Bekas-bekas hunian manusia prasejarah (purba) yang punya industri perkakas batu
ditemukan di banyak tempat di Jawa, terutama di Pegunungan Sewu, Pacitan.
Begitu banyaknya artefak berupa perkakas batu pernah ditemukan di sini,
sehingga menghasilkan istilah-istilah tertentu seperti kebudayaan Pacitanian
atau industri Kali Baksoko. Kali Baksoko adalah sebuah kali di wilayah ini
tempat ditemukannya banyak artefak.
Itu di Jawa, tempat paling banyak ditemukannya artefak perkakas batu.
Kelihatannya saat bermigrasi dulu, para penghuni pertama negeri kita memilih
Jawa sebagai pangkalan terakhirnya. Pemikiran ini disebabkan begitu banyaknya
artefak ditemukan di Jawa, juga penemuan fosil-fosil tulang hominid atau
manusia purba. Meskipun demikian, terdapat bukti bahwa beberapa generasi
manusia purba ini kemudian dari Jawa bermigrasi ke timur ke Nusa Tenggara
bahkan sampai Australia.
Bagaimana dengan penemuan-penemuan arkeologi di pulau paling timur Indonesia :
Papua, jarang sekali terdengar berita-berita tentang itu. Padahal, bila
situs-situs hunian manusia purba banyak terdapat di topografi kars berupa
gua-gua batugamping, seperti di Gua Pawon, Padalarang dan banyak sekali
situs-situs arkeologi di gua-gua di Pegunungan Sewu, Pacitan; maka Papua dari
segi tutupan batuan batugampingnya adalah kawasan yang paling luas di Indonesia
(lihat publikasi Sukamto, 2000 tentang geologi regional Indonesia).
Mengapa jarang terdengar penemuan arkeologi di Papua ? Ada dua kemungkinan :
(1) manusia purba memang sedikit sekali bermigrasi ke Papua dan (2) penelitian
arkeologi jarang sekali dilakukan di Papua. Saya yakin alasan nomor dualah yang
paling mungkin sebagai penyebabnya. Mengapa ? Di Papua Nugini (Papua New
Guinea, PNG)) dilaporkan penemuan beberapa situs hunian manusia purba, terutama
di kawasan pantai utaranya. Ini artinya bahwa Papua (Indonesia) mestinya pernah
dilewati manusia purba ini dalam migrasinya dan bisa saja sebagian dari mereka
pernah menetap di gua-gua Papua yang banyak terdapat.
Penelitian-peneltian arkeologi untuk Papua, baik dilakukan oleh ahli-ahli
nasional maupun dari mancanegara terbilang sangat sedikit bila dibandingkan
penelitian-penelitian sejenis di area Indonesia Barat dan terutama Jawa.
Misalnya, buku bagus, terbaru dan komprehensif tentang prasejarah Indonesia
yang ditulis oleh ahli arkeologi terkenal Peter Bellwood (2000) –diterjemahkan
oleh PT Gramedia, hanya sedikit membahas prasejarah Papua; memang Belwood
mengkhsuskan dirinya meneliti arkeologi Asia Tenggara dan terutama wilayah
Indo-Malaya.
Sebenarnya, aspek prasejarah Papua bisa sangat menarik sebab beberapa situs
arkeologi telah ditemukan sampai ketinggian 4000 meter, yaitu di gua-gua
gamping yang terdapat di Pegunungan Tengah Papua (Central Ranges of Papua)
seperti dilaporkan oleh Hope dan Hope (1976 – Man on Mt. Jaya, AA
Balkema-Rotterdam). Tahun 1971-1973, Ekspedisi Australia-Indonesia untuk
Gletsyer Carstenz di ketinggian 4000 meter pada tempat bernama Mapala
Rockshelter menemukan tulang-tulang, artefak batu, abu dan cangkang-cangkang
kerang. Saat ditera, artefak tersebut menghasilkan umur 5440 tahun yang lalu
(tyl). Hope dan Hope (1976) berdasarkan analisis palinologi di Ijomba Bog,
masih di kawasan Pegunungan Tengah, juga menyimpulkan bahwa pada 10.500 tyl,
ada manusia purba di kawasan ini yang membuka hutan dengan membakarnya.
Pembukaan hutan yang lebih tua dengan cara membakarnya juga ditemukan di Lembah
Baliem yang sisa-sisanya menunjukkan umur 32.000 tyl (Haberle et al.,
1991 – Biomass burning in Indonesia and PNG –fossil record, jurnal
Palaeogeography, Palaeoclimatology, Palaeoecology 171).
Situs arkeologi tertua di pulau Papua (termasuk PNG) masih dipegang oleh sebuah
gua di pantai utara PNG di Semenanjung Huon dengan artefak-artefak yang
ditemukannya berumur 40.000 tyl (Groube et al. 1986 -40,000 year human
occupation site-PNG, Nature 324).
Sekarang kita lihat kawasan Papua paling barat yang sering disebut sebagai
Kepala Burung. Penelitian terbaru dari ahli arkeologi Juliette Pasveer (2004
–The Djief hunters : 26,000 years of rainforest exploitation on the Bird’s Head
of Papua, Modern Quaternary Research in SE Asia 17) menemukan hunian manusia
purba berumur Plistosen-awal Holosen di kawasan kars batugamping Kais di
Ayamaru.
