Di dalam tiga minggu terakhir, saya terlibat dalam empat hal yang masing-masing 
rasanya telah membawa saya kepada sebuah pemikiran baru yang akan saya 
kemukakan berikut ini.

Hal pertama, presentasi Ian Deighton (TGS) di pertemuan HAGI-SEG (The Bali 2010 
International Geosciences Conference and Exposition), Nusa Dua Bali pada 21 
Juli 2010; ketika itu Ian menunjukkan satu penampang seismik regional 2D yang 
baru diakuisisi (2009) dan diproses (2010) hampir sepanjang forearc Jawa 
berarah barat-timur dengan panjang rekaman sampai 12 seconds  (panjang streamer 
8 km). Yang menarik buat saya tetapi belum terlalu mengundang pemikiran lebih 
jauh saat itu adalah kehadiran struktur tinggian mirip pop up di penampang 
seismik forearc Jawa persis di sebelah selatan permulaan Pegunungan Kidul 
(Sesar Opak). Ian menyebut tinggian ini "mid-basin high".  Yang sangat menarik 
adalah bahwa forearc basin di sebelah timur tinggian ini (forearc basin Jawa 
Timur) mengandung reflektor2 berlapis (bedded) yang ditafsirkan sebagai sedimen 
Mesozoic dan mungkin Upper Paleozoic setebal 3 seconds dalam kondisi faulted 
mirip passive margin setting. Sementara
 itu, forearc basin di sebelah barat mid-basin high tak jelas menunjukkan 
keberadaan bedded reflector di bawah endapan Tersier.  Ian dkk. menganalisis 
bedded reflectors forearc Jawa Timur itu dan mengajukan pendapat bahwa 
kenampakannya mirip bedded reflectors di Exmouth Plateau basin di Northwest 
Australia (passive margin basin).  Implikasinya adalah bahwa di bawah forearc 
basin Jawa Timur itu ada mikrokontinen yang drifted dari NW Australia.

Hal kedua, saat saya presentasi tentang play types hidrokarbon Mesozoic dan 
Paleozoic di Indonesia (simposium IAGI dan Jakarta Scout Check, didukung Badan 
Geologi dan BPMIGAS) di Bandung pada 29 Juli 2010. Saat itu saya menunjukkan 
bahwa paling tidak ada dua daerah di Indonesia Barat dengan play types 
sedimentary Mesozoic yang mungkin berkembang seperti NW shelf of Australia, 
yaitu forearc Jawa Timur (berdasarkan Deighton et al., 2010) dan backarc utara 
Kangean-Lombok (berdasarkan Granath et al., 2010).

Hal ketiga, saat saya mengajar kursus Petroleum Geology of Indonesia 
(diselenggarakan HAGI) di Yogyakarta tanggal 2-6 Agustus minggu lalu; saat itu 
di kelas saya menampilkan seimic sections forearc Jawa terbaru dari Ian 
Deighton di atas, dan baru terpikirkan bahwa "mid-basin high" tersebut mungkin 
sebuah suture. Sebelumnya, memang saya banyak membahas tentang terrane 
tectonics Indonesia Barat sebagai pengantar tektonik regional dan istilah 
suture, terrane sudah biasa digunakan dalam diskusi di kelas. Bila 
mikrokontinen forearc Jawa Timur datang dari NW Australia, berarti ia sebuah 
terrane. Lalu ia berbenturan dengan forearc Jawa Barat dan Jawa Tengah bagian 
barat, mengangkat mid-basin high sebagai sebuah suture. Tinggi suture (pop up 
structure mid-basin high) ini hampir 2 seconds. Internal seismic character 
kedua forearc di selatan Jawa itu jelas berbeda yang mengindikasi keberadaan 
dua terrane. 

