Benar. Aneh tapi nyata. Bagi saya fenomena seminar "darurat" ini malah lebih menarik dari isyu seminarnya itu sendiri.
Perihal "seminar yang kesimpulannya sudah dibuat sebelum dimulai" seperti yang ditakutkan oleh Pak Koesoema akan terjadi pada tanggal 7 Februari nanti kelihatannya malah sudah terjadi nih. IAGI Pengda Jabar-Banten berpolitik? Atau dipolitisir? Salam DHN From: mohammad syaiful [mailto:[email protected]] Sent: Friday, February 03, 2012 3:17 PM To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net-l] Vulkanolog-Arkeolog-Geolog Patahkan Teori Piramid Sadahurip Aneh, setahu saya sebagai anggota PP IAGI saat ini, IAGI tidak atau belum merencanakan seminar atau apa pun berkaitan dengan 'isu' piramida 'Gunung Sadahurip'. Atau mungkin IAGI Pengda Jabar-Banten yang mengadakan seminar tsb? Atau Kompas yang salah kutip? Salam, Syaiful * PP IAGI, Ketua Bidang Kehumasan, Pendidikan, dan PIT 2012/2/3 Sulastama Raharja <[email protected]> Vulkanolog-Arkeolog-Geolog Patahkan Teori Piramid Sadahurip Didit Putra Erlangga Rahardjo | Marcus Suprihadi Simpang siur mengenai teori keberadaan piramid di Gunung Sadahurip, Kabupaten Garut, dengan Gunung Lalakon, Kabupaten Bandung, dijawab oleh gabungan ahli gunung api, geologi, dan arkeologi sekaligus. Hasilnya, peluang keberadaan bangunan piramida di kedua gunung itu sangat kecil dan mendekati nihil. Kesimpulan tersebut mengemuka dalam seminar yang khusus membahas teori tersebut yang diselenggarakan Ikatan Ahli Geologi Indonesia di Bandung, Jumat (3/2/2012). Hadir sebagai pembicara, Sujatmiko, geolog, Sutikno Bronto (vulkanolog), dan Lutfi Yondri (arkeolog). Sutikno mengawali dengan memaparkan bahwa gundukan berbentuk limas di dua gunung tersebut bukanlah disebabkan tangan manusia melainkan proses pembentukan alamiah oleh gunung api muda. Bentuk limas disebabkan energi dan volume magma saat menerobos serta geometri zona lemah yang diterobos. "Gunung ini adalah kerucut lava gunung api kuarter yang muncul dari kompleks gunung api talagabodas," ujar Sutikno. Sujatmiko melanjutkan bahwa berdasarkan ilmu geologi dasar saja bisa diketahui bahwa Gunung Sadahurip maupun Lalakon berisi batuan, bukan struktur piramida buatan manusia. "Satu hal yang bisa diambil manfaatnya, kontroversi ini merangsang minat masyarakat untuk belajar geologi dan lebih mengerti alam mereka," ujar Sujatmiko. Sama halnya dengan dua orang sebelumnya, Lutfi mengatakan bahwa dari sudut pandang arkeologi, tidak ada penemuan artefak yang mendukung keberadaan piramid di sana. Bila memang ada upaya dari manusia untuk membangun sebuah struktur seperti piramid, seharusnya ada artefak yang ditemukan di sekitarnya seperti bekas peralatan dan sebagainya. "Dalam lintasan sejarah Indonesia, tidak ditemukan bekas kebudayaan yang terkait dengan piramida," kata Lutfi. Dia pun membandingkan piramida di Mesir yang didominasi dataran dan dihubungkan dengan pola pikir manusia zaman dulu yang beranggapan bisa dekat dengan apa yang disembah bila berada di tempat tinggi. Dibandingkan dengan kondisi Jawa Barat yang berbukit-bukit, sudah banyak artefak yang mengindikasikan orang di masa lalu lebih memilih untuk mengubah puncak gunung sebagai tempat ritual daripada membangun struktur lagi. Simpang siur mengenai teori keberadaan piramid di Gunung Sadahurip, Kabupaten Garut, dengan Gunung Lalakon, Kabupaten Bandung, dijawab oleh gabungan ahli gunung api, geologi, dan arkeologi sekaligus. Hasilnya, peluang keberadaan bangunan piramida di kedua gunung itu sangat kecil dan mendekati nihil. Kesimpulan tersebut mengemuka dalam seminar yang khusus membahas teori tersebut yang diselenggarakan Ikatan Ahli Geologi Indonesia di Bandung, Jumat (3/2/2012). Hadir sebagai pembicara, Sujatmiko, geolog, Sutikno Bronto (vulkanolog), dan Lutfi Yondri (arkeolog). Sutikno mengawali dengan memaparkan bahwa gundukan berbentuk limas di dua gunung tersebut bukanlah disebabkan tangan manusia melainkan proses pembentukan alamiah oleh gunung api muda. Bentuk limas disebabkan energi dan volume magma saat menerobos serta geometri zona lemah yang diterobos. "Gunung ini adalah kerucut lava gunung api kuarter yang muncul dari kompleks gunung api talagabodas," ujar Sutikno. Sujatmiko melanjutkan bahwa berdasarkan ilmu geologi dasar saja bisa diketahui bahwa Gunung Sadahurip maupun Lalakon berisi batuan, bukan struktur piramida buatan manusia. "Satu hal yang bisa diambil manfaatnya, kontroversi ini merangsang minat masyarakat untuk belajar geologi dan lebih mengerti alam mereka," ujar Sujatmiko. Sama halnya dengan dua orang sebelumnya, Lutfi mengatakan bahwa dari sudut pandang arkeologi, tidak ada penemuan artefak yang mendukung keberadaan piramid di sana. Bila memang ada upaya dari manusia untuk membangun sebuah struktur seperti piramid, seharusnya ada artefak yang ditemukan di sekitarnya seperti bekas peralatan dan sebagainya. "Dalam lintasan sejarah Indonesia, tidak ditemukan bekas kebudayaan yang terkait dengan piramida," kata Lutfi. Dia pun membandingkan piramida di Mesir yang didominasi dataran dan dihubungkan dengan pola pikir manusia zaman dulu yang beranggapan bisa dekat dengan apa yang disembah bila berada di tempat tinggi. Dibandingkan dengan kondisi Jawa Barat yang berbukit-bukit, sudah banyak artefak yang mengindikasikan orang di masa lalu lebih memilih untuk mengubah puncak gunung sebagai tempat ritual daripada membangun struktur lagi. http://regional.kompas.com/read/2012/02/03/12320732/VulkanologArkeologGeolog .Patahkan.Teori.Piramid.Sadahurip ---------------------------------------------------------------------------- ---- PP-IAGI 2011-2014: Ketua Umum: Rovicky Dwi Putrohari, rovicky[at]gmail.com <http://gmail.com/> Sekjen: Senoaji, ajiseno[at]ymail.com <http://ymail.com/> ---------------------------------------------------------------------------- ---- Jangan lupa PIT IAGI 2012 di Jogjakarta tanggal 17-20 September 2012. Kirim abstrak ke email: pit.iagi.2012[at]gmail.com <http://gmail.com/> . Batas akhir pengiriman abstrak 28 Februari 2012. ---------------------------------------------------------------------------- ---- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id <http://iagi.or.id/> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id <http://iagi.or.id/> For topics not directly related to Geology, users are advised to post the email to: [email protected] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id <http://iagi.or.id/> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ <http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/IAGI-net> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. --------------------------------------------------------------------- -- Mohammad Syaiful - Explorationist, Consultant Geologist Mobile: 62-812-9372808 Emails: [email protected] (business) [email protected] Technical Manager of Exploration Think Tank Indonesia (ETTI)

