Mengutip kegusaran mas Roviky terlampir: Jadi sebenarnya secara tehnologi kita 
mampu mempercepat proses produksi sejak diketemukan (discovery). Justru kendala 
sistem manusianyalah yang memperlambat proses komersialisasi.

Setuju banget dgn semangat mas "mempercepat proses sejak penemuan hingga 
produksi". Cakep nih. Tp sy ga sependapat krn manusianya mas, melainkan krn 
paradigma eksplorasi yg sdh lekang dimakan umur tp msh diterapkan teruuus walau 
kita semua tahu kita sdh bukan cuma cari structural bumps lagi! Yuk kita lanjut.

Sbgmana diskusi saya di topik lain (ganti topik: Seismik Tok vs Drilling") bhwa 
kita dihadapkan kpd bisnis beresiko dan barbiaya tinggi spt kata Pak Priyono.  
Berresiko tinggi iya, tp biaya tinggi apakah harga mati? Saya termasuk yg tdk 
100% sependapat. Kenapa? Krn paradigma yg dianut komunitas eksplorasi pd 
umumnya adalah harus ngebor sumur di 3 thn pertama. Akibatnya mayoritas dana 
dialokasikan utk biaya pemboran (yg pasti lbh mahal dari seismik jika bicara 
target dalam), dmana dana akuisisi seismik dikerdilkan.

Saya tertarik ingin tahu berapa persen sumur2 gagal tersebut di bawah yg dibor 
menggunakan data seismik 3D? Insyaa Allah jumlahnya sedikit atau bahkan tidak 
ada.... :). 

Dgn paradigma lama maka Lagi-lagi akhirnya urutan program kerja 3 tahunnya 
adalah:
- melakukan akuisisi seismik 2D dulu krn pertimbangan biaya :)
- processing utak atik gatuk cari structure bumps. Kalau kecil diupayakan ada 
kontribusi patahan spy bisa membuat maximum case dari cebakan....
- imagenya bagus, faultnya kelihatan, looks simple tetapi sebenarnya bnyak 
kompleksitas G&G yg luput dr data seismik 2D.
- habis sdh 1-2 thn termasuk tender seismik, lalu bor di thn ketiga yg akhirnya 
dry hole.

Yg menarik pd umumnya post mortem evaluation dr dry hole tsb sering 
mengkaminghitamkan data seismik yg kurang baik, coba kita sama sama ingat bagi 
teman2 yg selama ini ngebor dgn 2D. 

Bla bla bla, pd intinya saya ingin mengajak teman2 untuk mempertimbangkan 
paradigma baru eksplorasi awal yaitu:

1. pengambilan data baru seismik 2D sub regional yg meliputi setiap sudut 
penting daerah blok ybs jika perlu dijinkan kelyar blok utk well tie 
misalnya(?) boleh gak ya??? He he.. 2D high quality ini ber guna nantinya 
dijadikan dasar di dlm membuat perencanaan akuisisi seismik 3D dgn luas dan 
parameter yg representatif sedari awal di masa 3thn pertama eksplorasi.

2. menunda pemboran sumur di 3 tahun kedua atau secepat cepatnya di tahun ke 
empat agar lead inventory yg terdeskripsi bisa mewakili cukup bnyak target play 
types. Dengan banyaknya pilihan leads yg akurat berdasarkan data 3D di dlm lead 
inventory kumpenis maka keputusan pemilihan mana prospect/lead yg akan dibor 
akan bisa memunculkan at least katakanlah the best three atau five.

3. Setelah keluar daftar the best leads, diperdalam lagi dgn evaluasi play 
types statistics menggunakan data2 lapangan/sumur sekitar blok dan publikasi 
dunia shg bisa mempelajari faktor2 utama penyebab kegagalan atau kesuksesan 
play type yg bersangkutan utk akhirnya dilanjutkan ke tahapan pemilihan the 
best prospect utk di bor.

4. Jika toh ternyata semua play types itu high risk dan kumpenis berkeputusan 
utk quit, maka mereka bisa menggunakan haknya utk relinquish blok di akhir thn 
ketiga tanpa penalti krn tdk jd ngebor di thn ke empat.

5. Jadi pertimbangan utama yg terpenting dari sisi pemerintah utk memenangkan 
suatu kumpeni tetap didasarkan kpd besar komitmen dan / atau dgn jumlah 
bnyaknya sumur pemboran tp bedanya diundurkan pd 3 tahun kedua masa eksplorasi. 
Dgn ini kumpenis tetap bersemangat utk menawarkan program seismik yg bagus dan 
cermat di 3 thn pertama sekaligus ada opsi quit di akhir thn ketiga pertama 
jika hasil seismic yg komprehensif tsb tdk sesuai perkiraan awal.

Berikut keuntungan memiliki data seismik 3D yg bagus kualitasnya:

- bisa memberikan gambaran lebih akurat baik dari sisi struktur geologi baik 
patahan ataupun morfologi karbonat reef secara 3domensi dan juga attribut 
seismik utk lithology dan fluid response yg bermanfaat mengevaluasi potensi 
stratigraphic trap sbg alternatif bila tdk dijumpai bumps yg ekonomis.

- bisa menghemat waktu yg diperlukan utk akuisisi seismik lanjut - bila dulunya 
hanya memiliki data 2D. Shg kalau2 ternyata ada sumur penemuan di thn ke empat, 
Dengan adanya data 3D ini kumpenis bs langsung reprocessing dgn tambahan data 
kalibrasi sumur penemuan dan melakukan perencanaan delineasi hingga ke POD dgn 
relatif cepat.

- kalau pun akhirnya hasil survey 3D ini tdk menunjukkan potensi baik struktur 
maupun stratigraphic traps maka walk out cost nya pun lbh murah ketimbang harus 
ada opsi pemboran di 3 thn pertama yg ujung2 nya mengorbankan dana utk seismik 
shg proses pemilihan prospect pun terbatas, belum lagi waktu yg terlalu sempit 
utk melakukan analisa cermat.

Oh ya, saya sadar sepenuhnya bhwa usulan akuisisi data seismik yg bagus ini 
hanya applicable di blok blok offshore karena lbh minimal dlm kendala non 
teknis pembebasan lahan ataupun demo masyarakat dll.

Sekian, dan salam eksplorasi - tetapi dgn paradigma baru baik dr sisi kumpenis 
maupun regulator pemerintahnya.

Ipong.

Sent from my iPhone

On 2 Feb 2012, at 08:05, Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> wrote:

> Jadi sebenarnya secara tehnologi kita mampu mempercepat proses produksi sejak 
> diketemukan (discovery). Justru kendala sistem manusianyalah yang 
> memperlambat proses komersialisasi.
> 
> Salam eksplorasi
> 
> RDP 

Kirim email ke