Jaka, Sedimen-sedimen pra-Ngimbang adalah semua sedimen yang diendapkan dan menjadi formasi batuan sebelum sedimen Ngimbang (Eosen Tengah-Eosen Akhir) diendapkan. Karena itu, umur sedimen pra-Ngimbang akan lebih tua daripada Eosen Tengah. Kita tinggalkan dulu sedimen tua yang berada di Sulawesi Selatan menurut Hasan (1991) yaitu Balangbaru dan Malawa sebab setting tektonik detailnya belum tentu sama dengan Jawa Timur.
Batas atas umur sedimen pra-Ngimbang kiranya cukup jelas yaitu awal Eosen Tengah, apa batas bawahnya ? Ini yang kiranya tidak mudah kita tentukan, pertama karena sedimennya hanya ditembus oleh beberapa sumur di wilayah Kangean, kedua karena sedimennya tidak banyak mengandung fosil indeks. Penentuan umur pra-Ngimbang selama ini hanya berdasarkan posisi stratigrafi relatif terhadap Ngimbang dan Basement. Definisi basement sendiri tidaklah mudah, apakah proper basement (metasedimen, batuan beku) atau economic/acoustic basement (yang bisa merupakan batuan sedimen lain yang lebih tua dan bukan merupakan reservoir produktif saat definisi itu dilakukan). Sampai awal tahun 1990-an pengetahuan kita tentang stratigrafi Jawa Timur pada ujung Mesozoikum dan awal Tersier (K-T boundary) hanya berdasarkan publikasi-publikasi dari Phillips et al (1991-IPA), Hasan (1991-IPA) dan Bransden dan Matthews (1992-IPA). Saya mempelajari publikasi2 itu, juga menampilkan interpretasi baru tektonik di wilayah ini (Satyana, 2003: Acrretion and Dispersion of SE Sundaland -HAGI & IAGI Proceedings), membuat saya (Satyana & Purwaningsih, 2003 -IPA) berpendapat bahwa sedimen pra-Ngimbang berumur di antara Late Cretaceous dan middle Eocene dan merupakan sedimen post-collision mikrokontinen di sebelah timur Jawa Timur terhadap SE Sundaland. Batas bawah pra-Ngimbang, karena kemungkinan collision itu terjadi pada Latest Cretaceous, sedimen pra-Ngimbang mestinya punya batas bawah intra-Paleosen atau awal Eosen. Perlu diketahui bahwa sulit sekali mencari sedimen Paleosen di Indonesia Barat karena saat itu sedang terjadi non-deposition akibat subduction/collision di mana-mana. Perlu dicermati bahwa penentuan batas bawah umur sedimen pra-Ngimbang ini adalah bukan atas biostratigrafi tetapi tektonostratigrafi. Berdasarkan data geokimia kondensat di area Kangean, adalah sangat mungkin tentang keberadaan pra-Ngimbang yang nonmarin diendapkan di area mikrokontinen bagian timur Jawa Timur. Karakteristik hidrokarbonnya menunjukkan atribut terestrial yang kuat (Satyana & Purwaningsih, 2003 -IPA). Paper saya terbaru tentang SE Sundaland margin, yang menyangkut Balangbaru (Satyana dan Armandita, 2007 -HAGI: On the Origin of the Meratus Uplift, Southeast Kalimantan – Tectonic and Gravity Constraints : A Model for Exhumation of Collisional Orogen in Indonesia) menafsirkan bahwa sedimen Balangbaru juga merupakan post-collision mikrokontinen Paternoster terhadap Schwaner. Posisinya memang terdapat di forearc basin sebelah timur mikrokontinen Paternoster. Mikrokontinen Paternoster itu dalam paper saya (Satyana, 2003 -HAGI-IAGI, judul lihat di atas) juga meliputi area Kangean. Hanya setting sedimentasinya bisa berlainan, sementara Balangbaru diendapkan sebagai forearc sediments, pra-Ngimbang mungkin hanya diendapkan di area depresi di