ada yang baru di geologi.iagi.or.id:
________________________________

Beberapa waktu yang lalu di Padang, sewaktu menjadi
khatib sholat Idul Adha 1430 H, Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul
Sembiring, menyatakan bahwa bencana adalah akibat dari kerusakan moral. Tak
pelak pernyataan ini menuai kontraversi. Banyak kalangan yang tidak senang
dengan pendapat tersebut. Pernyataan itu kemudian dikutip di media nasional dan
internasional. Tulisan ini akan melihat pendapat tersebut dalam diskursi yang
ada mengenai bencana.

Dari perspektif agama Islam, barangkali apa yang
dinyatakan oleh Tifatul memang benar adanya.  Tifatul tentulah lebih tahu soal 
ini. Bagi
saya yang menarik adalah bahwa pembahasan mengenai bencana melebar, sehingga
kalangan agamawan seperti salah satu pegiat Majelis Ulama Indonesia (MUI) merasa
perlu mendukung pendapat Tifatul tersebut. Dengan demikian, bencana telah
menjadi fenomenon sosial.

Selama ini, ketika orang berbicara tentang bencana,
terutama bencana tsunami, gempabumi dan gunungapi meletus, seringkali orang
mengacu pada ilmu geologi dan geofisika. Bencana banyak terdomesitifikasi dalam
spektrum kedua disiplin ilmu tersebut.  Padahal
kita tahu bahwa objek studi kedua disiplin tersebut adalah bumi. Kalau sudah
tahu tentang patahan pada bumi misalnya, apa selanjutnya yang akan dilakukan
oleh kedua disiplin ilmu ini dengan patahan tersebut? Yang dapat mereka lakukan
adalah peringatan. Selanjutnya adalah persoalan sosial. 


Dengan demikian, dimulai dari momen itu, bencana secara
perlahan berubah menjadi fenomenon sosial. Pada dasarnya sebuah bencana disebut
bencana jika dan hanya jika menimpa manusia. Tentang hal ini dapat kita cermati
dari perbandingan dua kasus tanah longsor. 


Pertama, kasus longsoran Sherman di Alaska yang secara langsung
merupakan konsekuensi dari gempabumi pada tahun 1964. Longsoran Sherman 
melibatkan
29 juta kubik batuan yang bergerak dalam kecepatan 180 km/jam menuju lembah tak
berpenghuni. Kecuali dari sudut pandang flora dan fauna dan keingintahuan para
geolog, longsoran Sherman tidak masuk catatan sebagai bencana. Bahkan ia hanya
diketahui secara tak sengaja karena adanya survei rutin foto udara melalui
pesawat. Sebaliknya, kedua, longsoran
Aberfan di Wales Selatan yang 193 kali lebih kecil dan 25-30 kali bergerak
lebih lambat, tetapi menyebabkan 144 orang korban, disebut sebagi bencana yang
besar.

...,

________________________________
selanjutnya dapat dibaca di:

http://geologi.iagi.or.id/2010/01/22/bencana-sebagai-fenomenon-sosial/

 
tabik
bosman batubara 

weblog: http://annelis.wordpress.com



      

Kirim email ke