betul itu Bapak Andang. tapi saya tidak yakin orang2 santos dan medco mau 
nulis. 
wong sudah "bebas" kok, ngapain cari2 penyakit, yang praktis2 ajalah....

kalau saya secara personal, geologi bukan bisnis saya (saat ini), 
hehehehehe.... 
saya menulis kok, tetapi untuk tema sosial dan maki2 lapindo :), meski enggak 
subur2 banget kayak Pak Bambang PI. salut deh buat Pak Bambang PI. salut 
banget, 
saya kurang yakin bakal ada geolog indonesia lagi yang akan sepopuler beliau 
kalau ditinjau dari berapa banyak publikasi di jurnal2 bagus. untuk ini, saya 
pikir kita semua (okelah gua ikut, kali ini gua ngaku2 geolog deh) kalah TKO 
dari Pak Bambang PI. tapi mungkin kalo orang dalam kondisi kayak dia bakal jadi 
produktif menulis di jurnal juga. jadi, sebut aja nasib juga berperan. 



 
tabik
bosman batubara 

weblog: http://usirsorikmasmining.wordpress.com/




________________________________
From: "[email protected]" <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tue, May 31, 2011 10:41:08 AM
Subject: Re: [iagi-net-l] Menunggu Jaringan Ilmuwan Gunung Lumpur

Coba kita lihat sedikit lebih jernih konstelasi personnelnya. Semua 
penulis/peneliti luar negeri ttg Lumpur Lapindo ini adalah dari Perguruan 
Tinggi, nampaknya tidak ada satupun dr Industri.

Sementara itu penulis/peneliti dr Indonesia selain dari Perguruan Tinggi (Prof 
Hasanudin, Prof Sukendar Asikin, Dr Amin Widodo, Dr Agus Guntoro, Dr Sayogi 
Sudarman, Dr Rudi Rubiandini, dsb), juga ada dr Industri (Rocky Sawolo, Bambang 
Istadi, Edi Sutriono, Awang H Satyana). 


Mengapa tidak ada 1-pun dr Industri di Indonesia selain kawan2 tsb yg ikut 
menulis di publikasi2? Karena akan sangat aneh misalnya: Rovicky yg kerja di 
Hess kmudian meneliti dan menuliskan ilmiah ttg Lumpur Lapindo ini, bisa 
kerepotan dia dg statusnya di Hess,...demikian juga misalnya Taufik OK yg jadi 
wellsite geologist professional dr rig ke rig ikut2an riset dan nulis ttg 
Lumpur 
Lapindo, bisa habis waktunya kerja u/client-nya hanya untuk kepentingan science 
tsb. Paling banter yg bisa dilakukan Rovicky ya itu tadi: bikin Dongeng 
Geologi. 
Itupun sedapat mungkin dibikin netral memuat semua argumentasi.

Jadi himbauan RDP dan SHP untuk meneliti dan menuliskan semua ini, lebih 
ditujukan ke para peneliti di Lembaga2 Penelitian kita dan juga di Perg 
Tinggi2... 


Atau mungkin kawan2 dr Santos dan atau Medco yg tadinya merupakan partner dlm 
pengeboran BJP-1, yg kalau tdk salah juga sdh membuat penelitian tersendiri 
menyangkut kejadian Lumpur Lapindo ini, dan punya pendapat sedikit berbeda dari 
kawan2 EMP dan BPMigas.

Mari, silahkan....

ADB
Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________

From:  Sunu Praptono <[email protected]> 
Date: Tue, 31 May 2011 08:54:52 +0700
To: <[email protected]>
ReplyTo:  <[email protected]> 
Subject: Re: [iagi-net-l] Menunggu Jaringan Ilmuwan Gunung Lumpur
Saya juga melihat mereka (Davies, Mazzini dll.) mengedepankan logika kelilmuan 
seratus persen, gak ada tempat buat "berkeyakinan". Bahkan Davies pun tidak 
pernah bilang "berkeyakinan", namun istilah dia adalah "99 persen probable" 
bahwa itu adalah akibat pemboran. Kita tentu saja bisa mendebat atau minta dia 
menjelaskan apa dasar bilangan 99 probabilitas itu, namun secara pokok sangat 
berbeda caranya dengan cara ilmuwan yang lain yang berangkat dari keyakinan. 
Bisa jadi setelah mendengar presentasi para pakar yang lain, dia akan 
mengupdate 
lagi probabilitasnya menjadi 90 persen atau 70 persen saja. Tingay dari awal 
malah sudah 50 persen.

