Ferdi dkk.,
 
Sambil menunggu tanggapan dari rekan2 lain, berikut ini beberapa tanggapan saya.
 
1. Rugositas (kasar halusnya) kerak samudera (oceanic slab) akan berpengaruh 
kepada konvergensi saat lempeng samudera ini menunjam/subduksi di bawah lempeng 
benua. Karena konvergensi-subduksi itu ibarat lempeng samudera berjalan di 
conveyor belt dan harus menunjam di bawah lempeng benua maka permukaan oceanic 
slab yang kasar yang dipenuhi dengan oceanic plateaux, rises, ridges, sea 
mounts dll maka akan mengganggu proses subduksi tersebut dibandingkan bila 
kerak mulus yang masuk menunjam di bawah benua. Hal ini akan berpengaruh kepada 
apa yang pernah diperdebatkan orang tentang continuous subduction atau halted 
subduction. Bila struktur2 positif (menonjol) di atas kerak samudera ini akan 
masuk ke dalam jalur palung, maka pasti akan terjadi perlambatan sesaat (dalam 
waktu geologi) dibandingkan bila kerak mulus yang masuk. Nah, perlambatan 
sesaat ini yang oleh penganut halted subduction dianggap mekanismenya. Apakah 
yang terjadi continuous subduction  atau
 halted subduction barangkali bisa dicek di jalur volkanisme yang 
dihasilkannya, apakah juga membentuk jalur2 volcanic arc yang umurnya 
continuous atau beberapa periode yang diselingi masa istirahat. 
 
Dalam hubungan dengan seismisitas (kegempaan) saya pikir frekuensi meninggi dan 
meningkatnya intensitas gempa tak langsung berhubungan dengan rogositas oceanic 
slab ini. Kebanyakan gempa di area konvegensi adalah overriding plate EQ atau 
gempa yang tejadi di lempeng benua atau akresinya, atau paling dalam di area 
intercept antara oceanic slab dan kerak benua; sehingga rogositas kerak 
samudera tak langsung terkait kepadanya. Tetapi hubungan ini bisa diuji dengan 
melihat rogositas oceanic slab di area2 dekat hiposentrum/fokus gempa yang 
terjadi. Tetapi bahwa struktur2 positif yang terkonvergensi akan menyebabkan 
seismic gap zone lalu nanti setelah release akan diikuti oleh gempa besar saya 
pikir masuk ke dalam logika. Bila ada seamount atau oceanic plateau/rise masuk 
ke dalam zona subduksi, logis saja akan melambatkan proses subduksi untuk 
sementara. Saat itulah energi potensial terbangun, dan ekspresinya tak ada 
gempa untuk beberapa periode;  tetapi saat
 semua ketahanan batuan terlampaui, maka akan terjadi release pressure dan 
perubahan energi potensial menjadi kinetik yang manifestasinya berupa gempa 
besar.
 
Sebagai catatan saja, kerak samudera yang kini masuk ke bawah area 
Nias-Mentawai dan sekitarnya adalah  struktur positif Wharton extinct MOR dan 
fracture/transform zone-nya bernama Investigator Ridge (Malod & Kemal, 1996 - 
Geol Soc Spec Publ. 106, p. 20). Keseringan gempa dan magnitudenya yang besar 
di area Nias-Mentawai apakah berhubungan dengan struktur2 positif oceanic slab  
yang menunjam di sebelah barat Nias-Mentawai ini atau tidak, dapat diselidiki 
lebih jauh.
 
Di sebelah selatan Jawa terdapat kompleks oceanic rises/plateaux yang cukup 
besar bernama Roo Rises (yang dilingkari Ferdi). Secara logika dan berasumsi 
bila konvergensi lempeng samudera tetap ke arah utara ke bawah Jawa, maka kelak 
dalam periode geologi (yang bisa dihitung) semua Roo Rises ini akan menunjam di 
selatan Jawa. Tentu saat itu akan terjadi perlambatan subduksi bahkan mungkin 
menghentikannya sementara karena kesulitan menunjamkan semua struktur positif 
ini. Mekanisme hubungan kegempaan ya seperti yang tadi. Saat subduksi 
diperlambat atau terhenti akan terbentuk energi potensial yang semakin lama 
semakin besar; yang lalu bila sudah melebihi kapasitas resistansi, akan menjadi 
energi kinetik berupa gempa yang besar.
 
2. Pertanyaan ini sebenarnya berhubungan dengan oceanic slab EQ atau gempa yang 
berpusat dari kerak samudera yang menunjam di bawah benua. Ini pun dalam 
pendapat saya tak langsung berhubungan ke intensitas besaran gempa bila gempa 
itu gempa di kerak benua atau akresinya (overriding plate). Semakin jauh dari 
MOR, kerak samudera akan semakin tua dan berat. Semakin tua dan berat, kerak 
samudera pun akan semakin rigid; sehingga saat berkonvergensi akan membentuk 
sudut tekukan penunjaman (Wadati-Benioff) yang curam dibandingkan kerak 
samudera yang muda. Bila itu menyangkut slab EQ, maka logis saja kalau kerak 
samudera yang semakin jauh dari MOR-nya akan semakin banyak menjadi pusat gempa 
sebab gempa yang disebabkan patahan batuan akan lebih mudah terbentuk di kerak 
samudera yang rigid daripada yang plastis berdasarkan mekanika batuan. 
Sementara kerak samudera yang masih semi-rigid atau plastis atau semi-plastis, 
dekat dengan MOR lebih jarang terpatahkan 
 sehingga tak sering menjadi pusat gempa. Dalam hubungan dengan gempa2 
overriding plate, yang bila disebabkan tekanan konvergensi antara kerak 
samudera vs kerak benua, maka kerak samudera yang rigid, berat dan tua secara 
logika mekanika batuan pun akan memberikan tekanan yang lebih kuat dibandingkan 
dengan kerak samudera yang lebih muda, yang semi-rigid, semi-plastis dan 
relatif buoyant.
 
