Di ranah kearifan lokal khusus jawa hidup tentang pemahaman "uri uri sesuatu 
yang hidup dalam gunung atau gunungapi". Dlm pandangan budaya tataran sunda 
masa itu, bisa jadi menganggap adanya "sesuatu yg hidup dlm gunung lalakon atau 
sadahurip". "piramida" yg diuri uri scr budaya sunda tsb, bukan piramida dlm 
pandangan kita yg "piramida man.made" sebagaimana piramida mesir, tetapi justru 
piramida sbg lava kerucut gunungapi. Persepsi kita sbg manusia modern tentu 
berbeda dg persepsi manusia purba jaman itu yg kultur dan persepsi 
kepercayaannya sangat kuat dipengaruhi dg bentukan alam maupun proses alam itu 
sendiri. Ada satu pendekatan yg belum memberikan hipotetiknya, sy kira tidak 
cukup dari sisi arkeologi, tapi juga sisi paleo.antropologi. Bahkan dlm 
pandangan tertentu, muncul juga fenomena volcanic.culture. Budaya persepsi utk 
"mendewakan gunungapi atau bentukan bentukan uniq" sebagai "sesuatu yg hidup" 
di masa lalu, bahkan sy jg melihat budaya ini
 tumbuh pd masa skrg sbg kajian ilmiah antropologi. Tapi ini menjadi "tidak 
ilmiah" dari sudut pandang ilmiah geologi. Tapi "obyek kajian" nya adalah sama. 
Dlm hal ini adalah bentukan morfologi kerucut / morfologi piramida lava 
gunungapi. Ingat bahwa "justifikasi piramida" itu adalah justifikasi pd masa 
kekinian, bisa jadi berbeda persepsi dari konstruksi budaya yg dibangun oleh  
kelompok budaya garut atau lebih tua dari publikasi sejarah kebudayaan di garut 
yg terekam scr ilmiah.
Sy tidak tahu adakah kawan kawan ahli antropologi di jawa barat, baik dari 
kampus UI atau Unpad? Yg mempelajari kebudayaan sunda di masa lalu terutama 
ilmu fenomenologi persepsi, kronologi budaya di tanah pasundan, tidak sj 
terkait dg situs atau artefak yg selama ini sudah ditemukan di pasundan. 

Salam, agus hend  

Sent from my iPad

On 4 Feb 2012, at 06:03, "Danny Hilman Natawidjaja" <[email protected]> 
wrote:

Benar.  Aneh tapi nyata.  Bagi saya fenomena seminar “darurat” ini malah lebih 
menarik dari isyu seminarnya itu sendiri.

Perihal “seminar yang kesimpulannya sudah dibuat sebelum dimulai” seperti yang 
ditakutkan oleh Pak Koesoema akan terjadi pada tanggal 7 Februari nanti 
kelihatannya malah sudah terjadi nih.  IAGI Pengda Jabar-Banten berpolitik? 
Atau dipolitisir?

 

Salam

DHN

 

From: mohammad syaiful [mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, February 03, 2012 3:17 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Vulkanolog-Arkeolog-Geolog Patahkan Teori Piramid 
Sadahurip

 

Aneh, setahu saya sebagai anggota PP IAGI saat ini, IAGI tidak atau belum 
merencanakan seminar atau apa pun berkaitan dengan 'isu' piramida 'Gunung 
Sadahurip'. Atau mungkin IAGI Pengda Jabar-Banten yang mengadakan seminar tsb? 
Atau Kompas yang salah kutip?

 

Salam,
Syaiful

* PP IAGI, Ketua Bidang Kehumasan, Pendidikan, dan PIT

2012/2/3 Sulastama Raharja <[email protected]>

Vulkanolog-Arkeolog-Geolog Patahkan Teori Piramid Sadahurip
Didit Putra Erlangga Rahardjo | Marcus Suprihadi

Simpang siur mengenai teori keberadaan piramid di Gunung Sadahurip,
Kabupaten Garut, dengan Gunung Lalakon, Kabupaten Bandung, dijawab
oleh gabungan ahli gunung api, geologi, dan arkeologi sekaligus.
Hasilnya, peluang keberadaan bangunan piramida di kedua gunung itu
sangat kecil dan mendekati nihil.

Kesimpulan tersebut mengemuka dalam seminar yang khusus membahas teori
tersebut yang diselenggarakan Ikatan Ahli Geologi Indonesia di
Bandung, Jumat (3/2/2012). Hadir sebagai pembicara, Sujatmiko, geolog,
Sutikno Bronto (vulkanolog), dan Lutfi Yondri (arkeolog).

Sutikno mengawali dengan memaparkan bahwa gundukan berbentuk limas di
dua gunung tersebut bukanlah disebabkan tangan manusia melainkan
proses pembentukan alamiah oleh gunung api muda. Bentuk limas
disebabkan energi dan volume magma saat menerobos serta geometri zona
lemah yang diterobos.

"Gunung ini adalah kerucut lava gunung api kuarter yang muncul dari
kompleks gunung api talagabodas," ujar Sutikno.

