Mas Maryanto,

Felix Andries Vening Meinesz saat melakukan survey gayaberat di Lautan Hindia 
sebelah selatan Indonesia berkali-kali pada tahun 1923, 1926, 1929-1930 tidak 
menggunakan kapal riset Willebrord Snellius, tetapi menggunakan kapal selam 
bernama Hr Ms. K II - Hr Ms. K XIII. Penelitian Vening Meinesz ini mendapatkan 
sokongan penuh dari Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Jadi, bayangkan pada seawal 
tahun 1920-1930-an telah ada para periset asing (Belanda) yang menyelami Lautan 
Hindia berbulan-bulan s.d. bertahun-tahun demi ilmu pengetahuan. Total 16,000 
mil laut ditempuh kapal selam Vening Meinesz dalam pengukurannya itu. Itulah 
pengukuran gayaberat pertama di dunia yang mengungkapkan keberadaan palung. 
Suatu sokongan penuh untuk teori plate tectonics.

Bersama Arthur Holmes, geologist besar Inggris, Vening Meinesz adalah saintis 
pertama yang mengajukan keberadaan arus konveksi sebagai penyebab utama 
tektonik litosfer (Vening Meinesz, 1947 : Convection currents in the Earth - 
Proc. Kon. Ned. Akad. v. Wetensch. 50,3,p.237-245).

Memang pada tahun yang sama (1929-1930) di perairan Indonesia Timur saat itu 
ada kapal riset Snellius yang juga melakukan penelitian oseanografi bidang 
fisika, kimia, dan geologi marin, tetapi tidak gayaberat.

salam,
awang

--- On Fri, 5/22/09, Maryanto <[email protected]> wrote:

> From: Maryanto <[email protected]>
> Subject: [iagi-net-l] Jumlah Cekungan Geologi RI Tambah  Dobel Jadi 128 Buah
> To: [email protected], [email protected]
> Cc: [email protected], "Forum HAGI" <[email protected]>, "Eksplorasi 
> BPMIGAS" <[email protected]>
> Date: Friday, May 22, 2009, 5:51 AM
> Salam,
> 
> Asyikk, kita memang menuju perbaikan analisa cekungan
> Indonesia. Ini sesuai prediksi saya (2004), kita menuju
> Indonesia sebagai "paling banyak di Exlor minyaknya, siklus
> 70 th kedepan, 2004-2074".
> 
> Dua topik A. Berapa jumlah cekungan di Indonesia ?
> B. Apakah tidak akan terjadi Indonesia akan pusat explorasi
> dunia 2004-2074 ? 
> A. Jumlah Cekungan, hitungan saya : 60 buah, atau 120 buah,
> atau sekitar antara itu: 60-120 buah. 
> Beberapa versi jumlah: 60 (IAGI, 1985),  86 (BPMIGAS
> -LAPI ITB), 128 (BPMIGAS 2008). 
> - Hitungan saya, dengan MST = Masmar Salam Theory.
> Gelombang Masmar "Mass Asigned Size in Meter Along Rolling
> in "salam wave". Ini gelombang Siklus jarak 7 x 10^m meter
> untuk m =-21 hingga 28, serta 7 x 10^n annum untuk n = 0
> sampai 10. Jarak antar Cekungan adalah 700 km, Inversi
> (komprsi, orogenesa) setiap cekungan adalah 70 Ma "Million
> annum". 
> - Jumlah cekungan Indonesia = panjang Indonesia 10.400
> km/700 km x lebar 1900 km/700 km = , menghasilkan
> bulatannya 8 x 3 = 24 buah. Jumlah itu, separo (12 buah)
> di Paparan Sunda, dan separo (12 buah) di Paparan Sohul. 
> - Inversi (kompresi, orogenesa) setiap 70 Ma "Million
> annum" memisahkan cekungan. Semakin baru siklus 70 Ma-nya,
> maka "food prit" pembentukan cekungan semakin kelihatan.
