Yang menjadi pertanyaan apakah alam ini cukup dilestarikan saja tanpa
dimanfaatkan. ????
Tak perlu lagi ada penambangan batu kapur, tak perlu lagi ada penambangan
batu kali, pasir kali dsb. Tak perlu lagi ada penambangan bijih besi. Tak
perlu lagi ada penambangan minyak dan gas. Tak perlu lagi ada pemanfaatan
geothermal.
Pabrik Semen yg dianggap berkontribusi rusaknya daerah batu gamping harus
ditutup.
Wah daftar bisa panjang.....

Tinggal kearifan kita menyikapi dalam memanfaatkan alam, semua harus dilihat
dari berbagai perpspektif dan tidak sepotong-potong. Tidak bisa kita hanya
sekedar melarang tanpa memberikan solusi yang arif. Solusi untuk semuanya,
yaa...solusi untuk masyarakat kecil yang biasa memanfaatkan alam untuk
penghidupannya, solusi untuk pabrik2 besar atau perusahaan-perusahaan besar
dalam eksplorasi/eksploitasi alam, solusi untuk kita-kita juga yg
membutuhkan hasil dari alam tersebut.

Demikian juga dalam melihat demo2 masyarakat yg ada. Kalau kita lihat lebih
dalam lagi banyak kepentingan yang masuk disitu, msyarakat yg merasa ketika
ada perusahaan besar masuk, maka sumber kehidupannya terusik. Rakyat yang
terbiasa menambang menjadi khawatir ketika ada perusahaan besar masuk.
Sementara perusahaan2 tersebut harus segera mencari sumber2 baru. Di lain
pihak konsumen juga semakin meningkat dalam kebutuhan akan hasil olahan dari
penambangan tersebut. Ya hasil tambang minyak, ya hasil tambang batu kapur,
ya hasil tambang timah dsb.

LSM banyak yg menuding perusahaan2 tambang yg merusak lingkungan, tapi coba
lihat pulau Bangka dari atas pesawat.....banyak luka2 bopeng hasil
penambangan rakyat, ketika ada perusahaan dengan ijin lengkap dgn jaminan
amdal yg baik, rakyat demo. Jadi siapa yg disalahkan???? Kalo sudah begini
kepala daerah yg mumet...

Pelestarian alam juga perlu, tetapi pemanfaatan alam juga perlu, semua harus
diseimbangkan....


2009/4/30 Sugeng Hartono <[email protected]>

> Kegigihan Pak Miko dkk untuk tetap melindungi perbukitan kapur di Jabar,
> termasuk Goa Pawon ternyata bergema cukup jauh.
> Buktinya majalah National Geographic Indonesia meliput dengan judul (yang
> agak provokatif) seperti di atas. Walaupun belum selesai membaca, dari
> penampilan foto-foto yang sangat bagus, saya menghargai usaha NGI untuk
> memuat artikel ini, sekaligus kegigihan Pak Miko dkk bbrp waktu yll.
>
> Foto pertama menyajikan kepulauan Raja Ampat (dua halamanan) di Papua yang
> legendaris itu. Di depan pulau utama ada bbrp pulau kecil berwarna putih,
> jelas ini batuan gamping.
> Disebutkan bahwa kawasan ini relatif masih lestari karena jauh letaknya.
> Kawasan karst semacam ini, terutama yang di darat, lebih dipandang sebagai
> bahan tambang semata. Parahnya, pengelolaannya dilakukan secara parsial:
> berbasis administratif, bukan batas ekologis. Padahal, dari sudut pandang
> ilmu pengetahuan, karst adalah "tambang" penelitian yang tak pernah surut.
>
> Foto berikutnya (juga dua halaman) adalah pemandangan penambangan gamping
> di Cibinong.
> Selanjutnya ditampilkan peta Indonesia dengan lolasi penyebaran karst.
> Menurut Bappenas terdapat 15,4 juta hektare kawasan batu gamping yang
> mengandung bahan tambang. Namun, tak tak semuanya dapat ditambang, seperti
> kawasan Sangkulirang, Kaltim karena pertimbangan ekologis. Di sini
> ditampilkan foto perbukitan gamping yang runcing-runcing, mirip di Sulsel
> (nampak jelas kalau naik pesawat dari Sorong akan mendarat di Makassar).
> Selanjutnya ada foto "yang menyedihkan", dan saya barusan melihatnya
> sebulan yll: Kawasan Jimbaran Bali. Ini dekat rencana lokasi Garuda Wisnu
> Kencana. Nampak bukit gamping yang sudah dipotong menjadi "kotak-kotak
> raksasa", dipapas untuk dijadikan bahan baku dan bahan urugan bagi
> pembangunan tempat lain, terutama untuk kepentingan pariwisata. Dalam foto
> ini ditampilan kotak raksasa (tinggi 20 Cm) sedangkan tiga orang yang berada
> di bawahnya hanya 2 Cm...
>
> Halaman berikut memuat ibu-ibu perkasa di Gunung Kidul yang berjalan sambil
> menggendong jerican plastik (sudah bukan klenthing lagi) berisi air.
> Sebenarnya, kawasan karst adalah lumbung air di bawah permukaan Bumi.
> Juga ada foto seorang penelusur gua (aktivis speleologi) yang sedang
> bergelantungan masuk ke dalam gua, dimana ada sesercah cahaya yang masuk ke
> dalam goa.
> Foto lainnya ada sekelompok kelelawar yang bergerombol di langit-langit gua
> gamping. Kelelawar yang fungsi ekologisnya termasuk membantu penyerbukan.
> Kekayaan hayati semacam ini ikut musnah seiring hancurnya karst. Sedangkan
> foto yang lebih mengangumkan adalah jejak kehidupan purba. Gambar-2 cap
> tangan peninggalan manusia purba tertera pada langit-langit gua di
> Sangkulirang, Kaltim. Lukisan serupa ditemukan di kawasan karst lain di
> Indonesia dan dapat membantu penelitian mengenai kehidupan pada masa silam.
> Foto lain yang agak dramatis adalah seorang bapak dengan dada terbuka
> (kaosnya dipakai untuk menutupi kepala dari sengat matahari), bertelanjang
> kaki, bekerja keras "ngepruki" batu gamping dengan palu yang besar dan
> berat. Dia ini seorang pencari batu gamping di Tuban.
> Foto terakhir adalah kawasan pabrik semen Cibinong. Sepuluh tahun silam,
> pabrik-2 semen di Indonesia membutuhkan sedikitnya 66 juta ton batu gamping
> sebagai bahan baku. Lima tahun terakhir angkanya naik menjadi 163 juta ton.
> Pertanda kebutuhan yang semakin meningkat.
>
> Bbrp hari yll saya menyaksikan berita di tivi: Warga desa Sukolilo dan
> sekitar yang berdemo menolak pembangunan pabrik semen di pegunungan gamping
> kawasan mereka (Kec. Sukolilo, Kayen, Gabus dan Margorejo).
> Siapakah yang berwenang untuk menghentikan pembangunan pabrik semen yang
> bisa merusak ekosistem kita? Mungkin Pak Miko dan kawan-2, khususnya di IAGI
> perlu "berteriak" lebih kencang dan nyaring.
>
> Salam hangat,
> sugeng

Kirim email ke