Minggu ini, pada Rabu 16 Juni 2010, dua gempa cukup besar terjadi di sekitar 
dua sesar mendatar besar terkenal di Indonesia Timur: Sesar Palu-Koro dan Sesar 
Sorong-Yapen.
Rabu 16 Juni 2010 pukul 08:53 WITA wilayah Sulawesi Barat digoncang gempa. 
Gempa berasal dari sebuah episentrum di posisi 1.402°S, 119.376°T di wilayah 
sebelah utara Lariang, Sulawesi Barat. Gempa bermagnitude 5,1 Mb (body wave 
magnitude) berasal dari pematahan batuan di kedalaman 43,8 km. Gempa merusak 
sekitar 70 bangunan, menewaskan satu orang; dan menyemburkan gas yang langsung 
menyulut api. Lokasi episentrum tidak jauh dari Sesar Palu-Koro, sebuah sesar 
mendatar yang aktif di Sulawesi.
Besoknya, sebuah sms dari seorang kenalan yang meneruskan berita dari  pihak 
Pemda Sulbar saya terima, tertulis “yth Bpk/ibu, sbg info malam jam 11.30 PM dr 
Prop Sul Bar terjadi gempa bumi dan berakibat adanya seepage gas dan cairan 
minyak serta air di WKP Blok Eksplorasi Budong-Budong dr PSC Tately NV. Mohon 
agar ditindaklanjuti”. ‘
Lepas dari bencana yang dialami sebagian penduduk sekitar lokasi gempa yang 
kini masih mengungsi sebab gempa susulan skala 4 Mb masih terjadi; semburan 
gas, lumpur, dan material terkait lainnya adalah berita positif bagi 
teman-teman Tately Budong-Budong dan Marathon Pasangkayu yang saat ini sedang 
giat mengeksplorasi Sulawesi Barat di daratan dan lautnya. Banyak surface 
anticlines di wilayah Lariang Basin ini yang rupanya salah satunya dibocorkan 
oleh gempa 16 Juni melalui patahan2 di permukaan, sehingga hidrokarbon yang 
dikandungnya serta merta melesat ke atmosfer dan langsung terbakar oleh gesekan 
dengan udara. Melihat foto2nya yang dikirimkan seorang teman, cukuplah besar 
semburan ini. Semula setinggi sekitar 3 meter, sekarang tinggal beberapa puluh 
cm. 
Petroleum system aktif terbukti ada di Cekungan Lariang, tinggal kita mencari 
perangkap-perangkap yang layak dan ekonomis untuk dibor. Oil dan gas seeps dari 
Lariang Basin telah terkenal, dan gempa kemarin memperkenalkan salah satu 
penyingkapannya. Sebagian besar seeps ini berasal dari sources Paleogen 
(Eosen), jadi bisa diduga bahwa semburan gas yang terjadi itu adalah gas 
termogenik. Enam oil company besar dalam dua tahun ke depan akan membawa model 
seeps di onshore Sulawesi Barat ini ke lautdalam Sulawesi Barat, mengeksplorasi 
objektif-objektif yang selama ini tidak ada yang menyentuhnya, pengeboran 
sumur2 laut dalam telah dimulai !
Rabu 16 Juni 2010, hampir 2,5 jam setelah Sulawesi Barat digoncang gempa, 
giliran wilayah utara Papua digoncang gempa. Sebuah gempa besar bermagnitude 
7,0 Mw (moment magnitude) berlokasi di sebuah splay Sesar Sorong-Yapen pada 
lokasi 2.171°S, 136.549°T menggoncang wilayah Biak, Yapen, Manokwari, Abepura, 
dan Nabire pada skala IV-VI MMI (Modified Mercalli Intensity). Seorang teman 
dari sebuah K3S yang baru tiba di Serui, Yapen menceritakan ia terjatuh oleh 
lantai dermaga yang tiba-tiba miring, tentu saja, skala 7,0 M tidak main-main. 
Gempa ini merusak sekitar 500 bangunan dan menewaskan dua orang.
Focal mechanism gempa ini berdasarkan data moment tensor solutionnya adalah 
sesar mendatar (bila saja sesar naik atau normal, ancaman tsunami sudah di 
muka) berasal dari dua perpotongan splay yang sintetik dengan Sesar 
Sorong-Yapen yaitu sinistral dengan arah TTL dan conjugate-nya yang dekstral 
dengan arah BBL. Sesar Sorong masih bergerak dengan kecepatan 8 cm/tahun. Gempa 
ini membuktikan bahwa seismotektonik Sesar Sorong masih berbahaya untuk 
manusia. Gempa-gempa besar di atas 7,0 M tidak jarang terjadi di wilayah ini 
dalam 30 tahun terakhir, ada delapan gempa di atas 7,0 M yang terjadi dalam 
kurun waktu 30 tahun tersebut, yang terbesar adalah yang mencapai skala 8,2 M.
Sesar Sorong, Sesar Palu-Koro, dan Sesar Sumatra adalah tiga sesar paling aktif 
di Indonesia dan kerap mereka menjadi tempat-tempat pusat gempa. 
Berhati-hatilah semua orang yang tinggal berdampingan dengannya.
Salam,
Awang

Kirim email ke