Salam, Asyikk, kita memang menuju perbaikan analisa cekungan Indonesia. Ini sesuai prediksi saya (2004), kita menuju Indonesia sebagai "paling banyak di Exlor minyaknya, siklus 70 th kedepan, 2004-2074".
Dua topik A. Berapa jumlah cekungan di Indonesia ? B. Apakah tidak akan terjadi Indonesia akan pusat explorasi dunia 2004-2074 ? A. Jumlah Cekungan, hitungan saya : 60 buah, atau 120 buah, atau sekitar antara itu: 60-120 buah. Beberapa versi jumlah: 60 (IAGI, 1985), 86 (BPMIGAS -LAPI ITB), 128 (BPMIGAS 2008). - Hitungan saya, dengan MST = Masmar Salam Theory. Gelombang Masmar "Mass Asigned Size in Meter Along Rolling in "salam wave". Ini gelombang Siklus jarak 7 x 10^m meter untuk m =-21 hingga 28, serta 7 x 10^n annum untuk n = 0 sampai 10. Jarak antar Cekungan adalah 700 km, Inversi (komprsi, orogenesa) setiap cekungan adalah 70 Ma "Million annum". - Jumlah cekungan Indonesia = panjang Indonesia 10.400 km/700 km x lebar 1900 km/700 km = , menghasilkan bulatannya 8 x 3 = 24 buah. Jumlah itu, separo (12 buah) di Paparan Sunda, dan separo (12 buah) di Paparan Sohul. - Inversi (kompresi, orogenesa) setiap 70 Ma "Million annum" memisahkan cekungan. Semakin baru siklus 70 Ma-nya, maka "food prit" pembentukan cekungan semakin kelihatan. Cekungan berdasar sedimennya. Paparan Sunda, hanya sedimen Cenozoic, jadi terlihat utamanya hanya 2 buah cekungan masing-masing jarak 700 km tadi. (Kata Cenozoic lebih tepat kini di banding Tersier, karena kata Tersier sudah hilang pada GTS "Geology Time Scale" terbaru. Juga Cenozic adalah siklus 70 Ma terakhir, sedang Tersier bukan siklus 70 Ma). Paparan Sohul dengan sedimen bisa hingga Cambrium. Sedimen lebih hanya di bagi menjadi Cenozoic dan PreCenozoic. Kompresi 14 Maa "Million annum ago" itu menghasilkan dua setiap 700 km panjang Medeteran-Circumpasific. Misal NSB "North Sumatra Basin" dengan West Aceh Basin, CSB "Central Sumatra Basin"- NiasSibolga Basin, SSB-Bengkulu, NWJ North West java - South West Java Basin, dst. Singga cekungan Paparan Sunda = 2 x 12 = 24 buah. Pada paparan Sohul, terbagi dengan dua cara: a. 8 paket sedimen siklus 70 Ma sejak Kambrium hingga kini : 1.Cambrium, 2 OrdovicianSilur, 3 Devon, 4 Carboniferous, 5 PermianTriassic, 6 Jurassic, 7 Cretaceous, dan 8 Cenozoic). Sehingga cekungan di Indonesia menjadi (2x 12) + (8x12) = 120 cekungan. Ini mirip 128 hitugan terbaru, 128 buah (BPMIGAS 2008). b. Dihitung 3 paket sedimen saja : Cenozoic dan preCenozoic. Atau setiap 700 km, terbagi menjadi 3 paket cekungan. Atau cekungan Paparan Sohul = 12 x 3 cekungan = 36 cekungan. Alhasil cekungan Inondesia, Papran Sunda dan Paparan Sohul = 24 + 36 = 60 Cekungan. Ini tepat seperti hitungan 60 buah oleh IAGI, 1985. Kemudian, cekungan Indonesia akan di peroleh antara 60 - 120 buah tadi. Berbagai hitungan, "gathuk-gathuk" dengan parameter lain, akan membuat hasilnya bervariasi dari itu. Peta dari gaya gravitasi, atau sebenarnya 4 energi utama (guna: gravitasi, unified eletromagnetic, nuclear strong, and atomic nuclear weak), akan paling gampang untuk memilah memilih variasi jumlah cekungan. Ahli gravitasi, teman "terlalu asik theis S1", mas Wawan Gunawan, juga perlihatkan: Peta itu akan lebih baik bila berdasar "Peta Gravitasi Sisa". Pelopor pemetaan gravitasi, yang juga membuat alatnya adalah Vening Meinisz, yang profesor Utrecth-TU Delf itu, gelogist dan geophysicist Londo itu, dengan kapalnya mengukur global gravitasi semua laut dunia, termasuk laut di