Sakjane jawaban buat menjelaskan ke para geologist itu lebih mudah. Kalau geologist selalu mampu melihat secara intuitif bahwa gunung api (vulkanisme) akan berinteraksi langsung dengan plate tectonic. Dan itu selalu dicritakan ketika menganalisa sebuah cekungan dalam menghubungkan struktur dan stratigrafi. Skala dimensi yang dipikirkan geosintist (geologist) bukanlah skala waktu yang pendek, tapi skala waktu geologi jutaan tahun. Juga skala ruang spasialnya besar, satu cekungan atau satu region yang sangat luas. Geologist mudah saja menjelaskan adanya pembukaan seafloor spreading di Natuna akan mengakibatkan struktur inversi di Kalimantan atau di Natuna. Bayangkan saja ruang waktu yang dijelajahinya.
Hampir setiap bercerita tentang stratigrafi suatu daerah yang memiliki endapan hasil aktifitas vulkanisme selalu dibumbui dengan aktifitas tektonik, baik pembentukan struktur patahan, struktur lipatan, dan tentusaja geologist mudah banget mengerti bahwa patahan itu pembentukannya diikuti oleh gempa. Namun masyarakat pada umumnya memiliki dimensi pemikiran yang sangat pendek dan sempit. Ruang yang dipikirkan hanya sebesar gunung api yang dimensinya hanya radius 30-50 Km saja. Sedangkan rentang waktunya paling banter seratus tahun. Bahkan tuntutannya kalau bisa menghubungkan gempa kemarin dengan letusan besok pagi ! Haddduh !!!! Tuntutannya aspek gempa dan mungkin juga vulkanisme) yang ingin diketahui pada *shorterm prediction* itu adalah sebagai berikut : - *Dimana tempatnya*. Mencakup area yang cukup sempit. Efek bencana sangat merusak sekitar radius 10-20 Km ( di Jogja, Padang). Ramalan yang diinginkan untuk resque (penyelamatan) tentusaja yang memiliki akurasi seperti ini. - *Seberapa besar kekuatannya*. Dalam skala gempa tertentu. Saat ini yang diketahui besarnya “potensi” yang tersimpan dalam satu segmen. Berapa yang “bakalan” dilepaskan masih belum (*susah*) diketahui. Bisa sekali besar, bisa kecil-kecil banyak, atau bahkan *slow quake* (*silent quake*) ! - *Kapan terjadinya*. Dalam rentang waktu yang memadai. Periode waktu yang diinginkan tentusaja short term (jangka pendek). Blaik bagaimana mungkin ! Ya tentu saja terpaksa akan merubah atau menggunakan pemikiran cara "fraktal" yang "scale invariant", atau tidak bergantung pada skala. Hanya saja sains moderen dan khususnya fisika moderen menginginkan fakta terukur yang mampu dihitung secara numerik. Bagaimana mungkin numerik skala jutaan tahun direduksi dalam skala waktu 5-10 tahun ! Dalam artikel yang saya kutip, mereka (Walter dkk, 2007) bahkan mencoba mereduksi lagi menghubungkan dua kejadian dalam skala kurang dari 5 tahun. Walaupun ada saja sebenernya kemungkinan pemikiran berbeda karena adanya jeda atau selang waktu diantara kejadian-kejadian ini Siapa tahu gempa 2001 telah mempengaruhi magma dalam, yang tanpa disadari mempengaruhi kejadian gempa 2006. Ekses gempa 2006 inilah yang mentriger atau malah menyebabkan erupsi 2010. Arunya jeda waktunya justru 4-5 tahun. 2001-2006-2010 ! Ingat gempa 2001 itu kekuatannya juga 6.3 SR, tetapi memiliki kedalamannya dibawah 100 Km, jadi gempa dalam inilah yang mempengaruhi dapur magma yang sangat dalam, bukan mempengaruhi magma dangkal yang menjadikan erupsi 2001. Magma sangat dalam ini mungkin yang nantinya nyampur dengan dapur magma dangkal, dan baru saja ketahuan nyampurnya dengan magma dangkal yang menyebabkan lava Merapi kali kini konon lebih asam. Sehingga letusannya menjadi Plinian ... Sedangkan gempa 2006 itu kepanjangan dari percampuran dari magma dalam sana yang mempengaruhi Coloumb Stress Field Opak sebelum gempa 2006. Jadi ada jeda cukup lama (4-5 tahun) antara satu gejala dengan gejala yang lain. Tentusaja ini sekedar dongeng spekulasi ! Namanya hipotesa kan spekulasi :) Kalau salah ya ga papa, kalau bener ya kebetulan saja :) Salam nyaintifik ! RDP 2010/11/10 <[email protected]> > Hi Cak Min, sepertinya hari ini jam 6 dan 10 pagi masih ada erupsi, arah > awan panas ke arah Barat Laut. Mengenai hubungan kegempaan dan erupsi Merapi > ini, mungkin cak Min masih inget dengan paper nya Robert Hall di IPA atau di > forum SEARG 2008-2009 ya, di situ pak Robert menjelaskan bahwa, terdapat > 'anomali' pola titik gempa (kemudian di kontur) dihubungkan dengan kedalaman > sumber gempa dari pantai selatan di Jabar-Jateng-Jatim, selain juga dari > umur-posisi gunung dan komposisi magma nya dari barat-timur. Analisa pak RH > ini kemudian dihubungkan dengan ada nya semacam 'additional material' di > subduction slab nya, aku agak lupa kalo enggak keliru dia melihat nya al. > dari tomografi nya apa ya..., namun ini bukan Roo Rise yg nampak di gravity > map itu sepertinya..., dan ternyata ada rumpang waktu yg berbeda yg > menyebakan aktifitas volkanisme nya juga berlainan antara yg terjadi di > Jateng dibandingkan dengan yg di Jabar dan Jatim, dan hal ini bisa terjadi > perulangan dalam waktu geologi. Kayak nya itu cak, ini baru dugaan saya yg > saya coba korelasikan, masih bisa keliru lho ya, he he he..., jadi tolong di > elaborate lagi cak, biar diskusi nya makin hangat...., makasih. Best Regards > (Sigit Ari '93) > > Powered by Telkomsel BlackBerry® > ------------------------------ > *From: * MINARWAN <[email protected]> > *Sender: * [email protected] > *Date: *Wed, 10 Nov 2010 12:51:09 +0100 > *To: *<[email protected]> > *ReplyTo: * [email protected] > *Subject: *Re: [Geologi UGM] Hubungan gempa dengan erupsi emang ADA, tapi > apa artinya ? > > BTW, > > Sudah ada erupsi lagikah setelah gempa di selatan Jogja itu? > > Saya heran mengapa Merapi ini terkesan reaktif terhadap gempa yang > berkaitan dengan subduksi lempeng Australia, tapi gunung api aktif lain > tidak demikian. Jika korelasi positif ini hanya berlaku untuk 1 gunung saja > dan hanya untuk Merapi, korelasi itu harus dipertanyakan lagi. Iya untuk > Merapi tapi belum tentu untuk gunung lain. > > Seandainya ada kaitannya pun, masih ada kuantifikasi apakah gempa itu causa > utama atau tak signifikan alias cuma berkontribusi 5% saja. Mekanisme yang > memang tak bisa dijelaskan dengan mudah yah. > > Salam > mnw93 > 2010/11/10 Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> > >> Hubungan gempa dengan erupsi emang ADA, tapi apa artinya >> ?<http://rovicky.wordpress.com/2010/11/10/hubungan-gempa-dengan-erupsi-emang-ada-tapi-apa-artinya/> >> Posted on 10 November 2010 by Rovicky | >> Sunting<http://rovicky.wordpress.com/wp-admin/post.php?post=5668&action=edit> >> >> >> -- >> MINARWAN >> +34-622 18 5678 >> http://www.linkedin.com/in/minarwan >> >> "It has always been a mystery to me how some men feel themselves honoured >> by the humiliation of their fellow human beings." - Mahatma Gandhi - >> > -- > Keluar dari milis: kirim email ke > [email protected]<geologiugm%[email protected]> > Situs web alumni: http://kumpulgeologi.wordpress.com > > -- > Keluar dari milis: kirim email ke > [email protected]<geologiugm%[email protected]> > Situs web alumni: http://kumpulgeologi.wordpress.com > -- *Pray for JOGJA*

