Mang Okim,

Saya juga tidak mengatakan seperti yang ditulis di bawah ini:

ditambah dengan hasil pengamatan Pak Awang yang mensinyalir
> atau menafsirkan
> bahwa sebagian besar batuan di lembah Batu Rahong
> hilang  karena ditambang
> oleh orang baheula untuk dipakai sebagai material
> pembangunan piramida
> Sadahurip 


Dalam hal Baturahong, saya membedakan antara fakta, interpretasi dan spekulasi. 

Fakta: Punggungan Baturahong hilang setengahnya, sisi utaranya, ini jelas 
sekali terlihat dari lereng-puncak Sadahurip. Punggungan-punggungan lain di 
sebelah utaranya utuh. Punggungan Baturahong merupakan punggungan frontal ke 
arah Sadahurip. Dengan menggunakan data lainnya, DEM, IFSAR lebih jelas lagi.

Interpretasi: Hilangnya punggungan Baturahong bukan natural,bukan oleh amblesan 
karena patahan normal, tetapi artificial, man-made, dibongkar, dan tidak 
terjadi pada masa kini tetapi pada masa yang jauh dalam sejarah masa lalu atau 
prasejarah.

Saya berhenti dan mencukupkan diri sampai di sini, bila saya lanjutkan lagi, 
maka saya melakukan spekulasi. 

Tetapi area bongkaran Baturahong, yang saya sebut sebagai Cekungan Baturahong 
menuntut penjelasan, digunakan untuk apa batu-batu itu. Saya tidak mengatakan 
bahwa itu dipakai untuk membangun (piramida) Sadahurip, sebab saya tak punya 
bukti dan argumennya; jadi ini sudah masuk ke tahap spekulasi;  tetapi bila 
memang iya dipakai membangun piramida Sadahurip, saya tidak merasa kesulitan 
membayangkan kemampuan orang2 pada masa itu, prosesnya malahan akan lebih 
sederhana dibandingkan membangun piramida Khufu/Cheops di Mesir. 

Bila ada waktu cukup, saya akan menulis lebih detail mengapa saya 
mengintepretasi bahwa Baturahong area bongkaran dan mengapa terjadi pada masa 
sejarah/prasejarah. Di situ kita bisa beragumentasi, tidak di area apakah 
Sadahurip piramida atau gunungapi/gumuk piroklastika.

Saya pribadi secara singkat tidak menyimpulkan apa2 tentang Sadahurip, saya 
hanya menyajikan fakta dan interpretasi. Sadahurip kasus kompleks yang tak bisa 
segera ditafsirkan dalam dua jam mengamatinya.

salam,
Awang

--- Pada Kam, 9/2/12, Andang Bachtiar <[email protected]> menulis:

