'Bang .. Apa ada manfaatnya dipos komen ini di iagi net?...

Btw salut untuk endurance&kesabarannya dan ...lanjutkan.. 

Sanggam Hutabarat
Si penonton Lusi dr jauh 

On May 30, 2011, at 10:15, "Bambang P. Istadi" <[email protected]> 
wrote:

Cak Yayang yang juga saya kagumi dan hormati serta Abah, pak Chairul Nas, kang 
Yudi dan rekan2 sekalian,… saya terima pesan melalui bbm dari pak Sukendar,…

 

“Àšïκïη  ŞυκëηϑαЯ: Ass Beng, saya heran membaca komentar-2 tentang simposium. 
Intinya saya ingin tahu kenapa mereka tidak menyenangi Lapindo? Apakah karena 
ingin jadi spahlawan, iri atau seneng kalau Lapindo dihukum dan bangkrut? Terus 
terang ada beberapa komentar yg secara tidak langsung diarahkan ke saya. Saya 
agak tersinggung karena keterlibatan saya dg Lapindo tidak ada niatan macam-2, 
apalagi komersial. Kemudian saya seakan-akan dikadalin/dimanfaatkan oleh TVONE. 
Padahal saya tidak punya niatan apa-2, apalagi pingin beken atau jadi pahlawan. 
Saya melihat bahwa hanya melalui media mungkin saya bisa menyampaikan pikiran-2 
saya. Saya tidak peduli apa Antv, Tvri atau Metro dsb saya pasti akan konsekuen 
dg penapat saya. Terus terang komentar-2 itu tidak fair dan didasari pada 
sentimen thd Lapindo

Àšïκïη  ŞυκëηϑαЯ: Saya bukan orang Lapindo, saya tidak menerima gaji dri 
Lapindo. Kenapa harus saya bela. Saya membela Science”

 

 

Wass,

Bambang

 

 

From: Andang Bachtiar [mailto:[email protected]] 
Sent: Monday, May 30, 2011 9:56 AM
To: [email protected]
Subject: RE: [iagi-net-l] Andang Protes

 

Beng, ma broer, yang saya kagumi,…

 

Saya juga tergelitik atas persepsi bahwa tidak bisa hadir dan memprotes itu 
dianggap tidak akrab dan tidak biasa2 saja. Minimal, Awang, dirimu, dan mas 
Pras BPLS yang dalam mengomentari berita2 seputar perbedaan konsep itu mencoba 
memberikan ilustrasi betapa rukunnya pihak2 bule yang berseberangan pendapat 
dalam sarapan pagi minum kopi dan situasi sehari-hari, seolah-olah kita-kita 
yang orang Indonesia ini tidak bisa minum2 kopi sama2 dan berdiskusi dengan 
ramah tamah. Memang akan sangat berbeda kalau dibandingkan dengan suasana 
sidang PSSI atau (mungkin) di DPR yang dari mulut2 mereka keluar kata2 tidak 
pantas dsb, tapi sejauh perasaan dan pengetahuan saya aku, dirimu, Soffian, 
Agus Guntoro, Edy Sunardi, Prof Sukendar, dll pihak yang berseberangan 
pendapat: kita semua tidak pernah punya masalah pribadi apapun juga. Ingat: 
ditahun 2006-2007 kita selalu mengadakan pertemuan informal membahas Lumpur 
Lapindo ini berkalikali dalam suasana yang saling
 membangun. Bahkan sampai sekarang. Ungkapan protes itu bukan ke pribdai dan 
sama sekali tidak menyinggung integritas keilmuan masing2, tapi ke panitia 
pelaksana. Jangan salah tangkap, broer. Juga isitilah kadal mengkadali (saya 
menyambut celetukan Prof RPK soal kadal mengkadal-i),..itu semua sama sekali 
tidak terkait dengan pribadi-pribadi saintis yang menghadiri atau tidak 
menghadiri symposium. Itu merujuk pada strategi media dan korporasi yang 
tingkatannya sudah diatas tingkatan pembahasan saintifik. Bagaimana media dan 
korporasi tertentu mencoba untuk mengkooptasi pemikiran dan memotong-motong 
komentar pihak2 saintis yang saling berbeda pendapat untuk kepentingan kampanye 
media dan korporasi tsb: itulah yang dimaksud dengan istilah kadal-mengkadal-I 
oleh Prof RPK. Istilah itu tidak ditujukan ke saintis yang bersama2 kita masih 
bisa minum kopi dan sarapan dan gowes bersama. Mudah2an klarifikasi ini bukan 
malah dianggap bagian dari aleniasi perkawanan
 kita semua selama ini.