Sujatmiko melanjutkan bahwa berdasarkan ilmu geologi dasar saja bisa
diketahui bahwa Gunung Sadahurip maupun Lalakon berisi batuan, bukan
struktur piramida buatan manusia.

"Satu hal yang bisa diambil manfaatnya, kontroversi ini merangsang
minat masyarakat untuk belajar geologi dan lebih mengerti alam
mereka," ujar Sujatmiko.

Sama halnya dengan dua orang sebelumnya, Lutfi mengatakan bahwa dari
sudut pandang arkeologi, tidak ada penemuan artefak yang mendukung
keberadaan piramid di sana. Bila memang ada upaya dari manusia untuk
membangun sebuah struktur seperti piramid, seharusnya ada artefak yang
ditemukan di sekitarnya seperti bekas peralatan dan sebagainya.

"Dalam lintasan sejarah Indonesia, tidak ditemukan bekas kebudayaan
yang terkait dengan piramida," kata Lutfi.

Dia pun membandingkan piramida di Mesir yang didominasi dataran dan
dihubungkan dengan pola pikir manusia zaman dulu yang beranggapan bisa
dekat dengan apa yang disembah bila berada di tempat tinggi.
Dibandingkan dengan kondisi Jawa Barat yang berbukit-bukit, sudah
banyak artefak yang mengindikasikan orang di masa lalu lebih memilih
untuk mengubah puncak gunung sebagai tempat ritual daripada membangun
struktur lagi.
 Simpang siur mengenai teori keberadaan piramid di Gunung Sadahurip,
Kabupaten Garut, dengan Gunung Lalakon, Kabupaten Bandung, dijawab
oleh gabungan ahli gunung api, geologi, dan arkeologi sekaligus.
Hasilnya, peluang keberadaan bangunan piramida di kedua gunung itu
sangat kecil dan mendekati nihil.

Kesimpulan tersebut mengemuka dalam seminar yang khusus membahas teori
tersebut yang diselenggarakan Ikatan Ahli Geologi Indonesia di
Bandung, Jumat (3/2/2012). Hadir sebagai pembicara, Sujatmiko, geolog,
Sutikno Bronto (vulkanolog), dan Lutfi Yondri (arkeolog).

Sutikno mengawali dengan memaparkan bahwa gundukan berbentuk limas di
dua gunung tersebut bukanlah disebabkan tangan manusia melainkan
proses pembentukan alamiah oleh gunung api muda. Bentuk limas
disebabkan energi dan volume magma saat menerobos serta geometri zona
lemah yang diterobos.

"Gunung ini adalah kerucut lava gunung api kuarter yang muncul dari
kompleks gunung api talagabodas," ujar Sutikno.

Sujatmiko melanjutkan bahwa berdasarkan ilmu geologi dasar saja bisa
diketahui bahwa Gunung Sadahurip maupun Lalakon berisi batuan, bukan
struktur piramida buatan manusia.

"Satu hal yang bisa diambil manfaatnya, kontroversi ini merangsang
minat masyarakat untuk belajar geologi dan lebih mengerti alam
mereka," ujar Sujatmiko.

Sama halnya dengan dua orang sebelumnya, Lutfi mengatakan bahwa dari
sudut pandang arkeologi, tidak ada penemuan artefak yang mendukung
keberadaan piramid di sana. Bila memang ada upaya dari manusia untuk
membangun sebuah struktur seperti piramid, seharusnya ada artefak yang
ditemukan di sekitarnya seperti bekas peralatan dan sebagainya.

"Dalam lintasan sejarah Indonesia, tidak ditemukan bekas kebudayaan
yang terkait dengan piramida," kata Lutfi.

Dia pun membandingkan piramida di Mesir yang didominasi dataran dan
dihubungkan dengan pola pikir manusia zaman dulu yang beranggapan bisa
dekat dengan apa yang disembah bila berada di tempat tinggi.
Dibandingkan dengan kondisi Jawa Barat yang berbukit-bukit, sudah
banyak artefak yang mengindikasikan orang di masa lalu lebih memilih
untuk mengubah puncak gunung sebagai tempat ritual daripada membangun
struktur lagi.

http://regional.kompas.com/read/2012/02/03/12320732/VulkanologArkeologGeolog.Patahkan.Teori.Piramid.Sadahurip

--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2011-2014:
Ketua Umum: Rovicky Dwi Putrohari, rovicky[at]gmail.com
Sekjen: Senoaji, ajiseno[at]ymail.com
--------------------------------------------------------------------------------
Jangan lupa PIT IAGI 2012 di Jogjakarta tanggal 17-20 September 2012.
Kirim abstrak ke email: pit.iagi.2012[at]gmail.com. Batas akhir pengiriman 
abstrak 28 Februari 2012.
--------------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
For topics not directly related to Geology, users are advised to post the email 
to: [email protected]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------




-- 
Mohammad Syaiful - Explorationist, Consultant Geologist
Mobile: 62-812-9372808
Emails:
[email protected] (business)
[email protected]

Technical Manager of
Exploration Think Tank Indonesia (ETTI)

Kirim email ke