Indonesia, sekitar th 1929-1930. Yang melewati Sulawesi ketika lahirnya Prof John Katili, 9 Juni 1929, kapal Program Senelius I (Satu). Iya kapal itu mas Awang? Daftar SLEMAN "Stratigraphy Lexicon in Elevating Mines available Numenclature" (Maryanto, 2005), telah membahas daftar cekungan beserta sedimen dan umur-umurnya seluruh Indonesia itu, aktualnya 18 cekungan. B. Indonesia akan paling banyak di explor tambang (minyaknya utamanya) 2004-2074. Kita Menyongsong berkah Indonesia paling banyak explorasi minyak th 2004-2074. - Penemuan minyak tahunan, juga penemuan ladangminyak besar (giant oil field) th 1900-2000 (data Oil and Gas Journal, 1995), mempunyai kurva sinusoidal pereode 70 th. Keduanya adalah minimum pada 1934, maximum 1969, minimum 2004, dan di prediksikan keduanya akan maximum th 2039, lalu minimum th 2074, dengan standar deviasi eror 10 %. Kurva penemuan minyak ini di sebut Kurva Berkah "Broad Estimation Resources on Knowledge of the Annual Hydrocarbon discovery". - Pusat Siklun Bumi (Earth Planetary Cyclone), adalah 1a. AAN "Anticline Arabian Nubian", 1b. Rahmat "Ringgold-Anatom-Hebrides-Malaita-Apia-Tonga", 2a. Bob "Banda Ocean Basin center", 2b. Herman "Honduras-Elsavador-Ridge-Mewxico-Antiles-Nicaragua center", 3a. Hani "Horisons Antartic Nodule Island", 3b. Wartono "Wide Artic Region Tectono Ocean North Orogenesis". Enam pusat itu di kontrol oleh satu pusat ke 7 Zen "Zonal Earth Nuclei" Pusat bumi. Minyak yang telah di dapat untuk ke 6 pusat cylone global itu, dalam BBOE: 1. Aan 1500, 2. Rahmat 0, 3. Herman 500, 4. Bob 50, 5. Hani 10, Wartono 100. Kondisi tektonik Bob adalah analog dengan Rahmat. Artinya minyak yang ada di Bob, dimana Indonesia mayoritas areanya, akan mempunyai peluang di dapatkan minyak P10= 30 BBOE, P50 100 BBOE, dan P90 400 BBOE. - Explorasi kedepan, akan banyak di daerah Bob. Indonesia akan paling banyak di explorasi minyaknya, untuk th 2004-2074. Telah semakin banyak data seismik di Indonesia Timur. Ini pusat tektonik Bob (Banda Ocean Basin, dimana Laut Banda sebagai pusatnya, meluas hingga SE Asia-Australia, Papua). Daftar SLEMAN, juga untuk membahas siklus kecil 7 th, 70 th, 700 th, dst. Apakah begitu Mas Awang, dan yang lain ? Wass, Mas Mar. ________________________________ From: Awang Satyana <[email protected]> To: [email protected] Cc: [email protected]; Forum HAGI <[email protected]>; Eksplorasi BPMIGAS <[email protected]> Sent: Thursday, May 21, 2009 11:41:10 PM Subject: [iagi-net-l] Re: [Geo_unpad] Re: [iagi-net-l] Jumlah Cekungan Geologi RI Tambah Dobel Jadi 128 Buah Pak Agung, Peta cekungan hasil Badan Geologi (BG) disusun dari data gayaberat dan data geologi regional hasil pemetaan bersistem. Seluruh wilayah daratan Indonesia telah selesai dipetakan secara geologi pada tahun 1995, dan selesai dipetakan gayaberatnya pada 2008. Data besar ini kemudian dipakai sebagai dasar pemetaan cekungan BG. Jelas umur bisa ditentukan sebab ada data geologinya. Di Indonesia Timur, sedimen pra-Tersier berlanjut dengan Tersier di cekungan yang sama. Akan halnya pra-Tersier alokton, hanya terdapat di cekungan2 yang benuanya alokton juga (misalnya cekungan Banggai, Buton). Kalau di Papua, pra-Tersiernya tetap autokton sebab mereka membentuk kontinuitas sistem jalur pengendapan sedimen yang sama dengan di NW Shelf of Australia. Saya pikir, semua peta cekungan yang ada tak membedakan ini cekungan sedimen, cekungan fisiografik, atau cekungan struktural. Jadi mungkin masih