Pak Bibit berhak geram tapi mestinya tidak lalu 'mutung' lepas tangan terhadap 
persoalan masyarakat Pati ke depan. 

rekans LSM, tidak lalu merasa 'menang' hanya karena merasa telah 
'menyelamatkan' lingkungan dan masyarakat Pati dari dampak akan adanya pabrik 
semen tersebut . . tantangan lebih lanjut adalah bagaimana rekan LSM juga mampu 
'mengganti' katakanlah manfaat bagi masyarakat jika pabrik itu jadi berdiri. 

semua pekerjaan 'penambangan intinya akan mengubah bentang alam, kasarnya 
'merusak' . . hampir tidak ada kegiatan jenis ini yang tak 'merusak' . . 
masalahnya adalah hitungan manfaat dan mudharatnya . . . boleh menambang tapi 
tidak merusak = omong kosong . . .   tidak boleh menambang (karena merusak) 
tapi masih giat menggunakan bahan-bahan hasil penambangan baik langsung maupun 
tidak = tidak kurang dari omong kosongnya dengan pernyataan sebelumnya . . . 

menurut saya menambang boleh; dengan cara-cara yang "ramah" lingkungan dengan 
mengaplikasikan teknik dan teknologi terkini, . . . . . kegiatan ini bisa 
dikurangi maupun dihentikan sepenuhnya jika suatu saat ketika kebutuhan manusia 
akan bahan tambang tersebut bisa tergantikan oleh bahan lain (non tambang) atau 
hasil daur ulang . . selama manusia masih perlu bahan-bahan tambang tersebut 
(satu hal yang sering luput dari kesadaran sebagian orang) maka kegiatan 
penambangan akan terus ada  . . .


Salam,
STJ




________________________________
From: Sulastama Raharja <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]
Sent: Saturday, July 25, 2009 10:49:26 AM
Subject: [iagi-net-l] Bibit Waluyo Geram, LSM Sontoloyo Bubarkan Proyek Rp 5 
Triliun

Bibit Waluyo Geram, LSM Sontoloyo Bubarkan Proyek Rp 5 Triliun

Sabtu, 25 Juli 2009 | 06:26 WIB


TEMPO Interaktif, Semarang - Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo mengakui
dirinya telah gagal membangun pabrik PT Semen Gresik di Sukolilo, Pati.
"Harga diri saya sudah terinjak-injak karena masalah ini," kata Bibit di
sela-sela acara pelantikan Dewan Pengupahan Jawa Tengah di kantor Gubernur
Jawa Tengah kemarin.

Bahkan Bibit mengatakan harga dirinya sudah dijual rendah sekali untuk
merealisasikan pendirian pabrik semen. Kegagalan merealisasikan proyek
senilai hampir Rp 5 triliun ini, kata Bibit, sungguh membuat malu di depan
publik. "Aku isin, proyek bernilai hingga Rp 5 triliun hilang," ujar mantan
Panglima Kodam IV Diponegoro ini.

Ia menambahkan, kegagalan pendirian pabrik semen hanya karena adanya
provokasi dari sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM). "Itu LSM
sontoloyo, edan itu namanya."

Bibit menuduh LSM yang datang ke Pati dari berbagai daerah memprovokasi
masyarakat sekitar agar menolak pendirian pabrik Semen Gresik di wilayahnya.
Padahal, kata Bibit, berbagai kajian akademik dan lingkungan sudah dilakukan
oleh berbagai pakar. Hasilnya, pendirian pabrik semen sudah memenuhi standar
kelayakan lingkungan dan akan berdampak positif terhadap perkembangan
ekonomi di Pati dan Jawa Tengah.

Bibit mengaku, karena ada pro-kontra di masyarakat, dirinya tak akan
memaksakan kehendak dan ngotot untuk mendirikan pabrik. "Saya mengalah
karena mereka (yang menolak) juga sedulur sendiri."

Ia juga menyatakan dalam beberapa waktu ke depan dirinya tak akan datang ke
Pati. Hal ini karena dirinya merasa sangat kecewa dengan sikap beberapa
masyarakat di wilayah itu yang menolak kehadiran pabrik semen. Bibit
menambahkan, dirinya tidak akan mau ikut menyelesaikan berbagai persoalan
yang muncul di Pati, tidak tahu sampai kapan. "Kalau ada kekurangan pupuk,
jangan meminta ke saya, minta saja ke LSM," katanya.

Salah satu LSM yang melakukan pendampingan kepada warga penolak pabrik
semen, Society for Health, Education, Environment, and Peace (SHEEP),
menolak jika disalahkan. "Kami hanya mengontrol kebijakan-kebijakan
pemerintah," kata Husain, Koordinator SHEEP. Husain menegaskan, kalau memang
kebijakan Gubernur Jawa Tengah berdampak positif terhadap masyarakat, LSM
juga akan mendukung.

Selama ini, kata Husain, pemerintah tak pernah memberikan jaminan bahwa
pendirian pabrik semen memang tidak akan merusak lingkungan. "Kalau memang
menjamin, kami tidak akan menolak," katanya. Husain menilai, kegagalan
pendirian pabrik semen lebih dikarenakan kegagalan komunikasi Bupati Pati
Tasiman dan Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo dengan masyarakat.

ROFIUDDIN
sumber:
http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2009/07/25/brk,20090725-188974,id.html?page=2



      

Kirim email ke