Pak Sugeng, Pelajaran di sekolah swasta juga sudah banyak yang berubah. Beberapa sekolah sudah menerapkan kurikulum luar sehingga pelajarannya jadi lebih sedikit dan lebih fokus. Selain itu banyak sekolah swasta yang kreatif dalam pengajaran, mis : upacara bendera, kalau jaman saya dulu sekolah, upacara bendera kita diam berdiri mengikuti selama setengah jam, sementara sekolah sekarang upacara bendera cuma 5 menit, dan selanjutnya diisi performance masing masing kelas di depan teman temannya.
Hal itu mungkin bisa dilakukan karena fleksibiltas di sekolah swasta juga lebih besar daripada sekolah negeri. 2011/6/9 Sugeng Hartono <[email protected]> > Pak Chairul, > > Rasanya benar kalau pelajaran sekolah kita terlalu banyak. Sekitar 15 tahun > yll hal ini sudah dikeluhkan seorang Ibu peduli, di sebuah harian terkemuka > Jkt dimuat surat pembaca. Oleh redaksi surat ini dilengkapi gambar: seorang > anak kecil, murid SD dengan topi dan tas di punggung, kepala murid bagian > atas "dipangkas" lalu ada seorang Bapak yang sedang mengangkat drum sambil > "menggerujukkan" cuwilan-2 kecil berupa rumus-2 kimia, matematika, fisika > dll ke dalam otak si murid. Pada kantong baju Bapak ini ditulis dengan huruf > besar GURU. > > Dulu, 15 tahun yll saya pernah berkunjung ke apartmentnya mas Sugimin > Harsono, geologist Total Indonesie yang sedang ditugaskan di kantor Paris. > Saya disambut dengan sangat baik, dan bahkan diajak melihat PR putra > bungsunya yang sudah kelas 4 SD. Mereka berkomentar "lha pelajaran klas 4 > kok gampang-2 sekali, seperti pelajaran di klas 2 SD kita". Tetapi pelajaran > gampang ini harus benar-2 dipahami dan dikuasi karena setiap hari akan > ditambah terus. Yang patut ditiru di sana adalah, sejak kecil anak-2 sudah > diajar membaca peta kota, lengkap dengan nama jalan-2 dan tempat-2 yang > penting. Lha di sini saya suka sebal karena banyak peta bagus di tempat-2 > umum tetapi tidak ada tulisan "You are here". > > Salam hangat, > Sugeng > (senang mengoleksi dan melihat-lihat peta) > > > > -----Original Message----- > From: [email protected] > [mailto:[email protected]<[email protected]> > ] > Sent: Wed 6/8/2011 6:08 PM > To: IAGI Pusat > Subject: Re: [iagi-net-l] OOT - Juara Olimpiade Kebumian yang terbuang > > Mas Vicky, > 1. Waktu balik dari osi, dalam sebuah seminar pertambangan di Bandung 1994, > saya sudah mendengungkan bahwa pelajaran kita terlalu banyak. Ini karena > ingin komplit. Pernyataan serupa terus saya ulang sampai mulut berbusa. > 2. Saya juga tidak setuju jika IAGI berpolitik. Bahkan saya juga kurang > sreg jika IAGI dan PERHAPI terlalu banyak bicara kebijakan pemerintah. > Domain kita adalah ilmu dan profesi ahli kebumian. Saya termasuk orang yang > paling keras melontarkan otokritik kepada kedua org prof ini. > CN > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > -----Original Message----- > From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> > Date: Wed, 8 Jun 2011 17:29:33 > To: <[email protected]> > Reply-To: <[email protected]> > Subject: Re: [iagi-net-l] OOT - Juara Olimpiade Kebumian yang terbuang > Minarwan, > Sistem pendidikan kita memang berbeda dengan yang di negeri lain, > barangkali. Juara matematika kan bisa jadi ngga bagus nilai > biologinya. Namun sistem yg ada mengharuskan semua belajar segala. > Pelajaran yg diujikan semua di jur IPA kan sama: Fisika, Kimia, > Biologi, dan Matematik. Jadi bisa saja juara math tapi bukan juara > umum, kan ? > Anakku yg kecil kebetulan mengikuti British stream (curriculum), dia > ngga ada pelajaran biologi karena merasa ga bisa. Tetapi ambil > fisikanya advance. Dan ini disesuaikan dengan minatnya. > Lah kalau di Indonesia ya bisa aja juara ilmu kebumian tidak masuk > ranking 15 besar, kan ? Apalagi dalam ujian masuk ngga ada pertanyaan > soal kebumian. Pripun ? > > Saya sering ketemu bule seorang Jawara Geophysicist yg ngga pernah > belajar teori evolusi sejak sma. > Lah kalau di Indonesia terkenal gado-gadonya. Semua belajar apa saja. > Siapa saja ngomongin segalanya. Berat memang. Termasuk betapa beratnya > kalau IAGI ikutan bicara politik ! > > Rdp > > On 08/06/2011, MINARWAN <[email protected]> wrote: > > Saya heran mengapa seorang pemegang medali