antara tinggian-tinggian collision; keduanya dalam interpretasi ini adalah post-collision sediments. Berdasarkan hal di atas, maka saya menafsirkan bahwa Balangbaru secara tektonostratigrafi sebanding dengan pra-Ngimbang, sedangkan sedimen Malawa/Toraja sebanding dengan sedimen Ngimbang. Intra-Paleosen sampai pre-middle Eocene saya pikir merupakan penafsiran terbaik untuk umur Pra-Ngimbang. Dimulai oleh Jim Granath dkk yang dalam tiga tahun belakangan mempublikasikan paper-papernya di pertemuan IPA (contoh Dinkelman et al., 2008), juga paper terbaru dari para geoscientist TGS (Deighton et al., 2010 -HAGI), ada pendapat bahwa di mikrokontinen Jawa Timur itu diendapkan sedimen Mesozoic yang sebanding dengan sedimen passive margin di NW Australia. Lalu secara tektonik pun, mereka berpendapat bahwa mikrokontinen Jawa Timur berasal dari area utara Gondwanaland yang sekarang diduduki oleh NW Australian shelf. Sedimen Mesozoic ini, yang umurnya bisa sebanding dengan Plover (Middle Jurassic) atau Flamingo (Late Jurassic) (lihat Nagura, 2003-IPA), sudah di luar definisi sedimen pra-Ngimbang yang selama ini (pre-2008) jadi diskusi2. Kalau pun sedimen2 ini benar ada (di seismic data menunjukkan bedded horizons/events) maka kejadiannya berbeda dengan sedimen pra-Ngimbang yang dalam pemahaman saya post-collision sediments. Sedimen Mesozoic ini adalah sedimen passive margin mikrokontinen yang dibawa dari induknya (northern Gondwana) ke sebelah barat untuk kemudian membentur SE Sundaland di area bagian timur Jawa Timur sekarang. Saat mikrokontinen ini berjalan ke tempatnya sekarang, jelas akan berkembang sedimen syn-drifting yang harusnya merupakan sedimen halus seperti karbonat atau lempung. Sebenarnya kita harus membicarakan terminologi dan definisi sedimen-sedimen pra-Ngimbang di Jawa Timur. Sedimen pra-Ngimbang di Kangean yang ditembus beberapa sumur itu adalah sedimen post-collision, sedangkan sedimen2 tua Mesozoic Jurassic-Cretaceous di Kangean itu, kalau penafsiran Dinkelman et al. (2008) betul adalah sedimen2 pre-collision yang merupakan sedimen syn-rifting dan syn-drifting passive margin NW Australian yang belum kita beri nama. salam, Awang --- Pada Sen, 24/1/11, Yanto R.Sumantri <[email protected]> menulis: Dari: Yanto R.Sumantri <[email protected]> Judul: Re: [iagi-net-l] Re: Bls: [Geo_unpad] Mohon Info Pra-Ngimbang FM Kepada: "iagi-net" <[email protected]> Tanggal: Senin, 24 Januari, 2011, 9:49 AM > Pertanyaa bagus sekali , apa pendapat Anda pak Awang dan para geologist > regional ? si Abah Pak Awang dan Netter Ysh, > > Terimakasih atas pendapat, rujukan dan jawabannya. Setelah Saya membaca > ulang > publikasi dari Phillips dkk. (1991), Bransden dan Matthews (1992) dan > membaca > publikasi dari Hasan (1981), Nagura dkk. (2003) dan Dinkelman dkk. (2008), > ada > beberapa yang pelu saya utarakan > 1. Phillips dkk. (1991) berpendapat bahwa secara stratigrafi economic > basement di daerah Kangean (Northern platform) berumur Kapur dan Formasi > Pra-Ngimbang secara tidak selaras menutupi batuan berumur Kapur tersebut > di > depositional low dan absent di bagian paleohigh-nya. Pada paragraf > sebelumnya > mereka (Phillips dkk.) mengulas sedikit bahwa Formasi Pra-Ngimbang yang > berumur > Paleosen-Eosen. Artinya