Ikut nimbrung nih, karena sudah disebutkan oleh mentor saya di bidang overpressure, Mas Noor. Lateral compression (tektonik) secara umum akan menyebabkan overpressure dengan proses yang sama seperti vertical compression (sedimentation). Sedimen akan berusaha untuk kompak (compaction) jika diberikan lateral compression atau vertical compression. Jika sedimen tersebut tidak bisa kompak, karena air yang ada dalam sedimen tersebut tidak bisa keluar, maka yang terjadi adalah overpressure. Bisa disebutkan bahwa lateral compression ini adalah kelanjutan dari teori kompaksi yang biasanya 1-D. Dengan adanya lateral compression ini, kita mau tidak mau dipaksa untuk menganalisis kompaksi secara 3-D. Untuk mengetahui berapa besar overpressure yang diakibatkan oleh penambahan lateral compression, Mba Vita bisa membaca literatur ini: van Ruth, P., Hillis, R., Tingate, P., and Swarbrick, R., 2003. The origin of overpressure in 'old' sedimentary basins: an example from the Cooper Basin, Australia. Geofluids 3. Secara umum, hal yang cukup sulit untuk mengestimasi berapa besar overpressure yang diakibatkan oleh lateral compression adalah menghitung/mengestimasi berapa besar maximum horizontal stress yang diakibatkan oleh lateral compression tersebut. Kalau minimum horizontal stress mungkin bisa diestimasi dari data LOT. Kawan-kawan yang biasa menganalisis rock mechanics dari wellbore mungkin bisa membantu mengestimasi besarnya maximum horizontal stress ini. Setelah maximum horizontal stress bisa diestimasi, prosedur seperti yang dilakukan van Ruth dkk. mungkin bisa diaplikasikan di daerah Mba Vita. Overpressuring di Kutai Basin memang sangat menarik. Karakteristiknya sangat berbeda antara daerah onshore, shelf, dan mungkin deep water. Untuk daerah deep water, saya belum pernah melihat datanya. Di onshore, overpressure mungkin terpengaruh oleh pengangkatan, erosi, dan overpressure bleed-off. Di daerah shelf, pengangkatan dan erosi mungkin tidak terlalu berpengaruh, tapi (mungkin) sedimentation dan overpressure bleed-off berpengaruh. Menjadi lebih komplikasi lagi karena di kedua daerah tersebut terdapat pengaruh hydrocarbon (gas) generation dan clay diagenesis (misal: smectite – illite conversion) terhadap pembentukan overpressure.
Untuk deep water: dari geologi regional diketahui bahwa reservoirnya ‘confined’ diantara shale yang cukup tebal. Hal ini mengakibatkan kecil kemungkinan terjadinya overpressure bleed-off. Erosi dan pengangkatan juga mungkin kecil pengaruhnya. Dengan demikian, mungkin overpressure di daerah deep water adalah ‘virgin’ overpressure. Artinya, selain faktor-faktor primer penyebab overpressure seperti sedimentation, (mungkin) lateral compression, clay diagenesis, dan (mungkin) gas generation, tidak ada faktor-faktor sekunder yang mempengaruhi overpressure seperti pengangkatan, erosi, dan overpressure bleed off. Saya belum pernah melihat data overpressure dari deep water Kutai Basin, dan akan menjadi barang mewah sekali jika saya berkesempatan melihat dan menganalisis data dari deep water ini. Mungkin kita menulis paper bareng dari deep water Kutai ini, Mba? Di bawah ini adalah list literatur yang membahas mengenai overpressure di Cekungan Kutai: · Bates, J. A., 1996, Overpressuring in the Kutai Basin: distribution, origins, and implications for the petroleum system:Indonesian Petroleum Association, Proceedings 25th Annual Convention, p. 93-115. · Bois, M., Y. Grosjean, and L. de Pazzis, 1994, Shale compaction and abnormal pressure evaluation application to the offshore Mahakam:Indonesian Petroleum Association, Proceedings 23rd Annual Convention, p. 245-259. · Burrus, J., 1998, Overpressure models for clastic rocks, their relation to hydrocarbon expulsion: a critical reevaluation, in B. E. Law, G. F. Ulmishek, and V. I. Slavin, eds., Abnormal pressures in hydrocarbon environments: AAPG Memoir 70, p. 35-63. · Gautama, A.B., 1989, Abnormal pressure behaviour with special emphasis on transition zone, Handil Field, East Kalimantan: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Proceedings 18th Annual Meeting, p. 135-159. · Ramdhan, A.M., and N.R. Goulty, 2010, Overpressure generating mechanisms in the Peciko Field, Lower Kutai Basin, Indonesia: Petroleum Geoscience, v. 16, p. 367-376. · Ramdhan, A.M., and N.R. Goulty, 2011, Overpressure and shale compaction in the Lower Kutai Basin, Indonesia – a radical reappraisal, AAPG Bulletin, in press. Salam, Agus M. Ramdhan ________________________________ From: noor syarifuddin <[email protected]> To: [email protected] Sent: Wed, March 2, 2011 7:54:45 AM Subject: Re: [iagi-net-l] Over pressuring di toe thrust area VIta, Pertanyaanya rada misleading, karena besarnya overpressure tidak hanya ditentukan oleh (regional) geological settingnya thok tapi juga oleh komponen lain: misalnya berapa tinggi tutupan/ closurenya. Sumur di puncak struktur akan punya OVP lebih besar dibanidng dengan yang di flank karena ada efek pengapungan HC (buoyancy). Jadi untuk tahu berapa ppg besar OVP-nya itu harus jelas posisi sumurnya di mana dengan tinggi tutupan berapa dst. Kalau pertanyaan kamu berkaitan dengan rencana pemboran, standarnya harus dilakukan PPP (pore pressure prediction) di lokasi yang akan dipilih. Data yang digunakan bisa dari seismik serta log data (pressure, sonic, density) dan data pemboran (LOT dll) dari sumur sekitar lokasi. Berdasar hasil PPP, maka design casing serta strategi ngebornya bisa dibuat. Secara general ke arah timur (di Kutei) OVPnya bukan semakin kecil, tapi semakin dangkal kedalamannya. Ini berkaitan dengan proses progradasi dari Mahakam delta itu sendiri. Ada beberapa paper di IPA (a/l John Bates) yang membahas soal OVP di Kutei. Kalau perlu konsultan lokal, di ITB ada PhD baru yang punya spesialisasi di bidang ini (Agus Ramdhan). Mudah-mudahan membantu (atau malah tambah bingung...:-) salam, NSy ________________________________ From: Parvita Siregar <[email protected]> To: [email protected] Sent: Tue, March 1, 2011 5:04:03 PM Subject: [iagi-net-l] Over pressuring di toe thrust area Rekans, Saya mau buka diskusi nih, yang rada ngegeologi. Untuk di wilayah yang under compression, dalam hal ini karena toe thrusting, semestinya overpressuring itu sangat wajar ya. Yang saya ingin tanyakan, apakah ada yang tahu sebesar apakah overpressuring di Kutai Basin untuk toe thrust zone? Berapa ppg untuk di L. Miocene? Apakah semakin muda (ke timur) semakin lebih kecil overpressurenya? Moga2 tidak ada yang confidential yang bisa dishare ya. Tabik, Parvita