> Cekungan berdasar sedimennya. Paparan Sunda, hanya sedimen
> Cenozoic, jadi terlihat utamanya hanya 2 buah cekungan
> masing-masing jarak 700 km tadi. (Kata Cenozoic lebih tepat
> kini di banding Tersier, karena kata Tersier sudah hilang
> pada GTS "Geology Time Scale" terbaru. Juga Cenozic adalah
> siklus 70 Ma terakhir, sedang Tersier bukan siklus 70 Ma).
> Paparan Sohul dengan sedimen bisa hingga Cambrium. Sedimen
> lebih hanya di bagi menjadi Cenozoic dan PreCenozoic.
> Kompresi 14 Maa "Million annum ago" itu menghasilkan dua
> setiap 700 km panjang Medeteran-Circumpasific. Misal NSB
> "North Sumatra Basin" dengan West Aceh Basin, CSB "Central
> Sumatra Basin"- NiasSibolga Basin, SSB-Bengkulu, NWJ North
> West java - South West Java Basin, dst. Singga cekungan
> Paparan Sunda = 2 x 12 = 24 buah.
> 
> Pada paparan Sohul, terbagi dengan dua cara:
> a. 8 paket sedimen siklus 70 Ma sejak Kambrium hingga
> kini : 1.Cambrium, 2 OrdovicianSilur, 3 Devon, 4
> Carboniferous, 5 PermianTriassic, 6 Jurassic, 7 Cretaceous,
> dan 8 Cenozoic). Sehingga cekungan di Indonesia menjadi (2x
> 12) + (8x12) = 120 cekungan. Ini mirip 128 hitugan terbaru,
> 128 buah (BPMIGAS 2008). 
> b. Dihitung 3 paket sedimen saja : Cenozoic dan
> preCenozoic. Atau setiap 700 km, terbagi menjadi 3
> paket cekungan. Atau cekungan Paparan Sohul = 12
> x 3 cekungan = 36 cekungan. Alhasil cekungan Inondesia,
> Papran Sunda dan Paparan Sohul = 24 + 36 = 60 Cekungan. Ini
> tepat seperti hitungan 60 buah oleh IAGI, 1985.  
> 
> Kemudian, cekungan Indonesia akan di peroleh antara 60 -
> 120 buah tadi. Berbagai hitungan, "gathuk-gathuk" dengan
> parameter lain, akan membuat hasilnya bervariasi
> dari itu. 
> 
> Peta dari gaya gravitasi, atau sebenarnya 4 energi utama
> (guna: gravitasi, unified eletromagnetic, nuclear strong,
> and atomic nuclear weak), akan paling gampang untuk memilah
> memilih variasi jumlah cekungan. Ahli gravitasi, teman
> "terlalu asik theis S1", mas Wawan Gunawan, juga
> perlihatkan: Peta itu akan lebih baik bila berdasar "Peta
> Gravitasi Sisa".  Pelopor pemetaan gravitasi, yang juga
> membuat alatnya adalah Vening Meinisz, yang profesor
> Utrecth-TU Delf itu, gelogist dan geophysicist Londo itu,
> dengan kapalnya mengukur global gravitasi semua laut dunia,
> termasuk laut di Indonesia, sekitar th 1929-1930. Yang
> melewati Sulawesi ketika lahirnya Prof John Katili, 9 Juni
> 1929,  kapal Program Senelius I (Satu). Iya kapal itu mas
> Awang? 
> 
> Daftar SLEMAN "Stratigraphy Lexicon in Elevating Mines
> available Numenclature" (Maryanto, 2005), telah membahas
> daftar cekungan beserta sedimen dan umur-umurnya seluruh
> Indonesia itu, aktualnya 18 cekungan. 
> 
> B. Indonesia akan paling banyak di explor tambang
> (minyaknya utamanya) 2004-2074.
>  Kita Menyongsong berkah Indonesia paling banyak
> explorasi minyak th 2004-2074. 
>     - Penemuan minyak tahunan, juga penemuan
> ladangminyak besar (giant oil field) th 1900-2000 (data Oil
> and Gas Journal, 1995),  mempunyai kurva sinusoidal pereode
> 70 th. Keduanya adalah minimum pada 1934, maximum 1969,
> minimum 2004, dan di prediksikan keduanya akan maximum th
> 2039, lalu minimum th 2074, dengan standar deviasi eror 10
> %. Kurva penemuan minyak ini di sebut Kurva Berkah "Broad
> Estimation Resources on Knowledge of the Annual Hydrocarbon
> discovery". 