Kawasan topografi kars Ayamaru terbentuk sejak Pliosen setelah Sesar Sorong
secara aktif mulai memengaruhi Cekungan Salawati pada Mio-Pliosen. Sesar besar
ini telah menjungkirbalikkan Cekungan Salawati sedemikian rupa sehingga
deposenter cekungan ini pindah dari sebelumnya di sebelah selatan menjadi di
sebelah utara sampai barat (Satyana, 2001, Dynamic Response of the Salawati
Basin, Eastern Indonesia to the Sorong Fault Tectonism : Example of Inter-Plate
Deformation : Proceedings PIT IAGI ke- 30, p. 288-291). Akibat pembalikan ini,
maka secara isostatik bagian selatan (Misool) dan bagian timur (Ayamaru)
cekungan terangkat, menyingkapkan batugamping Kais. Lalu kemudian, singkapan
batugamping Kais di Misool dan Ayamaru mengalami pelapukan dan erosi
menghasilkan kawasan topografi kars seperti terlihat sekarang. Pada Plistosen
Atas manusia purba mulai bermigrasi ke Papua melalui dua jalan, dari sebelah
barat (Halmahera) (Belwood et al., 1998) atau dari
sebelah selatan (Australia dan Aru) (Pasveer, 2007).
Plato Ayamaru, yang membentuk topografi kars (foto udaranya bisa dicek di
google), terletak di bagian tengah Kepala Burung. Plato ini terangkat sampai
saat ini ketinggiannya sekitar 350 meter di atas muka laut. Di dalam Plato
Ayamaru terdapat tiga buah danau dangkal yang saling berhubungan. Satu danau
terbentuk pada mid-Holosen, dua yang lain lebih tua lagi. Saat ini, penyebaran
penduduk Ayamaru terkonsentrasi di sekitar ketiga danau ini.
Situs arkeologi di Plato Ayamaru ditemukan di dua gua yang berkembang tak jauh
dari ketiga danau itu. Kedua gua itu adalah Gua Kria dan Gua Toe yang terpisah
sejauh 12 km.
Gua Kria mempunyai sedimen setebal dua meter dengan stratigrafi yang tak
terganggu deformasi. Pasveer (2004) membagi sedimen ini menjadi lima satuan
hunian (occupation unit). Setiap satuan sedimen mengandung artefak-artefak
berupa perkakas terbuat dari tulang dan batu, sisa-sisa hewan (terutama walabi
hutan, di samping cangkang-cangkang moluska). Lapisan-lapisan itu dibedakan
berdasarkan kuantitas artefak yang ditemukan. Umur lapisan-lapisan dari
terbawah sampai teratas adalah sekitar 8000-1840 tyl. Di lapisan teratas
sedikit ditemukan artefak dan sisa hewan, tetapi ditemukan bekas-bekas manusia
yang dikubur. Tidak ada tanda-tanda bahwa penduduk Ayamaru masih menggunakan
gua tersebut sebagai kuburan.
Gua Toe berisi sedimen setebal 140 cm yang oleh Pasveer (2004) dibagi menjadi
dua satuan. Stratigrafi sedimen agak kompleks karena lantai gua miring dan
terdapat bekas nendatan (slump) atau runtuhan. Satuan sedimen bawah berumur
paling tua 26.000 tyl (Plistosen) mengandung perkakas batu dan sisa hewan yang
lebih memfosil dibandingkan satuan sedimen atas. Satuan sedimen atas yang umur
paling mudanya sampai 3000 tyl mengangdung lebih banyak perkakas batu dan
sisa-sisa hewan. Berdasarkan studi paleontologi dan zoologi, hewan Plistosen
penghuni Gua Toe mestinya sejenis hewan yang saat ini hidup di ketinggian 1000
meter. Lalu mengapa mereka ditemukan di ketinggian yang jauh lebih rendah
seperti Ayamaru (+ 350 meter) ?
Unit berumur Plistosen di Gua Toe ternyata menceritakan beberapa kisah menarik
tentang perubahan iklim setelah the Last Glacial Maximum. Periode Last Glacial
Maximum ini terjadi sekitar 26.000 tyl. Selama periode ini temperatur menurun
drastis. Hewan-hewan yang biasa hidup di ketinggian +1000 m melakukan
penyesuaian dengan cara menuruni lereng mencari tempat yang relatif lebih
hangat, maka mereka turun sampai wilayah Ayamaru (+350 m). Zone-zone vegetasi
yang biasa ditemukan di kawasan lereng-puncak pun turun sampai kaki pegunungan.
Temperatur menghangat kembali sekitar 12.000-10.000 tyl dan telah menyerupai
kondisi sekarang.
Demikian sedikit kisah prasejarah manusia purba di Papua dan Kepala Burung yang
jumlah penelitiannya masih sangat langka. Ditunjukkan pula bagaimana geologi
dan paleoklimatologi dapat membantu analisis kawasan hunian manusia prasejarah
bersama spesies-spesies fauna dan flora yang sezaman.
Hanya dua gua di Plato Ayamaru yang baru diselidiki prasejarahnya, padahal
begitu banyak gua yang terbentuk di plato kars gamping ini. Kita pun sama
sekali belum melihat kars topografi batugamping Kais di Pulau Misool dan
Semenanjung Onin yang pada Mio-Pliosen kedua wilayah ini sama-sama terangkat
sebagai kompensasi isostatik saat bagian utara Cekungan Salawati makin
tenggelam.
Masih banyak sekali yang tersembunyi yang belum diketahui orang tentang Papua.
Papua adalah paradise untuk penelitian, seperti kata Edward O. Wilson, ahli
biologi terkenal,
“Papua has lasted into the twenty-first century as largely a blank space on the
map, and we will do well to treasure it for that.”
Papua : sebuah tantangan !
Salam,
Awang
Terhubung langsung dengan banyak teman di blog dan situs pribadi Anda?
Buat Pingbox terbaru Anda sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/