Di USGS ranah seperti ini masuk dlm kajian Geomitologi / Geomythos, silahkan di 
gugling. Mas ADB dulu pernah rembugan informal urusan ini, dlm bahasa yg samar 
samar itu dimasukkan sbg "unconventional geology". Luncheon talk PIT IAGI dulu 
di Yogya, pernah membahas topik unconventional geology and geomythos. Asyick 
lho....hehehe..

Salam, agus hend.89

Sent from my iPad

On 29 Nov 2011, at 14:53, Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> wrote:

2011/11/29 o - musakti <[email protected]>:
Berita lain soal ini
http://us.wap.vivanews.com/news/read/267100-piramida-garut-akan-tingkatkan-ekonomi-warga
Tapi apa urusannya sama staf khusus presiden soal bantuan sosial dan bencana 
alam ya ?

Saya baru baca berita dibawah ini dan memang ada nama geologist
ternama dan bahkan Badan Geologi juga disitir disini.
Saya tidak 100 persen antipati kalau memang sebuah "mitos" dapat
mengundang sisi wisata dan menghasilkan atau memiliki nilai ekonomis.
Namun tentusaja secara ilmiah kalau ingin membuktikan keberadaan riil
dan statement organisasi profesi (IAGI) harus benar-benar didukung
data empiris dan diuji secara terbuka.
Mitologi Lochness, Yeti, Atlantis dan juga Nyi Roro Kidul memiliki
arti tersendiri dalam kehidupan mitologi. Jelas menghasilkan materi
tidak sedikit, namun tidak pernah terbukti secara ilmiah (scientific).
Kontroversi nantinya mungkin juga akan ada dan kalau terjadi, IAGI
sudah semestinya mempersiapkan untuk menjawabnya bilsa diperlukan
secara organisatoris. Untuk saat ini yang tertulis di Blog IAGI (dari
Mang Okim dan Pak Awang) saya kira cukup menjelaskan.
http://geologi.iagi.or.id/2011/03/22/piramida-g-lalakon-di-bandung-akhir-sebuah-harapan/
http://geologi.iagi.or.id/2011/03/22/misteri-di-candi-cetho-dan-candi-penataran/

Salam.
RDP

==========================================
http://us.wap.vivanews.com/news/read/236383-gunung-piramida-diabadikan-dalam-buku

Selasa, 29 November 201113:35 WIB Teknologi
Gunung Piramida Diabadikan dalam Buku
Buku tentang penelitian piramida di Gunung Lalakon dan Gunung
Sadahurip diluncurkan.

Penggalian 'gunung piramida' oleh tim Turangga Seta Indra Darmawan |
Kamis, 28 Juli 2011, 08:30 WIB VIVAnews - Kini, sudah lewat beberapa
bulan, sejak upaya pertama mengungkap keberadaan gunung piramida di
Indonesia, sekitar awal tahun ini. Namun kebenaran tentang ada atau
tidaknya bangunan piramid di bawah bukit itu hingga kini masih
tersaput kabut misteri

Untuk menyingkap teka-teki besar itu, siang ini, Kamis 28 Juli 2011,
penerbit buku Ufuk Press berencana meluncurkan sebuah buku bertajuk
'Penemuan Atlantis Nusantara'.

Menurut pihak penerbit, Ufuk Press, buku ini berisi tentang hasil
penelitian dan eksplorasi yang dilakukan oleh Badan Geologi
Kementerian ESDM, terhadap dua bukit yang diduga menyimpan bangunan
piramida di dalamnya, yakni Gunung Lalakon di daerah Soreang Bandung,
dan Gunung Sadahurip di daerah Sukahurip, Pengatikan, Kabupaten Garut,
Jawa Barat.

Hanya saja, Turangga Seta, kelompok yang pertama kali mengklaim bahwa
Gunung Lalakon dan Gunung Sadahurip adalah gunung piramida, justru
tidak tahu-menahu tentang penyusunan buku ini, dan kapan penelitian
dan eksplorasi tersebut dilakukan.

"Kami sama sekali tidak tahu ada penyusunan buku ini, dan kapan pihak
Badan Geologi melakukan penelitian," ujar Agung Bimo Sutedjo kepada
VIVAnews Rabu malam, 27 Juli 2011. Seharusnya, Agung melanjutkan,
penyusunan buku ini juga melibatkan pihak-pihak yang pertama kali
melakukan melakukan penelitian.

