Pak Franc, Sebuah gunungapi yang duduk di dua sistem sesar besar yang berpotongan harus dicurigai sebagai gunungapi yang punya akses lebih terbuka kepada sumber magma yang akan menerobos zone lemah perpotongan sesar. Semua back-arc volcanoes di Jawa macam Gunung Muria, Lasem, Ciremai, dan Pulosari muncul karena ada sesar besar di bawahnya. Gunung Krakatau muncul di tengah Selat Sunda yang merupakan relik perpisahan Sumatra dan Jawa dan gunungapi ini juga duduk di perpotongan jalur sesar arah Sumatra dan sesar arah Sunda. Gunungapi-gunungapi di Sumatra semuanya duduk di atas Sesar Sumatra/Semangko. Hal ini menunjukkan bahwa zone lemah akibat sesar kerap menjadi lokasi penerobosan magma yang kemudian menjadikan gunungapi di permukaan.
Apakah gunungapi-gunungapi yang duduk di jalur sesar atau perpotongan jalur sesar akan berenergi besar mengacu kepada kasus letusan paroxysmal Krakatau dan Toba ? Belum tentu. Ini dua hal yang berbeda. Sesar-sesar hanya menyediakan tempat penerobosan magma dan jaminan akses menerus kepada kantong magma. Tetapi dalam banyak kasus, kedahsyatan letusan lebih dikendalikan oleh komposisi magmanya. Tiga letusan paroxysmal gunungapi di Indonesia semuanya terjadi saat magmanya asam : Toba lk 70.000 tahun yl, Tambora 1815, dan Krakatau 416, 1883. Sedikit tentang Toba, saat sebagai gunungapi (sebelum menghasilkan kawah Danau Toba), gunungapi ini muncul di sistem sesar-sesar (tension fissures) yang terbentuk di puncak suatu area pengangkatan yang oleh van Bemmelen (1949) disebut sebagai Batak Tumor. Dalam volkanologi, Toba pun terkenal dengan endapan ignimbrit-nya, yaitu batuan asal abu volkanik -welded dan unwelded tuff. Begitu luasnya ladang ignimbrit di sini, 20.000-30.000 km2, termasuk yang paling luas di dunia. Untuk menghasilkan endapan seluas itu paling tidak telah dimuntahkan piroklastika sebanyak 2000 km3. Bagaimana sejarah letusan gunungapi ini ? Ignimbrit selalu dikaitkan dengan fissure eruption ala Katmai. Begitu juga mekanisme letusan Toba. Toba menduduki apex suatu tinggian disebut Batak Tumor berukuran 275x150 km dan sebagian besar berbatuan andesitik. Pada Early Quaternary, Batak Tumor ini mengalami arching-up, membubung ke atas dan membuka retak2 fissures di puncaknya. Pengangkatan ini mendekatkan batholith granit ke puncak. Erupsi linear terjadi, memuntahkan magma riolitik yang sebagian besar melalui nuees ardente (awan panas) turun ke lembah2 sekeliling Batak Tumor - inilah yang menjadi endapan ignimbrit. Walaupun letusannya linear dan via fissures tetapi karena magmanya asam, maka erupsinya hebat. Tercatat bahwa abu - tuf-ignimbrit ditemukan sampai sejauh 400 km ke arah Malaysia. Sehabis erupsi paroxysmal itu, yang terjadi sekitar 70.000 tahun yang lalu ( Knight et al 1986-Journal of Geophys Res 91), runtuhlah puncak Toba dan membentuk kawah -terjadilah Danau Toba. Ini gejala biasa akibat pengosongan kantong magma. Kemudian, setelah influx magma terjadi lagi, gerak batholith yang baru mengangkat sebagian runtuhan di dasar kawah dan sebagian dikenal menjadi Pulau Samosir (inilah resurgent couldron - suatu gejala spesifik di Toba). Fase terakhir perkembangan Toba adalah terbentuknya gunung Pusuk Bukit,Sibayak, dan sekitarnya yang terjadi di sayap Toba sebagai puncak-puncak parasitik bermagma andesit. Dalam sejarah yang tercatat (sejak tahun 1600), Toba tidak dimasukkan sebagai gunungapi yang aktif (kelas A). Gunung Pusuk Bukit dan Sibayak atau Singgalang, fase terakhir Toba memang menunjukkan status solfatara dan fumarola, tetapi erupsi Toba terakhir terjadi 70.000 tahun yang lalu dalam magma asam yang asal kontinen (berdasarkan isotop Sr 86/Sr 87). Dengan demikian sejarah volkanisme Toba bisa dibagi jadi 5 tahap : (1)pre-Toba andesites - singkapannya ada di North Samosir dan Dolok Siantar, (2) Toba fissure euption - 70.000 tyl yang mengendapkan ignimbrit, (3) formation of Toba crater, (4) formation of Samosir and Uluan Block melalui pengangkatan kawah-resurgent couldron, (5) post-Toba andesitic volcanism Pusuk Bukit, Singgalang, Sibayak. Erupsi mega-kolosal Toba, kalau kita percaya, tentu telah menyebabkan suatu katastrofi yang dahsyat (“Toba catastrophe theory"). Erupsi ini telah menurunkan temperatur permukaan Bumi 3-3.5 derajat Celsius selama beberapa tahun. Tentu lingkungan permukaan Bumi berubah secara signifikan akibat erupsi megakolosal ini. Akhir-akhir ini, karena terjadi kesamaan waktu dengan hasil penelitian evolusi manusia, erupsi Toba ini telah dituduh sebagai penyebab macetnya arus populasi migrasi manusia pada sekitar 70.000-75.000 tahun yang lalu. Pengetahuan kita tentang prasejarah manusia saat ini didasarkan kepada bukti2 fosil, arkeologi, dan genetika (DNA). Berdasarkan bukti2 tersebut, di dalam 3-5 juta tahun terakhir, spesies manusia (hominid) telah berpisah dari kelompok kera, dan maju dalam evolusinya menghasilkan varietas spesies manusia. Dalam perkembangan ini, pada sekitar 70-75 ribu tahun yang lalu sempat terjadi peristiwa reduksi populasi manusia yang sangat masif, inilah yang terkenal sebagai teori ”population bottlenecks” . Beberapa bukti geologi dan simulasi komputer Toba mega-colossal eruption telah dilakukan, dan sangat mendukung bahwa Toba pernah meletus dengan hebatnya. Dan, bukti DNA melalui proyek genome (yang baru dilakukan sekitar awal tahun 2000) telah berhasil memetakan seluruh variasi manusia saat ini dan telah berhasil melacak perjalanan evolusi dan migrasinya. Dikatakan, bahwa seluruh manusia sekarang di Bumi berasal dari sekitar hanya 10.000 individu manusia. Dengan menggunakan teknik ”average rates of genetic mutation”, beberapa ahli genetika berpendapat bahwa sejumlah populasi terisolasi ini hidup sezaman dengan peristiwa erupsi megakolosal Toba. Maka, disusunlah sebuah teori antara para ahli geologi dan ahli genetika yang mengatakan bahwa erupsi megakolosal Toba pada sekitar 70.000-74.000 tahun yang lalu telah memunahkan banyak manusia yang sedang bermigrasi keluar dari Afrika (out of Africa) dan hanya menyisakan 10.000 individu yang hidup terisolasi. Peristiwa ini selanjutnya telah mendorong diferensiasi spesies dari 10.000 individu dan melalui serangkaian peristiwa akhirnya menyisakan spesies manusia yang seperti sekarang ini melalui proses spesiasi. Akan halnya erupsi Tambora 1815, gunungapi ini, dan semua gunungapi aktif di bagian utara Nusa Tenggara (Gunung Agung, Rinjani, Tambora, Sangeang Api) dihasilkan bukan oleh subduksi kerak Samudra Hindia di bawah Nusa Tenggara, tetapi lebih karena Flores Thrust -suatu model subduksi kerak samudra Banda ke bawah Nusa Tenggara. Jalur gunungapi di sebelah selatan Nusa Tenggara memang hasil subduksi kerak samudra Hindia, tetapi karena jalur gunungapi di Nusa Tenggara bermigrasi ke utara dari Paleogen ke Neogen ke Kuarter; subduksi Resen kerak samudra Banda dari utara lebih mempengaruhi gunungapi2 ini. Bahwa erupsi paroxysmal Tambora 1815 terjadi saat magmanya berkomposisi asam dijelaskan oleh Pannekoek van Rheden (1918). Menurutnya aktivitas Tambora terjadi melalui tiga fase : (1) aliran lava yang membentuk gunungapi perisai/aspit setinggi 1800 m, (2) magma terdiferensiasi menjadi asam sehingga menghasilkan letusan eksplosif dan bergantian dengan lava membentuk strato volcano setinggi 4300 m, (3) 1815 : letusan eksplosif yang menghancurkan tubuhnya sendiri. Menurut catatan Petroeschevsky (1949), letusan paroxysmal Tambora didahului oleh aktivitas yang meningkat tajam sejak 1812. Letusan hebat dimulai 5 April 1815 dengan bunyi ledakan terdengar dari Jkarta sampai Ternate (2700 km). Letusan paling dahsyat terjadi dari 10-12 April 1815. Hujan abu sampai wilayah Besuki, Jawa Timur. Ledakannya terdengar sampai sejauh Bengkulu. Gempa akibat letusan terasa sampai Surabaya. Abu letusan sangat tebal di atas Madura sehingga Madura gelap selama 3 hari. Letusan membangkitkan tsunami -suatu bukti bahwa gunungapi dekat pantai berpotensi membuat tsunami -yang mencapai pantai Besuki Jawa Timur setinggi hampir 2 meter. Aktivitas Tambora baru berhenti setelah Agustus 1819. Maka dari awal-akhir aktivitasnya, aktivitas Tambora berjalan 7 tahun. Petroeschevsky (1949) mencatat pula bahwa korban langsung akibat letusan 10.000 orang; korban ikutan akibat kelaparan dan penyakit : 38.000 di Sumbawa, 44.000 orang di Lombok; sehingga total korban Tambora 92.000 orang. Energi letusan Tambora ini mencapai maksimum dalam skala volkanisitas (VEI = 8), setara dengan energi 1.44 x 10 exp27 erg atau 171428 x bom atom, dan volume yang diletuskan 150 km3 (Hedervari, 1963). salam, Awang --- On Sat, 6/27/09, Hiltrudis Gendoet Hartono <[email protected]> wrote: > From: Hiltrudis Gendoet Hartono <[email protected]> > Subject: Re: [iagi-net-l] Re: [Forum-HAGI] [iagi-net-l] Masih mungkinkah ada > letusan gunungapi sedahsyat Krakatau atau Tambora ? > To: [email protected] > Date: Saturday, June 27, 2009, 6:16 PM > Pak Franc, > > Secara sempit, kegiatan tektonika dalam hubungannya dengan > gunung api hanya mempersiapkan/memfasilitasi ruang atau > jalan sehingga magma atau silikat pijar dapat naik > kepermukaan bumi atau berhenti di dalam bumi dan membeku > membentuk batuan intrusi dangkal, sedangkan yang dapat > mencapai permukaan bumi inilah yang disebut gunung api. > Selanjutnya gunung api itu akan tumbuh sedikit demi sedikit > membangun tubuhnya (efusiv dan eksplosif kecil)...tentunya > butuh waktu yang lama dalam fase ini hingga terbentuk tubuh > kompositnya (gunung api tipe produk subduksi)..batuan beku > yang terbentuk umumnya berkomposisi basal hingga andesit. Di > satu sisi magma terus mengalami proses diferensiasi normal > (seri Bowen), kemungkinan petrologi-volkanologi fase > pembangunan hingga istirahat panjang inilah akumulasi energi > besar dapat terjadi sehingga mampu membongkar tubuhnya > sendiri (fase destruksi/perusakan) dengan letusan besar > sekaligus membentuk kaldera....jelas magma asam > dengan bukti batuan terbentuk berkomposisi lebih asam > dasit hingga riolit. > Secara luas, gerak-gerak tektonika memicu energi global > lempeng yang dapat mensuplai energi bersamaan dengan respon > gunung api meletus.....pergerakan lempeng kadang cepat > kadang melambat (?)....pada waktu lempeng gerak cepat itulah > kemungkinan energi akumulasi yang sudah ada didalam perut > gunung api menjadi lebih besar maka terjadilah batuk basah > alias semua material yang ada didalam perut gunung api > dikeluarkan.....ha ha..takut mas... > demikian sedikit ulasan, moga membantu. > > salam > hill > > --- On Thu, 6/25/09, Franciscus B Sinartio <[email protected]> > wrote: > > From: Franciscus B Sinartio <[email protected]> > Subject: [iagi-net-l] Re: [Forum-HAGI] [iagi-net-l] Masih > mungkinkah ada letusan gunungapi sedahsyat Krakatau atau > Tambora ? > To: "Forum Himpunan Ahli Geofisika Indonesia" <[email protected]>, > [email protected] > Cc: "Geo Unpad" <[email protected]>, > "Forum HAGI" <[email protected]> > Date: Thursday, June 25, 2009, 10:03 AM > > Pak Awang, > apakah mungkin. yang disebutkan teori lainnya adalah > teori penyebab terjadinya gunung api, tetapi memang karena > terletak diantara pertemuan dua fault system ini yang > menyebabkan terbuka nya crust yang menyebabkan magma bisa > keluar dengan jumlah yang lebih banyak. > karena terletak di dalam laut maka sumbatnya cepat > terbentuk. bukan lagi kayak lava pillow tetapi mungkin sdh > lebih besar lagi. > > saya sebenarnya mau tanya hal yang lain.... > > Apakah danau Toba juga terletak diujung satunya Semangko > fault? > bagaimana dengan Tambora? > apakah dapat di interpretasikan bahwa gunung api2 yang > besar itu bukanlah rangkaian ring of fire yang diproduksi > oleh Bennioff zone, tetapi karena terbuka nya crust karena > strike slip fault? > > banyak pertanyaannya ya... > tapi kan nanyanya sama perpustakaan berjalan jadi saya > yakin bisa diterangkan oleh Pak Awang. > > salam, > frank > > > > > > > ________________________________ > From: Awang Satyana <[email protected]> > To: [email protected] > Cc: Geo Unpad <[email protected]>; > Forum HAGI <[email protected]> > Sent: Thursday, June 25, 2009 5:15:41 PM > Subject: Re: [Forum-HAGI] [iagi-net-l] Masih mungkinkah ada > letusan gunungapi sedahsyat Krakatau atau Tambora ? > > > Mengikuti literatur2 tentang letusan Krakatau 1883 selama > hampir 100 tahun dari 1885 sampai 1981 kita akan dihadapkan > kepada perdebatan para ahli tentang penyebab letusan > katastrofik/paroxysmal Krakatau 1883. Beberapa saya > simpulkan pemikiran2 mereka di bawah ini. > > Verbeek (1885 : Krakatau, dlm bahasa Belanda dan Prancis, > cetakan Batavia). Air laut merembas ke dapur magma, > menaikkan tekanan dapur magma. Magma naik dari dapur magma > karena tekanan, ia menggerus badan kerucut gunungapi sampai > tipis. Badan tipis ini runtuh, air laut dalam jumlah besar > masuk, menyebabkan violent explosion yang melemparkan > pumis/batuapung. Dalam zaman Verbeek ini pandangan terkenal, > meskipun kita tahu intervensi air akan menyebabkan letusan > phreatik yang tak eksplosif. > > Judd (1888 : Nature 40, the earlier eruptions of Krakatau > & laporan ke Royal Society of London). Minor explosion > pada 26 Agustus akibat kontak lava panas dengan air laut. > Monster explosion pada 27 Agustus akibat runtuhnya sumbat > lava yang terjadi sebelumnya oleh cooling effect air laut > yang masuk secara mendadak ke lubang kawah. Eksplosi > selanjutnya menghasilkan kaldera baru. > > James Dana (1890 : Characteristics of volcanoes..., Dodd, > Mead and Co, New York). Monster explosion 27 Agustus 1883 > akibat air laut yang masuk ke dapur magma. Eksplosi telah > mengosongkan dapur magma, runtuh, terbentuk kaldera. > > Stehn (1929 : The Geology and volcanism of the Krakatau > Group,4th science congress, Batavia). Destruksi Krakatau > terjadi dalam beberapa tahap penenggelaman yang dimulai dari > sebelah utara. Setiap tahap penenggelaman diikuti oleh > eksplosi yang membentuk kaldera. Ke dalam kaldera itu > runtuhan masuk, dan menimbulkan tsunami. > > Self and Rampino (1981 : Nature 294, The 1883 eruption of > Krakatau). Kaldera Krakatau terjadi akibat kosongnya dapur > magma oleh rentetan eksplosi. Tsunami diakibatkan oleh > jatuhnya kembali material letusan ke laut. > > Teori-teori lain : > > Karakatau terletak pada titik silang dua sistem retakan > besar antara arah Sumatra, arah Jawa, dan arah Selat Sunda > sendiri. > > Krakatau terletak di titik belok jalur palung dari sebelah > barat Sumatra ke sebelah selatan Jawa > > salam, > Awang > > --- On Thu, 6/25/09, Yustinus Suyatno Yuwono <[email protected]> > wrote: > > > From: Yustinus Suyatno Yuwono <[email protected]> > > Subject: Re: [iagi-net-l] Masih mungkinkah ada letusan > gunungapi sedahsyat Krakatau atau Tambora ? > > To: [email protected] > > Cc: "Geo Unpad" <[email protected]>, > "Forum HAGI" <[email protected]>, > "Eksplorasi BPMIGAS" <[email protected]> > > Date: Thursday, June 25, 2009, 1:26 PM > > Rekans! > > Teori Verbeek(1985) dan Judd (1888) bahwa air laut > yang > > masuk ke dapur magma lalu memicu letusan paroxismal > Krakatau > > th 1883 adalah omong kosong tanpa bukti. Bila ada air > masuk > > ke dapur magma letusan yang terjadi adalah > phreato-magmatik > > atau bahkan phreatik yang skala letusannya tidak akan > > katastropik seperti letusan Krakatau yang super > dahsyat > > itu. > > Syalom. > > Yatno > > ----- Original Message ----- From: "Rovicky Dwi > Putrohari" > > <[email protected]> > > To: <[email protected]> > > Cc: "Geo Unpad" <[email protected]>; > > "Forum HAGI" <[email protected]>; > > "Eksplorasi BPMIGAS" <[email protected]> > > Sent: Wednesday, June 24, 2009 10:50 AM > > Subject: Re: [iagi-net-l] Masih mungkinkah ada > letusan > > gunungapi sedahsyat Krakatau atau Tambora ? > > > > > > Terimakasih Pak Awang, > > Nanti akan saya cari gambar2 Hall tentang tectonic > > untuk mempermudah > > pemahaman dongeng gunungapi ini :) > > > > RDP > > ---------------------------- > > 2009/6/24 Awang Satyana <[email protected]>: > > > > > > Salam gunungapi, > > > > > > Bumi memang mendingin secara gradual, tetapi > sampai > > sekarang pun, dari bukti-bukti pengukuran GPS, > > lempeng-lempeng masih bergerak. Artinya adalah bahwa > > meskipun Bumi semakin mendingin, ia masih cukup panas > untuk > > mempunyai sirkulasi material di mantel dan inti > luarnya. > > Implikasi ini adalah bahwa bencana yang berhubungan > dengan > > gerak lempeng seperti gempa dan letusan gunungapi > masih bisa > > terjadi, termasuk yang katastrofik seperti erupsi > Krakatau > > atau Tambora. > > > > > > Khusus Krakatau, kita cek saja geologi dan > sejarah > > letusan atau penelitian yang pernah dilakukan di sini, > sejak > > zaman Verbeek (1885), dua tahun setelah letusan > > katastrofiknya (1883) sampai penelitian2 para ahli > gunungapi > > Indonesia seperti Pak Tikno Bronto, Pak Yatno, Pak > Gendoet, > > Pak Igan, dan yang lainnya. Kita juga harus melihat > situasi > > tektonik tempat gunungapi itu muncul. > > > > > > Berdasarkan rekonstruksi terbaru (misalnya dari > Robert > > Hall, 1995-2003), Selat Sunda tempat Krakatau muncul, > belum > > ada sebelum 10 juta tahun yang lalu. Selat ini > berkembang > > dalam 10 juta tahun terakhir. Sebelumnya, Jawa masih > terikat > > dengan Sumatra dalam arah yang mirip Sumatra yaitu > > BL-Tenggara. Kalau Jawa sekarang arahnya B-T, itu > karena > > lepas dari Sumatra dalam 10 juta tahun terakhir > kemudian > > terputar melawan arah jarum jam. Perpisahan > Jawa-Sumatra ini > > membuka Selat Sunda, sehingga tidak mengherankan > mengapa > > Selat Sunda menyempit di timurlaut dan melebar ke > arah > > baratdaya, ini adalah efek rotasi anti-clockwise > dengan > > titik rotasi (pivot point) di sebelah timurlaut. Yang > > menyebabkan Jawa terpisah dari Sumatra adalah majunya > > Australia ke arah utara di ujung Busur Banda. Apakah > > rekonstrksi ini benar ? Mungkin benar, seperti > dibuktikan > > oleh pengukuran radiometric dan paleomagnetik > beberapa > > batuan Paleogen-Neogen di Jawa yang dilakukan oleh > Ngkoimani > > et > > > al. (2006) yang menyimpulkan bahwa separuh Jawa > bagian > > timur dulunya berlokasi lebih selatan daripada > posisinya > > sekarang. > > > > > > Sebuah rotasi Jawa yang anticlockwise dan Sumatra > yang > > juga terputar clockwise (Barber et al., 2005) akan > > mengharuskan sistem retakan di Selatan Sunda sebagai > retakan > > berorientasi BD-TL. Dan, sistem retakan ini telah > dijadikan > > jalur lemah munculnya rentetan gunungapi di Selat > Sunda dari > > Sebesi di selatan, Sebuku di tengah sampai Raja Bassa > di > > utara. Gunung Peucang dan intrusi linear dykes di > sepanjang > > pantai timur Pulau Panaitan harus dipandang sebagai > bagian > > jalur ini. Dan, adalah Verbeek (1885) yang pertama > kali > > menyebutkan bahwa Krakatau sebenarnya terletak di > titik > > perpotongan dua jalur : jalur Sumatra yang BL-Tenggara > dan > > jalur Selat Sunda yang BD-TL. Verbeek juga menulis > dalam > > laporannya bahwa aktivitas panjang Krakatau > disebabkan > > lokasinya yang merupakan focus injeksi magma, yang > juga > > mempengaruhi bentuk dapur magmanya. Karena posisi > tektonik > > Krakatau tidak berubah dalam 10 juta tahun terakhir > ini, > > maka aktivitas erupsi yang sama yang pernah > > > terjadi pada 1883 dan sebelumnya tak mungkin tak > > terjadi lagi. Hanya tingkat letusannya yang harus > kita > > cermati. > > > > > > Bila ditelusuri riwayatnya, seperti banyak > gunungapi > > lainnya, Krakatau punya sejarah panjang periode > dormant > > (istirahat) dan erupsinya. Suatu siklus besar dalam > > kehidupan gunungapi bermula dengan tumbuhnya kerucut > > permukaan dan berakhir dengan keruntuhan sebagian > puncak ini > > membentuk kaldera. Krakatau telah mengalamai dua > siklus > > besar jenis ini. > > > > > > Siklus pertama Krakatau dimulai pada masa > pra-sejarah, > > dan mungkin berakhir pada abad ke-5 Masehi. Selama > siklus > > ini, sebuah kerucut andesitic terbangun sampai > ketinggian > > sekitar 2000 meter -ini tentu disimpulkan dari > rekonstruksi > > berdasarkan shattered remains-nya -sisa-sisa > hancurannya. > > Ketinggian ini lebih dari dua kali ketinggian Anak > Krakatau > > sekarang. Diameter kerucut ini sekitar 15 km di > dasarnya, > > sekitar setengah ukuran Gunungapi Merapi di utara > > Yogyakarta. Kaldera selebar 10 km mengakhiri daur ini > dan > > menyisakan bekas2nya berupa empat pulau : Verlaten > > (Sertung), Krakatau (Rakata), Lang (Rakata Kecil) dan > Police > > Hat. > > > > > > Uniknya adalah bahwa seorang peneliti bernama > Judd > > (1888) menghubungkan berakhirnya siklus pertama > Krakatau ini > > dengan "Pustaka Raja" sebuah buku berbahasa Jawa kuno > yang > > menceritakan sebuah letusan dahsyat di sebelah barat > Jawa. > > Terjemahan uraian dalam Pustaka Raja adalah "Dalam > tahun 338 > > Syaka (416 M) sebuah bunyi Guntur terdengar dari > pegunungan > > Batuwara (sekarang disebut Pulosari di utara Banten), > yang > > kemudian dijawab oleh bunyi Guntur yang yang sama > berasal > > dari gunung Kapi (Krakatau ?), yang terletak di > sebelah > > barat Banten. Api besar yang menyala mencapai langit > keluar > > dari Kapi, disertai oleh hujan badai. Suaranya begitu > > menakutkan, dan akhirnya gunung Kapi dengan raungan > dahsyat > > hancur berkeping-keping." (ditulis ulang dari Simkin > dan > > Fiske, 1983). > > > > > > Siklus kedua Krakatau dimulai ketika sebuah > kerucut > > basalt yang kaya olivine muncul di tepi tenggara > kaldera > > siklus pertama. Tinggi Krakatau saat itu 800 meter. > Kemudian > > letusan-letusan berikutnya telah bergeser mengikuti > jalur > > utara-baratlaut membentuk kerucut-kerucut Danan dan > > Perboewatan yang terbuat dari material andesitic kaya > > hipersten. Laporan-laporan dari pelayaran di Selat > Sunda > > menyebutkan bahwa Perboewatan muncul pada 1680 dengan > > ketinggian yang lebih rendah dari Krakatau. Seperti > juga > > terjadi di kaldera Tengger saat ini, maka > gunung-gunung di > > dalam kaldera akan semakin kecil semakin muda, dan > yang > > paling kecil berlokasi di titik geseran paling ujung. > > > > > > Siklus kedua ini berakhir pada hari Senin 27 > Agustus > > 1883 pukul 10.00 (Simon Winchester, 2000)dalam sebuah > > letusan paroxysmal yang terkenal itu, yang juga > melenyapkan > > Perboewatan, Danan, dan setengah badan sebelah utara > > Krakatau. Saat itu langsung terbentuk kaldera sedalam > 300 > > meter yang berisi air laut. Pengukuran hidrografik > setelah > > masa letusan berakhir menunjukkan bahwa kaldera siklus > kedua > > ini hampir sama dimensinya dengan kaldera siklus > pertama, > > tetapi ia memanjang agak ke selatan baratdaya, > menunjukkan > > runtuhan dapur magma mengikuti struktur regionalnya. > > > > > > Siklus ketiga bermula ketika Anak Krakatau > (Krakatau > > yang kita kenal sekarang) muncul pada suatu pagi pada > tahun > > 1927 (van Bemmelen, 1949). Sang Anak tumbuh dengan > cepat, > > jauh melebihi kecepatan pertumbuhan makhluk hidup mana > pun, > > yaitu sekitar 5 meter per tahun (Willumsen, 1997). > Anak > > Krakatau saat ini dibangun oleh material basaltic. > Kapan > > siklus ketiga ini akan berakhir, mengikuti sejarah > ayah dan > > kakeknya, maka ia akan meletus hebat ketika material > > magmanya sudah menjadi asam. Mungkin letusannya tak > akan > > sehebat tahun 416 atau 1883, tetapi dengan makin > padatnya > > penduduk sekitar pantai Banten dan Lampung; maka > jumlah > > korban potensial bisa lebih besar daripada letusan 416 > dan > > 1883. > > > > > > Penelitian para ahli gunungapi Belanda van > Bemmelen > > (1949), Verbeek (1885) dan G.A. de Neve (1981) - de > Neve > > adalah kawan senior saya sesama pemburu buku loakan > di > > Cihapit Bandung 1977-1980 -ternyata saya juga akhirnya > jadi > > seorang geologist seperti de Neve, saat itu saya anak > SMP > > yang haus buku tetapi tak punya uang sehingga bisanya > hanya > > membeli di loakan sedangkan de Neve adalah seorang > gurubesar > > geologi...hm sedikit nostalgia-berhasil merekonstruksi > kimia > > magma semua siklus dormant dan erupsi Krakatau. > Mereka > > menyimpulkan bahwa Kompleks Krakatau selalu mulai > dengan > > magma basalt, maju ke andesite, dan meletus hebat > secara > > paroxysmal ketika magmanya menjadi asam (riolitik). > Menurut > > rekonstruksi mereka (dikompilasi dengan sangat baik > oleh > > Willumsen, 1997), letusan hebat Kakek Krakatau pada > 416 M > > (?) terjadi saat komposisi magma riolitik mencapai > Kadar > > SiO2 70 %, begitu juga dengan erupsi Krakatau 1883 > yang > > meletus hebat saat komposisi magma mencapai 70 > > > % SiO2. Nah, si Anak Krakatau ini agak lain - > > plottingnya tak mengikuti kakek dan ayahnya -mungkin > datanya > > lebih banyak; yang jelas Anak Krakatau sejak lahirnya > pada > > tahun 1927 sampai sekarang tak pernah mencapai > komposisi > > magma riolitik (> 65 % SiO2). Saat letusannya > pertama > > terjadi pada tahun 1930 ia ada di level SiO2 62 %. > Tahun > > 1960 bahkan magmanya berdiferensiasi menjadi basaltic > dari > > andesit, sekarang tengah andesit. Saat level SiO2-nya > sudah > > mencapai 65 % di situlah mulai membayang letusan > paroxysmal. > > Melihat kecenderungannya, mungkin ini akan terjadi > masih > > jauh dari sekarang, paling tidak tak sampai 100 tahun > dari > > sekarang. > > > > > > Begitu kalau mengikuti kimia magma, tetapi > Verbeek > > (1885) dan Judd (1888) punya teori unik tentang > mengapa > > Krakatau 1883 meletus begitu hebat. Mereka percaya > bahwa air > > laut yang merembes ke kantong magma telah berperan > dalam hal > > ini. Air ini akan menaikkan tekanan. Magma naik > akibat > > tekanan tambahan dari air ini. Magma yang naik ini > akan > > menggerogoti akar kerucut volkanik di atasnya sampai > badan > > kerucut gunungapi menipis seperti seperti selaput > saja. > > Ketika selaput gunungapi ini runtuh, laut akan punya > akses > > masuk ke kantong magma dan menyebabkan erupsi besar > yang > > melemparkan pumis (batuapung). > > > > > > Kalau kakek Krakatau benar meletus pada 416 M > sesuai > > Pustaka Raja, dan kita tahu Krakatau 1883 meletus > sama > > hebatnya pada 1883, maka terbentang periode selama > 1467 > > tahun. Dalam masa itu terjadi diferensiasi magma > Krakatau > > dari riolit-andesit-basaltik-andesit-riolit. Bila > kimia > > magma satu-satunya kunci ke letusan paroxysmal, maka > periode > > letusan paroxysmal Anak Krakatau mungkin akan terjadi > pada > > 1883 + 1467 = tahun 3350. Ini tentu hitungan di atas > kertas > > dan menyederhanakan sekali banyak hal serta > menggunakan > > banyak asumsi yang semuanya bisa salah besar > seketika. > > > > > > Yang penting adalah amati terus kimia magma Anak > > Krakatau. Hati-hati saat ia di ujung andesitic dan mau > masuk > > ke riolitik. Kapan itu akan terjadi kita tak tahu > sebab > > pengetahuan kita begitu tak sempurna sementara Mother > Earth > > punya banyak misteri. > > > > > > Demikian, semoga berguna. > > > > > > Salam, > > > Awang > > > > > > > > > --- On Tue, 6/23/09, Hiltrudis Gendoet Hartono > <[email protected]> > > wrote: > > > > > >> From: Hiltrudis Gendoet Hartono <[email protected]> > > >> Subject: Re: [iagi-net-l] Masih mungkinkah > ada > > letusan gunungapi sedahsyat Krakatau atau Tambora ? > > >> To: [email protected] > > >> Date: Tuesday, June 23, 2009, 2:50 PM > > >> Salam gunung api, > > >> > > >> Ikut nimbung ya...setuju dengan pendapat pak > > Yatno...selain > > >> itu juga perlu diperhatikan durasi lama hidup > dan > > waktu > > >> istirahat gunung apinya...disini waktu > istirahat > > g.api > > >> berhubungan dengan pengumpulan energi atau > > pengakumulasian > > >> faktor-faktor energi dalam usahanya untuk > > membongkar penutup > > >> kawah bahkan bodi kerucut bagian atas > g.apinya. > > Waktu > > >> istirahat bisa mencapai ratusan tahun bahkan > > ribuan tahun > > >> (Ferari, 1995).... tampaknya waktu istirahat > > panjang > > >> tersebut bukan umur kita, namun secara > statistik > > apa ada > > >> gunung api di Indonesia yang sdh > beristirahat > > selama itu > > >> (?), nah itu yang perlu kita cari atau > tanyakan ke > > mas Igan > > >> dan Zen.....he he..ke pak Surono langsung > ya. > > Durasi itu > > >> kemungkinan juga berujung kepada perilaku > magma > > yang selalu > > >> menjadi lebih asam (Bowen > series).......suwun. > > >> > > >> hgh > > >> > > >> --- On Mon, 6/22/09, [email protected] > > >> <[email protected]> > > >> wrote: > > >> > > >> From: [email protected] > > >> <[email protected]> > > >> Subject: Re: [iagi-net-l] Masih mungkinkah > ada > > letusan > > >> gunungapi sedahsyat Krakatau atau > > >> Tambora ? > > >> To: [email protected] > > >> Cc: "IAGI" <[email protected]>, > > >> "Forum HAGI" <[email protected]> > > >> Date: Monday, June 22, 2009, 6:51 AM > > >> > > >> > > >> Letusan sebesar Krakatau ataupun Tambora > masih > > sangat > > >> mungkin terjadi. > > >> Letusan besar seperti itu tidak ada > kaitannya > > dengan suhu > > >> bumi yang > > >> mendingin. Letusan katastropis (ultra > Plinian) > > berhubungan > > >> dengan > > >> akumulasi tekanan yang salah satu faktornya > > adalah > > >> komposisi magma yang > > >> semakin asam sehingga mengental dan > menyumbat > > lubang > > >> kepundan. > > >> Salam, > > >> Yatno. (YSY) > > >> > > >> > Ada sebuah pertanyaan yang datang dari > > pembaca Dongeng > > >> Geologi. > > >> > Apakah di bumi ini masih ada > kemungkinan > > gunung > > >> meletus sekuat letusan > > >> > Tambora atau Krakatau ? Ataukah bumi > sudah > > mendingin > > >> sehingga letusan > > >> > besar sudah tidak akan terjadi lagi ? > > >> > > > >> > Logikanya sih sepertinya OK saja, > karena > > memang bumi > > >> ini mendingin > > >> > sejak terbentuknya dulu, sehingga > "mungkin" > > letusan > > >> besar tidak akan > > >> > terjadi "lagi". Hmm tetapi spekulasi > seperti > > ini juga > > >> berbahaya. > > >> > Ada komentar ? > > >> > > > >> > RDP > > >> > > > >> > > > >> > > > -------------------------------------------------------------------------------- > > >> > PP-IAGI 2008-2011: > > >> > ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] > > >> > sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] > > >> > * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 > > departemen, banyak > > >> biro... > > >> > > > >> > > > -------------------------------------------------------------------------------- > > >> > ayo meriahkan PIT ke-38 IAGI!!! > > >> > yg akan dilaksanakan di Hotel Gumaya, > > Semarang > > >> > 13-14 Oktober 2009 > > >> > > > >> > > > ----------------------------------------------------------------------------- > > >> > To unsubscribe, send email to: > > >> iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > > >> > To subscribe, send email to: > > >> iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > > >> > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > > >> > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > > >> > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > > >> > No. Rek: 123 0085005314 > > >> > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi > Indonesia > > (IAGI) > > >> > Bank BCA KCP. Manara Mulia > > >> > No. Rekening: 255-1088580 > > >> > A/n: Shinta Damayanti > > >> > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > > >> > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > > >> > > > >> > > > --------------------------------------------------------------------- > > >> > DISCLAIMER: IAGI disclaims all > warranties > > with regard > > >> to information > > >> > posted on its mailing lists, whether > posted > > by IAGI or > > >> others. In no event > > >> > shall IAGI and its members be liable > for > > any, > > >> including but not limited to > > >> > direct or indirect damages, or damages > of any > > kind > > >> whatsoever, resulting > > >> > from loss of use, data or profits, > arising > > out of or > > >> in connection with > > >> > the use of any information posted on > IAGI > > mailing > > >> list. > > >> > > > >> > > > --------------------------------------------------------------------- > > >> > > > >> > > > >> > > >> > > >> > > >> > > > -------------------------------------------------------------------------------- > > >> PP-IAGI 2008-2011: > > >> ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] > > >> sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] > > >> * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 > departemen, > > banyak > > >> biro... > > >> > > > -------------------------------------------------------------------------------- > > >> ayo meriahkan PIT ke-38 IAGI!!! > > >> yg akan dilaksanakan di Hotel Gumaya, > Semarang > > >> 13-14 Oktober 2009 > > >> > > > ----------------------------------------------------------------------------- > > >> To unsubscribe, send email to: > > >> iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > > >> To subscribe, send email to: > > >> iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > > >> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > > >> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > > >> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > > >> No. Rek: 123 0085005314 > > >> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia > (IAGI) > > >> Bank BCA KCP. Manara Mulia > > >> No. Rekening: 255-1088580 > > >> A/n: Shinta Damayanti > > >> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > > >> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > > >> > > > --------------------------------------------------------------------- > > >> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties > with > > regard to > > >> information posted on its mailing lists, > whether > > posted by > > >> IAGI or others. In no event shall IAGI and > its > > members be > > >> liable for any, including but not limited to > > direct or > > >> indirect damages, or damages of any kind > > whatsoever, > > >> resulting from loss of use, data or profits, > > arising out of > > >> or in connection with the use of any > information > > posted on > > >> IAGI mailing list. > > >> > > > --------------------------------------------------------------------- > > >> > > >> > > >> > > >> > > >> > > > > > > > > > > > > > > > > > > -------------------------------------------------------------------------------- > > > PP-IAGI 2008-2011: > > > ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] > > > sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] > > > * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, > banyak > > biro... > > > > > > -------------------------------------------------------------------------------- > > > ayo meriahkan PIT ke-38 IAGI!!! > > > yg akan dilaksanakan di Hotel Gumaya, Semarang > > > 13-14 Oktober 2009 > > > > > > ----------------------------------------------------------------------------- > > > To unsubscribe, send email to: > > iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > > > To subscribe, send email to: > > iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > > > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > > > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > > > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > > > No. Rek: 123 0085005314 > > > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > > > Bank BCA KCP. Manara Mulia > > > No. Rekening: 255-1088580 > > > A/n: Shinta Damayanti > > > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > > > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > > > > > > --------------------------------------------------------------------- > > > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with > regard > > to information posted on its mailing lists, whether > posted > > by IAGI or others. In no event shall IAGI and its > members be > > liable for any, including but not limited to direct > or > > indirect damages, or damages of any kind whatsoever, > > resulting from loss of use, data or profits, arising > out of > > or in connection with the use of any information > posted on > > IAGI mailing list. > > > > > > --------------------------------------------------------------------- > > > > > > > > > > > > > > -- > > http://rovicky.wordpress.com/2009/05/30/seamount-si-gunung-raksasa-dibawah-laut-1-proses-terbentuknya/ > > > > > -------------------------------------------------------------------------------- > > PP-IAGI 2008-2011: > > ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] > > sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] > > * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak > > biro... > > > -------------------------------------------------------------------------------- > > ayo meriahkan PIT ke-38 IAGI!!! > > yg akan dilaksanakan di Hotel Gumaya, Semarang > > 13-14 Oktober 2009 > > > ----------------------------------------------------------------------------- > > To unsubscribe, send email to: > > iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > > To subscribe, send email to: > > iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > > No. Rek: 123 0085005314 > > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > > Bank BCA KCP. Manara Mulia > > No. Rekening: 255-1088580 > > A/n: Shinta Damayanti > > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > > > --------------------------------------------------------------------- > > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard > to > > information posted on its mailing lists, whether > posted by > > IAGI or others. In no event shall IAGI and its members > be > > liable for any, including but not limited to direct > or > > indirect damages, or damages of any kind whatsoever, > > resulting from loss of use, data or profits, arising > out of > > or in connection with the use of any information > posted on > > IAGI mailing list. > > > --------------------------------------------------------------------- > > > > > > > -------------------------------------------------------------------------------- > > PP-IAGI 2008-2011: > > ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] > > sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] > > * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak > > biro... > > > -------------------------------------------------------------------------------- > > ayo meriahkan PIT ke-38 IAGI!!! > > yg akan dilaksanakan di Hotel Gumaya, Semarang > > 13-14 Oktober 2009 > > > ----------------------------------------------------------------------------- > > To unsubscribe, send email to: > > iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > > To subscribe, send email to: > > iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > > No. Rek: 123 0085005314 > > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > > Bank BCA KCP. Manara Mulia > > No. Rekening: 255-1088580 > > A/n: Shinta Damayanti > > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > > > --------------------------------------------------------------------- > > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard > to > > information posted on its mailing lists, whether > posted by > > IAGI or others. In no event shall IAGI and its members > be > > liable for any, including but not limited to direct > or > > indirect damages, or damages of any kind whatsoever, > > resulting from loss of use, data or profits, arising > out of > > or in connection with the use of any information > posted on > > IAGI mailing list. > > > --------------------------------------------------------------------- > > > > > > > > > ______________________________________________ > The Indonesian Assosiation Of Geophysicists mailing list. > [email protected]| > www.hagi.or.id > * PIT HAGI ke 34, 8-13 November 2009, Yogyakarta > * Kunjungi http://pit34hagi.web.id/ untuk info lebih lanjut > > > > -------------------------------------------------------------------------------- PP-IAGI 2008-2011: ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro... -------------------------------------------------------------------------------- ayo meriahkan PIT ke-38 IAGI!!! yg akan dilaksanakan di Hotel Gumaya, Semarang 13-14 Oktober 2009 ----------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ---------------------------------------------------------------------