 

Salam

ADB

 

Arema, geologist juga! temennya bambang bpi, tapi sebrangan pendapat soal 
Lumpur lapindo!

 

From: Bambang P. Istadi [mailto:[email protected]] 
Sent: Monday, May 30, 2011 9:24 AM
To: [email protected]
Subject: RE: [iagi-net-l] Andang Protes

 

Rekan2 sekalian yang saya hormati,..

 

Ada pertanyaan mengelitik dari salah satu wartawan pada sesi tanya jawab 
symposium kepada Richard Davies,… Kenapa anda terlihat begitu akrab dan biasa2 
aja dengan Adriano Mazzini, padahal pendapat kalian bersebrangan,.. begitu 
kira2 pertanyaan wartawan,..  saya jadi berfikir, mungkin  orang asing lebih 
dewasa dalam menyikapi perbedaan. Disisi lain kita org Indonesia sekalipun yg 
kita anggap kaum intelektual belum bisa menyikapi perbedaan sebagai Anugerah, 
yang tidak sependapat, berseberangan dan berpendapat lain dianggap sebagai 
kadal dan mengkadali. Kalau saja datang pada simposium yang heboh itu mungkin 
akan berpandangan lain. Dengan berbagai kekurangan pada symposium tsb, yang 
saya lihat Richard Davies yang selama ini diangap sebagai “suhu” mewakili 
kelompok Drilling blowout, walaupun para pendukungnya tidak datang, tapi tetap 
jadi bintang tamu symposium, jadi pembicara pertama, sama halnya dengan keynote 
speaker, yang pertama dan selalu
 dikerubungi oleh wartawan.

 

Pada pertanyaan wartawan lain soal penyebab, dia menjawab sudah dipaparkan 
dalam paper pertamanya, lalu karena dikritik ada yang salah, diperbaiki dengan 
data2 drilling dan dipublish dipaper kedua. Mungkin motto-nya Gak masalah ada 
kesalahan, yang penting jadi orang pertama yang publish soal Lusi. Saya jadi 
teringat AAPG Cape Town Afsel, dimana Davies menghadirkan Lusiaga salah seorang 
pendukungnya yang dengan antusias mengungkapkan Fakta 'terbaru' adanya “sudden 
pressure drop” penurunan tekanan secara tiba2 di drill pipe dan diartikan 
terjadi bocornya sumur dan breach kepermukaan (lihat paper Davies et al 2010).  
Namun asumsi tsb tidak di support oleh data lain. Dari drilling report terlihat 
bahwa sengaja dilakukan 'bleed off' ini karena operasi berikutnya adalah 
pemompaan 'soaking fluid' (lihat paper Sawolo et al 2010). Terlihat disini 
Davies dan Lusiaga membuat hypothesa berdasarkan 'cherry picked' data sangat 
berbahaya dan interpretasi
 misleading, tidak pakai semua data yang ada dan tebang pilih data yang kira2 
mendukung hipotesanya.

 

Saya pikir perdebatan soal drilling blowout sebagai pemicu Lusi sangat 
professional, berdebat secara ilmiah pula. Simak cara diskusi ilmiah antara 
Davies dan Sawolo sbb:

1. Paper Davies et al (2008) disangkal oleh Sawolo (2009)

2. Davies et al (2010) melakukan diskusi dan dijawab didalam Sawolo et al 
(2010) secara ilmiah pula.

3. Didalam paper2 tsb jelas apa yang diperdebatkan, data serta analisanya. 
Sumber datanya pun jelas dan bisa di trace back Perlu diketahui bahwa keempat 
paper tsb bisa di download dari Elsevier.

 

Saya persilahkan rekan2 untuk menganalisa data2 drilling yg sudah dipublish 
semua, atau datang ke Lapindo, akan saya coba bantu minta pada teman2 di 
Lapindo supaya bisa analisa data sampai puas. Kalau ada kesalahan dalam 
drilling disilahkan tunjuk kesalahannya dan gugat Lapindo. Jadi jangan percaya 
begitu saja, tapi periksa datanya dan analisa kebenarannya, kecuali mazhab 
rekan2 iaginet sudah berubah menjadi tendensius dan memojokkan "Pokok-e Lapindo 
bersalah" sudah tidak berbasis pada science.