> Dari: Andang Bachtiar <[email protected]>
> Judul: RE: [iagi-net-l] DISKUSI  BENCANA KATASTROPIK PURBA DI  JAKARTA
> Kepada: [email protected], "'MGEI'" <[email protected]>
> Cc: "'SADONO'" <[email protected]>, "'GUNARDI'" <[email protected]>, 
> "'Feni Kertikasyari'" <[email protected]>, "'Iman Santoso'" 
> <[email protected]>, "'mira buana'" <[email protected]>, "'Bachtiar 
> T.'" <[email protected]>
> Tanggal: Kamis, 9 Februari, 2012, 10:21 AM
> Mang Okim yang saya kagumi,,
> 
> Sebenarnya banyak yang ingin saya klarifikasi sehubungan
> dengan interpretasi
> panjenengan terkait seminar kemarin itu.
> 
> Tetapi saya pikir lebih baik menunggu publikasi resmi saja
> untuk membeberkan
> semuanya, lagipula sebagian analisis sedang berlangsung
> sekarang ini.
> 
> Meskipun ada 2 hal prinsip yang mau-tidak-mau harus saya
> dahulukan
> klarifikasi di milis ini, yaitu:
> 
> 1.       Pasir lepas berbutir
> seragam yang kami dapatkan di lobang 2 teras 5
> dari kedalaman 8 s/d 15 meter dengan beberapa selingan
> andesit lapuk di
> antaranya SAMASEKALI tidak kita dapatkan di lobang pertama
> di teras 3 yang
> hanya berjarak  30 meter di utaranya. Mudah2an
> informasi ini membuat
> interpretasi kita menjadi lebih tajam yaitu tidak mungkin 3
> letusan besar
> dari gunung2 api di sekitar Gn Padang menaburkan abu
> volkanik setebal 2,
> 1.5, dan 0.8 meter memilih tempat khusus di ujung teras 5
> dan menghindari
> daerah teras 3 yang jaraknya hanya 30 meter di utaranya.
> 
> 2.       Tentang sinyalemen Mang
> Okim dg kalimat "konon telah  beberapa
> milyar  dikeluarkan so far" saya sangat berkeberatan;
> karena saya
> mengeluarkan duit saya pribadi untuk membiayai semua
> kegiatan saya, mapping,
> pemboran, rig, matabor, polimer, analisis2 lab, semua
> perjalanan; dan itu
> tidak sampai  40juta rupiah keseluruhannya dalam
> setahun ini. Alat2 kita
> pinjam, dan orang meminjamkannya dengan tulus dan sukarela.
> Tidak ada
> peneliti yang dibayar di penelitian ini. Ada pihak2 yang
> menyumbang,
> pinjaman peralatan maupun ongkos2; tapi nggak pernah sampai
> milyaran. Kalau
> toh ada yang menggunakan uang kantor untuk perjalanan kesana
> kemari dan
> menyelenggarakan seminar/pertemuan, saya pikir itupun
> juga  tidak sampai
> milyaran seperti yang dikononkan oleh Mang Okim.
> 
>  
> 
> Nah, mudah2an dengan demikian kawan2 IAGI yang budiman juga
> mendapatkan
> informasi yang berimbang dari yang benar2 melakukan.
> 
>  
> 
> Senang juga terus menerus mendapatkan inquiry dan keragu2an,
> karena itu
> semua akan memperkuat pelaporan dan penulisan ilmiah yang
> kelak akan kami
> terbitkan. Tapi mohon kesemuanya didasarkan pada
> keberimbangan informasi dan
> rasionalitas.
> 
>  
> 
> Lanjut, Maaaaang........
> 
>  
> 
> Salam
> 
> ADB-0800
> 
>  
> 
> From: Sujatmiko [mailto:[email protected]]
> Sent: Thursday, February 09, 2012 9:00 AM
> To: [email protected];
> MGEI
> Cc: SADONO; GUNARDI; Feni Kertikasyari; Iman Santoso; mira
> buana; Bachtiar
> T.
> Subject: [iagi-net-l] DISKUSI BENCANA KATASTROPIK PURBA DI
> JAKARTA
> 
>  
> 
> Rekan-rekan IAGI yang budiman,
> 
>  
> 
> Diskusi nasional  di Gedung Krida Bakti Jakarta 
> pada  7 Februari 2012
> kemaren dulu  yang diselenggarakan oleh Staf Khusus
> Presiden Bidang Bantuan
> Sosial dan Bencana dengan tema : Menguak Tabir Peradaban dan
> Bencana
> Katastropik Purba di Nusantara untuk Memperkuat 
> Karakter dan Ketahanan
> Nasional  telah berakhir sudah. Seperti telah
> diramalkan oleh Prof.