> - Pusat Siklun Bumi (Earth Planetary Cyclone), adalah 1a.
> AAN "Anticline Arabian Nubian", 1b. Rahmat
> "Ringgold-Anatom-Hebrides-Malaita-Apia-Tonga", 2a. Bob
> "Banda Ocean Basin center", 2b. Herman
> "Honduras-Elsavador-Ridge-Mewxico-Antiles-Nicaragua center",
> 3a. Hani "Horisons Antartic Nodule Island", 3b. Wartono
> "Wide Artic Region Tectono Ocean North Orogenesis". Enam
> pusat itu di kontrol oleh satu pusat ke 7 Zen "Zonal Earth
> Nuclei" Pusat bumi. Minyak yang telah di dapat untuk ke 6
> pusat cylone global itu, dalam BBOE: 1. Aan 1500, 2. Rahmat
> 0, 3. Herman 500, 4. Bob 50, 5. Hani 10, Wartono 100.
> Kondisi tektonik Bob adalah analog dengan Rahmat. Artinya
> minyak yang ada di Bob, dimana Indonesia mayoritas areanya,
> akan mempunyai peluang di dapatkan minyak P10= 30 BBOE, P50
> 100 BBOE, dan P90 400 BBOE.  
> - Explorasi kedepan, akan banyak di daerah Bob. Indonesia
> akan paling banyak di explorasi minyaknya, untuk th
> 2004-2074. Telah semakin banyak data seismik di Indonesia
> Timur. Ini pusat tektonik Bob (Banda Ocean Basin, dimana
> Laut Banda sebagai pusatnya, meluas hingga SE
> Asia-Australia, Papua). Daftar SLEMAN, juga untuk membahas
> siklus kecil 7 th, 70 th, 700 th, dst. 
> 
> Apakah begitu Mas Awang, dan yang lain ?
> 
> Wass,
> Mas Mar.
> 
> ________________________________
> From: Awang Satyana <[email protected]>
> To: [email protected]
> Cc: [email protected];
> Forum HAGI <[email protected]>;
> Eksplorasi BPMIGAS <[email protected]>
> Sent: Thursday, May 21, 2009 11:41:10 PM
> Subject: [iagi-net-l] Re: [Geo_unpad] Re: [iagi-net-l]
> Jumlah Cekungan Geologi RI Tambah Dobel Jadi 128 Buah
> 
> 
> Pak Agung,
> 
> Peta cekungan hasil Badan Geologi (BG) disusun dari data
> gayaberat dan data geologi regional hasil pemetaan
> bersistem. Seluruh wilayah daratan Indonesia telah selesai
> dipetakan secara geologi pada tahun 1995, dan selesai
> dipetakan gayaberatnya pada 2008. Data besar ini kemudian
> dipakai sebagai dasar pemetaan cekungan BG. Jelas umur bisa
> ditentukan sebab ada data geologinya. 
> 
> Di Indonesia Timur, sedimen pra-Tersier berlanjut dengan
> Tersier di cekungan yang sama. Akan halnya pra-Tersier
> alokton, hanya terdapat di cekungan2 yang benuanya alokton
> juga (misalnya cekungan Banggai, Buton). Kalau di Papua,
> pra-Tersiernya tetap autokton sebab mereka membentuk
> kontinuitas sistem jalur pengendapan sedimen yang sama
> dengan di NW Shelf of Australia.
> 
> Saya pikir, semua peta cekungan yang ada tak membedakan ini
> cekungan sedimen, cekungan fisiografik, atau cekungan
> struktural. Jadi mungkin masih tercampur. Meskipun demikian,
> membedakan tipe cekungan ini secara gamblang, tak mudah
> juga.
> 
> Metodologi definisi basin yang 60 (IAGI, 1985) bisa
> dipelajari di publikasi IAGI (1985), prinsipnya hanya
> meliputi isopach sedimen. Metodologi 86 cekungan (BPMIGAS
> -LAPI ITB) berdasarkan kriteria  faktor2 definisi cekungan,
> a.l.menggunakan  peta geologi ermukaan, peta isopach
> sedimen, peta gayaberat, peta konfigurasi batuandasar.