Dalam pertarungan logika keilmuan, adu bukti dan evidens, emosi tidak terlibat, 
diset ke nol  mutlak, bersikap open mind 100 persen, makanya makan bersama, 
ketawa-ketiwi bersama, diskusi, jalan dalam satu bis juga ga masalah. Davies di 
sesi tanya jawab sebelum cabut, dengan enteng  dan sportif mengatakan bahwa 
setelah melihat bukti dari kunjungan sehari sebelumnya di Lusi, maka dia 
mengakui bahwa estimasi umur semburan yang dia publish dalam paper kedua adalah 
terlalu besar (istilahnya over estimate). Seandainya dia mengemukakan 
argumen2nya berdasar keimanan atau keyakinan, bisa jadi akan merah padam, 
merasa 
dipermalukan, dan akan membabibuta mempertahankan pendapatnya. Macam kasus PSSI 
yang baru lalu itu lah kira-kira. 


Saya sih yakin full  anggota-anggota IAGI juga tidak kalah kalau adu ilmu 
dengan 
mereka. Kita tunggu kiprah rekan-rekan IAGI lebih aktif memproduksi paper-paper 
ilmiah tentang Lusi, apa pun hipotesanya. Pasti hasilnya jauh akan lebih bagus 
daripada "dongeng geologi"nya Kang Rovicky. Bagaimana tidak ? Lha wong di blog 
itu beliau terang-terangan disclaim : tidak bertanggungjawab atas apa-apa 
tetulis di dalamnya. Ini tentu bertolak belakang dengan paper ilmiah yang 
jelas-jelas bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Salam hangat, selamat berkarya tulis tentang Lusi.

SHP.



2011/5/31 Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>

Publish or perish
>
>Sayang sekali, pendapat dari sisi yang berkeyakinan bahwa Lumpur Lapindo 
>disebabkan oleh pengeboran sangat jarang menuliskan secara ilmiah yang 
>dipublikasikan dalam publikasi "resmi". Dalam dunia ilmu, segala yang dianggap 
>ilmiah harus ada dalam sebuah journal yang dapat disitir secara benar. Ini 
>memang tidak berarti bahwa yang dipublikasikan merupakan sebuah kebenaran, 
>tetapi yang dipublikasikan inilah yang akan menjadi tersimpan, dalam bahasa 
>geologi terfosilkan. atau preserved. Artinya keberadaanya teruji dan terbukti 
>serta dapat dipertanggungjawabkan.
>Termasuk tulisan dalam mailist, koran, blog atau website, bukanlah sebuah 
>tulisan ilmiah, dan tidak dapat disitir sebagai rujukan (referensi). Karena 
>ini 
>mirip koran yang tidak ada reviewnya. Davies dan Mazzini keduanya beradu 
>karena 
>tulisannya masuk dalam jurnal ilmiah. Walaupun isinya sama dengan tulisan di 
>Dongeng Geologi sekalipun ! hihihihi. Tapi yg diakui tetep saja mereka-mereka 
>ini.
>Ini mirip dalam dunia poltik dimana politik yang diakui adalah percaturan 
>politik di dalam parlemen, walaupun sebobrok apapun, tetapi legitimasi ada 
>disana. Obrolan dalam televisi maupun demo bisa saja dianggap parlemen jalanan.
> 
>Jadi kalau ingin "terdengar" tuliskan saja pendapat itu dalam sebuah jurnal 
>ilmiah. Diterbitkan. Dan lebih baik lagi kalau naskah publikasinya mendapat 
>ISSN 
>atau ISBN.
>
>Salam
>
>RDP
>--------------------------------
>
>Menunggu Jaringan Ilmuwan Gunung Lumpur
>Senin, 30 Mei 2011 | 22:36 WIB
>
>TEMPO Interaktif, Surabaya -  Adriano Mazzini, ahli geologi dari Oslo  
>University, akhirnya angkat bicara pada sesi terakhir Humanitus  Symposium on 
>Indonesia's Mud Volcano, yang berlangsung di Surabaya.  "Saya tidak mau 
>berpendapat karena Richard Davies sudah tidak ada di  sini," katanya. Davies, 
>ahli ilmu kebumian dari Durham University,  memang meninggalkan tempat itu 
>lebih 
>dulu untuk mengejar pesawat.
>
>Pada sesi terakhir simposium yang berlangsung Kamis (26/5) petang lalu  di 
>Hotel 
>Mercure, 14 pembicara dari dalam dan luar negeri tampil bersama  di panggung. 
>Sekitar satu jam, peserta dan wartawan diberi kesempatan  bertanya kepada 
>pembicara yang sejak pagi masing-masing mempresentasikan  risetnya.
>
>Sebelum sesi berakhir, Davies dan Mark Tingay dari Adelaide University  pamit 
>lebih dulu karena ada acara lain di negaranya. Saat itu baru  muncul 
>pertanyaan 
>dari seorang wartawan tentang asal penyebab semburan  lumpur panas di Desa 
>Renokenongo, Sidoarjo, pada 29 Mei 2006 dan sampai  sekarang belum berhenti. 
>"Apakah karena kesalahan pengeboran oleh PT  Lapindo Brantas atau karena gempa 
>bumi di Yogyakarta?"
>
>Faktor penyebab semburan lumpur panas itu memang memicu kontroversi  
>berkepanjangan hingga saat ini. Sejumlah ilmuwan kebumian dan  perminyakan 
>terbelah dua pendapatnya. Tidak terkecuali di lingkungan  Ikatan Ahli Geologi 
>Indonesia (IAGI). Prof R. P. Koesoemadinata, mantan  ketua organisasi ini, 
>pernah membuat surat protes terbuka terhadap  penyelenggaraan Lokakarya Lumpur 
>Sidoarjo oleh BPPT pada 2007.  Koesoemadinata menilai pembicara lokakarya 
>tersebut lebih didominasi  ahli-ahli yang pro-gempa Yogyakarta.
>
>Dalam forum internasional, Richard Davies dan Mark Tingay, dalam  tulisannya 
>di 
>jurnal ilmiah, termasuk yang berpendapat faktor pengeboran  sebagai penyebab 
>munculnya semburan lumpur panas yang telah  menenggelamkan beberapa desa di 
>Sidoarjo. Sementara Adriano  Mazzini--dalam jurnal ilmiah--berpendapat 
>sebaliknya, yakni gempa  Yogyakarta mengaktifkan patahan Watukosek yang 
>melintasi Sidoarjo dan  meletuskan <I>mud volcano<I>.
>
>Untuk memperingati lima tahun semburan, Humanitus Foundation--lembaga  swadaya 
>masyarakat non-politik dan non-agama yang berpusat di  Australia--dan Badan 
>Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS)  menyelenggarakan simposium 
>internasional 
>pada 25-26 Mei 2011. Pada hari  pertama, 10 pembicara dari luar negeri dan 
>empat 
>pembicara dari dalam  negeri serta para peserta meninjau lokasi kawah semburan 
>dan muara Kali  Porong.
>
>Di sekitar kawah, panitia memasang bendera negara-negara yang pernah  
>melakukan 
>penelitian di kawasan lumpur Sidoarjo, antara lain Inggris,  Australia, 
>Amerika, 
>Rusia, Jepang, dan Norwegia. Pembicara dan panitia  melakukan foto bersama di 
>lokasi semburan dan arena simposium itu.
>
>Akan tetapi, simposium ini tak lepas dari kecaman. Andang Bachtiar,  mantan 
>Ketua IAGI dan kini menjadi Ketua Dewan Penasihat IAGI, membuat  surat protes 
>terbuka. Dia menuduh panitia tidak berimbang dalam memilih  pembicara. Selain 
>itu, mereka lebih menonjolkan ilmuwan asing. "Jadi  marilah kita sama-sama ke 
>Porong, Sidoarjo, pada 25-26 Mei ini untuk  menyerahkan harga diri keilmuan 
>kita 
>ke para ahli asing dan menyediakan  diri dimanfaatkan pihak tertentu untuk 
>bersih-bersih," katanya.
>
>Direktur Eksekutif Humanitus Foundation Jeffrey Richards menolak tuduhan  
>bahwa 
>pihaknya sengaja mengundang pakar yang pro kepada Lapindo  Brantas. 
>"Lupakanlah 
>soal pemicu, jauh lebih penting saat ini menangani  para korban," katanya. 
>Bantahan serupa disampaikan oleh Wakil Kepala  BPLS Hardi Prasetya.
>Menurut Hardi, pembicara yang diundang adalah ilmuwan yang pernah  melakukan 
>penelitian dan hasilnya diterbitkan dalam jurnal ilmiah. "Ada  dalam Lusi 
>Library kami," kata guru besar ilmu geologi itu. Kami, kata  Hardi, tidak bisa 
>menyetir pendapat para ilmuwan mancanegara yang telah  memiliki reputasi.
>
>Panitia simposium terkesan menghindari diskusi soal penyebab semburan.  Namun 
>ada saja wartawan yang menanyakan hal itu kepada para ilmuwan.  Richard 
>Davies, 
>yang masih tetap berpendapat bahwa pengeboran oleh  Lapindo Brantas sebagai 
>pemicu semburan lumpur panas, juga tidak mau  berpolemik lebih jauh soal ini. 
>Dalam paparannya dan kepada wartawan,  dia lebih berfokus berbicara tentang 
>berapa lama lumpur itu akan keluar.
>
>Sayang, Davies dan Tingay harus kembali ke negaranya, sehingga tidak  
>mengikuti 
>secara penuh sesi terakhir. Jawaban atas pertanyaan wartawan  soal penyebab 
>semburan lumpur panas di Sidoarjo akhirnya menggantung.  Adriano Mazzini tak 
>ingin menjawab karena Davies dan Tingay tidak berada  dalam ruangan. Dia ingin 
>menunjukkan sikap adil.
>
>Memang, tidak seperti sikap sekelompok ilmuwan di Tanah Air, para ahli  
>mancanegara yang berbeda pendapat tersebut rukun-rukun saja selama tiga  hari 
>di 
>Sidoarjo. Davies, Tingay, Mazzini, dan ahli lainnya makan dalam  satu meja. 
>Mereka pun berada dalam satu mobil saat menuju lokasi lumpur  Lapindo dan 
>asyik 
>berdiskusi satu sama lain.
>
>Jeffrey Richards menjelaskan, pihaknya hanya mengganti tiket dan  
>memfasilitasi 
>akomodasi para pembicara. "Mereka mau datang ke sini tanpa  dibayar karena 
>(punya) keinginan besar untuk meneliti semburan lumpur  ini," katanya.
>
>Memang, obyek kajian ahli ilmu kebumian kebanyakan produk yang terjadi  sejak 
>ribuan hingga miliaran tahun lalu. "Dari lumpur Sidoarjo ini kita  mengamati 
>kelahiran dan evolusi serta dinamika obyek ini," kata Loyc  Vanderkluysen, 
>dari 
>Arizona State University.
>
>Hardi Prasetya dan Sofyan Hadi dari BPLS menawarkan kantor lembaganya  menjadi 
>tempat penelitian para ahli. Sedangkan Jeffrey Richards  berencana membentuk 
>jaringan ilmuwan tentang lumpur Sidoarjo.
>
>Agar tidak menimbulkan kontroversi, seyogianya mereka melibatkan lembaga  lain 
>di Tanah Air, seperti LIPI, IAGI, Himpunan Ahli Geofisika  Indonesia, serta 
>perguruan tinggi dan lembaga penelitian lain. Selain  demi kemaslahatan ilmu 
>pengetahuan, riset tersebut harus bermanfaat  untuk membantu warga yang 
>menjadi 
>korban lumpur panas di Sidoarjo.
>
>UNTUNG WIDYANTO
>
>http://www.tempointeraktif.com/hg/iptek/2011/05/30/brk,20110530-337778,id.html
>
>-- 
>"Everybody is safety leader, You can stop any unsafe operation !"
>
>
>

Kirim email ke