Salam,
 
Berapa bulan lalu, saya menulis bahwa perlunya "ilmu bumi" di masukkan sebagai 
ilmu dasar, seperti fisika pada semua mahasiwa perguruan tinggi, utamanya 
exacta. Pun itu saya masih inginkan baru untuk semua perguruan tinggi. Dan kini 
muncul, malah seharusnya sudah ada sejak SMP. Ilmu Bumi memang sudah di ajarkan 
sejak SMP. Namun, nadanya masih kurang isinya. Kemantaban erathsience 
(geologi+geofisika) kini, jadikan Geologi siap di intensifkan di SLTP-SLTA. 
Saya 
yang sarjana fisika, (dan lalu master geologi), merasa amat perlunya geologi 
menjadi ilmu dasar setara fisika di perguruan tinggi.  Bahasa saya, Ilmu alam 
misal 3 sks, di tambah 3 sks dengan ilmu bumi itu di masukan. 

 
India, lebih dulu siap tentang Geology di banding Indonesia. Maka komentar 
murid 
India itu menjadi begitu mantab, telah mendapatkan ilmu bumi di SLTP-SLTA. Buku 
struktur oleh "Billing", saya pakai th 1980, adalah cetakan India, th 1968. 

 
Intinya: ini peluang bagi yang tahu geologi, ya sarjana geologi, dan sarjana 
geofiska, untuk mengajarkannya di perguruan tinggi, sekolah SLTP-SLA. 

 
Fisika kini sering di artikan tak ilmu se-alam. Mau saya fisika adalah ilmu 
alam. Itulah yang saya bahas, penggabungan fisika, geologi, geofisika, evolosi 
biologi, evolosi iklim, ekomomi, politik, sejarah,  dll, menjadi ilmu alam, 
ilmu 
se-alam, atawa di singkat menjadi se-alam + logi. Nah ini ya mbalik lagi 
menjadi 
salamologi. 
 
Harapannya, masyarakat menjadi lebih arif menyikapi alam, punya daya pikir dan 
daya guna yang jauh lebih kuat. Teruskan usaha ITB (Pak Zaim dkk), juga Geologi 
UGM pada IESO-4 (eh Pak Kirbani Geofisika UGM juga di situ ding).

Wass,
Maryanto. 



________________________________
From: "[email protected]" <[email protected]>
To: [email protected]
Cc: [email protected]
Sent: Thu, September 23, 2010 2:36:42 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] Ilmu Kebumian Belum Memenuhi Standar


Rekans,
Benar sekali apa yang diberitakan di Kompas tersebut. Tahun 1992, Prodi
(dulu namanya Jurusan) Teknik Geologi diminta oleh Persatuan Guru Geografi
dan Biologi SMA Negeri se-DKI Jakarta untuk memberikan kursus tentang
Geologi (baca=Ilmu Kebumian), dan Prodi menunjuk saya sebagai pemberi
kursus. Kursus dilaksanakan di Gedung Arsip Nasional selama dua hari, dan
selama kursus tersebut banyak sekali keluhan/pernyataan para guru peserta
bahwa apa yang kami berikan sangat berbeda (dan lebih benar tentunya)
dibanding pemahaman yang selama ini mereka ketahui. Sebagai contoh,
pemahaman dan pengertian tentang gempa, mekanisme dan sumber gempa,
tentang batuan dan proses pembentukannya, definisi tentang fosil dan
pemahaman paleontologi,definisi plankton, asal muasal minyak bumi, proses
eksogen (pelapukan dan erosi dll) dan proses endogen (magmatisme dll)
dlsb...dlsb.
Setahun setelah kursus itu, Prodi Teknik Geologi berdasar pengalaman para
guru di DKI, dengan didanai oleh LP ITB menyelenggarakan kursus yang sama
untuk para guru SMA se Bandung dengan jumlah peserta 45 guru dari berbagai
SMA Negeri dan Swasta di Bandung. Pemberi kursus adalah saya, Dr.
Rubiyanto Kapid dan Aswan, ST, MT.
Itulah upaya kami dalam ikut meluruskan pemahaman Ilmu Kebumian untuk
kalangan para Guru SMA yang mendidik para "bahan baku/calon" mahasiswa
Geologi dan yang terkait di DKI dan Bandung, 17 tahun yang lalu, yang
ternyata hasilnya masih seperti yang diberitakan di Kompas.
Kiranya perlu kerja keras IAGI dan kita semua untuk "memenuhi standar"
seperti kata Kompas....
Bravo teman2 Geologi UGM.

Wassalam,
Yahdi Zaim
Prodi Teknik Geologi
FITB - ITB


>http://cetak.kompas.com/read/2010/09/22/0329402/ilmu.kebumian.belum.memenuhi..standar
>r
>
> =========
>
> Ilmu Kebumian Belum Memenuhi Standar
> Rabu, 22 September 2010 | 03:29 WIB
>
> YOGYAKARTA, KOMPAS - Pelajaran Ilmu Kebumian Indonesia masih jauh dari
> standar internasional. Sekitar 80 persen materi ujian tertulis pada
> Olimpiade Internasional Kebumian ke-4 atau International Science
> Olympiad tidak diajarkan di sekolah.
>
> Soal-soal tes tertulis Olimpiade Internasional Kebumian (IESO) ke-4 di
> Yogyakarta, 19-28 September, tersebut terdiri atas 50 poin. Bidang
> yang diujikan meliputi oseanografi, meteorologi, geologi, dan
> astronomi.
>
> Peserta dari SMA Negeri 3 Yogyakarta, Rio Priandi Nugroho (18),
> mengatakan, soal-soal di olimpiade lebih dalam dari materi di sekolah.
> ”Saya sulit mengerjakannya,” katanya seusai tes IESO ke-4 yang diikuti
> peserta dari 19 negara di Universitas Gadjah Mada, Selasa (21/9).
>
> I Wayan Punia Raharja (18) dari SMA Negeri I Amapura, Bali,
> mengatakan, pelajaran Geografi di sekolah lebih banyak menghafal, baik
> peta maupun informasi geografis. ”Tapi, tak jelas fungsinya buat apa,”
> katanya.
>
> Kondisi itu berbeda dengan negara peserta olimpiade lainnya. Peserta
> dari India, Svarum Rajagopalan (16), mengatakan, ia telah menerima
> pelajaran Ilmu Kebumian (Earth Science) pada jenjang setingkat SMP.
> Materinya dari oseanografi, meteorologi, geologi, dan astronomi.
>
> ”Materi di Earth Science sangat mirip soal-soal yang diujikan di
> olimpiade tadi. Jadi, kami mudah mengerjakan,” ungkapnya.
>
> Anggota Tim Pembuat Soal Tertulis IESO ke-4 yang juga pakar geologi
> tektonika UGM, Subagyo Hamumijoyo, mengatakan, soal-soal pada
> olimpiade itu mengacu silabus Ilmu Kebumian internasional. ”Secara
> internasional, Ilmu Kebumian merupakan cabang ilmu pengetahuan alam
> yang lebih banyak mengkaji fenomena kebumian,” katanya.
>
> Menurut Subagyo, Ilmu Kebumian di Indonesia butuh pembaruan dan
> silabus baru. Sebab, materi yang diajarkan di Indonesia tertinggal
> dari Ilmu Kebumian internasional. Di Indonesia, pelajaran Geografi
> berorientasi kepada Bumi, sedangkan di kurikulum level planeter, Bumi
> ditinjau sebagai bagian tata surya.(IRE)


      

Kirim email ke