tercampur. Meskipun demikian, membedakan tipe cekungan ini secara gamblang, tak mudah juga. Metodologi definisi basin yang 60 (IAGI, 1985) bisa dipelajari di publikasi IAGI (1985), prinsipnya hanya meliputi isopach sedimen. Metodologi 86 cekungan (BPMIGAS -LAPI ITB) berdasarkan kriteria faktor2 definisi cekungan, a.l.menggunakan peta geologi ermukaan, peta isopach sedimen, peta gayaberat, peta konfigurasi batuandasar. salam, awang --- On Thu, 5/21/09, Agung Mulyo <[email protected]> wrote: > From: Agung Mulyo <[email protected]> > Subject: Re: [Geo_unpad] Re: [iagi-net-l] Jumlah Cekungan Geologi RI Tambah > Dobel Jadi 128 Buah > To: [email protected] > Cc: [email protected], "Forum HAGI" <[email protected]>, "Eksplorasi > BPMIGAS" <[email protected]> > Date: Thursday, May 21, 2009, 11:19 AM > > > Pak Awang, > > Kalau tidak salah tangkap jumlah 128 adalah cekungan > berdasarkan data gaya berat dengaan tanpa memperhatikan umur > serta asal-usulnya (aloktone). Bila dengan memperhatikan > presentasinya pak Koesoema, maka bisa boleh jadi yang 128 > cekungan tersebut adalah gabungan dari semua jenis > (fisiografi, struktural, sedimen, dsb.). Andai tangkapan > saya tersebut benar, maka wajar saja kalau jumlah > cekungannya menjadi banyak, bahkan bisa saja akan lebih > banyak lagi. > Manakala dasar-dasar untuk mendefinisinya berbeda > (syarat-syarat dsb), maka perbedaan jumlah cekungan akan > tetap ada. Dan itu wajar. > Kita mungkin perlu pencerahan dari pak Awang, kalau yang 60 > dan 86 masing-masing kriterianya apa, dan bagaimana ? > Selisih yang 26 itu apakah memang semuanya benar-benar > barang baru atau sebenarnya stok lama yang dikemas ulang > dalam ukuran lebih kecil ? > > Thanks > > GGG > > From: Safri Burhanuddin > <[email protected]> > To: > [email protected] > Cc: > [email protected]; Forum HAGI <[email protected]>; > Eksplorasi BPMIGAS > <[email protected]> > Sent: > Wednesday, May 20, 2009 8:14:14 AM > Subject: Re: > [Geo_unpad] Re: [iagi-net-l] Jumlah Cekungan Geologi RI > Tambah Dobel Jadi 128 Buah > > > > > > > > > > > > > Hanya dalam > waktu kurang dari setahun semenjak BP-MIGAS > bersama LAPI ITB mempublikasikan jumlah cekungan sedimen > tersier > Indonesia ada 86 (2008) dan > awal minggu ini (Selasa, 19 Mei 2009) Badan Geologi > DESDM mempublikasikan hasil pemutakhiran data geologi > dan geofisika, terdapat 128 cekungan sedimen di Indonesia. > > > > Pekerjaan Rumah Buat IAGI dan HAGI untuk mencari solusi > terbaik, agar tidak membuat masyarakatNYA bingung > > > 2009/5/19 Awang Satyana > <awangsatyana@ > yahoo.com> > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Saya baru kembali dari undangan sebagai salah satu > pembicara di Lokakarya Badan Geologi di Gedung Sekjen > Departemen ESDM tentang Cekungan Sedimen Indonesia. > Lokakarya ini tujuan utamanya adalah ingin mengumumkan hasil > pekerjaan Badan Geologi selama hampir enam bulan terakhir > tentang delineasi cekungan-cekungan sedimen di Indonesia > berdasarkan data gayaberat. > > > > > Mengapa Badan Geologi membuat peta cekungan sedimen > sendiri, bukankah Lemigas (2008) dan BPMIGAS (2008) baru > saja mengeluarkan dan mengumumkan peta cekungannya ? Karena, > Badan Geologi telah menyelesaikan pemetaan geologi regional > dan gayaberat regional seluruh Indonesia. Data ini sayang > bila dibiarkan saja; kemudian diaplikasikanlah untuk > kepentingan pemetaan cekungan sedimen. > > > > > Mengapa Lemigas-BPMIGAS- Badan Geologi tidak saling bekerja > sama membuat peta cekungan sedimen dengan dukungan data yang > kuat dan bervariasi dari berbagai instansi ? Di sini mungkin > ada masalah koordinasi. Menurut seorang teman dari LAPI-ITB > yang bekerja sama dengan BPMIGAS saat memetakan cekungan, > LAPI-ITB telah berkoordinasi dengan Lemigas tentang pemetaan > cekungan yang sedang dilakukan BPMIGAS, juga BPMIGAS-LAPI > ITB telah menggunakan data gayaberat tahun 2000 dari P3G > (sekarang PSG, di bawah Badan Geologi). Kalau sudah > koordinasi, kok hasilnya berbeda antara Lemigas, BPMIGAS, > dan Badan Geologi, dan masing2 mengeluarkan versinya sendiri > ? Lemigas keluar dengan 63 cekungan, BPMIGAS keluar dengan > 86 cekungan, dan kini Badan Geologi keluar dengan 128 > cekungan sedimen. > > > > > Meskipun tadi Pak Menteri ESDM diminta membubuhkan tanda > tangan pada peta 128 cekungan sedimen hasil Badan Geologi, > dan Pak Purnomo dalam sambutannya mengatakan bahwa para > pejabat di lingkungan ESDM mesti mengganti kata-kata 60 > cekungan menjadi 128 cekungan saat menyampaikan sambutan, > mestinya itu jangan ditafsirkan menjadi semacam legalisasi > atas peta cekungan sedimen Badan Geologi. Mengapa ? Sebab, > pemetaan cekungan sedimen Badan Geologi baru langkah awal. > Pekerjaan selanjutnya adalah berhubungan dengan PND untuk > memeriksa data migas di setiap cekungan seperti ketebalan > sedimen dll. Juga, peta cekungan yang berdasarkan data > gayaberat ini masih banyak mendapatkan kritik dan saran. > > > > > Lalu, dalam minggu-minggu ke depan ada pula rencana > BPMIGAS-Badan Geologi-Lemigas akan duduk bersama tentang > pemetaan cekungan ini. Pak Sukhyar, Kepala Badan Geologi, > tadi ngobrol dengan saya dan mengatakan, memang ini semacam > ekspose pertama, yang mungkin mengagetkan dengan 128 > cekungan baru; supaya mendapat perhatian dari instansi > terkait dan kalangan industri. > > > > > Saya ringkaskan sedikit jalannya Lokakarya tadi. Ada lima > pembicara : (1) Pak Imam Sobari (Badan Geologi), (2) Pak > Syaiful Bachri (Badan Geologi), (3) Pak Nazhar Buyung (Badan > Geologi), (4) Pak R.P. Koesoemadinata (Prof Em. ITB), (5) > Awang Satyana (BPMIGAS). > > > > > Pak Sobari mempresentasikan hal berjudul "Delineasi > Cekungan Sedimen di Indonesia Berdasarkan Anomali Gaya > Berat". Data anomali Bouguer di darat dan free-air di > laut digunakan sebagai data dasar delineasi cekungan. Ciri > cekungan berdasarkan data gayaberat : pola kontur tertutup, > menurun ke arah pusat, terdapat perbedaan rapat massa antara > sedimen Tersier, pra-Tersier, basement kerak atas dan > basement kerak bawah. Dengan cara ini ditemukan dan > didefinisi ulang menjadi total 128 cekungan. > > > > > Pak Syaiful mempresentasikan hal berjudul, "Penyusunan > atlas Cekungan Sedimen Indonesia Berdasarkan Data Gaya Berat > dan Geologi. Peta geologi permukaan seluruh Indonesia, > terutama tinggian2 basement/meta- sedimen dipakai sebagai > batas cekungan. Atlas atas 128 cekungan akan dibuat > menggunakan berbagai data geologi regional, gayaberat, > stratigrafi, remote sensing. Juga pencarian data ke instansi > lain akan dilakukan untuk menyusun atlas ini, misalnya > BPMIGAS, Lemigas, PND. Jumlah cekungan 128 (darat 51, laut > 77, Tersier 85, pra-Tersier 6, Tersier-pra- Tersier 37). > > > > > Pak Nazhar mempresentasikan hal berjudul, "Hubungan > antara Zone-Zone Gaya Berat dengan Struktur Geologi Dominan > di Indonesia. Trend-trend anomali Bouguer/free air di > Indonesia dibagi-bagi, kisarannya antara -150 mGal s.d. +320 > mGal. Trend yang menunjukkan cekungan sedimen berada pada > 0-+ 60 mGal, sedangkan cekungan yang produktif dan potensial > ada pada kisaran +20 s.d. +40 mGal. Gejala-gejala tektonik > regional umumnya berhubungan dengan anomali negatif antara > -150 s.d 0 mGal. > > > > > Pak Koesoema membahas hal tentang "Konsep > Cekungan". Dibahas secara back to basic apakah yang > dimaksud dengan cekungan itu. Hati-hati membedakan cekungan > fisiografik, cekungan struktural, cekungan sedimen, cekungan > minyak. Pak Koesoema mendefinisikan cekungan sedimen sebagai > : bagian kerak Bumi tempat lapisan sedimen diendapkan lebih > tebal secara signifikan dibandingkan sekelilingnya". > Dibahas juga bagaimana kebingungan yang terjadi dalam > delineasi cekungan sebab akan ditentukan oleh berapa cut-off > kontur isopach yang dipakai. Ditampilkan beberapa kasus > delineasi cekungan sedimen di Indonesia yang berbeda-beda. > Terakhir dibahas klasifikasi cekungan berdasarkan tektonik. > > > > > Awang membahas hal berjudul, "Pemanfaatan Informasi > Cekungan Indonesia dalam Lingkup Bidang Energi". Di > awal presentasi dibahas variasi klasifikasi cekungan sedimen > Indonesia yang pernah terjadi, baik dari Koesoemadinata dan > Pulunggono (1971) untuk Indonesia Barat, Hamilton (1974) > yang tak menunjukkan batas cekungan tetapi hanya kontur > isopach, Fletcher-Soeparjadi (1976) klasifikasi 28 cekungan, > IAGI (1980) : 40 cekungan, IAGI (1985) 60 cekungan, > Pertamina-Beicip (1992) : 66 cekungan, Lemigas (2008) : 63 > cekungan dan BPMIGAS (2008) : 86 cekungan. Kemudian dibahas > status eksplorasi-produksi migas cekungan-cekungan di > Indonesia. Menekankan bahwa produksi migas menurun terus > dalam lima tahun terakhir dan cadangan migas Indonesia tak > pernah naik signifikan. Intinya karena cekungan-cekungan > yang dikerjakan yang itu-itu saja (16 cekungan produksi). > Terakhir disampaikan jenis-jenis informasi apa dari cekungan > yang dibutuhkan kalangan industri migas untuk > > > eksplorasi dan produksi. > > > > Sesi Tanya-Jawab yang sempat saya catat : > > > > Tohab Simandjuntak (mantan peneliti utama P3G) : tak ada > yang namanya cekungan pra-Tersier itu sebab semua batuan > pra-Tersier di Indonesia adalah alokton. > > > > Setiabudi-EMP : bagaimana pengusahaan CBM/GMB (gas metana > batubara) di Indonesia sebab beberapa cekungan migas pun > menjadi cekungan-cekungan CBM. > > > > Nachrowi-PPT Migas : dalaman Kendeng yang anomali > negatifnya tinggi, mengapa jalur kaya minyak padahal jalur > anomali negatif umumnya seperti palung. > > > > Wawan Gunawan-ITB : harusnya bukan anomali Bouguer yang > dipakai untuk pemetaan ini, tetapi anomali sisa; juga angka > rapat massa mestinya tak satu angka untuk setiap jenis > batuan, tetapi bervariasi. > > > > Sigit Prabowo-Marathon : bagaimana status data 44 cekungan > yang non-produktif (klasifikasi 60 cekungan). > > > > Terakhir, Pak Koesoemadinata diminta memberikan komentar > tentang pemetaan cekungan ini. Menurut Pak Koesoema, > boleh-boleh saja setiap institusi mengeluarkan cekungan > menurut versinya masing-masing, itu lebih untuk kepentingan > strategis misalnya mengundang investor; tetapi yang namanya > mendelineasi cekungan itu bukan hal mudah sebab sangat > relatif bergantung kepada metode yang dipakai. Biar saja > data gayaberat yang lengkap ini dibuka ke publik (user) dan > biar saja mereka yang mendelinesinya. Perusahaan2 minyak > besar punya research center-nya sendiri yang mengeluarkan > pemetaan basin menurut pendapatnya sendiri -tak akan > terpengaruh oleh pemetaan cekungan-cekungan yang dilakukan > akhir2 ini. > > > > > Pada awal presentasi, Pak Koesoema berpendapat kok sekarang > menjadi trend memetakan cekungan-cekungan itu, dan terjadi > proliferasi, bertambah banyak, seperti pemekaran wilayah > kabupaten saja.... > > > > Demikian sedikit laporan pengamatan saya. > > > > Untuk Pak Rovicky, sayang sekali peta 128 cekungan sedimen > Badan Geologi (128) hanya ada cetakan hitam putihnya di > kertas yang dibagikan. Poster besarnya ada di tempel di > ruangan, sayang juga tak ada digitalnya di bahan presentasi > yang saya copy, belum boleh dipublikasi barangkali.. ..? > Saya sedang mengusahakannya meminta kepada Panitia > Lokakarya. > > > > > salam, > > awang > > > > --- On Tue, 5/19/09, Rovicky Dwi Putrohari <rovi...@gmail. > com> wrote: > > > > > From: Rovicky Dwi Putrohari <rovi...@gmail. > com> > > > Subject: [iagi-net-l] Jumlah Cekungan Geologi RI > Tambah Dobel Jadi 128 Buah > > > To: "Forum HAGI" <[email protected]. > id>, "IAGI" <iagi-...@iagi. > or.id> > > > > Date: Tuesday, May 19, 2009, 1:32 PM > > > Dimana bisa mendapatan informasi ini > > > ? > > > > > > RDP > > > ============ ========= > ========= > > > 19/05/2009 09:35 WIB > > > Jumlah Cekungan Geologi RI Tambah Dobel Jadi 128 Buah > > > > > > detikFinance > > > > > > Jakarta- Jumlah cekungan di Indonesia bertambah dua > kali > > > lipat. > > > Jika di tahun 2006 hanya sebanyak 60 buah cekungan > geologi > > > saat ini diketahui > > > jumlahnya sudah mencapai 128 buah. > > > > > > "Saya selalu sampaikan kalau jumlah cekungan di > Indonesia > > > sekitar 60 buah, > > > tapi mulai pagi ini angka magic itu sudah > berubah," kata > > > Menteri ESDM > > > Purnomo Yusgiantoro dalam sambutannya pada Lokakarya > > > Cekungan Sendimen > > > Indonesia, > > > di Gedung ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, > > > Selasa (19/5/2009). > > > > > > Purnomo menjelaskan berdasarkan hasil penelitian > Badan > > > Geologi Departemen > > > dilaporkan, saat ini jumlah cekungan sendimen di > Indonesia > > > sudah > > > bertambah menjadi > > > 128 buah. > > > > > > "Jadi nanti para Dirjen ataupun menteri yang baru > jangan > > > lupa kalau > > > sekarang jumlah cekungan kita bukan 60 lagi tapi sudah > 128 > > > buah," > > > jelasnya. > > > > > > Menurut Purnomo, pihaknya nanti akan membuat atlas > cekungan > > > sendimen yang bisa > > > digunakan untuk membantu kegiatan ekplorasi produksi > dan > > > kegiatan perminyakan > > > lainnya. "Ini akan bantu untuk temukan > cadangan-cadangan > > > migas yang > > > baru," ungkapnya. > > > > > > Sementara itu, Kepala Badan Geologi, R Sukyar > menyatakan > > > penemuan tersebut > > > dapat menjadi target eksplorasi bagi para pelaku usaha > di > > > bidang energi. > > > > > > "Bagi pengembang ini akan menjadi informasi baru > yang akan > > > menjadi > > > target-target ekplorasi di masa yang > datang,"ungkap > > > Sukyar. > > > > > > Sebelumnya data ditjen migas mencatat jumlah cekungan > > > hidrokarbon di Indonesia > > > sampai akhir tahun 2006 berjumlah 60 cekungan, dengan > > > perincian: 16 cekungan > > > sudah berproduksi: 8 cekungan terbukti mengandung > > > hidrokarbon tetapi belum > > > berproduksi: 14 cekungan sudah dibor tapi belum > menemukan > > > hidrokarbon: dan > > > sisanya 22 cekungan masih belum dilakukan pemboran > > > eksplorasi. > >