olimpiade kebumian tingkat > > internasional hanya bisa ranking 16, sedikit di luar 15 besar yang > > mendapatkan jatah formulir SNMPTN Undangan dari PTN. Kalau alasannya > adalah > > karena ketinggalan sewaktu dikarantina dalam rangka mempersiapkan diri > untuk > > ikut olimpiade, kok tampaknya baru kali ini kejadian seperti ini terjadi, > > benarkah demikian? Atau mungkin sudah ada kejadian tapi tidak diekspos > oleh > > media massa karena tidak adalah masalah yang muncul? > > > > Kalau dilihat dari sisi yang positif, berarti siswa di SMA ini > pinter-pinter > > semua, sehingga wajarlah yang masuk 15 besar, yang sudah bekerja dan > belajar > > keras sehingga bisa mendapatkan ranking lebih tinggi daripada seorang > > pemegang medali, berhak mendapatkan jatah formulir SNMPTN Undangan > tersebut. > > Ini juga berarti sistem karantina untuk olimpiade kebumian ini bisa > > berakibat buruk untuk siswa, mungkin perlu dipertimbangkan lagi bagaimana > > baiknya sehingga siswa tidak ketinggalan pelajaran dan perlu kejelasan, > > penghargaan yang layak untuk seorang siswa yang telah mendapatkan medali > > olimpiade itu dalam bentuk apa dan mekanismenya seperti apa. > > > > Tapi lagi, seorang pemegang medali olimpiade kebumian tingkat > internasional > > tidak bisa menjadi 15 siswa terbaik di angkatannya? Rasanya aneh sekali. > > Apakah memang sekolahnya sudah menilai dengan benar? Atau siswanya > berubah > > menjadi tidak ada motivasi untuk belajar karena sudah merasa mendapatkan > > tiket untuk masuk universitas?? > > > > Salam > > Minarwan > > 2011/6/8 Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> > > > >> Setahu saya Uiversitas Indonesia tidak seperti di negeri lain. > >> Di negeri Paman Sam, juara basket walaupun kurang pinter akan diterima > >> sebagai mahasiswa di perguruan tinggi untuk mengangkat harkat (ranking) > >> university karena nanti kalau lomba basket universitas tsb menjadi > juwara, > >> dan terkenal. Hal speerti ini tidak ada di Indonesia, karena "jauh" dari > >> fakultas yang ada. Teori "pencitraan" di Indonesia masih dianggap tabu, > >> atau > >> bahkan masuk usaha terlarang. > >> > >> Juwara olimpiade fisika di Indonesia juga tidak otomatis masuk > university, > >> tetapi harus mengikuti jalur administrasi yang benar. di Indonesia ini > >> kalau > >> ada yg tidak mengikuti administrasi yang bener bisa kena panggilan KPK. > >> Mengambil "kebijakan" di Indonesia saat ini lebih sulit dan "ndrawasi" > >> (mengkhawatirkan) kalau kepleset bisa masuk bui. > >> > >> Dibawah ini contoh di milist sebelah tentang bagaimana seorang jawarapun > >> harus mengikuti jalurnya dan memang mendapatkan kemudahan setelah > >> administrasinya diikuti. Tetap harus proaktif ! > >> > >> RDP > > > > > > > > > > -- > > - when one teaches, two learn - > > http://www.geotutor.tk > > http://www.linkedin.com/in/minarwan > > > > -- > Sent from my mobile device > > *"Everybody is safety leader, You can stop any unsafe operation !"* > > > -------------------------------------------------------------------------------- > PP-IAGI 2008-2011: > ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] > sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] > * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro... > > -------------------------------------------------------------------------------- > Ayo siapkan diri....!!!!! > Hadirilah Joint Convention Makassar (JCM), HAGI-IAGI, Sulawesi, 26-29 > September 2011 > > ----------------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > --------------------------------------------------------------------- > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted > on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall > IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct > or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss > of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any > information posted on IAGI mailing list. > --------------------------------------------------------------------- > > > > "Save a Tree" - Please consider the environment before printing this email. > > ------------------------------ > “Save a Tree” – Please consider the environment before printing this email. > > >