> Koesoemadinata dalam email beliau 4 Februari 2012, diskusi
> tersebut memang
> tidak menyimpulkan apa-apa karena tujuan pokoknya adalah
> menyosialisasikan
> dan melaporkan kemajuan kerja  Tim Bencana
> Katastropik  Purba ( BKP ).
> Laporan tersebut meliputi  hasil survey geolistrik di
> G. Sadahurip dan G.
> Padang, ditambah hasil pemboran inti  di G.
> Padang.  Selama berjam-jam
> hadirin dibuat terpesona oleh pemaparan Pak Danny dan Pak
> Andang yang
> menampilkan simulasi geolistrik dengan warna-warni yang
> memukau ---
> mengingatkan mang Okim akan biduri pancawarna Garut dan
> Bacan yang tak kalah
> eloknya --- karena bisa disentuh langsung --- ta' iya !
> Porsi mang Okim
> sendiri sebagai peng-asin bumbu diskusi hanya diberi waktu
> 10 menit saja,
> demikian juga Pak Awang dan Pak Lutfi, arkeologis.
> Prof.Sutikno Bronto yang
> bagawan gunung api purba,  sempat juga memberikan
> pandangannya.
> 
>  
> 
> Mang Okim sangat beruntung diundang khusus oleh Pak Andi
> Arief , Stafsus
> Presiden, untuk hadir di acara diskusi ini. Berkahnya
> sungguh banyak .
> Bayangin saja, setibanya di pintu masuk tempat acara, mang
> Okim yang
> ditemani neng Ai dan neng Feni , puteri sulung mang Okim,
> sudah mendapatkan
> penghormatan hebat --- langsung diantar oleh staf ahlinya
> Pak Andi Arief  ke
> ruang VIP ---  bukan karena nara sumber melainkan
> karena dikira Bupati Garut
> --- he-hee. Mang Okim juga bisa bersilaturahmi dalam suasana
> penuh
> persahabatan dengan Pak  Erick Rizky , Asisten Stafsus
> Presiden , yang
> pernah mengritik tajam artikel mang Okim  di PR tentang
> G. Sadahurip. Dengan
> Pak Andi Ariefpun , yang konon pernah meminta mang Okim
> untuk mengoreksi
> artikel di PR karena dianggap merendahkan dan meremehkan
> institusi
> kepresidenan, juga bisa bersilaturahmi dalam suasana tanpa
> beban. Puncak
> dari berkah yang mang Okim dapatkan ( selain amplop transpor
> tentunya --- he
> - hee ---) adalah kesempatan mengajak dan memimpin
> hadirin  untuk
> menyanyikan lagu BAGIMU NEGERI --- yang diikuti dengan penuh
> semangat oleh
> seluruh insan yang ada dalam ruangan ( termasuk para
> wartawan, peliput, dan
> karyawan catering ! ).
> 
>  
> 
> Beberapa catatan penting dalam  diskusi
> 
>  
> 
> Seperti telah disinggung di atas, diskusi bertaraf nasional
> dan konon juga
> internasional ini yang manajemen waktunya jungkir balik
> ,  didominasi oleh
> progress report hasil penelitian geolistrik di G. Sadahurip
> dan G. Padang
> oleh Pak Danny Hilman dan Pak Andang Bachtiar. Bertolak dari
> simulasi hasil
> geolistrik, beliau berdua menyimpulkan tentang kemungkinan
> adanya anomali di
> perut kedua gunung tersebut yang diinterpretasikan sebagai
> bangunan budaya
> alias manmade. Temuan yang lebih spektakuler lagi adalah
> dugaan adanya
> bidang pemangkasan atau sejenis bidang unconformity
> pada  kedalaman 100 m di
> bawah puncak, baik itu di G. Sadahurip ataupun G. Padang.
> Eksplorasi
> terhadap teka-teki bidang pemangkasan imaginer inilah yang
> rupanya akan
> dilakukan dengan cara pemboran inti di bulan Maret nanti. 
> 
>  
> 
> Selain dari itu, Pak Andang juga melaporkan tentang hasil
> pemboran inti di
> G. Padang yang mencapai TD 26 meter di bawah teras 3 pada 5
> Februari 2012.
> Interpretasi beliau  yang sangat mengandung resiko
> karena langsung diumumkan
> di depan publik dan disiarkan oleh hampir  seluruh
> media cetak dan
> elektronik di  Indonesia   dan juga
> dunia, menyimpulkan tentang ditemukannya
> beberapa ruangan , di antaranya 3 ruangan berisi lapisan
