Mohon maaf sebelumnya, mungkin tidak nyambung dengan topik yang dilontarkan, 
namun saya pernah baca di AAPG Memoir (saya lupa nomer berapa) mengenai 
segregasi hydrocarbon akibat aktivitas mikroba yang terbawa oleh air 
formasi yang kontak dengan HC di reservoir.
Sederhananya mikroba tersebut memakan fraksi ringan dari HC sehingga terdapat 
HC dengan beberapa jenis degree of API. Apakah mungkin mikroba memakan fraksi 
ringan hingga terjadi akumulasi fraksi berat dari HC seperti Tar ? kalau bisa 
maka cukup logis bila kehadiran tar mat pada lapangan pak Anto tidak harus 
berasosiasi dengan fault dan multiple migration.
 
Salam
MD

--- On Tue, 2/22/11, anto sugiharto <[email protected]> wrote:


From: anto sugiharto <[email protected]>
Subject: Re: [iagi-net-l] Bitumen Modeling di Carbonate
To: [email protected]
Date: Tuesday, February 22, 2011, 10:57 AM




Mas Kartiko,
Terima kasih atas penjelasan awalnya.
Saya tambahkan informasi lain dibawah...
Field saya ada di offshore Arabian Platform (di kampung rantau..he2).
Kebetulan tdk ada bitumen sand diatasnya, tp merupakan seri reservoir karbonat 
yang intervening dgn anhidrite layers at top of each cycle. 
Lapisan penutupnya (caprock) adalah widespread anhidrite yg sangat tebal.
SR-nya ada di sikuen paling bawah berupa lime-mudstone/marl dan bitumen hadir 
hanya pd carbonat res yg berada diatas formasi SR ini.
Reservoir terbentuk pada fase tektonik setting yg relatif stabil terbukti dgn 
sedimentasi carbonate "layercake" pd regional scale. 
Namun through the time terjadi salt diapirisme (non piercement) dari older 
ages yg kemudian membentuk struktur2 circular (domal) sbg HC traps.  
Sejauh ini observasi saya, bitumen mengisi rocktype paling 
porous&permeable terjadi saat biodegradasi oil dgn kontrol gravity ketika 
migrasi awal.
"Lucunya" si tar mat ini muncul juga di gas cap reservoir di lapangan 
lain sebelahnya.
"Hipotesa" lainnya, krn bitumen tdk berasosiasi dgn major fault jd tdk menutup 
kemungkinan ada "fracture swarm" under seismic resolution sbg poro conduit 
yg connected vertically dgn SR .
Adanya "fracture porosity" ini dipakai utk menjelaskan distribusi yg 
random (tapi musti saya cek jg dgn seismic attributes). 
Kedua hipotesa saya diatas jelas tdk terkait antara genesa (geokimia) dan 
distribusinya, jd rasa2nya blm mendukung utk jadi "model". 
GR tdk applicable krn susah membedakan limestone vs dolomite/dololmst kecuali 
thd salt/anhidrite, ini pun dibantu dg RHOB, DT, PEF. 
 
Nerusin nanya lagi...:)
Tertarik dgn "disolusi" yg disebutkan, vuggy/dual porosity memang ada, apakah 
berarti si bitumen bs terakumulasi syn-genetic dgn dolomitisasi ?

Dua tipe API oil yg kontras (9 dan 36 deg) ada dalam satu fluid column di 
reservoir, apakah bs berkorelasi dgn perbedaan SR juga ?  
 
Terima Kasih,
Salam,
 
Pada 22 Februari 2011 12:41, kartiko samodro <[email protected]> 
menulis:


Mas Anto 
 
Boleh tahu di mana lokasi field anda ? 
Umumnya bitumen di karbonat berasosiasi dengan endapan bitumen sand diatasnya 
yang jumlahnya cukup besar , bisa berupa karbonate yang miring, tererosi 
dan kemudian diendapkan sand tebal di atasnya yang kemudian karena proses 
leaching menjadi bitumen. Mungkin bisa dicek regional geologinya apakah ada 
reservoir sand yang memiliki bitumen juga yang berasosiasi dengan carbonate 
tersebut.
Biasanya bitumen tersebut masuk ke dalam karbonat melalui proses karst karst 
atau disolution yang terbentuk jadi wajar kalau penyebarannya jadi random 
kecuali anda punya attribute seismic yang bisa menunjukkan lokasi lokasi 
karst/disolutionnya. 
Dari log bisa dicek melalui grnya , terutama di top karbonatnya.
 
Kemudian bitumen yang berasosiasi dengan light oil ? , kalau memang itu bitumen 
dan berasosiasi dengan light oil..ada kemungkinan bahwa ada source hc lain yang 
berbeda  (mungkin tektonik settingnya berubah sehingga source rocknya berubah )
mungkin bisa dicek melalui geokimianya ( mungkin Pak Awang bisa membantu ?)
 
Untuk identifikasi anda bisa lihat semua logs yang anda punya, bandingkan 
apakah di daerah yang memiliki bitumen memiliki log respon yang berbeda dengan 
daerah yang tidak memiliki bitumen...dari situ baru bisa ditarik kesimpulan 
kira kira parameter apa yang bisa digunakan untuk membedakannya.
 
Untuk modeling juga tergantung seberapa data yang anda punya, bagaimana sistem 
geology, sedimentology, penyebaran karbonate serta karstnya dan 
sedeterministik / sedetail apa anda mau membuat modelnya dsb.
 
Akurasi well result dan model juga sangat tergantung dengan pengetahuan dan 
pemahaman anda terhadap lapangan tersebut pada saat anda membuat modelnya yang 
akan mempengaruhi akurasi well dengan model anda.
 
salam
 
kartiko

2011/2/16 anto sugiharto <[email protected]> 






Rekan2 IAGI ysh,
Adakah diantara rekan2 yg mengetahui atau pernah mengerjakan 3D modeling 
utk bitumen (tar-mat) yg berasosiasi dgn light oil di complex carbonate 
reservoir.
Sekedar informasi, core utk data bitumen yg kami miliki hanya dari sejumlah 
sumur lama (tua) sedangkan interpretasi dari logs masih blm valid dan dianggap 
sbg data sekunder saja. 
Lalu jika data bitumen corenya di plot di peta terlihat distribusinya random 
dan tdk menunjukan korelasi geologi yg jelas baik thd profil dan pola struktur 
ataupun dgn RRT/ facies trend. 
 
Mohon sharing pengalaman dlm melakukan "best practice" modeling utk subsurface 
bitumen di carbonate tsb : 
1. Kira2 gimana ya sejarah HC migrasinya sehingga bisa terjadi 
"lokal" bitumen di dalam light oil column (baik yg di crest structure atau yg 
berdekatan dgn FWL) ?
2. Adakah metode lain utk meng-investigasi kehadiran si tarmat selain lewat 
core/cutting, logs : Rt/Rxo? mudlogging chromatography ? other?
3. Dengan availability data yg minimum, metode mana yg sebaiknya dipakai 
utk melakukan populasi data di model : object modeling atau indicator 
simulation (SIS), other?
4. Manakah constraint terbaik utk extrapolasi cored well data tsb ke seluruh 
field structure baik lateral maupun vertikal:  NTG, RockType, or seismic AI 
(?), other ?
5. Bagaimana dgn akurasi dari prediksi (model) vs hasil aktual (new well 
drilling data), jikalau punya real case nya ?
 
Terima Kasih sebelumnya,
 
Tabik, 
Anto S




      

Kirim email ke