Formasi Pra-Ngimbang diendapkan setelah terjadinya > collision yang terjadi pada umur Kapur Akhir dan merupakan endapan > Post-Collision (sesuai dengan pernyataan pak Awang). > > 2. Setelah saya membaca Hasan (1991) tentang Formasi Balangbaru, beliau > berpendapat bahwa tektonik setting dari Formasi Balangbaru adalah fore-arc > basin, yang diisi oleh flysch succession yang berumur Kapur Akhir dan > merupakan > klastik sedimen laut. Apabila merunut kepada sedimen yang seumur dengan > Formasi > Pra-Ngimbang berdasarkan Phillips dkk. (1991) maka Formasi Malawa yang > berumur > Paleosen-lah yang sebanding dengan Formasi Pra-Ngimbang. > > Pak Awang dan Purwaningsih (2002) dalam “Geochemistry and Habitat of Oil > and Gas > in the EJB: Regional Evaluation and New Observationâ€� berpendapat bahwa > endapan > pada Tersier dimulai oleh Formasi Pra-Ngimbang yang merupakan sedimen non > marin > yang terutama berkembang di sebelah timur EJB. > > 3. Bransden dan Mathews (1992) berpendapat bahwa sebelum collision > (late > Cretaceous), NEJB adalah fore-arc basin (sama dengan Hasan, 1991), > barangkali > karena kedudukan sebelum Paleogen adalah kerak yang sama. Mereka juga > menulis > dari beberapa sumur ada lapisan berwarna merah dengan posisi stratigrafi > yang > lebih tinggi, tidak terlihat pada penampang seismik dan disebut sebagai > “Formasi > Pra-Ngimbangâ€� yang merupakan pemisah dengan sekuen yang berumur Tersier. > Selain > itu ada beberapa sumur yang menembus komplek akresi di bawah batuan > berumur > Tersier yang disebut sebagai acoustic basement, sedangkan sedimen yang > berlapis > pada umur Kapur akhir merupakan economic basement. Mereka membandingkan > lapisan > yang berumur Kapur akhir dengan Balangbaru Fm di SW Sulawesi yang > diendapkan > secara batimetri pada bathial sampai abisal. > > Pertanyaan saya adalah Formasi Pra-Ngimbang itu sebenarnya berumur apa? > Apakah > Paleosen-Early Eosen menurut Phillips dkk. atau barangkali seumur dengan > Formasi > Balangbaru, namun dalam setting yang berbeda. Formasi Balangbaru > diendapkan pada > fore-arc basin sedangkan Formasi Pra-Ngimbang pada bagian passive > margin-nya > dari mikrokontinen East Java? > > 4. Pada publikasi Nagura dkk. (2003) Abadi field termasuk kedalam > cekungan > Bonaparte yang terbetuk oleh adanya rifting dan continental separation > pada umur > middle Jurassic sampai umur early Cretaceous di sepanjang tepian baratlaut > Australia. Batupasir Formasi Plover yang berumur middle Jurassic merupakan > endapan fluvio-deltaic sampai laut dangkal yang diendapkan pada periode > tektonik pra-rift sampai awal syn-rift. Umur Tersier tersusun dari endapan > drift > phase berupa endapan karbonat paparan yang tebal. > Yang jadi pertanyaan adalah apakah model pengendapan Formasi Pra-Ngimbang > (Paleosen?