Hal keeempat, saat Pak C. Prasetyadi dkk (Gugun dan kawannya) dari Geologi UPN 
mengajak saya mengunjungi Perbukitan Jiwo di Bayat, Klaten untuk menunjukkan 
kompleks singkapan baru (potongan tebing) yang ukurannya cukup luas (mirip 
amfiteater) yang baru terbuka oleh penggalian sirtu. Kami berduabelas (- 
bersama beberapa peserta kursus Petroleum Geology of Indonesia yang berminat 
ikut: Retha & Rita-COPI; Indra &Ari-Pertamina; Cipi, Suci, Faulin & 
Dewi-BPMIGAS) mengunjungi Perbukitan Jiwo pada Jumat siang sampai sore pada 6 
Agustus 2010. Di sini kami mengamati empat  singkapan: (1) filit pra-Tersier 
(sekitar 70 Ma) yang merupakan Batuan Dasar, (2) batugamping Nummulites Eosen 
yang menumpang tidak selaras di atas Batuan Dasar, (3) batupasir gampingan 
Wungkal-Gamping (Eosen) yang terletak di atas batugamping Nummulites, (4) 
kompleks amfiteater intrusi diorit-gabroik yang retak-retak (Oligo-Miosen) 
dengan di atasnya diendapkan sedimen volkanoklastik Old
 Andesite (Miosen Awal) kemudian batugamping ekivalen Wonosari (Miosen 
Tengah-Atas). 

Dari lokasi amfiteater terakhir ini, kami bisa memandang dengan jelas ke arah 
selatan, terlihat rangkaian Pegunungan Selatan yang disusun Old Andesite dan 
batugamping Wonosari. Di antara posisi kami dan Pegunungan Selatan ada lembah 
yang terkenal dengan nama Baturagung Graben. Peta lama dari Bothe (1929) 
menunjukkan ini. Gugun dari UPN bertanya, bagaimana mungkin batuan metamorfik 
filit yang dibentuk di kedalaman 5 km dengan temperatur sekitar 400 C dan 
tekanan 5 kilobar bisa tersingkap di perbukitan Jiwo. Karena saya sedang 
memikirkan sebuah suture di selatan Sesar Opak, saya menjawab dengan cepat 
bahwa di sebelah selatan wilayah ini, di offshore forearc Jawa ada suture dari 
collision antar terranes, kelihatannya itu yang mengangkat Pegungungan Selatan 
dan Perbukitan Jiwo melalui mekanisme exhumation, seperti juga banyak terjadi 
di area collision lainnya (Meratus, Banggai, Central Ranges Papua, Timor).

Itulah empat hal berturut-turut yang kelihatannya saling berhubungan dan 
berkaitan untuk melahirkan sebuah dugaan baru bahwa di sebelah selatan Jawa 
Timur, di forearc-nya, ada segmen sampai batas barat Pegunungan Kidul (Sesar 
Opak) yang kelihatannya semacam mikrokontinen dengan sedimen Mesozoic atau 
Paleozoic Atas setebal 3 seconds dan faulted mirip passive margin NW shelf of 
Australia. Lalu mikrokontinen ini ke utaranya bisa saja sampai sebatas Bayat 
(asosiasi metamorfisme Bayat khas asosiasi benua). Mikrokontinen ini 
diperkirakan datang dari NW Shelf of Australia berbenturan mungkin pada zaman 
Kapur (seperti banyak terjadi di area Sundaland lainnya) dengan terrane forearc 
selatan Jawa bagian barat yang disusun oleh kerak oceanic atau transisi  
berdasarkan  karakter internal seismic sharp rugose basement interface. 
Benturan ini mengangkat suture yang disebut "mid-basin high" sampai setinggi 2 
seconds seismik. Ini pula yang mungkin menyebabkan
 tersingkapnya batuan dasar filit Perbukitan Jiwo dari kedalaman sekitar 5 km 
ke permukaan berbukit seperti sekarang melalui proses tektonik exhumation.

Dugaan ini tentu harus diuji, tetapi itulah mungkin salah satu yang bisa 
menerangkan penyingkapan batuan-batuan tertua di Jawa atau Kalimantan. 
Penyingkapan Luk Ulo sudah saya kemukakan menggunakan dugaan indentasi tektonik 
Jawa Tengah oleh dua sesar besar yang mengapit Jawa Tengah dan bertemu di area 
Cilacap (Sesar Muria-Kebumen dan Sesar Pamanukan Cilacap). Untuk diskusi lebih 
lanjut bisa dilihat di Satyana and Purwaningsih (2002) atau Satyana (2007).  
Penyingkapan ofiolit Meratus sementara itu, melalui exhumasi kerak benua 
Paternoster yang sempat terpendam di bawah Meratus Mountains-suatu ekspresi 
gravity tectonics (lihat Satyana and Armandita, 2008). Demikian juga 
penyingkapan ofiolit Banggai (Satyana, 2006), atau batuan dasar Central Ranges 
dan Timor (Satyana dkk., 2007).

Dalam korespondensi e-mail dengan Ian Deighton, Ian tertarik sekali bila 
mid-basin high-nya itu sebuah suture; kemudian menanyakan apakah mungkin bahwa 
suture itu seumur dengan suture Meratus. Saya menjawabnya bahwa suture Meratus 
lebih tua (Aptian-Albian -upper Early Cretaceous –Satyana, 2003), sedangkan 
suture forearc Jawa ini (bila ada) umurnya sekitar Late Cretaceous 
(Maastrichtian).

Bila benar kita memiliki mikrokontinen yang membawa sedimen Mesozoic dan 
Paleozoic di selatan Jawa Timur, maka rekonstruksi tektonik tepi timur dan 
tenggara Sundaland yang selama ini ada harus kita tinjau ulang.  Di samping 
itu, ini akan membuat forearc Jawa Timur suatu polyhistory basin, menjanjikan 
sebuah prospektivitas hidrokarbon yang menarik. Semua producing forearc basins 
di seluruh dunia (Talara & Progreso-Amerika Selatan, Sacramento-California &  
Cook Inlet-Alaska) adalah polyhistory basins.

Demikian, semoga bermanfaat.

salam,
Awang

Diskusi di atas dan diskusi lebih detail tentang penyingkapan batuan-batuan 
dasar di Indonesia melalui tektonik benturan (collision) dapat dibaca lebih 
lanjut di publikasi2 berikut.

Bothe, A. Ch. D., 1929, Djiwo Hills and Southern Range, Excursion Guide IVth 
Pacific Scientific Congress Java, Bandung.

Satyana, A.H. dan Purwaningsih, M.E.M., 2002, Lekukan Struktur Jawa Tengah : 
Suatu Segmentasi Sesar Mendatar, dalam  Sumberdaya Geologi Daerah Istimewa 
Yogyakarta dan Jawa Tengah, IAGI Pengda Jawa Tengah-DI Yogyakarta, p. 55-66.

Satyana, A.H.,  2003, Accretion and Dispersion of Southeast Sundaland : the 
Growing and Slivering of a Continent, Joint Convention of Indonesian 
Association of Geologists (IAGI), 31st Annual Convention and Indonesian 
Association of Geophysicists (HAGI), 28th Annual Convention, Jakarta, December 
2003.

Satyana, A.H., 2006, Docking and Post-Docking Tectonic Escapes of Eastern 
Sulawesi : Collisional Convergence and Their lmplications to Petroleum Habitat, 
Jakarta 2006 International Geosciences Conference and Exhibition, Jakarta, 
August 14-16, 2006.

Satyana, A.H., 2007, Central Java, Indonesia – A “Terra Incognita” in Petroleum 
Exploration : New Considerations on the Tectonic Evolution and Petroleum 
Implications, Proceedings Indonesian Petroleum Association (IPA), 31st annu. 
conv.,  Jakarta, 14-16 May 2007.

Satyana, A.H., Tarigan, R.L., and Armandita, C., 2007, Collisional Orogens in 
Indonesia : Origin, Anatomy, and Nature of Deformation, Proceedings Joint 
Convention Bali 2007- HAGI, IAGI, and IATMI, 14-16 November 2007.  

Satyana, A.H. and Armandita, C., 2008, On the Origin of the Meratus Uplift. 
Southeast Kalimantan – Tectonic and Gravity Constraints : A Model for 
Exhumation of Collisional Orogen in Indonesia, Proceedings Indonesian 
Association of Geophysicists (HAGI), 33rd Annu. Conv. And Exhibition,  Bandung, 
3-5 November 2008.

Granath, J.W., Christ, J.M., Emmet, P.A. Dinkelman, M.G., 2010, Pre-Tertiary of 
the East Java Sea revisited: a stronger link to Australia, Proceedings 
Indonesian Petroleum Association (IPA), 34th annu. conv.,  Jakarta, 18-20 May 
2010.

Deighton, I., Conn, P., Le Roy, C., 2010, New seismic in the Java Forearc 
Basin: implications for plate tectonic reconstructions, Proceedings of The Bali 
2010 International Geosciences Conference and Exposition, Bali, Indonesia, 
19-22 July 2010.

Satyana, A.H., 2010, Proven and Potential Mesozoic and Paleozoic Exploration 
Play Types of Indonesia, International Symposium Mesozoic – Paleozoic Petroleum 
Basins in Indonesia, Bandung, 28-29 July 2010.




--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
Ayo siapkan diri....!!!!!
Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 22-25 November 2010
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke