Setuju 100% dengan Mas Sunu, seharusnya kedua kutub pendapat ini melakukan 
"pertarungan logika keilmuan, adu bukti dan evidens, emosi tidak terlibat, 
diset ke nol mutlak, bersikap open mind 100 persen" seperti Davies, Mazzini dan 
kawan-kawan. Betul ini bukan agama dan kepercayaan, dengan mudahnya kita semua 
akan mengubah pendapat manakala data menunjukkan fakta kearah yang berlawanan 
dengan pendapat kita semula. Masalahnya mereka (baca: bule-bule ini) dapat 
mengakses data teknis sementara peserta milis ini tidak mendapat akses data 
yang sama. Jadi semoga rekan-rekan Lapindo dapat memaafkan kalau diskusi LUSI 
ini menjadi "bola liar" menggelinding seenak udelnya. Saya pun sudah gatal 
ingin berpendapat, tetapi khawatir keliru dan berubah jadi fitnah karena 
ketiadaan data teknis :).

Kepada teman-teman pemilik data, bagaimana kalau kita mengacu kepada Permen 
ESDM 27/2006 pasal 16 sebagaimana disebut Pak Andang pada email terpisah, 
sehingga "raw data Banjar Panji-1 (log, drilling report, well completion 
report, wireline log dsb)" dapat dipublis untuk teman-teman dimilis ini, lalu 
kita mulai diskusi ilmiah tanpa pretensi politik apapun, semata-mata untuk 
mendudukkan masalah sebagaimana mestinya, mencari solusi untuk kebaikan bangsa 
dan negara. Saya juga yakin dengan adanya akses data, kita akan berlomba-lomba 
mengeluarkan publikasi ilmiah sehingga tidak lagi dianggap masyarakat ilmiah 
kelas dua dibawah ilmuwan import itu.

Itu hanya sebuah usulan, mohon maaf kalau tidak berkenan.

Salam hangat,
MJP


From: Sunu Praptono [mailto:[email protected]]
Sent: Tuesday, May 31, 2011 8:55 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Menunggu Jaringan Ilmuwan Gunung Lumpur

Saya juga melihat mereka (Davies, Mazzini dll.) mengedepankan logika kelilmuan 
seratus persen, gak ada tempat buat "berkeyakinan". Bahkan Davies pun tidak 
pernah bilang "berkeyakinan", namun istilah dia adalah "99 persen probable" 
bahwa itu adalah akibat pemboran. Kita tentu saja bisa mendebat atau minta dia 
menjelaskan apa dasar bilangan 99 probabilitas itu, namun secara pokok sangat 
berbeda caranya dengan cara ilmuwan yang lain yang berangkat dari keyakinan. 
Bisa jadi setelah mendengar presentasi para pakar yang lain, dia akan 
mengupdate lagi probabilitasnya menjadi 90 persen atau 70 persen saja. Tingay 
dari awal malah sudah 50 persen.

Dalam pertarungan logika keilmuan, adu bukti dan evidens, emosi tidak terlibat, 
diset ke nol  mutlak, bersikap open mind 100 persen, makanya makan bersama, 
ketawa-ketiwi bersama, diskusi, jalan dalam satu bis juga ga masalah. Davies di 
sesi tanya jawab sebelum cabut, dengan enteng  dan sportif mengatakan bahwa 
setelah melihat bukti dari kunjungan sehari sebelumnya di Lusi, maka dia 
mengakui bahwa estimasi umur semburan yang dia publish dalam paper kedua adalah 
terlalu besar (istilahnya over estimate). Seandainya dia mengemukakan 
argumen2nya berdasar keimanan atau keyakinan, bisa jadi akan merah padam, 
merasa dipermalukan, dan akan membabibuta mempertahankan pendapatnya. Macam 
kasus PSSI yang baru lalu itu lah kira-kira.

Saya sih yakin full  anggota-anggota IAGI juga tidak kalah kalau adu ilmu 
dengan mereka. Kita tunggu kiprah rekan-rekan IAGI lebih aktif memproduksi 
paper-paper ilmiah tentang Lusi, apa pun hipotesanya. Pasti hasilnya jauh akan 
lebih bagus daripada "dongeng geologi"nya Kang Rovicky. Bagaimana tidak ? Lha 
wong di blog itu beliau terang-terangan disclaim : tidak bertanggungjawab atas 
apa-apa tetulis di dalamnya. Ini tentu bertolak belakang dengan paper ilmiah 
yang jelas-jelas bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Salam hangat, selamat berkarya tulis tentang Lusi.

SHP.