> 
> salam,
> awang
> 
> 
> --- On Thu, 5/21/09, Agung Mulyo <[email protected]>
> wrote:
> 
> > From: Agung Mulyo <[email protected]>
> > Subject: Re: [Geo_unpad] Re: [iagi-net-l] Jumlah
> Cekungan Geologi RI Tambah  Dobel Jadi 128 Buah
> > To: [email protected]
> > Cc: [email protected],
> "Forum HAGI" <[email protected]>,
> "Eksplorasi BPMIGAS" <[email protected]>
> > Date: Thursday, May 21, 2009, 11:19 AM
> > 
> > 
> > Pak Awang,
> > 
> > Kalau tidak salah tangkap jumlah 128 adalah cekungan
> > berdasarkan data gaya berat dengaan tanpa
> memperhatikan umur
> >  serta asal-usulnya (aloktone). Bila dengan
> memperhatikan
> > presentasinya pak Koesoema, maka bisa boleh jadi yang
> 128
> > cekungan tersebut adalah gabungan dari semua jenis
> > (fisiografi, struktural, sedimen, dsb.). Andai
> tangkapan
> > saya tersebut benar, maka wajar saja kalau jumlah
> > cekungannya menjadi banyak, bahkan bisa saja akan
> lebih
> > banyak lagi.
> > Manakala dasar-dasar untuk mendefinisinya berbeda
> > (syarat-syarat dsb), maka perbedaan jumlah cekungan
> akan
> > tetap ada. Dan itu wajar.
> > Kita mungkin perlu pencerahan dari pak Awang, kalau
> yang 60
> > dan 86 masing-masing kriterianya apa, dan bagaimana ?
> > Selisih yang 26 itu apakah memang semuanya
> benar-benar
> > barang baru atau sebenarnya stok lama yang dikemas
> ulang
> > dalam ukuran lebih kecil ?
> > 
> > Thanks
> > 
> > GGG
> > 
> > From: Safri Burhanuddin
> > <[email protected]>
> 
> > To:
> > [email protected]
> > Cc:
> > [email protected];
> Forum HAGI <[email protected]>;
> > Eksplorasi BPMIGAS
> > <[email protected]>
> > Sent:
> > Wednesday, May 20, 2009 8:14:14 AM
> > Subject: Re:
> > [Geo_unpad] Re: [iagi-net-l] Jumlah Cekungan Geologi
> RI
> > Tambah  Dobel Jadi 128 Buah
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> >    
> >      
> >      Hanya dalam
> > waktu kurang dari setahun semenjak BP-MIGAS
> > bersama LAPI ITB mempublikasikan jumlah cekungan
> sedimen
> > tersier
> > Indonesia ada 86 (2008) dan
> > awal minggu ini (Selasa, 19 Mei 2009) Badan Geologi
> > DESDM  mempublikasikan hasil pemutakhiran data
> geologi
> > dan geofisika, terdapat 128 cekungan sedimen di
> Indonesia.
> > 
> > 
> > 
> > Pekerjaan Rumah Buat IAGI dan HAGI untuk mencari
> solusi
> > terbaik, agar tidak membuat masyarakatNYA bingung 
> > 
> > 
> > 2009/5/19 Awang Satyana
> > <awangsatyana@
> > yahoo.com>
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> >    
> >            
> >            
> > 
> > 
> >      
> >      
> > 
> > Saya baru kembali dari undangan sebagai salah satu
> > pembicara di Lokakarya Badan Geologi di Gedung Sekjen
> > Departemen ESDM tentang Cekungan Sedimen Indonesia.
> > Lokakarya ini tujuan utamanya adalah ingin mengumumkan
> hasil
> > pekerjaan Badan Geologi selama hampir enam bulan
> terakhir
> > tentang delineasi cekungan-cekungan sedimen di
> Indonesia
> > berdasarkan data gayaberat. 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > Mengapa Badan Geologi membuat peta cekungan sedimen
> > sendiri, bukankah Lemigas (2008) dan BPMIGAS (2008)
> baru
> > saja mengeluarkan dan mengumumkan peta cekungannya ?
> Karena,
> > Badan Geologi telah menyelesaikan pemetaan geologi
> regional
> > dan gayaberat regional seluruh Indonesia. Data ini
> sayang
> > bila dibiarkan saja; kemudian diaplikasikanlah untuk
> > kepentingan pemetaan cekungan sedimen. 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > Mengapa Lemigas-BPMIGAS- Badan Geologi tidak saling
> bekerja
> > sama membuat peta cekungan sedimen dengan dukungan
> data yang
> > kuat dan bervariasi dari berbagai instansi ? Di sini
> mungkin
> > ada masalah koordinasi. Menurut seorang teman dari
> LAPI-ITB
> > yang bekerja sama dengan BPMIGAS saat memetakan
> cekungan,
> > LAPI-ITB telah berkoordinasi dengan Lemigas tentang
> pemetaan
> > cekungan yang sedang dilakukan BPMIGAS, juga
> BPMIGAS-LAPI
> > ITB telah menggunakan data gayaberat tahun 2000 dari
> P3G
> > (sekarang PSG, di bawah Badan Geologi). Kalau sudah
> > koordinasi, kok hasilnya berbeda antara Lemigas,
> BPMIGAS,
> > dan Badan Geologi, dan masing2 mengeluarkan versinya
> sendiri
> > ? Lemigas keluar dengan 63 cekungan, BPMIGAS keluar
> dengan
> > 86 cekungan, dan kini Badan Geologi keluar dengan 128
> > cekungan sedimen. 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > Meskipun tadi Pak Menteri ESDM diminta membubuhkan
> tanda
> > tangan  pada peta 128 cekungan sedimen hasil Badan
> Geologi,
> > dan Pak Purnomo dalam sambutannya mengatakan bahwa
> para
> > pejabat di lingkungan ESDM mesti mengganti kata-kata
> 60
> > cekungan menjadi 128 cekungan saat menyampaikan
> sambutan,
> > mestinya itu jangan ditafsirkan menjadi semacam
> legalisasi
> > atas peta cekungan sedimen Badan Geologi. Mengapa ?
> Sebab,
> > pemetaan cekungan sedimen Badan Geologi baru langkah
> awal.
> > Pekerjaan selanjutnya adalah berhubungan dengan PND
> untuk
> > memeriksa data migas di setiap cekungan seperti
> ketebalan
> > sedimen dll. Juga, peta cekungan yang berdasarkan
> data
> > gayaberat ini masih banyak mendapatkan kritik dan
> saran.
> > 
> > 
> > 
> > 
> > Lalu, dalam minggu-minggu ke depan ada pula rencana
> > BPMIGAS-Badan Geologi-Lemigas akan duduk bersama
> tentang
> > pemetaan cekungan ini. Pak Sukhyar, Kepala Badan
> Geologi,
> > tadi ngobrol dengan saya dan mengatakan, memang ini
> semacam
> > ekspose pertama, yang mungkin mengagetkan dengan 128
> > cekungan baru; supaya mendapat perhatian dari
> instansi
> > terkait dan kalangan industri. 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > Saya ringkaskan sedikit jalannya Lokakarya tadi. Ada
> lima
> > pembicara : (1) Pak Imam Sobari (Badan Geologi), (2)
> Pak
> > Syaiful Bachri (Badan Geologi), (3) Pak Nazhar Buyung
> (Badan
> > Geologi), (4) Pak R.P. Koesoemadinata (Prof Em. ITB),
> (5)
> > Awang Satyana (BPMIGAS).
> > 
> > 
> > 
> > 
> > Pak Sobari mempresentasikan hal berjudul "Delineasi
> > Cekungan Sedimen di Indonesia Berdasarkan Anomali
> Gaya
> > Berat". Data anomali Bouguer di darat dan free-air di
> > laut digunakan sebagai data dasar delineasi cekungan.
> Ciri
> > cekungan berdasarkan data gayaberat : pola kontur
> tertutup,
> > menurun ke arah pusat, terdapat perbedaan rapat massa
> antara
> > sedimen Tersier, pra-Tersier, basement kerak atas dan
> > basement kerak bawah. Dengan cara ini ditemukan dan
> > didefinisi ulang menjadi total 128 cekungan.
> > 
> > 
> > 
> > 
> > Pak Syaiful mempresentasikan hal berjudul,
> "Penyusunan
> > atlas Cekungan Sedimen Indonesia Berdasarkan Data Gaya
> Berat
> > dan Geologi. Peta geologi permukaan seluruh
> Indonesia,
> > terutama tinggian2 basement/meta- sedimen dipakai
> sebagai
> > batas cekungan. Atlas atas 128 cekungan akan dibuat
> > menggunakan berbagai data geologi regional,
> gayaberat,
> > stratigrafi, remote sensing. Juga pencarian data ke
> instansi
> > lain akan dilakukan untuk menyusun atlas ini,
> misalnya
> > BPMIGAS, Lemigas, PND. Jumlah cekungan 128 (darat 51,
> laut
> > 77, Tersier 85, pra-Tersier 6, Tersier-pra- Tersier
> 37).
> > 
> > 
> > 
> > 
> > Pak Nazhar mempresentasikan hal berjudul, "Hubungan
> > antara Zone-Zone Gaya Berat dengan Struktur Geologi
> Dominan
> > di Indonesia. Trend-trend anomali Bouguer/free air di
> > Indonesia dibagi-bagi, kisarannya antara -150 mGal
> s.d. +320
> > mGal. Trend yang menunjukkan cekungan sedimen berada
> pada
> > 0-+ 60 mGal, sedangkan cekungan yang produktif dan
> potensial
> > ada pada kisaran +20 s.d. +40 mGal. Gejala-gejala
> tektonik
> > regional umumnya berhubungan dengan anomali negatif
> antara
> > -150 s.d 0 mGal.
> > 
> > 
> > 
> > 
> > Pak Koesoema membahas hal tentang "Konsep
> > Cekungan". Dibahas secara back to basic apakah yang
> > dimaksud dengan cekungan itu. Hati-hati membedakan
> cekungan
> > fisiografik, cekungan struktural, cekungan sedimen,
> cekungan
> > minyak. Pak Koesoema mendefinisikan cekungan sedimen
> sebagai
> > : bagian kerak Bumi tempat lapisan sedimen diendapkan
> lebih
> > tebal secara signifikan dibandingkan sekelilingnya".
> > Dibahas juga bagaimana kebingungan yang terjadi dalam
> > delineasi cekungan sebab akan ditentukan oleh berapa
> cut-off
> > kontur isopach yang dipakai. Ditampilkan beberapa
> kasus
> > delineasi cekungan sedimen di Indonesia yang
> berbeda-beda.
> > Terakhir dibahas klasifikasi cekungan berdasarkan
> tektonik.
> > 
> > 
> > 
> > 
> > Awang membahas hal berjudul, "Pemanfaatan Informasi
> > Cekungan Indonesia dalam Lingkup Bidang Energi". Di
> > awal presentasi dibahas variasi klasifikasi cekungan
> sedimen
> > Indonesia yang pernah terjadi, baik dari
> Koesoemadinata dan
> > Pulunggono (1971) untuk Indonesia Barat, Hamilton
> (1974)
> > yang tak menunjukkan batas cekungan tetapi hanya
> kontur
> > isopach, Fletcher-Soeparjadi (1976) klasifikasi 28
> cekungan,
> > IAGI (1980) : 40 cekungan, IAGI (1985) 60 cekungan,
> > Pertamina-Beicip (1992) : 66 cekungan, Lemigas (2008)
> : 63
> > cekungan dan BPMIGAS (2008) : 86 cekungan. Kemudian
> dibahas
> > status eksplorasi-produksi migas cekungan-cekungan di
> > Indonesia. Menekankan bahwa produksi migas menurun
> terus
> > dalam lima tahun terakhir dan cadangan migas Indonesia
> tak
> > pernah naik signifikan. Intinya karena
> cekungan-cekungan
> > yang dikerjakan yang itu-itu saja (16 cekungan
> produksi).
