30 sumur dengan nilai investasi US$ 776 juta, berarti average persumur US$ 25.9 
juta? Walah..... apa nggak kliru tuh hitungannya? Biaya apa saja tuh yang 
dicemplungkan kedalam sumur? Kalau 12 sumur dengan biaya US$ 461 juta, hmmm, 
US$ 38.4 juta persumur-nya? Berapa yang offshore dan berapa yang onshore? Kalau 
bisa di share, operatornya siapa saja? Jangan-jangan disitu juga ada pembayaran 
PBB dan sosialisasi juga he he
Bambang




>________________________________
> From: ok.taufik <[email protected]>
>To: ia-itb <[email protected]>; [email protected]; 
>[email protected] 
>Sent: Thursday, February 2, 2012 1:40 PM
>Subject: [iagi-net-l] Dalam dua tahun terakhir, investasi hulu minyak dan gas 
>(migas) di Indonesia 'menguap' sia-sia senilai US$ 1,24 miliar atau Rp 11,16 
>tri
> 
>
>Wahyu Daniel : detikFinance
>
>detikcom - Jakarta, Dalam dua tahun terakhir, investasi hulu minyak dan gas 
>(migas) di Indonesia 'menguap' sia-sia senilai US$ 1,24 miliar atau Rp 11,16 
>triliun. Akibat kegiatan pengeboran sumur minyak yang ternyata tak 
>menghasilkan apa-apa atau diistilahkan dry hole.
>
>Kepala BP Migas R. Priyono mengatakan, hal tersebut menandakan tingginya 
>risiko investasi di sektor hulu migas di Indonesia. Dikatakan Priyono, semua 
>investasi tersebut ditanggung sepenuhnya oleh investor karena cost recovery 
>hanya akan dibayarkan pemerintah apabila lapangan migas sudah berproduksi.
>
>Dry hole merupakan istilah yang digunakan untuk kegiatan eksplorasi yang tidak 
>berhasil menemukan cadangan migas yang cukup ekonomis untuk dikembangkan. 
>
>"Tingginya resiko saat eksplorasi membuat banyak investor tidak berani, karena 
>apabila tidak berhasil, mereka bisa kehilangan seluruh investasi. Disinilah 
>kita melihat kita masih sangat membutuhkan investasi asing," ujar Priyono 
>dikutip dari situs BP Migas, Kamis (2/2/2012). 
>
>BP Migas mencatat, di 2010 terdapat kejadian dry hole di 30 sumur dengan 
>kehilangan investasi mencapai US$ 776 juta. Sedangkan di 2011, jumlah sumur 
>dry hole mencapai 12 sumuur dengan total investasi yang hilang mencapai US$ 
>461 juta.
>
>Dicontohkan Priyono, kejadian dry hole di Blok Semai 2 di Papua. Pertamina 
>sempat memprotes saat kontraktor swasta terpilih sebagai operator blok 
>tersebut beberapa tahun yang lalu. Akan tetapi, sekarang terbukti eksplorasi 
>di sana tidak menemukan cadangan yang komersial.
>
>"Bisa dibayangkan apabila Pertamina masuk ke Semai 2, Pertamina bisa 
>kehilangan US$ 200 juta dalam waktu 6 bulan. Dengan hanya memiliki sebagian 
>partisipasi (participating interest) di blok tersebut, Pertamina tidak harus 
>menanggung kerugian sebesar itu," ujar Priyono.
>Wahyu Daniel : detikFinance
>
>detikcom - Jakarta, Dalam dua tahun terakhir, investasi hulu minyak dan gas 
>(migas) di Indonesia 'menguap' sia-sia senilai US$ 1,24 miliar atau Rp 11,16 
>triliun. Akibat kegiatan pengeboran sumur minyak yang ternyata tak 
>menghasilkan apa-apa atau diistilahkan dry hole.
>
>Kepala BP Migas R. Priyono mengatakan, hal tersebut menandakan tingginya 
>risiko investasi di sektor hulu migas di Indonesia. Dikatakan Priyono, semua 
>investasi tersebut ditanggung sepenuhnya oleh investor karena cost recovery 
>hanya akan dibayarkan pemerintah apabila lapangan migas sudah berproduksi.
>
>Dry hole merupakan istilah yang digunakan untuk kegiatan eksplorasi yang tidak 
>berhasil menemukan cadangan migas yang cukup ekonomis untuk dikembangkan. 
>
>"Tingginya resiko saat eksplorasi membuat banyak investor tidak berani, karena 
>apabila tidak berhasil, mereka bisa kehilangan seluruh investasi. Disinilah 
>kita melihat kita masih sangat membutuhkan investasi asing," ujar Priyono 
>dikutip dari situs BP Migas, Kamis (2/2/2012). 
>
>BP Migas mencatat, di 2010 terdapat kejadian dry hole di 30 sumur dengan 
>kehilangan investasi mencapai US$ 776 juta. Sedangkan di 2011, jumlah sumur 
>dry hole mencapai 12 sumuur dengan total investasi yang hilang mencapai US$ 
>461 juta.
>
>Dicontohkan Priyono, kejadian dry hole di Blok Semai 2 di Papua. Pertamina 
>sempat memprotes saat kontraktor swasta terpilih sebagai operator blok 
>tersebut beberapa tahun yang lalu. Akan tetapi, sekarang terbukti eksplorasi 
>di sana tidak menemukan cadangan yang komersial.
>
>"Bisa dibayangkan apabila Pertamina masuk ke Semai 2, Pertamina bisa 
>kehilangan US$ 200 juta dalam waktu 6 bulan. Dengan hanya memiliki sebagian 
>partisipasi (participating interest) di blok tersebut, Pertamina tidak harus 
>menanggung kerugian sebesar itu," ujar Priyono.
>Powered by Telkomsel BlackBerry®
>
>

Kirim email ke