2011/5/31 Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]<mailto:[email protected]>>
Publish or perish

Sayang sekali, pendapat dari sisi yang berkeyakinan bahwa Lumpur Lapindo 
disebabkan oleh pengeboran sangat jarang menuliskan secara ilmiah yang 
dipublikasikan dalam publikasi "resmi". Dalam dunia ilmu, segala yang dianggap 
ilmiah harus ada dalam sebuah journal yang dapat disitir secara benar. Ini 
memang tidak berarti bahwa yang dipublikasikan merupakan sebuah kebenaran, 
tetapi yang dipublikasikan inilah yang akan menjadi tersimpan, dalam bahasa 
geologi terfosilkan. atau preserved. Artinya keberadaanya teruji dan terbukti 
serta dapat dipertanggungjawabkan.
Termasuk tulisan dalam mailist, koran, blog atau website, bukanlah sebuah 
tulisan ilmiah, dan tidak dapat disitir sebagai rujukan (referensi). Karena ini 
mirip koran yang tidak ada reviewnya. Davies dan Mazzini keduanya beradu karena 
tulisannya masuk dalam jurnal ilmiah. Walaupun isinya sama dengan tulisan di 
Dongeng Geologi sekalipun ! hihihihi. Tapi yg diakui tetep saja mereka-mereka 
ini.
Ini mirip dalam dunia poltik dimana politik yang diakui adalah percaturan 
politik di dalam parlemen, walaupun sebobrok apapun, tetapi legitimasi ada 
disana. Obrolan dalam televisi maupun demo bisa saja dianggap parlemen jalanan.

Jadi kalau ingin "terdengar" tuliskan saja pendapat itu dalam sebuah jurnal 
ilmiah. Diterbitkan. Dan lebih baik lagi kalau naskah publikasinya mendapat 
ISSN atau ISBN.

Salam

RDP
--------------------------------

Menunggu Jaringan Ilmuwan Gunung Lumpur
Senin, 30 Mei 2011 | 22:36 WIB

TEMPO Interaktif, Surabaya -  Adriano Mazzini, ahli geologi dari Oslo 
University, akhirnya angkat bicara pada sesi terakhir Humanitus Symposium on 
Indonesia's Mud Volcano, yang berlangsung di Surabaya. "Saya tidak mau 
berpendapat karena Richard Davies sudah tidak ada di sini," katanya. Davies, 
ahli ilmu kebumian dari Durham University, memang meninggalkan tempat itu lebih 
dulu untuk mengejar pesawat.

Pada sesi terakhir simposium yang berlangsung Kamis (26/5) petang lalu di Hotel 
Mercure, 14 pembicara dari dalam dan luar negeri tampil bersama di panggung. 
Sekitar satu jam, peserta dan wartawan diberi kesempatan bertanya kepada 
pembicara yang sejak pagi masing-masing mempresentasikan risetnya.

Sebelum sesi berakhir, Davies dan Mark Tingay dari Adelaide University pamit 
lebih dulu karena ada acara lain di negaranya. Saat itu baru muncul pertanyaan 
dari seorang wartawan tentang asal penyebab semburan lumpur panas di Desa 
Renokenongo, Sidoarjo, pada 29 Mei 2006 dan sampai sekarang belum berhenti. 
"Apakah karena kesalahan pengeboran oleh PT Lapindo Brantas atau karena gempa 
bumi di Yogyakarta?"

Faktor penyebab semburan lumpur panas itu memang memicu kontroversi 
berkepanjangan hingga saat ini. Sejumlah ilmuwan kebumian dan perminyakan 
terbelah dua pendapatnya. Tidak terkecuali di lingkungan Ikatan Ahli Geologi 
Indonesia (IAGI). Prof R. P. Koesoemadinata, mantan ketua organisasi ini, 
pernah membuat surat protes terbuka terhadap penyelenggaraan Lokakarya Lumpur 
Sidoarjo oleh BPPT pada 2007. Koesoemadinata menilai pembicara lokakarya 
tersebut lebih didominasi ahli-ahli yang pro-gempa Yogyakarta.

Dalam forum internasional, Richard Davies dan Mark Tingay, dalam tulisannya di 
jurnal ilmiah, termasuk yang berpendapat faktor pengeboran sebagai penyebab 
munculnya semburan lumpur panas yang telah menenggelamkan beberapa desa di 
Sidoarjo. Sementara Adriano Mazzini--dalam jurnal ilmiah--berpendapat 
sebaliknya, yakni gempa Yogyakarta mengaktifkan patahan Watukosek yang 
melintasi Sidoarjo dan meletuskan <I>mud volcano<I>.

Untuk memperingati lima tahun semburan, Humanitus Foundation--lembaga swadaya 
masyarakat non-politik dan non-agama yang berpusat di Australia--dan Badan 
Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) menyelenggarakan simposium internasional 
pada 25-26 Mei 2011. Pada hari pertama, 10 pembicara dari luar negeri dan empat 
pembicara dari dalam negeri serta para peserta meninjau lokasi kawah semburan 
dan muara Kali Porong.

Di sekitar kawah, panitia memasang bendera negara-negara yang pernah melakukan 
penelitian di kawasan lumpur Sidoarjo, antara lain Inggris, Australia, Amerika, 
Rusia, Jepang, dan Norwegia. Pembicara dan panitia melakukan foto bersama di 
lokasi semburan dan arena simposium itu.

Akan tetapi, simposium ini tak lepas dari kecaman. Andang Bachtiar, mantan 
Ketua IAGI dan kini menjadi Ketua Dewan Penasihat IAGI, membuat surat protes 
terbuka. Dia menuduh panitia tidak berimbang dalam memilih pembicara. Selain 
itu, mereka lebih menonjolkan ilmuwan asing. "Jadi marilah kita sama-sama ke 
Porong, Sidoarjo, pada 25-26 Mei ini untuk menyerahkan harga diri keilmuan kita 
ke para ahli asing dan menyediakan diri dimanfaatkan pihak tertentu untuk 
bersih-bersih," katanya.

Direktur Eksekutif Humanitus Foundation Jeffrey Richards menolak tuduhan bahwa 
pihaknya sengaja mengundang pakar yang pro kepada Lapindo Brantas. "Lupakanlah 
soal pemicu, jauh lebih penting saat ini menangani para korban," katanya. 
Bantahan serupa disampaikan oleh Wakil Kepala BPLS Hardi Prasetya.
Menurut Hardi, pembicara yang diundang adalah ilmuwan yang pernah melakukan 
penelitian dan hasilnya diterbitkan dalam jurnal ilmiah. "Ada dalam Lusi 
Library kami," kata guru besar ilmu geologi itu. Kami, kata Hardi, tidak bisa 
menyetir pendapat para ilmuwan mancanegara yang telah memiliki reputasi.

Panitia simposium terkesan menghindari diskusi soal penyebab semburan. Namun 
ada saja wartawan yang menanyakan hal itu kepada para ilmuwan. Richard Davies, 
yang masih tetap berpendapat bahwa pengeboran oleh Lapindo Brantas sebagai 
pemicu semburan lumpur panas, juga tidak mau berpolemik lebih jauh soal ini. 
Dalam paparannya dan kepada wartawan, dia lebih berfokus berbicara tentang 
berapa lama lumpur itu akan keluar.

Sayang, Davies dan Tingay harus kembali ke negaranya, sehingga tidak mengikuti 
secara penuh sesi terakhir. Jawaban atas pertanyaan wartawan soal penyebab 
semburan lumpur panas di Sidoarjo akhirnya menggantung. Adriano Mazzini tak 
ingin menjawab karena Davies dan Tingay tidak berada dalam ruangan. Dia ingin 
menunjukkan sikap adil.

Memang, tidak seperti sikap sekelompok ilmuwan di Tanah Air, para ahli 
mancanegara yang berbeda pendapat tersebut rukun-rukun saja selama tiga hari di 
Sidoarjo. Davies, Tingay, Mazzini, dan ahli lainnya makan dalam satu meja. 
Mereka pun berada dalam satu mobil saat menuju lokasi lumpur Lapindo dan asyik 
berdiskusi satu sama lain.

Jeffrey Richards menjelaskan, pihaknya hanya mengganti tiket dan memfasilitasi 
akomodasi para pembicara. "Mereka mau datang ke sini tanpa dibayar karena 
(punya) keinginan besar untuk meneliti semburan lumpur ini," katanya.

Memang, obyek kajian ahli ilmu kebumian kebanyakan produk yang terjadi sejak 
ribuan hingga miliaran tahun lalu. "Dari lumpur Sidoarjo ini kita mengamati 
kelahiran dan evolusi serta dinamika obyek ini," kata Loyc Vanderkluysen, dari 
Arizona State University.

Hardi Prasetya dan Sofyan Hadi dari BPLS menawarkan kantor lembaganya menjadi 
tempat penelitian para ahli. Sedangkan Jeffrey Richards berencana membentuk 
jaringan ilmuwan tentang lumpur Sidoarjo.

Agar tidak menimbulkan kontroversi, seyogianya mereka melibatkan lembaga lain 
di Tanah Air, seperti LIPI, IAGI, Himpunan Ahli Geofisika Indonesia, serta 
perguruan tinggi dan lembaga penelitian lain. Selain demi kemaslahatan ilmu 
pengetahuan, riset tersebut harus bermanfaat untuk membantu warga yang menjadi 
korban lumpur panas di Sidoarjo.

UNTUNG WIDYANTO

http://www.tempointeraktif.com/hg/iptek/2011/05/30/brk,20110530-337778,id.html

--
"Everybody is safety leader, You can stop any unsafe operation !"


***** This message may contain confidential and/or privileged information. If 
you are not the addressee or authorized to receive this for the addressee, you 
must not use, copy, disclose or take any action based on this message or any 
information herein. If you have received this communication in error, please 
notify us immediately by responding to this email and then delete it from your 
system. PT Pertamina (Persero) is neither liable for the proper and complete 
transmission of the information contained in this communication nor for any 
delay in its receipt. *****

Kirim email ke