-Eosen Awal?) sebanding dengan model pengendapan batupasir > Formasi > Plover pada umur middle Jurrasic yang merupakan endapan drift > phase/pre-collision? sedangkan menurut pak Awang Formasi Pra-Ngimbang > adalah > endapan post-collision. > > > Salam, > Jaka > > > > > ________________________________ > From: Awang Satyana <[email protected]> > To: [email protected] > Cc: Eksplorasi BPMIGAS <[email protected]>; IAGI > <[email protected]>; Forum HAGI <[email protected]> > Sent: Thu, January 13, 2011 9:06:07 AM > Subject: Bls: [Geo_unpad] Mohon Info Pra-Ngimbang FM > > > Jaka, > > Publikasi geologi relatif detail tentang pre-Ngimbang sediments sampai > saat ini > tetap berasal dari Phillips et al. (1991) dan Bransden & Matthews (1992), > keduanya ada di Proceedings IPA, bisa dipahami karena para penulisnya > mengerjakan Blok Bali North termasuk Kangean, tempat pre-Ngimbang > sediments > paling banyak dipelajari dan ditembus sumur. > > > Belakangan (2008-2010, Proceedings IPA) ada publikasi-publikasi seismik > dari Jim > Granath dkk (misal Dinkelman et al., 2008). yang pada prinsipnya ingin > menunjukkan bahwa di area sebelah timur Cekungan Jawa Timur ini terdapat > formasi > sedimen di bawah Ngimbang (berupa bedded horizons) yang diinterpretasikan > Granath dkk sebagai sedimen2 Mesozoik yang berasal dari suatu > mikrokontinen di > utara Australia yang lalu berbenturan dengan area Jawa Timur bagian timur > (baca: > bagian tenggara Sundaland) pada saat sekitar Late Cretaceous. Pendapat > Granath > dkk. itu didasarkan kepada data seismik regional terbaru yang disurvey > dengan > teknologi baru yang bisa merekam sampai diskontinuitas Mohorovicic. > > Tetapi, yang ditunjukkan oleh Jim Granath dan kelompoknya sebenarnya > bukanlah > pre-Ngimbang yang dimaksudkan oleh Phillips (1991) dan Bransdens dan > Matthews > (1992) - para penulis pertama tentang pre-Ngimbang. Yang dimaksudkan > dengan > sediments berumur Mesozoic oleh Granath dkk. adalah sedimen-sedimen di > bawah > Crateceous economic basement (lihat Dinkelman, 2008, Proceedings IPA); > sedangkan > pre-Ngimbang sediments by definition Phillips et al (1991) dan Bransdens & > Matthews (1992) adalah sekelompok sedimen di atas Cretaceous economic > basement. > > Sesungguhnya, hal di atas akan menjawab pertanyaan Jaka tentang mana > pre-collision dan post-collision sediments yang akan saya jawab di bawah > ini. > > Pre-Ngimbang sediments adalah sedimen post-collision, mekanisme > pengendapannya > telah dijelaskan dengan baik oleh Bransden & Matthews (1992) yang juga > menghubungkannya secara regional kepada sedimen2 seumur di Sulawesi > Selatan > (Formasi Balangbaru, Kustomo Hasan, 1991, Proceedings IPA). Kesebandingan > dengan > Sulawesi Selatan adalah patut dilakukan sebab antara tepi timur Jawa Timur > dan > bagian barat/selatan Sulawesi merupakan massa kerak yang sama pada awal > Paleogen. > > Maka jawaban saya terhadap pertanyaan: > 1. Pada setting lingkungan pengendapan seperti apa Formasi Pra-Ngimbang > diendapkan (di mikro kontinen)?. - > > ---> Pre-Ngimbang tidak berhubungan dengan fasies apa pun di mikrokontinen > yang > dimaksud. Tetapi kalau interpretasi Jim Granath dkk. benar, maka yang > dimaksudnya adalah bukan pre-Ngimbang, tetapi sedimen yang jauh lebih tua > dari > pre-Ngimbang yang kini berada di bawah top Cretaceous economic basement > (lihat > section di publikasi Dinkelman, 2008). Nah kalau ini, maka pertanyaan Jaka > menjadi valid. Sedimen2 tua di mikrokontinen eastern East Java Sea itu > diendapkan di lingkungan passive margin mikrokontinen Gondwanaland dari > transisi-shallow marine (lihat kesebandingan dengan sedimen2 seperti > Plover di > NW shelf of