Sebelumnya, klaim adanya piramida di bawah Gunung Lalakon dan
Sadahurip diungkapkan oleh Kelompok Turangga Seta. Sekitar awal
Februari 2011, mereka mengajak para pakar geologi kawakan: Danny
Hilman Natawidjaja, Eko Yulianto, dan Andang Bachtiar, melakukan uji
geo listrik di Gunung Lalakon dan Gunung Sadahurip.

Salah satu anggota tim peneliti yang merupakan pakar geologi senior,
Andang Bachtiar, sempat menyatakan bahwa hasil uji geolistrik yang
mereka lakukan menemukan struktur yang tidak alamiah. "Selama ini saya
tidak pernah menemukan struktur subsurface seperti ini. Ini unnatural
(tidak alamiah - red)," katanya.

Namun, belakangan ketika dikonfirmasi VIVAnews, Andang mengatakan
bahwa hasil analisis itu masih belum bisa menyimpulkan apa-apa. Masih
banyak hal yang perlu dibuktikan, kata Andang.

Upaya membuktikan keberadaan piramida di bawah Gunung Lalakon sudah
sempat diupayakan oleh Tim Turangga Seta. Mereka melakukan penggalian
di daerah puncak Lalakon, di ketinggian 986 meter, dengan mengajak
peneliti Pusat Survei Geologi Badan Geologi Departemen ESDM Bandung,
Engkon Kertapati.

Ketika itu, pada kedalaman sekitar 1,5 meter dan 3,7 meter, tim
Turangga Seta sempat menemukan batu-batu boulder yang mereka duga
sebagai batu bronjongan agar tanah penutup bangunan piramida tidak
longsor.

Saat itu, batu-batu bronjongan tadi ditemukan tersusun secara teratur
dengan sudut kemiringan yang seragam, sekitar 30 derajat. Ketika itu,
Engkon mengatakan bahwa seolah-olah ada gaya-gaya di luar kemampuan
alamiah yang menyebabkan batu-batu bronjong tadi teratur rapi.



Namun, Engkon juga menegaskan bahwa bisa saja batuan andesit di perut
Lalakon itu mengalami pelapukan secara alamiah sehingga secara
'kebetulan' membentuk pola-pola semacam itu.

Sayangnya, pencarian itu dihentikan sebelum mereka menemukan bangunan
piramida yang dicari-cari. Selain kehabisan perbekalan, penggalian itu
juga sempat ditentang oleh sebagian warga yang khawatir bila
penggalian itu bakal mengganggu struktur menara BTS di puncak Lalakon.

Setelah penggalian dilakukan, pakar geologi Danny Hilman dan Eko
Yulianto juga sempat datang ke puncak Gunung Lalakon dan mengambil
sampel batuan dari dalam lubang penggalian.

Saat itu, Danny dan Eko mengatakan bahwa penemuan 'batu-batu
bronjongan' tadi belum membuktikan apa-apa. "Mana yang aneh? Ini hal
yang biasa dalam geologi," kata Danny kepada Iwan Kurniawan dari
VIVAnews, di puncak Lalakon, Kamis 17 Maret 2011.

Lebih jauh, Danny mengatakan bahwa hasil uji geolistrik yang sempat
dilakukan olehnya bersama Tim Turangga Seta, tidak bisa
diinterpretasikan begitu saja. Sebab, tetap harus diuji dengan metode
lain, seperti misalnya dengan uji seismik. Dan sayangnya, hingga kini
belum ada penelitian lanjutan yang dilakukan oleh pemerintah.

Dalam peluncuran buku hari ini, rencananya Ufuk Press akan mengundang
beberapa tokoh antara lain Dr Radar Panca Dahana yang sempat meneliti
manuskrip kuno terkait mitos Atlantis, serta Dr Oman Abdurrahman dan
Oki Oktariadi, dari Badan Geologi Kementerian ESDM.

© VIVAnews

--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
Ayo siapkan diri....!!!!!
Hadirilah Joint Convention Makassar (JCM), HAGI-IAGI, Sulawesi, 26-29
September 2011
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id

For topics not directly related to Geology, users are advised to post the email 
to: [email protected]

Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke