Madagaskar, pulau keempat terbesar di dunia, terisolasi di sebelah tenggara Afrika sejak ia terpisah dari Afrika 165 juta tahun yang lalu. Isolasi ini menyebabkan keunikan keragaman hayati yang menakjubkan dengan 90 % flora dan faunanya bersifat endemik, artinya hanya terdapat di Madagaskar dan tidak di tempat lain. Sumberdaya alamnya melimpah dengan kayu-kayu besar, mineral dan permata. Sepertiga dari seluruh safir yang diperdagangkan di seluruh dunia, berasal dari Madagaskar. Madagaskar punya “hutan” menara batu yang menjulang yang dapat membuat pengunjung yang paling sering berpetualang sekalipun takjub melihatnya. Demikian, sedikit nukilan tentang Madagaskar yang dimuat di edisi terbaru National Geographic Indonesia bulan September 2010.
Tetapi, sebuah negara berkembang atau belum berkembang yang kaya akan sumberdaya alam, sayangnya tak serta-merta penduduknya sejahtera, malah lebih sering rakyatnya justru miskin. Para ilmuwan sosial menyebut fenonema ini “kutukan sumberdaya” (resource course), yang tesisnya pertama kali dikemukakan oleh R. Auty (1993). Di Madagaskar, kasus ini terjadi dan sangat khas problem negara berkembang: tekanan jumlah penduduk, kekacauan politik di dalam negeri, penyelundupan, dan penjarahan. Rakyat menjarah kayu, dilindungi aparat pengawas yang disuap, dibeli oleh cukong-cukong dari negara lain. Orang-orang di pemerintah pun melakukan praktik-praktik memperkaya diri. Akibatnya adalah tekanan terhadap lingkungan. Sedikit demi sedikit namun pasti Madagaskar kian terluka. Dua paragraf di atas tersebut akan mengantar ulasan di bawah ini yang menceritakan tesis terbaru tentang asal bangsa Malagasi, kelompok suku utama dan terbesar di Madagaskar, yang kita kenal menggunakan bahasa berumpun Austronesia seperti juga bahasa Indonesia. Seorang penjarah kayu sonokeling berkata, “Aleo maty rahampitso toy izay maty androany” – (lebih baik mati besok daripada mati sekarang). Ia kelaparan, maka menjarah; perhatikan bahwa bahasa yang digunakannya mirip-mirip lantunan bahasa Indonesia. Peter Belwood, ahli prasejarah terkenal dari Australia yang banyak meneliti penyebaran bangsa-bangsa berumpun bahasa Austronesia (bukunya yang terkenal, Prehistory of Indo-Malayan Archipelago telah diterjemahkan berjudul “Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia oleh Gramedia tahun 2000), menulis bahwa antara sekitar 3000 SM-1000 AD terjadi penyebaran bangsa-bangsa berbahasa Austronesia di bagian timur dunia, yang meliputi areal yang luas dari Madagaskar di barat, Taiwan di utara, Pulau Paskah di timur dan Selandia Baru di selatan. Dari mana sumber utama bangsa-bangsa ini dan bagaimana cara penyebarannya adalah masalah2 yang selalu hangat dibicarakan di antara para ahli arkeologi, linguistik dan genetika. Geologi pun dapat berkontribusi dalam diskusi ini. Indonesia adalah bagian terbesar bangsa penutur bahasa2 Austronesia. Batas barat rumpun bahasa Austronesia adalah Madagaskar. Sering kita baca dan dengar bahwa nenek moyang penduduk Madagaskar adalah orang-orang Indonesia yang dulu merantau ke Madagaskar. Benarkah, bilamana mereka berangkat dan bagaimana mereka sampai di sana ? Sebuah buku kumpulan makalah tentang penyebaran Austronesia belum lama ini (2006) diterbitkan LIPI dan International Center for Prehistoric and Austronesian Studies serta Unesco berjudul, “Austronesian Diaspora and the Ethnogenesis of People in Indonesian Archipelago”. Buku disunting oleh Truman Simanjuntak dkk dari Puslit Arkenas (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional). Buku ini dijual juga di toko buku umum yang besar, tetapi mungkin sekarang sudah susah ditemukan, meskipun belum tentu peminatnya banyak - karena sudah empat tahun berselang, saya membelinya November 2006. Ada 29 makalah yang membahas perihal Austronesia, termasuk dua makalah tentang lingkungan geologi. Pembahasan utama dibagi menjadi aspek arkeologi, linguistik dan genetika. Kembali ke Madagaskar, ada satu makalah yang menarik di dalam buku ini tulisan Alexander Adelaar (Melbourne Institute of Asian Languages and Societies, The University of Melbourne) berjudul, “The Indonesian Migrations to Madagascar: Making Sense of the Multidisciplinary Evidence”. Adelaar (2006) bertesis bahwa bahasa yang digunakan suku Malagasi di Madagaskar adalah bahasa Barito, Kalimantan tenggara. Bahasa Malagasi berhubungan dengan bahasa2 yang digunakan Maanyan, Dusun Witu, Paku, Samihim dan Lawangan. Tesis ini pertama kali dikemukakan oleh Dahl (1951: Malgache et Maanyan, Une Comparaison linguistique, Egede Instituttet, Oslo). Penelitian Adelaar membenarkan tesis Dahl (1951). Adelaar juga menyatakan bahwa bahasa Malagasi banyak mempunyai kata pinjaman dari bahasa Melayu, Jawa dan Sulawesi Selatan. Beberapa contoh: Bahasa Malagasi Bahasa Melayu/Indonesia/Jawa/Sulsel varatra barat varatraza baratdaya tsimilotru timurlaut ranto rantau tanjona tanjung fasika pasir vatoharanana batukarang horita gurita fano penyu vuavitsi buah betis mulutra mulut hihi gigi tratra dada tanana tangan afi api ala alas (hutan, bahasa Jawa) rama rama (ayah) rahadyan raden leha lekka (pergi, dialek Sinjay, Bugis) matua matua (tua, Makasar, Bugis) huta kota (mengunyah, Maanyan) Dan masih banyak lagi, yang membuktikan bahwa bahasa yang dipakai suku Malagasi di Madagaskar berasal dari bahasa-bahasa suku di Indonesia. Makalah lain yang tak kalah menarik adalah dari para ahli genetika Matthew Hurles dkk. (2005) yang dimuat dalam American Journal of Human Genetics (76: 894-901) berjudul, “The dual origin of the Malagasy in island Southeast Asia and East Africa: evidence from maternal and paternal lineages”. Dengan menggunakan Y-chromosom dari garis keturunan ayah (paternal lineage) dan DNA mitokondria dari garis keturunan ibu (maternal lineage); gene pool penduduk Malagasi modern dapat ditentukan, sekaligus asal geografinya. Hasil penemuan Hurles dkk. (2005) adalah seperti di bawah ini. 1. Penduduk Malagasi punya asal campuran Afrika Timur dan Asia Tenggara. 2. Penduduk Malagasi tak menunjukkan keragaman genetika yang menurun seperti dialami oleh penduduk di pulau-pulau kecil yang baru dihuni (misalnya pulau-pulau di Pasifik baratdaya –mikronesia). Ini menunjukkan sejarah migrasi yang langsung, bukan bertahap, atau kalau pun bertahap, setiap migrasi membawa keturunan yang berbeda). 3. Keragaman gen dari keturunan ibu Asia lebih tinggi daripada ibu Afrika, menunjukkan bahwa migrasi dari Indonesia lebih besar daripada migrasi dari Afrika. 4. Di antara sepuluh populasi nenek moyang yang mungkin dari seluruh bangsa berbahasa Austronesia, populasi dari Kalimantan (Banjarmasin) punya distribusi Y kromosom yang paling mirip dengan yang dipunyai penduduk Malagasi. Kapan penduduk Indonesia dari Kalimantan mengembara ke Madagaskar ? Peta terbaru dari Peter Belwood (2005: First Farmers: The Origins of Agricultural Societies, Blackwell, Oxford)) menaruhnya bahwa mereka pergi ke Madagaskar pada sekitar tahun 500 M. Bangsa Melayu, yang saat itu terkenal sebagai bangsa maritim yang telah melanglang buana ke India dan Srilangka diduga banyak berperan dalam penghunian Madagaskar. Sementara itu, perdebatan sengit masih terjadi tentang asal bangsa-bangsa Austronesia sendiri. Satu kubu mengatakan bahwa bangsa Austronesia berasal dari Formosa, Taiwan melalui Filipina lalu menyebar ke selatan, ke Indonesia, lalu ke barat (Madagaskar), ke timur menuju gugusan kepulauan polinesia dan mikronesia, lalu ke selatan menuju Selandia Baru). Kubu ini ditokohi oleh Peter Belwood, ahli prasejarah Asia Tenggara. Kubu lain mengatakan bahwa bangsa Austronesia berasal dari daerah Wallacea di Indonesia sendiri yang lalu menyebar ke mana-mana karena transgresi Kuarter. Kubu ini ditokohi oleh Stephen Oppenheimer, ahli genetika. Demikian, perkembangan terbaru pengetahuan dalam bidang migrasi bangsa-bangsa berbahasa Austronesia. Geologi dapat memberikan kontribusi dalam pemikiran penghunian suatu pulau atau migrasi bangsa-bangsa dengan cara meneliti lingkungan migrasinya (paleoklimatologi, paleogeografi). Bila kita ingin memahami asal suatu bangsa (ethnogenesis), empat aspek harus dibahas: geologi, arkeologi, linguistik, genetika. Salam, Awang -------------------------------------------------------------------------------- PP-IAGI 2008-2011: ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro... -------------------------------------------------------------------------------- Ayo siapkan diri....!!!!! Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 22-25 November 2010 ----------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ---------------------------------------------------------------------

