*Pak Awang,*
** *ada kesulitan pengelompokan masa di kerajaan Islam di Sumatera, kelihatannya tak ada persentuhan kerajaan demak di sumatera.. kalau kutipan dari wikipedia lebih kacau!.* ** [image: Isi] *Artikel ini tidak memiliki referensi sumber<http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan>sehingga isinya tidak bisa diverifikasi. * Bantulah memperbaiki artikel ini<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Invasi_Kesultanan_Demak_ke_Malaka&action=edit>dengan menambahkan referensi yang layak. Artikel yang tidak dapat diverifikasikan dapat dihapus sewaktu-waktu oleh Pengurus <http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Pengurus>. Sejak tahun 1509, Pati Unus sudah merancang rencana untuk menguasai Malaka<http://id.wikipedia.org/wiki/Malaka>. Saat itu Malaka berada di bawah kekuasaan Kesultanan Malaka<http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Malaka>. Dengan kata lain, perlu dicatat bahwa serangan Demak ke Malaka jelas bukanlah sebuah serangan anti-kekuasaan asing, tetapi sebuah invasi imperialis. Tahun 1511, Alfonso D'Alburquerque<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Alfonso_D%27Alburquerque&action=edit&redlink=1>, Laksamana armada Portugis, mendahului Pati Unus dengan menaklukkan Malaka. Sultan Malaka Mahmud Syah<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Mahmud_Syah&action=edit&redlink=1>melarikan diri ke Bintan <http://id.wikipedia.org/wiki/Bintan>. Pati Unus sangat mengerti bahwa kekuatan utama Portugis adalah pada armada lautnya. Portugis memiliki kapal yang kuat, bahkan lebih kuat dibandingkan dengan kapal Majapahit. Selain itu, Portugis sudah menggunakan meriam yang dipasang di masing - masing kapal di mana pada waktu itu meriam adalah senjata pamungkas yang tidak bisa ditandingi oleh senjata apapun. Oleh karena itu, langkah pertama Pati Unus adalah menghidupkan kembali kekuatan armada Majapahit yang tertidur lama pada saat masa - masa perebutan kekuasaan. Kapal - kapal baru tersebut juga dilengkapi dengan Cetbang, yaitu meriam api, di mana kapal dan cetbang juga merupakan kekuatan andalan Armada Majapahit. Pusat produksi kapal-kapal ini adalah Semarang, gerbang masuk Demak, dengan bantuan orang-orang Tionghoa lokal. Selanjutnya Pati Unus menghimpun kekuatan - kekuatan nusantara untuk membentuk armada gabungan dengan satu tujuan, mengusir Portugis dari Malaka. Ia juga meminta bantuan orang-orang Jawa yang ada di Malaya untuk jadi agen dalam di Malaka. Tetapi ternyata, ketika Pati Unus terlanjur berangkat ke Malaka,orang-orang Jawa ini terlanjur dipergoki Portugis dan melarikan diri ke Cirebon <http://id.wikipedia.org/wiki/Cirebon>. Pati Unus pun bertempur tanpa bantuan mata-mata dan agen dalam - kapal-kapalnya dengan mudah diremuk meriam-meriam yang ditodongkan ke laut di Benteng Portugis di Malaka. ======================================================================= * * *Sumatera *mengawali jejak perjalanan Islam di nusantara. Di bagian utara pulau ini pernah berdiri *Kerajaan Samudera Pasai* yang merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan ini didirikan oleh *Meurah Silu* pada tahun 1267 M. Kerajaan yang berdiri di tanah Aceh itu bahkan pernah dikunjungi *Ibnu Batutah*, pengembara muslim paling ternama sepanjang sejarah. Daftar sejarah itu bila dirunut ke belakang bisa lebih panjang, karena menurut data sejarah di Aceh Timur, pada abad ke-9 pernah berdiri *kerajaan Perlak* yang kemudian menggabungkan diri dengan Pasai. Kekayaan khazanah Islam Sumatera lalu dilanjutkan dengan berdirinya *kerajaan Malaka* (1402 – 1511) yang didirikan oleh *Parameswara*, seorang putera *Sriwijaya *yang menyelamatkan diri dari perebutan Palembang oleh Majapahit. Nama Malaka kemudian masyhur sebagai salah satu pelabuhan penting di dunia. Portugis, Belanda dan Inggris pun merapat di sana. Masih di bagian Utara Sumatera berdiri *Kesultanan Aceh Darussalam* pada