> > Terakhir disampaikan jenis-jenis informasi apa dari
> cekungan
> > yang dibutuhkan kalangan industri migas untuk
> > 
> > 
> >  eksplorasi dan produksi.
> > 
> > 
> > 
> > Sesi Tanya-Jawab yang sempat saya catat :
> > 
> > 
> > 
> > Tohab Simandjuntak (mantan peneliti utama P3G) : tak
> ada
> > yang namanya cekungan pra-Tersier itu sebab semua
> batuan
> > pra-Tersier di Indonesia adalah alokton.
> > 
> > 
> > 
> > Setiabudi-EMP : bagaimana pengusahaan CBM/GMB (gas
> metana
> > batubara) di Indonesia sebab  beberapa cekungan migas
> pun
> > menjadi cekungan-cekungan CBM.
> > 
> > 
> > 
> > Nachrowi-PPT Migas : dalaman Kendeng yang anomali
> > negatifnya tinggi, mengapa jalur kaya minyak padahal
> jalur
> > anomali negatif umumnya seperti palung.
> > 
> > 
> > 
> > Wawan Gunawan-ITB : harusnya bukan anomali Bouguer
> yang
> > dipakai untuk pemetaan ini, tetapi anomali sisa; juga
> angka
> > rapat massa mestinya tak satu angka untuk setiap
> jenis
> > batuan, tetapi bervariasi.
> > 
> > 
> > 
> > Sigit Prabowo-Marathon : bagaimana status data 44
> cekungan
> > yang non-produktif (klasifikasi 60 cekungan).
> > 
> > 
> > 
> > Terakhir, Pak Koesoemadinata diminta memberikan
> komentar
> > tentang pemetaan cekungan ini. Menurut Pak Koesoema,
> > boleh-boleh saja setiap institusi mengeluarkan
> cekungan
> > menurut versinya masing-masing, itu lebih untuk
> kepentingan
> > strategis misalnya mengundang investor; tetapi yang
> namanya
> > mendelineasi cekungan itu bukan hal mudah sebab
> sangat
> > relatif bergantung kepada metode yang dipakai. Biar
> saja
> > data gayaberat yang lengkap ini dibuka ke publik
> (user) dan
> > biar saja mereka yang mendelinesinya. Perusahaan2
> minyak
> > besar punya research center-nya sendiri yang
> mengeluarkan
> > pemetaan basin menurut pendapatnya sendiri -tak akan
> > terpengaruh oleh pemetaan cekungan-cekungan yang
> dilakukan
> > akhir2 ini.
> > 
> > 
> > 
> > 
> > Pada awal presentasi, Pak Koesoema berpendapat kok
> sekarang
> > menjadi trend memetakan cekungan-cekungan itu, dan
> terjadi
> > proliferasi, bertambah banyak, seperti pemekaran
> wilayah
> > kabupaten saja....
> > 
> > 
> > 
> > Demikian sedikit laporan pengamatan saya. 
> > 
> > 
> > 
> > Untuk Pak Rovicky, sayang sekali peta 128 cekungan
> sedimen
> > Badan Geologi (128) hanya ada cetakan hitam putihnya
> di
> > kertas yang dibagikan. Poster besarnya ada di tempel
> di
> > ruangan, sayang juga tak ada digitalnya di bahan
> presentasi
> > yang saya copy, belum boleh dipublikasi barangkali..
> ..?
> > Saya sedang mengusahakannya meminta kepada Panitia
> > Lokakarya.
> > 
> > 
> > 
> > 
> > salam,
> > 
> > awang
> > 
> > 
> > 
> > --- On Tue, 5/19/09, Rovicky Dwi Putrohari
> <rovi...@gmail.
> > com> wrote:
> > 
> > 
> > 
> > > From: Rovicky Dwi Putrohari <rovi...@gmail.
> > com>
> > 
> > > Subject: [iagi-net-l] Jumlah Cekungan Geologi RI
> > Tambah Dobel Jadi 128 Buah
> > 
> > > To: "Forum HAGI" <[email protected].
> > id>, "IAGI" <iagi-...@iagi.
> > or.id>
> > 
> > 
> > > Date: Tuesday, May 19, 2009, 1:32 PM
> > 
> > > Dimana bisa mendapatan informasi ini
> > 
> > > ?
> > 
> > > 
> > 
> > > RDP
> > 
> > > ============ =========
> > =========
> > 
> > > 19/05/2009 09:35 WIB
> > 
> > > Jumlah Cekungan Geologi RI Tambah Dobel Jadi 128
> Buah
> > 
> > > 
> > 
> > > detikFinance
> > 
> > > 
> > 
> > > Jakarta- Jumlah cekungan di Indonesia bertambah
> dua
> > kali
> > 
> > > lipat.
> > 
> > > Jika di tahun 2006 hanya sebanyak 60 buah
> cekungan
> > geologi
> > 
> > > saat ini diketahui
> > 
> > > jumlahnya sudah mencapai 128 buah.
> > 
> > > 
> > 
> > > "Saya selalu sampaikan kalau jumlah cekungan di
> > Indonesia
> > 
> > > sekitar 60 buah,
> > 
> > > tapi mulai pagi ini angka magic itu sudah
> > berubah," kata
> > 
> > > Menteri ESDM
> > 
> > > Purnomo Yusgiantoro dalam sambutannya pada
> Lokakarya
> > 
> > > Cekungan Sendimen
> > 
> > > Indonesia,
> > 
> > > di Gedung ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan,
> Jakarta,
> > 
> > > Selasa (19/5/2009).
> > 
> > > 
> > 
> > > Purnomo menjelaskan berdasarkan hasil penelitian
> > Badan
> > 
> > > Geologi Departemen
> > 
> > > dilaporkan, saat ini jumlah cekungan sendimen di
> > Indonesia
> > 
> > > sudah
> > 
> > > bertambah menjadi
> > 
> > > 128 buah.
> > 
> > > 
> > 
> > > "Jadi nanti para Dirjen ataupun menteri yang
> baru
> > jangan
> > 
> > > lupa kalau
> > 
> > > sekarang jumlah cekungan kita bukan 60 lagi tapi
> sudah
> > 128
> > 
> > > buah,"
> > 
> > > jelasnya.
> > 
> > > 
> > 
> > > Menurut Purnomo, pihaknya nanti akan membuat
> atlas
> > cekungan
> > 
> > > sendimen yang bisa
> > 
> > > digunakan untuk membantu kegiatan ekplorasi
> produksi
> > dan
> > 
> > > kegiatan perminyakan
> > 
> > > lainnya. "Ini akan bantu untuk temukan
> > cadangan-cadangan
> > 
> > > migas yang
> > 
> > > baru," ungkapnya.
> > 
> > > 
> > 
> > > Sementara itu, Kepala Badan Geologi, R Sukyar
> > menyatakan
> > 
> > > penemuan tersebut
> > 
> > > dapat menjadi target eksplorasi bagi para pelaku
> usaha
> > di
> > 
> > > bidang energi.
> > 
> > > 
> > 
> > > "Bagi pengembang ini akan menjadi informasi baru
> > yang akan
> > 
> > > menjadi
> > 
> > > target-target ekplorasi di masa yang
> > datang,"ungkap
> > 
> > > Sukyar.
> > 
> > > 
> > 
> > > Sebelumnya data ditjen migas mencatat jumlah
> cekungan
> > 
> > > hidrokarbon di Indonesia
> > 
> > > sampai akhir tahun 2006 berjumlah 60 cekungan,
> dengan
> > 
> > > perincian: 16 cekungan
> > 
> > > sudah berproduksi: 8 cekungan terbukti
> mengandung
> > 
> > > hidrokarbon tetapi belum
> > 
> > > berproduksi: 14 cekungan sudah dibor tapi belum
> > menemukan
> > 
> > > hidrokarbon: dan
> > 
> > > sisanya 22 cekungan masih belum dilakukan
> pemboran
> > 
> > > eksplorasi.
> > 
> 
> > 
> 
> 
>       




--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
ayo meriahkan PIT ke-38 IAGI!!!
yg akan dilaksanakan di Hotel Gumaya, Semarang
13-14 Oktober 2009
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke