Terima kasih atas sharingnya Pak Awang.

Kalo tidak salah, akhir April kemarin ada AAPG Hedberg Research
Conference di Jakarta dengan topik utamanya Fluvial-Deltaic Reservoirs
in Tropical Environments.

Mungkin ada rekan netters yang bisa share? 

 

-doddy-

 

-----Original Message-----
From: Awang Satyana [mailto:[email protected]] 
Sent: Tuesday, 12 May, 2009 4:36 PM
To: IAGI; Forum HAGI; Geo Unpad; Eksplorasi BPMIGAS
Subject: [iagi-net-l] Diskusi Paper-Paper IPA 2009 (II)

 

 

Saya menyambung posting sebelumnya tentang subyek yang sama, tetapi
bagian II. Semoga berguna untuk rekan-rekan milis yang tak mengikuti
pertemuan IPA minggu lalu, untuk sekedar tahu beberapa paper di
antaranya.

 

Salam,

awang

 

1.    Middle-Lower Eocene Turbidites : A New Deepwater Play Concept,
Kutei Basin, East Kalimantan, Indonesia (Wayne Camp dkk. -Anadarko
Indonesia).  Paper ini menerapkan konsep play turbidit Miosen yang sudah
terbukti baik memproduksi hidrokarbon di Selat Makassar. Prosesnya sama,
tetapi diterapkan untuk sekuen sedimen yang lebih tua, yaitu
Middle-Lower Eocene. Area pembahasan paper adalah Selat Makassar di
sebelah selatan Tinggian Mangkalihat. Dua tipe fasies turbidit sekuen
ini bisa dibedakan : (1) thin-bedded, low net to gross distal
turbidites, dan (2) thick-bedded, high net to gross proximal turbidites.
Sebagai reservoir, tentu fasies 2 lebih baik sebab : porous dan
quartzitic, juga tebal. Dua fasies ini dilaporkan ditembus beberapa
sumur lama. Penelitian di Tinggian Mangkalihat menemukan oil seeps yang
ketika dikarakterisasi berasal dari non-marine source rocks. Mengambil
model deepwater play Miosen, diperkirakan bahwa source rocks-nya
merupakan

 materi transported juga. 

 

KOMENTAR : Paleogen di Kutei Basin dan banyak cekungan di Indonesia
Barat adalah sekuen transgresif, proses regresi yang akan menyebabkan
lowstand di updip area diperkirakan tak akan maksimal seperti pada
Miosen. Sehingga, erosi wilayah updip untuk kemudian ditransportasi dan
diendapkan kembali di deep water area diperkirakan tak akan sebaik
Miosen. Oil seeps asal non-marin tak mesti segera ditafsirkan sebagai
transportes source rocks, bisa saja ia merupakan lacustrine non-marine
source rocks yang diendapkan di graben-graben sisa rifting Makassar
Strait saat Selat Makassar baru terbuka.

 

2.    Hydrocarbon Prospectivity of the Savu Sea Basin (Toothill & Lamb
-CGG Veritas), Savu Basin : A Case of Frontier Basin Area in Eastern
Indonesia (Tampubolon & Saamena -ITB & Unpad). Dua paper ini
membicarakan cekungan yang sama : Sawu (Savu) di antara Sumba dan Timor.
Yang satu ditulis profesional berdasarkan data seismic baru (2002,
2007). Yang satunya lagi paper mahasiswa (S2 & S1) beradasarkan
publikasi2 yang ada dengan penafsiran baru. Tentu kita tahu cekungan ini
sangat under-explored. Tebal sedimen hampir 5000 meter di deposenternya.
Tektonostratigrafinya memperlihatkan efek rifting, uplift dan erosion,
pengendapan lagi, kemudian syn-collision. Batuan tertua diperkirakan
Late Triassic menurut Toothill dan Lamb. Seismic baru menunjukkan banyak
gas chimney dan bright amplitude, mungkin menunjukkan keberadaan good
reservoirs dan hidrokarbon. Seeps data beradasarkan satelit muncul di
beberapa tempat, dan berdasarkan seismic tempat2 seeps itu

 berkorelasi dengan deep faults yang sampai ke permukaan. Posisi Sawu
saat ini adalah forearc basin. Bagian bawahnya diperkirakan mengandung
potensi source rocks.

 

KOMENTAR : Perdebatan tektonik Sumba sebagai mikrokontinen asal
Sundaland atau Australia harus diselesaikan dulu untuk membangun model
origin Savu Basin. Sumba masuk ke posisinya sekarang sebelum Neogen,
bila ia mikrokontinen asal Sundaland. Tetapi bila ia produk escape
tectonism dari collision Australia-Timor, maka ia ke posisinya sekarang
pada Neogen. Sejarah tektonik ini akan berpengaruh kepada
tektonostratigrafi Savu Basin. Basement cekungan diperkirakan kontinen,
bukan intermediate apalagi oceanic. Ini akan berpengaruh kepada heatflow
cekungan ini. Dengan ketebalan sedimen hampir 5000 meter, mestinya telah
ada generasi hidrokarbon di bawahnya. Sumur Savu-1 di sekitar wilayah
ini dibor Bocal tahun 1975 dengan kedalaman sekitar 1500 meter dan
kering. Sumur ini tentu tak mengartikan Savu seabagai tidak prospek.
Sumur bukan di posisi yang baik dan terlalu dangkal. Beberapa seismic
terbaru cukup menjanjikan untuk petroleum system berjalan.

 

3.    Application of Plate Reconstructions and 2D Gravity Modeling to
Quantify Crustal Stretching during Continental Break-Up : A South China
Sea Case (A. Mazur dkk -GETECH). Paper ini menceritakan sejarah
pembukaan Laut Cina Selatan (SCS) berdasarkan dua school of thought :
tektonik ekstruksi ala Tapponnier atau Molnar sepanjang Red River Fault,
atau oleh slab pull saat subduksi terjadi di sebelah baratlaut
Kalimantan. Data utamanya adalah gravity model, didukung data geologi.
Analisis cenderung menyimpulkan bahwa mekanisme pembukaan SCS dominan
oleh slab pull subduction proto SCS di bawah NW Kalimantan, sebab oleh
mekanisme extruksi mestinya pull-apart basin, sementara SCS bukan
pull-apart. Tetapi kemudian Mazur membuat modifikasi yang menghubungkan
bahwa opening SCS bisa terjadi oleh dua mekanisme di atas, hanya Red
River strike-slip displacement-nya dikoreksi menjadi sekitar 170 km.

 

KOMENTAR : Escape tectonics (Burke dan Sengor, 1986) atau extrusion
tectonics (Tapponnier dan Molnar, 1982) mengharuskan dua gejala terjadi
pasca benturan : regional strike-slip dan crustal opening. Pada kasus
Asia, hal ideal sebenarnya terjadi. Saat India collided Eurasia pada
50-45 Ma, maka terjadi beberapa sesar mendatar regional besar menjauhi
pusat benturan menuju free oceanic edge saat itu. Sesar2 besar yang lari
ke SE Asia menjauhi India saat itu adalah Red River Fault (RRF),
proto-Sumatran Fault, Three Pagoda Fault, Wang Chao Fault dan banyak
sesar lain. Crustal opening dicirikan oleh pembukaan Laut Jepang dan
Laut Cina Selatan, terbuka oleh couple strike-slip fault besar yang
searah. Studi Mazur dkk tak akan menunjukkan hal ini sebab mereka
membatasi di RRF, padahal SCS terbuka oleh banyak sesar2 regional. Slab
pull hanyalah suatu mekanisme sea-floor spreading di samping ridge-push
dalam plate tectonics; tetapi kita harus mencari penyebab utama

 apa yang membuat SCS opening; dalam hal ini dari segi time and space,
escape tectonics post India-Eurasia collision memuaskan.

 

4.    Understanding Hydrocarbon-Bearing Reservoirs and Their Critical
Factors for Deep Water Exploration in The Tarakan Basin, NE Kalimantan,
Indonesia (Ukat Sukanta dkk -ENI Indonesia). Paper menceritakan evolusi
Tarakan Basin, khususnya bagian deepwaternya. Menggunakan konsep yang
sudah proven tentang deep-water play, paper berdasarkan data seismic,
sumur, cores, dan biostratigrafi merekonstruksi kapan pengisian cekungan
dalam ini terjadi.  Pak Ukat dkk mengidentifikasi beberapa periode sea
level drop di updip area sepanjang Middle-Miocene sampai Pliosen.
Periode lowstand ini menjadi ajang erosi dan transportasi sedimen2
deltaik di updip Tarakan untuk kemudian diendapkan ulang sebagai deposit
turbidit yang kaya akan pasir di wilayah slope dan basin floor fan.
Penemuan2 hidrokarbon di wilayah slope Tarakan Basin membuktikan bahwa
deepwater play berjalan di wilayah ini.

 

KOMENTAR : Evolusi deepwater Tarakan mirip dengan evolusi deepwater
Kutei, prosesnya sama, dan waktunya juga lebih kurang sama. Yang sedikit
berbeda adalah deformasinya, terutama di bagian atas. Meskipun demikian,
harus diamati sumber provenance yang berbeda antara Tarakan dan Kutei.
Kutei terkenal mengalami maturation of sediments yang sangat baik dengan
terjadinya beberapa recycle sedimen. Puncak2 antiklin di Samarinda
antiklinorium telah menjadi sumber provenance sedimen sendiri melalui
proses kanibalisasi, akibatnya pasir yang sangat kuarsaan diendapkan
sampai jauh. Hal ini belum cukup diketahui terjadi di Kutei sebab
deformasi wilayah updip Tarakan dengan deformasi wilayah updip Kutei
sangat berbeda.

 

 

 

      

 

------------------------------------------------------------------------
--------

PP-IAGI 2008-2011:

ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]

sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]

* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...

------------------------------------------------------------------------
--------

tunggulah 'call for paper' utk PIT IAGI ke-38!!!

akan dilaksanakan di Semarang

13-14 Oktober 2009

------------------------------------------------------------------------
-----

To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id

To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id

Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:

Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta

No. Rek: 123 0085005314

Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia

No. Rekening: 255-1088580

A/n: Shinta Damayanti

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/

IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi

---------------------------------------------------------------------

DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information
posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no
event shall IAGI and its members be liable for any, including but not
limited to direct or indirect damages, or damages of any kind
whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of
or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing
list.

---------------------------------------------------------------------

 

Kirim email ke