tahun 1360 dengan ibu kota *Kutaraja (Banda Aceh)*. *Sultan Ali Mughayat Syah* dinobatan sebagai Sultan pertama pada *Ahad, 1 Jumadil Awwal 913 H *bertepatan pada 8 September 1507. Selain masyhur dengan sistem pendidikan militer yang baik, komitmennya dalam menentang *imperialisme *Eropa, sistem pemerintahan teratur dan sistematik, kesultanan Aceh merupakan pusat-pusat pengkajian ilmu pengetahuan terutama Islam. Kesultanan Aceh melahirkan beberapa ulama ternama. Karya-karya mereka menjadi rujukan utama dalam bidang masing-masing. Tersebutlah *Hamzah Fansuri* dengan karyanya Tabyan fi Ma’rifati al-Udyan. *Syamsuddin al-Sumatrani *dengan Miraj al-Muhakikin al Iman. *Nuruddin ar-Raniry* dengan Sirat al-Mmustaqim. *Syekh Abdul Rauf Singkili* dengan Mi’raj al Tulabb fi Fashil. Beranjak ke Selatan ada lagi *kerajaan Dharmasraya* atau *Kerajaan Melayu Jambi* yang berdiri sekitar abad ke-11 Masehi. Lokasinya terletak di selatan Sawahlunto, Sumatera Barat sekarang dan di utara Jambi. Terdapat juga *kerajaan Lingga-Riau* yang merupakan perpecahan dari *Kesultanan Johor*. Pada masa kesultanan ini *bahasa Melayu* menjadi bahasa standar yang sejajar dengan bahasa-bahsa besar lain dunia, yang kaya dengan susastra dan memiliki kamus ekabahasa. Tokoh besar di belakang perkembangan pesat bahasa Melayu ini adalah *Raja Ali Haji*, seorang pujangga dan sejarawan keturunan Melayu-Bugis. Di luar itu berdiri *kerajaan-kerajaan Islam* yang tersebar di banyak tempat di pulau Sumatera seperti di Padang (Sumatera Barat), Palembang (Sumatera Selatan), Medan (Sumatera Utara) dan Bengkulu. Perkembangan Islam di daerah Padang bahkan diwarnai dengan masuknya aliran Wahabi dan memberi warna khas bagi pergerakan nasional lewat golongan paderi. =========================================================== *Kesultanan Malaka* (1402 <http://id.wikipedia.org/wiki/1402> - 1511<http://id.wikipedia.org/wiki/1511>) adalah sebuah kesultanan <http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan> yang didirikan oleh Parameswara <http://id.wikipedia.org/wiki/Parameswara>, seorang putera Sriwijaya <http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Sriwijaya>yang melarikan diri dari perebutan Palembang <http://id.wikipedia.org/wiki/Palembang> oleh Majapahit<http://id.wikipedia.org/wiki/Majapahit>. Ibu kota <http://id.wikipedia.org/wiki/Ibu_kota> kerajaan ini terdapat di Melaka <http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Melaka>, yang terletak pada penyempitan Selat Malaka <http://id.wikipedia.org/wiki/Selat_Malaka>. Kesultanan ini berkembang pesat menjadi sebuah *entrepot<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Entrepot&action=edit&redlink=1> * dan menjadi pelabuhan terpenting di Asia Tenggara<http://id.wikipedia.org/wiki/Asia_Tenggara>pada abad ke-15 <http://id.wikipedia.org/wiki/Abad_ke-15> dan awal 16<http://id.wikipedia.org/wiki/Abad_ke-16>. Malaka runtuh setelah ibu kotanya direbut Portugis<http://id.wikipedia.org/wiki/Portugal>pada 1511 <http://id.wikipedia.org/wiki/1511>. Kegemilangan yang dicapai oleh Kerajaan Melaka adalah daripada beberapa faktor yang penting. Antaranya, Parameswara telah mengambil kesempatan untuk menjalinkan hubungan baik dengan negara Cina<http://id.wikipedia.org/wiki/Cina>ketika Laksamana Yin Ching<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Yin_Ching&action=edit&redlink=1>mengunjungi Melaka pada tahun 1403. Malah, salah seorang daripada sultan Melaka telah menikahi seorang putri dari negara Cina yang bernama Putri Hang Li Po. Hubungan erat antara Melaka dengan Cina telah memberi banyak manfaat kepada Melaka. Melaka mendapat perlindungan dari Cina yang merupakan sebuah kuasa besar di dunia untuk mengelakkan serangan Siam<http://id.wikipedia.org/wiki/Siam> . Parameswara pada awalnya mendirikan kerajaan di Singapura<http://id.wikipedia.org/wiki/Singapura>pada tahun 1390-an. Negeri ini kemudian diserang oleh Jawa <http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa> dan Siam<http://id.wikipedia.org/wiki/Siam>, yang memaksanya hijrah lebih ke utara. Kronik Dinasti Ming mencatat Parameswara telah berdiam di ibukota baru di Melaka<http://id.wikipedia.org/wiki/Melaka>pada 1403 <http://id.wikipedia.org/wiki/1403>, tempat armada Ming yang dikirim ke selatan menemuinya. Sebagai balasan upeti yang diberikan Kekaisaran Cina menyetujui untuk memberikan perlindungan pada kerajaan baru tersebut. [1]<http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Malaka#cite_note-ASHM-0> Parameswara kemudian menganut agama Islam<http://id.wikipedia.org/wiki/Agama_Islam>setelah menikahi putri Pasai <http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Samudera_Pasai>. Laporan dari kunjungan Laksamana Cheng Ho <http://id.wikipedia.org/wiki/Cheng_Ho> pada 1409 menyiratkan bahwa pada saat itu Parameswara masih berkuasa, dan raja dan rakyat Melaka sudah menjadi muslim. [2]<http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Malaka#cite_note-parames-1>. Pada 1414 Parameswara digantikan putranya, Megat Iskandar Syah<http://id.wikipedia.org/wiki/Megat_Iskandar_Syah> .[1] <http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Malaka#cite_note-ASHM-0>[2]<http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Malaka#cite_note-parames-1> Megat Iskandar Syah memerintah selama 10 tahun, dan digantikan oleh Muhammad Syah. Putra Muhammad Syah yang kemudian menggantikannya, Raja Ibrahim, tampaknya tidak menganut agama Islam, dan mengambil gelar Sri Parameswara Dewa Syah<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sri_Parameswara_Dewa_Syah&action=edit&redlink=1>. Namun masa pemerintahannya hanya 17 bulan, dan dia mangkat karena terbunuh pada 1445. Saudara seayahnya, Raja Kasim, kemudian menggantikannya dengan gelar Sultan Mudzaffar Syah<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sultan_Mudzaffar_Syah&action=edit&redlink=1> . Di bawah pemerintahan Sultan Mudzaffar Syah Melaka melakukan ekspansi di Semenanjung Malaya dan pantai timur Sumatera (Kampar dan Indragiri). Ini memancing kemarahan Siam yang menganggap Melaka sebagai bawahan Kedah<http://id.wikipedia.org/wiki/Kedah>, yang pada saat itu menjadi vassal Siam. Namun serangan Siam pada 1455 dan 1456 dapat dipatahkan. Di bawah pemerintahan raja berikutnya yang naik tahta pada tahun 1459, Sultan Mansur Syah, Melaka menyerbu Kedah dan Pahang<http://id.wikipedia.org/wiki/Pahang>, dan menjadikannya negara vassal. Di bawah sultan yang sama Johor<http://id.wikipedia.org/wiki/Johor>, Jambi <http://id.wikipedia.org/wiki/Jambi> dan Siak<http://id.wikipedia.org/wiki/Siak>juga takluk. Dengan demikian Melaka mengendalikan sepenuhnya kedua pesisir yang mengapit Selat Malaka. Mansur Syah berkuasa sampai mangkatnya pada 1477. Dia digantikan oleh putranya Alauddin Riayat Syah. Sultan memerintah selama 11 tahun, saat dia meninggal dan digantikan oleh putranya Sultan Mahmud Syah. [3]<http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Malaka#cite_note-2> Mahmud Syah memerintah Malaka sampai tahun 1511, saat ibu kota kerajaan tersebut diserang pasukan Portugis <http://id.wikipedia.org/wiki/Portugal>di bawah pimpinan Alfonso de Albuquerque <http://id.wikipedia.org/wiki/Alfonso_de_Albuquerque>. Serangan dimulai pada 10 Agustus <http://id.wikipedia.org/wiki/10_Agustus> 1511 <http://id.wikipedia.org/wiki/1511> dan berhasil direbut pada 24 Agustus <http://id.wikipedia.org/wiki/24_Agustus> 1511<http://id.wikipedia.org/wiki/1511>. Sultan Mahmud Syah melarikan diri ke Bintan<http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Bintan>dan mendirikan ibukota baru di sana. Pada tahun 1526 <http://id.wikipedia.org/wiki/1526> Portugis membumihanguskan Bintan, dan Sultan kemudian melarikan diri ke Kampar<http://id.wikipedia.org/wiki/Kampar>, tempat dia wafat dua tahun kemudian. Putranya Muzaffar Syah kemudian menjadi sultan Perak <http://id.wikipedia.org/wiki/Perak,_Malaysia>, sedangkan putranya yang lain Alauddin Riayat Syah II mendirikan kerajaan baru yaitu Johor <http://id.wikipedia.org/wiki/Johor>. [sunting<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kesultanan_Malaka&action=edit§ion=2> ] Daftar raja-raja Malaka 1. Parameswara <http://id.wikipedia.org/wiki/Parameswara> (1402-1414) 2. Megat Iskandar Syah <http://id.wikipedia.org/wiki/Megat_Iskandar_Syah>(1414-1424) 3. Sultan Muhammad Syah<http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Syah_dari_Malaka>(1424-1444) 4. Seri Parameswara Dewa Syah<http://id.wikipedia.org/wiki/Seri_Parameswara_Dewa_Syah> (1444-1445) 5. Sultan Mudzaffar Syah<http://id.wikipedia.org/wiki/Mudzaffar_Syah_dari_Malaka>(1445-1459) 6. Sultan Mansur Syah<http://id.wikipedia.org/wiki/Mansur_Syah_dari_Malaka>(1459-1477) 7. Sultan Alauddin Riayat Syah<http://id.wikipedia.org/wiki/Alauddin_Riayat_Syah_dari_Malaka>(1477-1488) 8. Sultan Mahmud Syah<http://id.wikipedia.org/wiki/Mahmud_Syah_dari_Malaka>(1488-1528) 2009/7/10 Awang Satyana <[email protected]> > > Pak Taufik, > > Hal tersebut tercantum di buku tulisan Daldjoeni (1992) "Geografi > Kesejarahan jilid II, penerbit Alumni Bandung. Pembuktiannya juga melalui > tulisan-tulisan bernilai sejarah (babad, serat, naskah, dll.). Bukan hal > yang aneh bila Demak menguasai sampai Sumatra sebab Raden Patah sendiri > dilahirkan dan besar di Palembang. Ia telah menguasai srategi penaklukan > wiayah di sekitar Palembang (Jambi, Bangka). Dan, putra sulung Raden Patah, > Pati Unus, terkenal dengan politik ekspansinya sampai ke Malaka. Ia dijuluki > Pangeran Sabrang Lor -pangeran yang menyeberang ke utara. > > Pati Unus berhasrat menguasai Malaka, sayang didahului 'dAlbuquerque. Ini > tak menyrutkan hasratnya, dengan bantuan Palembang (nah ini bukti juga bahwa > Palembang saat itu telah menjadi bawahan Demak), ia menyiapkan 90 kapal > dengan 12.000 anak buahnya. Kapal dipersenjatai meriam. Iringan kapal > berjalan di sebelah barat Sumatra dan tiba-tiba muncul di Malaka menyerang > angkatan perang Portugis dengan geramnya. Pertempuran tahun 1512-1513 itu > betapa hebatnya -meskipun Pati Unus gagal menegakkan supremasinya di Malaka. > > salam, > Awang > > --- On Fri, 7/10/09, OK Taufik <[email protected]> wrote: > > > From: OK Taufik <[email protected]> > > Subject: Re: [iagi-net-l] Kerajaan Demak dan Geologi Selat Muria > > To: [email protected] > > Date: Friday, July 10, 2009, 8:32 AM > > Pak awang, > > > > Bagaimana buktinya kerajaan demak kekuasaannya sampai > > sumatra, bisa di > > jelaskan > > > > "Kerajaan Demak sudah semakin luas wilayahnya termasuk > > Jambi, Palembang, > > Bangka," > > > > > > > > > -------------------------------------------------------------------------------- > PP-IAGI 2008-2011: > ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] > sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] > * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro... > > -------------------------------------------------------------------------------- > ayo meriahkan PIT ke-38 IAGI!!! > yg akan dilaksanakan di Hotel Gumaya, Semarang > 13-14 Oktober 2009 > > ----------------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net > <http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/%0AIAGI-net>Archive 2: > http://groups.yahoo.com/group/iagi > --------------------------------------------------------------------- > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted > on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall > IAGI and its members be liable for any, including but not limited to direct > or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss > of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any > information posted on IAGI mailing list. > --------------------------------------------------------------------- > >