> pasir   yang
> ditembus oleh mata bor pada kedalaman 8 meter di bawah teras
> 3 , dengan
> ketebalan masing-masing 2 meter, 1,5 meter, dan 0,80 meter.
> Lapisan pasir
> tersebut yang butirannya sangat  seragam yaitu antara
> 500 dan 710 mikron
> diinterpretasikan sebagai   pasir yang
> tampaknya sengaja disaring atau
> diayak oleh arsitek pembangunan teras berundak G. Padang
> pada 5500 tahun
> yang lalu untuk dipakai sebagai lapisan penahan gempa ( ???
> ).
> 
>  
> 
> Dengan sangat menyesal mang Okim terpaksa menyampaikan 
> interpretasi yang
> sangat berbeda , yang didasarkan atas hasil quick look
> terhadap contoh
> beberapa gram pasir halus  yang diberikan oleh 
> Pak Andang di akhir acara
> diskusi. Pasir tersebut yang seluruh butirannya very angular
> dan tersusun
> dari butiran gelas, feldspar, dan mineral lainnya,
> memberikan indikasi
> belum pernah mengalami transportasi ( in situ ). Dengan
> demikian maka  mang
> Okim berani menginterpretasikannya sebagai  volcanic
> ash alias abu gunung
> api yang dihasilkan dari 3  letusan gunung api dahsyat
> somewhere di Jawa
> Barat , pada 3 periode yang berbeda. Mengacu kepada letusan
> G.St. Helen di
> Amerika pada 18 Mei 1980,  dengan butiran berdiameter
> antara 500 dan 710
> mikron seperti yang ditemukan di G. Padang, maka seandainya
> kecepatan tiupan
> angin sama dengan di kawasan G. St. Helen ( 80 - 140 km /
> jam ), lokasi
> pusat letusan gunung diperkirakan sekitar 80 - 160 km 
> dari G. Padang (
> temuan ini  semoga tidak  kalah menariknya dari
> perburuan / diskusi tentang
> piramida - non piramida - - - ta' iya !!! ).
> 
>  
> 
> Usulan mang Okim / Kelompok Riset Cekungan Bandung
> 
>  
> 
> Kontroversi G. Sadahurip tampaknya tidak akan cepat berlalu
> apalagi  setelah
> ditambah dengan hasil pengamatan Pak Awang yang mensinyalir
> atau menafsirkan
> bahwa sebagian besar batuan di lembah Batu Rahong
> hilang  karena ditambang
> oleh orang baheula untuk dipakai sebagai material
> pembangunan piramida
> Sadahurip ( walau jejak-jejak penambangan dan kultur
> masyarakat sekitar
> diakui  tidak mendukung ). Tidak adanya vent, conduit,
> orifice, atau lubang
> letusan yang selalu dijadikan argumentasi oleh Tim BKP bahwa
> G. Sadahurip
> bukan gunung api purba , telah dijelaskan dalam presentasi
> mang Okim,  dan
> dikoreksi  juga oleh Prof. Sutikno Bronto, penulis buku
> Gunung Api Purba.
> Kajian geologi dan arkeologi yang begitu terang benderang ,
> demikian juga
> peringatan  keras oleh Prof. Sutikno Bronto agar Tim
> BKP lebih berhati-hati
> kalau menganalisa atau melontarkan statemen yang di luar
> bidangnya,
> tampaknya bagaikan angin lalu saja.  
> 
>  
> 
> Sehubungan dengan hal-hal  di atas dan mempertimbangkan
> begitu kokohnya Tim
> BKP dan Stafsus Presiden untuk go onward - no retreat dengan
> rencana awalnya
> yang tentunya akan menelan biaya yang tidak sedikit ( konon
> telah  beberapa
> milyar  dikeluarkan so far ), maka mang Okim
> menyarankan agar untuk
> membuktikan mimpi-mimpi yang lahir dari simulasi hasil
> geolistrik , dan
> sebelum melakukan kegiatan pemboran di G. Sadahurip, tim
> BKP  melakukan dulu
> penelitian geolistrik di  G. Pancir atau  G. 
> Selacau di Cimahi, yang selain
> bentuknya yang mirip piramida, kulit luarnya juga sudah
> terkelupas oleh
> kegiatan penambangan. Dengan demikian maka akan 
> langsung dapat dibuktikan
> tentang  keabsahan interpretasi geolistriknya untuk
> kemudian
> diimplementasikan ke hasil geolistrik di G. Sadahurip dan G.
> Padang. Prof.
> Sutikno Bronto bahkan lebih ektrim lagi, menyarankan agar
> geolistriknya
> sekalian dilakukan di G. Guntur saja yang saat ini sedang
> tiduran. Saran ini
> bisa saja membuat Tim BKP tertawa, tetapi dari pada
> terus-terusan bermimpi,
> kan lebih baik segera bangun untuk mengerjakan hal-hal lain
> yang lebih
> bermanfaat bagi masyarakat, nusa, dan bangsa - - - ta' iya
> !!!
> 
>  
> 
> Salam Cinta Ilmu Kebumian / Geologi.
> 
>  
> 
> Mang Okim
> 
>  
> 
> L A M P I R A N
> 
> ( Foto-foto pada acara diskusi Bencana Purba, 7 Februari
> 2012 )
> 
>  
> 
> DSCN0011-40.jpg
> 
> Gambar 1 : Suasana di ruangan acara ( sekitar 400 orang 
> 
> termasuk wartawan koran dan peliput TV )
> 
>  
> 
> Gambir-20120207-00193-40.jpg
> 
> Gambar 2 : Prof Sahala Hutabarat dari UNDIP dengan cincin
> mutiaranya 
> 
> menyimak presentasi Pak Andang dan pak Danny.
> 
>  
> 
> DSCN0056-40.jpg
> 
> Gambar 3 : Mang Okim memimpin lagu Bagimu Negeri. 
> 
> Pak Awang dan Pak Danny tampak semangat menyanyikannya.
> 
>  
> 
> DSCN0055-40.jpg
> 
> Gambar 4 : Seluruh hadirin dengan antusias menyanyikan lagu
> Bagimu Negeri
> 
>  
> 
> DSCN0081.JPG
> 
> Gambar 5 : Prof. Sutikno Bronto, ahli gunung api purba,
> memberikan
> pandangannya.
> 
>  
> 
> DSCN0115-40.jpg
> 
> Gambar 6 : Mang Okim mendadak beken,  dikerubuti
> wartawan dan peliput TV-
> he---hee.
> 
>  
> 
> DSCN0125-40.jpg
> 
> Gambar 7 : Teh Feni, neng Ai, dan mang Okim diabadikan
> bareng
> 
> Pak Andi Arief,  Stafsus Presiden Bidang Sosial dan
> Bencana,.
> 
>  
> 
>  
> 
>  
> 
>  
> 
> --------------------------------------------------------------------------------
> PP-IAGI 2011-2014:
> Ketua Umum: Rovicky Dwi Putrohari, rovicky[at]gmail.com
> Sekjen: Senoaji, ajiseno[at]ymail.com
> --------------------------------------------------------------------------------
> Jangan lupa PIT IAGI 2012 di Jogjakarta tanggal 17-20
> September 2012.
> Kirim abstrak ke email: pit.iagi.2012[at]gmail.com. Batas
> akhir pengiriman abstrak 28 Februari 2012.
> --------------------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to:
> iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to:
> iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> For topics not directly related to Geology, users are
> advised to post the email to: [email protected]
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to
> information posted on its mailing lists, whether posted by
> IAGI or others. In no event shall IAGI or its members be
> liable for any, including but not limited to direct or
> indirect damages, or damages of any kind whatsoever,
> resulting from loss of use, data or profits, arising out of
> or in connection with the use of any information posted on
> IAGI mailing list.
> ---------------------------------------------------------------------

--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2011-2014:
Ketua Umum: Rovicky Dwi Putrohari, rovicky[at]gmail.com
Sekjen: Senoaji, ajiseno[at]ymail.com
--------------------------------------------------------------------------------
Jangan lupa PIT IAGI 2012 di Jogjakarta tanggal 17-20 September 2012.
Kirim abstrak ke email: pit.iagi.2012[at]gmail.com. Batas akhir pengiriman 
abstrak 28 Februari 2012.
--------------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
For topics not directly related to Geology, users are advised to post the email 
to: [email protected]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke