Kalau orang bisa menerima bahwa gempa Nias yang jaraknya lebih dari seribu km 
berhubungan dengan letusan Merapi, tentunya tidak terlalu sulit untuk juga 
menerima hubungan kausalitas dengan jarak 500 an km antara gempa Jogja dan Lusi.
Oops.....balik Lusi lagi.....


--- On Thu, 11/11/10, Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> wrote:

From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>
Subject: [iagi-net-l] Re: [Geologi UGM] Hubungan gempa dengan erupsi emang ADA, 
tapi apa artinya ?
To: [email protected], "IAGI" <[email protected]>, "Forum HAGI" 
<[email protected]>
Received: Thursday, 11 November, 2010, 1:59 AM

Sakjane jawaban buat menjelaskan ke para geologist itu lebih mudah. Kalau
geologist selalu mampu melihat secara intuitif bahwa gunung api (vulkanisme)
akan berinteraksi langsung dengan plate tectonic. Dan itu selalu dicritakan
ketika menganalisa sebuah cekungan dalam menghubungkan struktur dan
stratigrafi.
Skala dimensi yang dipikirkan geosintist (geologist) bukanlah skala waktu
yang pendek, tapi skala waktu geologi jutaan tahun. Juga skala ruang
spasialnya besar, satu cekungan atau satu region yang sangat luas. Geologist
mudah saja menjelaskan adanya pembukaan seafloor spreading di Natuna akan
mengakibatkan struktur inversi di Kalimantan atau di Natuna. Bayangkan saja
ruang waktu yang dijelajahinya.

Hampir setiap bercerita tentang stratigrafi suatu daerah yang memiliki
endapan hasil aktifitas vulkanisme selalu dibumbui dengan aktifitas
tektonik, baik pembentukan struktur patahan, struktur lipatan, dan tentusaja
geologist mudah banget mengerti bahwa patahan itu pembentukannya diikuti
oleh gempa.

Namun masyarakat pada umumnya memiliki dimensi pemikiran yang sangat pendek
dan sempit. Ruang yang dipikirkan hanya sebesar gunung api yang dimensinya
hanya radius 30-50 Km saja. Sedangkan rentang waktunya paling banter seratus
tahun. Bahkan tuntutannya kalau bisa menghubungkan gempa kemarin dengan
letusan besok pagi ! Haddduh !!!!

Tuntutannya  aspek gempa dan mungkin juga vulkanisme) yang ingin diketahui
pada *shorterm prediction* itu adalah sebagai berikut :

   - *Dimana tempatnya*. Mencakup area yang cukup sempit.
   Efek bencana sangat merusak sekitar radius 10-20 Km ( di Jogja, Padang).
   Ramalan yang diinginkan untuk resque (penyelamatan) tentusaja yang memiliki
   akurasi seperti ini.
   - *Seberapa besar kekuatannya*. Dalam skala gempa tertentu.
   Saat ini yang diketahui besarnya “potensi” yang tersimpan dalam satu
   segmen. Berapa yang “bakalan” dilepaskan masih belum (*susah*) diketahui.
   Bisa sekali besar, bisa kecil-kecil banyak, atau bahkan *slow
quake* (*silent
   quake*) !
   - *Kapan terjadinya*. Dalam rentang waktu yang memadai.
   Periode waktu yang diinginkan tentusaja short term (jangka pendek).

Blaik bagaimana mungkin !

Ya tentu saja terpaksa akan merubah atau menggunakan pemikiran cara
"fraktal" yang "scale invariant", atau tidak bergantung pada skala. Hanya
saja sains moderen dan khususnya fisika moderen menginginkan fakta terukur
yang mampu dihitung secara numerik. Bagaimana mungkin numerik skala jutaan
tahun direduksi dalam skala waktu 5-10 tahun !

Dalam artikel yang saya kutip, mereka (Walter dkk, 2007) bahkan mencoba
mereduksi lagi menghubungkan dua kejadian dalam skala kurang dari 5 tahun.
Walaupun ada saja sebenernya kemungkinan pemikiran berbeda karena adanya
jeda atau selang waktu diantara kejadian-kejadian ini
Siapa tahu gempa 2001 telah mempengaruhi magma dalam, yang tanpa disadari
mempengaruhi kejadian gempa 2006. Ekses gempa 2006 inilah yang mentriger
atau malah menyebabkan erupsi 2010. Arunya jeda waktunya justru 4-5 tahun.
2001-2006-2010 !

