Kegigihan Pak Miko dkk untuk tetap melindungi perbukitan kapur di Jabar, termasuk Goa Pawon ternyata bergema cukup jauh. Buktinya majalah National Geographic Indonesia meliput dengan judul (yang agak provokatif) seperti di atas. Walaupun belum selesai membaca, dari penampilan foto-foto yang sangat bagus, saya menghargai usaha NGI untuk memuat artikel ini, sekaligus kegigihan Pak Miko dkk bbrp waktu yll.
Foto pertama menyajikan kepulauan Raja Ampat (dua halamanan) di Papua yang legendaris itu. Di depan pulau utama ada bbrp pulau kecil berwarna putih, jelas ini batuan gamping. Disebutkan bahwa kawasan ini relatif masih lestari karena jauh letaknya. Kawasan karst semacam ini, terutama yang di darat, lebih dipandang sebagai bahan tambang semata. Parahnya, pengelolaannya dilakukan secara parsial: berbasis administratif, bukan batas ekologis. Padahal, dari sudut pandang ilmu pengetahuan, karst adalah "tambang" penelitian yang tak pernah surut. Foto berikutnya (juga dua halaman) adalah pemandangan penambangan gamping di Cibinong. Selanjutnya ditampilkan peta Indonesia dengan lolasi penyebaran karst. Menurut Bappenas terdapat 15,4 juta hektare kawasan batu gamping yang mengandung bahan tambang. Namun, tak tak semuanya dapat ditambang, seperti kawasan Sangkulirang, Kaltim karena pertimbangan ekologis. Di sini ditampilkan foto perbukitan gamping yang runcing-runcing, mirip di Sulsel (nampak jelas kalau naik pesawat dari Sorong akan mendarat di Makassar). Selanjutnya ada foto "yang menyedihkan", dan saya barusan melihatnya sebulan yll: Kawasan Jimbaran Bali. Ini dekat rencana lokasi Garuda Wisnu Kencana. Nampak bukit gamping yang sudah dipotong menjadi "kotak-kotak raksasa", dipapas untuk dijadikan bahan baku dan bahan urugan bagi pembangunan tempat lain, terutama untuk kepentingan pariwisata. Dalam foto ini ditampilan kotak raksasa (tinggi 20 Cm) sedangkan tiga orang yang berada di bawahnya hanya 2 Cm... Halaman berikut memuat ibu-ibu perkasa di Gunung Kidul yang berjalan sambil menggendong jerican plastik (sudah bukan klenthing lagi) berisi air. Sebenarnya, kawasan karst adalah lumbung air di bawah permukaan Bumi. Juga ada foto seorang penelusur gua (aktivis speleologi) yang sedang bergelantungan masuk ke dalam gua, dimana ada sesercah cahaya yang masuk ke dalam goa. Foto lainnya ada sekelompok kelelawar yang bergerombol di langit-langit gua gamping. Kelelawar yang fungsi ekologisnya termasuk membantu penyerbukan. Kekayaan hayati semacam ini ikut musnah seiring hancurnya karst. Sedangkan foto yang lebih mengangumkan adalah jejak kehidupan purba. Gambar-2 cap tangan peninggalan manusia purba tertera pada langit-langit gua di Sangkulirang, Kaltim. Lukisan serupa ditemukan di kawasan karst lain di Indonesia dan dapat membantu penelitian mengenai kehidupan pada masa silam. Foto lain yang agak dramatis adalah seorang bapak dengan dada terbuka (kaosnya dipakai untuk menutupi kepala dari sengat matahari), bertelanjang kaki, bekerja keras "ngepruki" batu gamping dengan palu yang besar dan berat. Dia ini seorang pencari batu gamping di Tuban. Foto terakhir adalah kawasan pabrik semen Cibinong. Sepuluh tahun silam, pabrik-2 semen di Indonesia membutuhkan sedikitnya 66 juta ton batu gamping sebagai bahan baku. Lima tahun terakhir angkanya naik menjadi 163 juta ton. Pertanda kebutuhan yang semakin meningkat. Bbrp hari yll saya menyaksikan berita di tivi: Warga desa Sukolilo dan sekitar yang berdemo menolak pembangunan pabrik semen di pegunungan gamping kawasan mereka (Kec. Sukolilo, Kayen, Gabus dan Margorejo). Siapakah yang berwenang untuk menghentikan pembangunan pabrik semen yang bisa merusak ekosistem kita? Mungkin Pak Miko dan kawan-2, khususnya di IAGI perlu "berteriak" lebih kencang dan nyaring. Salam hangat, sugeng