 

Wass.w.w

Bambang Istadi

 

 

 

From: nyoto - ke-el [mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, May 27, 2011 9:36 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Andang Protes

 

Hebat sekali, sampai 2 top geologists Indonesia bisa dikadalin (paling tidak 
itu menurut pengakuan langsung dari mereka sendiri, yaitu guru besar Teknik 
Geologi ITB & juga bekas ketua IAGI pak Koesoemadinata & pak Andang Bachtiar, 
bekas ketua IAGI, keduanya dedengkot geologi Indonesia yg paling top sampai 
saat ini), sangat2 memprihatinkan, ya Allah tunjukkanlah Kebesaran & KeadilanMU 
kepada kita bangsa Indonesia, khususnya masyarakat korban Lusi ...aameeen YRA.

 

 

Wass,

nyoto

 



 

2011/5/27 R.P.Koesoemadinata <[email protected]>

Ya maksud saya seolah-olah usulannya "diperhatikan" dengan menambahnya 
pembicara dari dalam negeri/universitas di Indonesia. Tapi yang diajukan jelas 
kemana arahnya.

Saya pun juga dikadalin. Saya sebenarnya juga diundang menghadiri simposium, 
bahkan ditelepon beberapa kali. Namun setelah saya baca flyer-nya, saya lihat 
jelas ke mana arahnya dan maksudnya. Sayapun menyatakan tidak bisa hadlir 
karena saya kebetulan ada acara presentasi/rapat di Jakarta.

Waktu saya di Jambi minggu yang lalu untuk menjadi panelist dalam suatu diskusi 
mengenai bagihasil minyak bagi Jambi (katanya direkomendasikan oleh Pak Andang 
juga) saya terus menerus ditelepon oleh seorang wartawati dari TVOne, katanya 
dia ditugaskan mewawancara saya, mengenai dunia perminyakan Indonesia. Akhirnya 
saya setuju dan wawancara berlangsung di kamar hotel di Jakarta. Wawancara 
berlangsung mungkin lebih dari 30 menit dan juga muncul pertanyaan mengenai 
Lumpur Lapindo. Off the record saya katakan, "kalian itu bagaimana, kan saya 
tahu siapa yang punya TVOne dan pendapat saya mengenai masalah itu kan jelas 
saya utarakan pada wawancara". Saya katakan pasti kalau sudah sampai di editor, 
hasil wawancara ini bakal kena editing berat, bahkan mungkin juga tidak akan 
ditayangkan."

Mereka sih senyum-senyum saja.

Ternyata benar sekali, pada acara Tahukah Anda kemarin sore saya hanya muncul 
beberapa detik saja membicarakan mengenai 'Indonesia sebagai net-importer oil 
dan sudah keluar dari OPEC' (hal yang kurang relevant), sedangkan yang muncul 
lainnya Prof Sukendar dan Ir Sunu (dari Lapindo) yang berbicara mengenai Lusi 
cukup panjang lebar. Saya sendiri tidak nonton acara itu karena masih dalam 
perjalanan dari Jakarta ke Bandung.

Wah jadi dikadalin juga, walaupun sudah tahu apa yang akan terjadi.

Wassalam

RPK

----- Original Message -----

From: Andang Bachtiar

To: [email protected]

Sent: Friday, May 27, 2011 8:50 AM

Subject: RE: [iagi-net-l] Andang Protes

 

Koreksi Prof, saya tidak ikut datang di Symposium. Jadi, luput dijadikan kadal.

 

Note (lagi):

 

Kalau memang benar mau berorientasi pada penyelesaian ke depan, akan lebih 
logis, elegan, dan bermanfaat simposiumnya membahas bagaimana disain 3D/4D 
seismic, disain MT, disain subsidence GPS survey-nya dikaitkan dengan modeling 
subsidence, perluasan area terdampak, dan kemungkinan pengaruhnya pada 
infrastruktur yang ada maupun yg direncanakan dibangun (jalan tol, jalan 
kereta, jalan biasa, lapangan2 migas, jalur2 pipa, dsb)
Dan akan lebih klop kalau kawan2 dari Badan Geologi sebagai lembaga geologi 
resmi pemerintah juga diundang  2-3 orang untuk mempresentasikan berbagai hasil 
riset mereka dalam 3 tahun terakhir ini (geokimia, amblesan, struktur dangkal, 
air tanah, dsb), termasuk rencana akuisisi seismic 3D yang sekarang sedang 
dalam proses tender dsb.
Format workshop lebih cocok dari pada symposium: spy hasilnya kongkrit ke depan.
 

Salam

 

ADB

 

From: R.P.Koesoemadinata [mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, May 27, 2011 8:17 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Andang Protes

 

Wah sebetulnya saya sudah tidak ingin berkomentar lagi mengenai Lumpur Lapindo 
ini

Tapi, maaf saja, Pak Andang. Anda kelihatannya akhirnya dikadalin juga

Hehe
Wassalam

RPK

----- Original Message -----

From: [email protected]

To: [email protected]

Sent: Friday, May 27, 2011 5:53 AM

Subject: Re: [iagi-net-l] Andang Protes

 

Saya menuliskannya sebagai catatan (note) di facebook saya SEMINGGU yg lalu, 
bukan tiba2 kemarin. Mungkin untuk menjadikannya berita wartawan lebih cocoknya 
memuatnya pas kemarin pelaksanaan acara.

Note fb itu saya tulis setelah saya komunikasikan concern ke panitianya ttg 
TIDAK ADANYA PEMBICARA DR PERISET PERGURUAN TINGGI INDONESIA dan dominannya 
periset asing (10 orang) dlm info undangan ke saya maupun dlm website Humanitus 
sampai 2 hari yg lalu. Waktu itu di website masih dipampangkan foto 2 pembicara 
dr Indonesia yaitu Awang BPMigas dan Sawolo EMP (Lapindo).

Alhamdulillah, rupanya panitia sadar akan pincangnya acara tsb (a-nasionalis 
dan berat ke satu sisi pendapat), maka kemudian pd acara sebenarnya 
diseimbangkanlah kesan itu dg mencoret Sawolo EMP/Lapindo dr daftar dan 
menambahkan Prof Sukendar, Agus Guntoro, dan Sayogi Sudarman dlm daftar 
pembicara. Suatu move yg pintar, tp agak kedodoran kalau diberi tambahan 
argumen bhw: yg diundang adalah yg gencar menulis di jurnal2 (internasional) 
ttg Lumpur Lapindo tsb.

Usulan saya untuk memasukkan pembicara dr Perg Tinggi paling dekat dg Sidoarjo 
yg banyak menulispun (Dr Amin Widodo) tidak dikabulkan. Selain itu saya 
menyinggung nama Prof Hasanudin ITB yg pernah menulis bersama Davies (yg 
kemudian diancam dituntut oleh Lapindo krn menggunakan data Lapindo tanpa ijin 
untuk ikut menulis paper dg Davies), juga kawan2 Badan Geologi yg sangat aktif 
riset dan menulis ttg Lumpur Lapindo. Tapi nampaknya panitia lebih suka memilih 
mrk dr Indonesia yg punya kecenderungan expertise di tektonik regional, 
geotermal, dan yg mrk kenal ikut bersama Lapindo mengkampanyekan penyebab gempa.

Waktu itu surat saya dijawab panitia dg : "akan dipertimbangkan" meskipun sulit 
untuk mengubah acara krn hrs memilih diantara 40 ahli yg diundang. Saya sendiri 
tetap mrk harapkan datang untuk meramaikan acara diskusi. Karena saya ada 
komitmen full 3 hari kmrn di Jakarta, maka agak sulit untuk ikutan hadir, 
terutama kalau hanya untuk tanya jawab 2-5 menit dan bukan sessi trbuka 
brainstorming smua pihak membeberkan usulan rencana ke depan.

Sampai saat ini, saya masih juga pada pendapat: semua penyelesaian teknis harus 
jadi 1 paket dg penyelesaian masalah sosial, tdk bisa dipisahkan. Kami dr IAGI 
dan HAGI masih dalam posisi terus membantu Badan Geologi dlm rangka akuisisi 
data 3D seismik di area lumpur dan sekitarnya untuk digunakan dalam evaluasi 
perencanaan teknis - sosial kedepan.

Salam
ADB

Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: "R.P.Koesoemadinata" <[email protected]>

Date: Thu, 26 May 2011 20:55:29 +0700

To: <[email protected]>

ReplyTo: <[email protected]>

Subject: [iagi-net-l] Andang Protes

 

Apakah betul mengirimkan surat protes atas terselenggaranya Symposium on 
Indonesia's mud volcano yang berlangsung pada 25-26 Mei 2011 di Sidoarjo 
sebagai mana dikutip Wartawan Tempo di Tempo Online hari ini? 
http://www.tempointeraktif.com/hg/iptek/2011/05/26/brk,20110526-336947,id.html

 

Wassalam

RPK

 

__________ NOD32 5559 (20101024) Information __________

This message was checked by NOD32 antivirus system.
http://www.eset.com

 

Kirim email ke