-titik yang rumit ini siapa yang membiayainya ? Tentusaja Indonesia
sendiri ! karena seluruh pekerjaan ini akan masuk jam kerja dan jelas masuk
dalam “*human related cost*” yang “*Cost Recoverable*“.

Artinya ketidak beraturan sudut-sudut grid ini selain menunjukkan
ketidak-mudahan dan ketidak-teraturan juga memiliki arti ekonomis yang
nilainya bisa “berjuta-juta”. [image: :P]

* [image: :(] “Ya sudah saran Pakdhe gimana ?”*

* [image: :D] “Lah yo nanti kalau MIGAS akan menawarkan daerah baru mbok ya
menggunakan titik-titik sudut yang koordinatnya menggunakan 30 menitan untuk
eksplorasi siklus pertama dan 10 menitan untuk daerah-daerah yang ditawarkan
ulang setelah dieksplorasi tahap (siklus) pertama atau hasil
relinguishement.”*

* [image: :(] “Terus gimana caranya ?”*

* [image: :D] “Ya sudah bilang saja ke Ditjen MIGAS, atau kirim artikel ini
ke partai-partai untuk bahan kampanye ! “*

* [image: :(] “Hidup Dongeng Geologi !!! … Halllah …. !”
*

Bacaan terkait :

   - *Soal PSC di Indonesia : Kemudahan yg akhirnya menyulitkan
   
<http://rovicky.wordpress.com/2009/03/17/2006/03/23/soal-psc-di-indonesia-kemudahan-yg-akhirnya-menyulitkan/>
   *
   - *Membandingkan dua PSC term antara Indonesia dan
Malaysia<http://rovicky.wordpress.com/2009/03/17/2006/03/08/membandingkan-dua-psc-term-antara-indonesia-dan-malaysia/>
   *




-- 
Dongeng anget :
http://rovicky.wordpress.com/2009/03/13/aliran-jamaah-haji-di-arafah/

Kirim email ke