Ingat gempa 2001 itu kekuatannya juga 6.3 SR, tetapi memiliki kedalamannya
dibawah 100 Km, jadi gempa dalam inilah yang mempengaruhi dapur magma yang
sangat dalam, bukan mempengaruhi magma dangkal yang menjadikan erupsi 2001.
Magma sangat dalam ini mungkin yang nantinya nyampur dengan dapur magma
dangkal, dan baru saja ketahuan nyampurnya dengan magma dangkal yang
menyebabkan lava Merapi kali kini konon lebih asam. Sehingga letusannya
menjadi Plinian ... Sedangkan gempa 2006 itu kepanjangan dari percampuran
dari magma dalam sana yang mempengaruhi Coloumb Stress Field Opak sebelum
gempa 2006.
Jadi ada jeda cukup lama (4-5 tahun) antara satu gejala dengan gejala yang
lain.

Tentusaja ini sekedar dongeng spekulasi ! Namanya hipotesa kan spekulasi :)
Kalau salah ya ga papa, kalau bener ya kebetulan saja :)

Salam nyaintifik !

RDP


2010/11/10 <[email protected]>

> Hi Cak Min, sepertinya hari ini jam 6 dan 10 pagi masih ada erupsi, arah
> awan panas ke arah Barat Laut. Mengenai hubungan kegempaan dan erupsi Merapi
> ini, mungkin cak Min masih inget dengan paper nya Robert Hall di IPA atau di
> forum SEARG 2008-2009 ya, di situ pak Robert menjelaskan bahwa, terdapat
> 'anomali' pola titik gempa (kemudian di kontur) dihubungkan dengan kedalaman
> sumber gempa dari pantai selatan di Jabar-Jateng-Jatim, selain juga dari
> umur-posisi gunung dan komposisi magma nya dari barat-timur. Analisa pak RH
> ini kemudian dihubungkan dengan ada nya semacam 'additional material' di
> subduction slab nya, aku agak lupa kalo enggak keliru dia melihat nya al.
> dari tomografi nya apa ya..., namun ini bukan Roo Rise yg nampak di gravity
> map itu sepertinya..., dan ternyata ada rumpang waktu yg berbeda yg
> menyebakan aktifitas volkanisme nya juga berlainan antara yg terjadi di
> Jateng dibandingkan dengan yg di Jabar dan Jatim, dan hal ini bisa terjadi
> perulangan dalam waktu geologi. Kayak nya itu cak, ini baru dugaan saya yg
> saya coba korelasikan, masih bisa keliru lho ya, he he he..., jadi tolong di
> elaborate lagi cak, biar diskusi nya makin hangat...., makasih. Best Regards
> (Sigit Ari '93)
>
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
> ------------------------------
> *From: * MINARWAN <[email protected]>
> *Sender: * [email protected]
> *Date: *Wed, 10 Nov 2010 12:51:09 +0100
> *To: *<[email protected]>
> *ReplyTo: * [email protected]
> *Subject: *Re: [Geologi UGM] Hubungan gempa dengan erupsi emang ADA, tapi
> apa artinya ?
>
> BTW,
>
> Sudah ada erupsi lagikah setelah gempa di selatan Jogja itu?
>
> Saya heran mengapa Merapi ini terkesan reaktif terhadap gempa yang
> berkaitan dengan subduksi lempeng Australia, tapi gunung api aktif lain
> tidak demikian. Jika korelasi positif ini hanya berlaku untuk 1 gunung saja
> dan hanya untuk Merapi, korelasi itu harus dipertanyakan lagi. Iya untuk
> Merapi tapi belum tentu untuk gunung lain.
>
> Seandainya ada kaitannya pun, masih ada kuantifikasi apakah gempa itu causa
> utama atau tak signifikan alias cuma berkontribusi 5% saja. Mekanisme yang
> memang tak bisa dijelaskan dengan mudah yah.
>
> Salam
> mnw93
> 2010/11/10 Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>
>
>> Hubungan gempa dengan erupsi emang ADA, tapi apa artinya 
>> ?<http://rovicky.wordpress.com/2010/11/10/hubungan-gempa-dengan-erupsi-emang-ada-tapi-apa-artinya/>
>> Posted on 10 November 2010 by Rovicky | 
>> Sunting<http://rovicky.wordpress.com/wp-admin/post.php?post=5668&action=edit>
>>
>>
>> --
>> MINARWAN
>> +34-622 18 5678
>> http://www.linkedin.com/in/minarwan
>>
>> "It has always been a mystery to me how some men feel themselves honoured
>> by the humiliation of their fellow human beings." - Mahatma Gandhi -
>>
>  --
> Keluar dari milis: kirim email ke 
> [email protected]<geologiugm%[email protected]>
> Situs web alumni: http://kumpulgeologi.wordpress.com
>
> --
> Keluar dari milis: kirim email ke 
> [email protected]<geologiugm%[email protected]>
> Situs web alumni: http://kumpulgeologi.wordpress.com
>



-- 
*Pray for  JOGJA*



      

Kirim email ke