Australia, lihat publikasi dari Nagura, 2003 -Proceedings IPA > yang > membahas Abadi Field). > > 2. Apakah Pre-Collision bisa diasumsikan sebagai Pre-Rift, dan > Syn-Collision > sebagai Syn-Rift (seperti kasus di Indonesia bagian barat)? > > ---> Terminologi pre-rift, syn-rift, post-rift hanya berlaku untuk > cekungan-cekungan di Indonesia Barat yang berhubungan dengan > tektonostratigrafi > cekungan-cekungan Paleogen relatif terhadap pembukaannya (rifting). Segera > setelah diendapkan pre-Ngimbang pada sebelum mid-Eocene, terjadi perubahan > plate-tectonic setting yang signifikan di Indonesia Barat akibat benturan > India > dengan Eurasia. Efek secara khusus ke East Java adalah terjadinya > perlambatan > konvergensi lempeng yang mengakibatkan gerakan tarikan di back arc area > (roll-back) akibat subduksi yang menjadi curam karena gerak konvergensi > melambat. Tarikan inilah yang membuka rifting2 di East Java termasuk di > bagian > timurnya. Itulah fase rifting. Dan, ini tak berhubungan dengan collision > mikrokontinen yang telah terjadi sebelumnya (sekitar Late Cretaceous). > Maka tak > ada hubungan antara pre-rift dengan pre-collision dan syn-rift dengan > syn-collision. > > Masalah keberadaan mikrokontinen di East Java adalah masalah lain. Dalam > beberapa publikasi (misalnya Satyana, 2003, -Tektonik SE Sundaland, > Proceedings > IAGI-HAGI, Satyana et al., 2004, Tektonik Rembang-Madura-Kangean-Sakala, > Proceedings IAGI), saya menyebutnya sebagai mikrokontinen > Paternoster-Kangean. > Memang di timur dan timurlaut Jawa Timur ada mikrokontinen itu yang erat > berasoasiai dengan fasies daratan dan kontinen (secara geokimia, > minyak/kondensat Pagerungan lebih berfasies daratan daripada minyak2 di > area > Jawa Timur lebih barat; lihat publikasi saya Satyana & Purwaningsih, 2002 > -Proceedings IAGI; Satyana & Purwaningsih, 2003, Proceedings IPA). > Belakangan > ada beberapa publikasi terbaru tentang mikrokontinen ini (misalnya group > Jim > Granath, Robert Hall, TGS seismic, dll.). Mikrokontinen itu ada, hanya > outline-nya yang harus kita diskusikan lagi. > > Saran saya, silakan cermati lagi publikasi2 dari Phillips et al. (1991), > Bransden dan Matthews (1992), Granath et. al & Dinkelman et al. > (2008-2010), > semuanya di Proceedings IPA, untuk memahami hubungan antara Pre-Ngimbang > sediments; mikrokontinen, dan sediments yang lebih tua di dalam > mikro-kontinen. > Publikasi2 itu akan menjawab pertanyaan. > > Salam, > Awang > --- Pada Rab, 12/1/11, Jaka <[email protected]> menulis: > > >>Dari: Jaka <[email protected]> >>Judul: [Geo_unpad] Mohon Info Pra-Ngimbang FM >>Kepada: [email protected] >>Cc: [email protected] >>Tanggal: Rabu, 12 Januari, 2011, 3:52 PM >> >> >> >>Akang, Teteh dan Netter GeoUnpad Ysh, >> >>Saya sedang mengerjakan tugas kuliah saya tentang NEJB (North East Java >> Basin), >>kebetulan ada beberapa hal yang belum saya mengerti terkait Formasi >> Pra-Ngimbang >>khususnya tectono-stratigrafi nya, Saya coba mencari reference ke >> beberapa >>prosiding (IPA, IAGI, dll.), namun sangat tebatas yang betul-betul >> membahas >>tentang Formasi Pra-Ngimbang ini. >>Seperti sudah kita ketahui banyak penulis seperti Bransden dan >> Matthews(1992), >>Sribudiyani dkk. (2003), Satyana dan Purwaningsih (2003) menyebutkan >> bahwa NEJB >>dulunya merupakan mikro kontinen yang detached atau lepas dari Godwana, >>drifting, docking dan collision dengan Sunda shield. Proses-proses >> tersebut >>menjadikan NEJB bertransformasi di Fore-Arc Basin menjadi Back-Arc >> (Bransden dan >>Matthew, 1992), ada yang menyebutkan dari Oceanic Basin menjadi Back-Arc >>(Satyana dan Purwaningsih, 2003) dan Rift Basin(?) atau Foreland Basin >> menjadi >>Back-Arc (Purwaningsih dkk., 2003) dan terjadi kurang lebih pada umur >> Kapur >>Akhir sampai Miosen Awal (Sribudiyani dkk., 2003). Kemudian beberapa >> penulis >>seperti; >> >>Phillips dkk. (1991) berpendapat bahwa Formasi Pra-Ngimbang berumur >> Paleosen >>sampai Eosen Tengah. >> >>Satyana dan Purwaningsih (2002) berpendapat bahwa endapan pada Tersier >> dimulai >>oleh Formasi Pra-Ngimbang yang merupakan sedimen non marin. >> >> >>Sribudiyani dkk. (2003) berpendapat bahwa pada umur Kapur Akhir – Eosen >> terdapat >>kontinen paleohigh yang merupakan sumber sedimen bagi Formasi >> Pra-Ngimbang, >>berdasarkan data terbatas yang ditemukan dari beberapa sumur diketahui >> bahwa >>Formasi Pra-Ngimbang diendapkan pada pola struktur berarah barat – >> timur atau >>pola Sakala. >> >> >>Dapat saya simpulkan bahwa Formasi Pra-Ngimbang merupakan endapan >> Pre-Collision >>mikro kontinen dan mulai terbentuk sebelum mikro kontinen tersebut >> mengalami >>collision dan keatasnya adalah Formasi Ngimbang merupakan endapan >> Syn-Collision, >>yang jadi pertanyaan saya adalah >> >>1. Pada setting lingkungan pengendapan seperti apa Formasi Pra-Ngimbang >>diendapkan (di mikro kontinen)?. >> >> >>2. Apakah Pre-Collision bisa diasumsikan sebagai Pre-Rift, dan >> Syn-Collision >>sebagai Syn-Rift (seperti kasus di Indonesia bagian barat)? >> >> >> >>Sekian dulu pertanyaan dari saya, sekiranya Akang, Teteh dan Netter >> Geounpad >>punya reference yang membahas detail mengenai Formasi Pra-Ngimbang mohon >> untuk >>sharing >> >>Salam, >>Jaka >> >> > > __._,_.___ > Reply to sender | Reply to group | Reply via web post | Start a New Topic > Messages in this topic (2) > > Recent Activity: > Visit Your Group > Please Visit Our Website @ http://geounpad.ac.id/ > and Our Forum @ http://forum.geounpad.ac.id/ > > > Moderators: > Budhi Setiawan '91 <[email protected]> > Edi Suwandi Utoro '92 <[email protected]> > Sandiaji '94 <[email protected]> > Wanasherpa '97 <[email protected]> > Satya '2000 <[email protected]> > Andri'2004 <[email protected]> > > Switch to: Text-Only, Daily Digest • Unsubscribe • Terms of Use > . > > __,_._,___ > > > -- _______________________________________________ Nganyerikeun hate batur hirupna mo bisa campur, ngangeunahkeun hate jalma hirupna pada ngupama , Elmu tungtut dunya siar Ibadah kudu lakonan. -------------------------------------------------------------------------------- PP-IAGI 2008-2011: ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro... -------------------------------------------------------------------------------- Ayo siapkan diri....!!!!! Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 22-25 November 2010 ----------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ---------------------------------------------------------------------