3. Arah pergerakan (slip vector) lempeng samudera Hindia saat ini di 
selatan/barat Sumatra dan selatan Jawa secara umum adalah 003 deg NE 
(McCaffrey, 1991, Geology, 19, p. 881). Maka berdasarkan posisi Pulau Sumatra 
yang sekitar BL-Tenggara dan Jawa yang arahnya sekitar B-T, maka arah 
subduksinya masing-masing menjadi oblique di sebelah selatan/barat Sumatra dan 
normal/tegal lurus di sebelah selatan Jawa. Di sebelah selatan Sumatra terdapat 
Wharton extinct spreading axis dan fracture (transform) zones-nya yang sebagian 
berupa struktur2 positif yang siap masuk dan sebagian sudah masuk ke zona 
subduksi Sumatra. Agak jauh ke barat terdapat ridge yang besar bernama Ninety 
East Ridge (karena terletak di sekitar 90 deg east longitude) yang tak akan 
masuk ke Palung Sumatra, tetapi dalam sejarah tektonik di kawasan ini 
kelihatannya ridge yang besar ini telah memainkan peranan penting dalam 
penekukan belokan tajam pegunungan (orocline, syntaxis) di daratan
 antara India dan Myanmar. Di selatan Jawa, seperti yang sudah ditulis pada 
butir 1 di atas terdapat kompleks Roo Rises yang nanti akan masuk Palung Jawa. 
Berdasarkan asumsi kecepatan konvergensi yang konstan (yang bisa diturunkan 
dari pengukuran time-lapse GPS survey), maka tentu saja kita bisa hitung kapan 
Wharton extinct MOR masuk ke Palung Sumatra dan kapan Roo Rises masuk ke Palung 
Jawa.
 
Bila kita menggunakan kecepatan konvergensi sebesar 75 mm per year (McCaffrey, 
1996, Geol Soc Spec Publ, 106, p. 7) untuk konvergensi tersebut maka bisa 
dihitung bahwa tak sampai 6,6 juta tahun lagi semua Roo Rise telah sampai ke 
Palung Jawa dan siap memperlambat atau bahkan menghentikan subduksi. Rise yang 
paling utara akan masuk sekitar 1 juta tahun lagi dari sekarang - hanya 
hitungan kasar.

Kemudian, dari Sumatra ke arah Jawa pun umur kerak samudera semakin tua, dari 
sekitar 32-130 juta tahun (Hayes, 1978, geophysical atlas East and SE Asia, 
Geol Soc America), maka akan berlaku seperti yang saya tulis di butir no. 2 di 
atas.

Demikian beberapa pendapat, semoga bisa dilengkapi atau dikoreksi oleh rekan2 
lain.

salam,
Awang
 

--- Pada Sel, 26/4/11, kartiko samodro <[email protected]> menulis:


Dari: kartiko samodro <[email protected]>
Judul: [iagi-net-l] hubungan antara permukaan kerak samudra dan aktivitas gempa
Kepada: [email protected]
Tanggal: Selasa, 26 April, 2011, 9:50 AM



Salam Rekan 
 
Saya hendak menanyakan kepada rekan rekan yang berkecimpung dalam prediksi 
gempa di indonesia,
 
1. Apakah ada hubungan antara bentuk permukaan kerak samudra dengan banyaknya 
aktivitas gempa/tsunami  yang terjadi di suatu daerah ? mis : kalau kerak 
samudranya yang bergerak ke arah palung subduksi kasar dan benjol benjol maka 
akan menambah intensitas dan besarnya gempa.
2.Apakah ada hubungan antara jarak zona subduksi dan mid oceanic ridge terhadap 
intensitas besaran gempa ? , misalnya kalau jarak mor dan palungnya cukup jauh 
maka kerak samudra akan mengalami proses pembekuan yang lebih lama sehingga 
untuk masuk ke bawah kerak benua menimbulkan benturan yang lebih besar 
dibandingkan dengan kerak samudra yang dekat dengan mornya.
3. Pada gambar yang saya sertakan , bagaimana arah pergerakan lempeng samudra 
terhadap pulau jawa dan sumatra apakah berarah W --> E, SW-->NE,  S-->N ,atau 
tidak menentu ?
Dari arah pergerakan tersebut dan bentuk permukaan kerak samudranya yang 
bergerak ke arah palung, apakah kita bisa perkirakan bahwa utara sumatra dan 
selatan jawa  akan segera mengalami gempa yang cukup besar ? ( permukaan 
kekasaran samudra yang saya beri garis putus putus ) dan apakah kita bisa 
prediksi kapan terjadinya bila kita mengetahui kecepatan pergerakan kerak 
samudra tersebut ?
 
Terima kasih atas sharingnya.
--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
Ayo siapkan diri....!!!!!
Hadirilah Joint Convention Makassar (JCM), HAGI-IAGI, Sulawesi, 26-29
September 2011
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit
 IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting
 from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the 
use of any information posted on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
Ayo siapkan diri....!!!!!
Hadirilah Joint Convention Makassar (JCM), HAGI-IAGI, Sulawesi, 26-29
September 2011
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke