Sebuah buku baru (Wibowo, 2009 : Malaysia Membungkam Indonesia, Pustaka
Solomon) berisi catatan2 menakjubkan seputar operasi Trikora dan Dwikora yang
diperintahkan Presiden Soekarno pada tahun 1960-an. Memang itu catatan masa
lalu, sudah menjadi sejarah, tetapi bukan berarti kita harus terlena melihat
kembali ke belakang, melainkan harus menjadikan sejarah sebagai alat pacu untuk
mengejar ketertinggalan kita. Setelah 64 tahun merdeka, apa yang harus kita
(Indonesia) kejar dan perbaiki ?
Berikut beberapa ringkasan dari Wibowo (2009), saya tambahi/kurangi mengacu
kepada beberapa sumber lainnya.
Catatan tentang Operasi Trikora (Pembebasan Irian Barat) sungguh menakjubkan.
Operasi ini telah menjadikan Indonesia sebagai negara yang memiliki angkatan
udara terkuat di belahan bumi selatan pada waktu itu sehingga bisa memaksa AS
sebagai perantara perundingan antara Belanda dan Indonesiauntuk memenuhi
keinginan Indonesia.
Perang melawan Belanda yang berlangsung hampir setahun (19 Des 1961-15 Agustus
1962) tersebut memaksa Presiden Soekarno memborong mesin2 perang dari Rusia dan
Polandia seharga USD 2,5 milyar. Mesin2 perang yang dibeli Indonesia meliputi :
41 helikopter MI-4, 9 helikopter MI-6, 30 pesawat latih jet MIG-15 UTI, 49
pesawat buru sergap MIG-17, 10 pesawat buru sergap MIG-19 dan 2 pesawat buru
sergap supersonic MIG-21. Dari jenis pengebom, ada 22 pesawat pembom ringan
IL-28, 14 pesawat pembom jarak jauh TU-16 B, dan 12 pesawat TL-16 KS yang
dilengkapi dengan persenjataan peluru kendali air to surface jenis AS-1 Kennel.
Lalu jenis pengangkut : 26 pesawat IL-14 dan AQvia-14,serta 6 pesawat AN12B
Antonov. Indonesia juga membeli 12 kapal selamkelas Whiskwy, puluhan korvet dan
1 kapal penjelajah kelas Sverdlov. Dengan mesin2 perang itulah Irian Barat
dibebaskan dari Belanda. Inggris, Australia dan Amerika melihat kedigjayaan
angkatan perang Indonesia ini dan
kuatir..
Saat Operasi Dwikora terjadi (Konfrontasi dengan Malaysia), Inggris-Australia
mengkuatirkan sekali kekuatan perang Indonesia. Indonesia menolak gagasan
Persekutuan Tanah Melayu yang akan menyatukan Malaya-Sabah-Sarawak-Brunei.
Sebab, konsolidasi ini hanya akan menambah kontrol Inggris di wilayah2 ini
sebab Presiden Soekarno berpendapat bahwa Malaysia hanyalah boneka Inggris.
Maka timbulah demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur, KBRI di KL diserbu,
foto Soekarno disobek2. Tunku Abdul Rahman,PM Malaysia saat itu dipaksa massa
untuk menginjak2 Garuda,lambang Indonesia. Maka amarah Soekarno meledak melihat
Garuda diinjak2, 27 Juli 1963 Soekarno mengumumkan "Ganyang Malaysia". Maka
perang pun mulai, terutama di perbatasan Kalimantan-Sarawak. Tahun 1964 pasukan
Indonesia menyerang Semenanjung Malaysia.
Inggris sungguh tak tinggal diam melihat bonekanya diserang. Inggris menurunkan
pasukan elitnya yang paling terkemuka di dunia, SAS -special air service.
Peperangan terjadi selama 3 tahun di belantara Kalimantan. Inggris tak mau
main2 dengan Indonesia, Inggris mengingat bahwa jenderal kebanggaanya, Malabby,
yang sangat disegani di berbagai front Perang Dunia II di Eropa dan Asia, mati
di tangan orang Indonesia pada 10 November 1945.
SAS beberapa kali mengubah strategi perang menghadapi Indonesia di pedalaman
Kalimantan, bahkan mereka meminta bantuan SAS dari Australia, Selandia Baru,
dan pasukan Gurkha dari India yang melegenda itu. Satu hal yang sangat
dikuatirkan Inggris dan sekutunya adalah bila Indonesia meminta bantuan ke
Poros Jakarta-Phnom Penh-Hanoi-Peking-Pyongyang. Kekuatan tentara komunis ini
sangat dahsyat dan terbukti membuat Amerika pun kalah telak di Vietnam (Saat
itu Soekarno punya hubungan baik dengan Kamboja-Vietnam-Cina-Korea Utara).
Tengah perang hebat yang melibatkan Malaysia-Inggris-Australia melawan
Indonesia di Kalimantan itu, terjadilah konflik berdarah di dalam negeri yang
mengakibatkan pergantian kepala pemerintahan Soekarno ke Soeharto. Konflik
dalam negeri ini telah membuat posisi Indonesia lemah, dan perang pun berakhir
secara resmi melalui perjanjian perdamaian antara Indonesia di bawah Soeharto
dengan Malaysia pada 11 Agustus 1966. Dan, sejak saat itu Indonesia tak
berdikari lagi (berdiri di atas kaki sendiri) sebab Malaysia menganggap bahwa
sejak tahun 1967 Indonesia adalah boneka AS.
Maka sejak itu, SEBUAH IRONI pun terjadi. Angkatan Perang Indonesia yang dulu
ditakuti banyak negara asing, kini dilecehkan. Angkatan Udara dan Angkatan Laut
Indonesia sangat lemah, bagaimana ini, padahal Indonesia adalah negara
kepulauan. Peralatan militer yang dimiliki oleh Angkatan Perang Indonesia
sangat jauh ketinggalan dari negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara,
bahkan oleh Singapura pun kekuatan angkatan perang kita kalah. Jumlah personel
TNI pada tahun 2004 hanya 346 ribu dengan wilayah yang begitu luas dan terdiri
atas belasan ribu pulau. Jumlah personel militer Myanmar 384.000 dan Vietnam
388.000 dengan wilayah yang jauh lebih kecil dan wilayah yang simpel saja
(sebagian besar hanya daratan). Myanmar dan Vietnam yang berlebihan atau
Indonesia yang kekurangan ? Jelas Indonesia yang kekurangan tentara.
Myanmar dan Vietnam adalah dua contoh negara yang tak gampang didikte negara
lain (lihat saja kasus Aung San Syuki di Myanmar dan kekalahan telak AS di
Vietnam). Kuncinya adalah kekuatan militer mereka yang besar relatif terhadap
wilayah negaranya.
Dengan kekuatan militer yang hanya 1/4 Malaysia (menurut Dubes RI untuk
Malaysia), apakah Indonesia cukup siap melakukan konfrontasi (bila diperlukan)
dengan negara tetangga yang belakangan suka menguji kesabaran Indonesia ini
melalui berbagai pengakuan (tepatnya : ngaku-ngaku) ? Seorang pejabat militer
Malaysia mengatakan bahwa bila konflik perbatasan di Serawak-Kalimantan terjadi
lagi, maka tentara Malaysia akan segera bisa menguasai wilayah perbatasan ini
hanya dalam waktu 4 jam. Mungkin ini bukan omong kosong bila tahu bahwa di
batas selatan Sarawak, Malaysia telah menyiapkan sarana2 bagi kepentingan
mobilisasi peralatan militer; sementara di wilayah Indonesia,perbatasan itu
masih hutan belantara.
Membuat angkatan perang kita dihormati, disegani, dan ditakuti lagi seperti
pada tahun 50-an dan 60-an mungkin akan sulit bukan main sebab selama ini
angkatan perang kita kurang diperhatikan, terlambat sekali untuk memperbaikinya
meskipun bukan mustahil. Ayo segera perkuat militer kita !
Kekuatan militer bukan untuk perang (saja) tetapi yang lebih penting lagi
adalah untuk menaikkan posisi tawar kita di dunia internasional. Wilayah dan
kekayaan Bumi Indonesia perlu dijaga bukan hanya dengan otak di meja-meja
perundingan, tetapi juga dengan otot kekuatan militer ! Jangan biarkan mereka
mencuri kekayaan kita.
Selamat merdeka ke-64 tahun Indonesia-ku, semoga militermu berdaulat kembali,
disegani dan dihormati oleh bangsa-bangsa di dunia; sehingga tak ada satu pun
yang berani menggoda apalagi melecehkanmu.
Si vis pacem para bellum - siapa yang ingin damai, ia harus memiliki kesiapan
berperang.
salam,
Awang
--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
ayo meriahkan PIT ke-38 IAGI!!!
yg akan dilaksanakan di Hotel Gumaya, Semarang
13-14 Oktober 2009
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------