Biarkan seribu bunga berkembang bersama Keindahan dan keharuman Memperhalus jiwa raga
Salam, selamat menjelang malam. Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: Nataniel Mangiwa <[email protected]> Date: Sun, 26 Feb 2012 18:30:22 To: <[email protected]> Reply-To: <[email protected]> Subject: Re: [iagi-net-l] Fwd: ARTIKEL KORAN PR sepakat! jangan pernah menseragamkan pendapat..kalau seragam apa bedanya dengan dpr. dan ga perlu harus menseragamkan / takut mendebat siapapun hanya karena posisinya (dia siapa dan jabatannya apa). lihat pendapatnya..bukan orangnya. salute untuk semua.. natan On Feb 26, 2012 5:36 PM, "sanggam hutabarat" <[email protected]> wrote: > Banggalah jd alumni Geol ITB, beda pendapat antar eks murid dan eks guru > biasa, apalagi eks murid vs eks murid...sangat biasa itu...kalau enggak > berbeda itu luar biasa.. > > thanks dr > penikmat diskusi geologi kwarter hingga kambrium/kambium > > *From:* "[email protected]" <[email protected]> > *To:* [email protected] > *Sent:* Sunday, 26 February 2012, 7:26 > *Subject:* Re: [iagi-net-l] Fwd: ARTIKEL KORAN PR > > Mang Okim yang saya hormati, > > Nyuwun sewu, > > Saya koq tidak melihat hubungan antara tuduhan yang Mang Okim alamatkan > kepada Danny Hilman bhw dia melontarkan kata2 kurang pantas kpd para anak > didik geologi ITB dg tulisan yg dipostingnya. > > Kalau yg saya rasakan dari membaca postingan Danny tsb malahan dia > mengapresiasi usaha2 perintisan "geoakrkeologi" yg sdh dilakuakn oleh > beliau guru besar kita di ITB. Danny hanya mencoba menganalisis knapa > usaha2 itu tdk berlanjut dg meriah, krn orientasi pendidikan kita yg lebih > ke eksplorasi-eksploitasi sumberdaya alam (Danny menyebutkannya sbg > "tujuannya untuk eksplorasi tambang"). > > Terus terang saya jadi heran kenapa koq ada yg menangkap tulisan itu > berbeda dr kesan saya ya? > > Mudah2an kita semua selalu diberi kesabaran dan hidayah untuk selalu > mengedepankan kebaikan dan ukhuwah. > > > Salam > ADB > Powered by Telkomsel BlackBerry® > *From: *"miko" <[email protected]> > *Date: *Sun, 26 Feb 2012 03:38:17 +0000 > *To: *[email protected]<[email protected]> > *ReplyTo: *<[email protected]> > *Subject: *Re: [iagi-net-l] Fwd: ARTIKEL KORAN PR > > Pak Danny, > > Semoga dosen-dosen geologi dasar, geologi struktur, geomorfologi dll, > khususnya di lingkungan ITB tidak membaca judgement /penilaian Anda tentang > kualitas para lulusannya. > > Kata-kata celoteh, bungkam, lack of knowledge, dll. rasanya kurang pantas > ditujukan kepada mereka yang telah digembleng oleh Prof. Katili, Prof > Sukendar, Prof Koesoema, Prof.Sampurno, Prof Tjia Hong Djin, Prof Sartono, > Prof Zaim, dll. Semoga lain kali lebih bijak ya Pak, > > Salam prihatin, > > Mang Okim > > *From: *"Danny Hilman Natawidjaja" <[email protected]> > *Date: *Sun, 26 Feb 2012 09:52:49 +0700 > *To: *<[email protected]> > *ReplyTo: *<[email protected]> > *Subject: *RE: [iagi-net-l] Fwd: ARTIKEL KORAN PR > > Artikel yang sangat menarik dan bagus. > Konsep yang diketengahkan olek Pak Zaim dalam artikel ini juga menjadi > konsep dasar yang kami terapkan, plus hipotesis bahwa perkembangan > peradaban termasuk IPTEK, khususnya sejak masa pra-sejarah, itu tidak > kontinyu tapi terputus atau dapat ter-reset oleh bencana katastrofis. > Demikian juga konsep IPTEK (macam, prinsip, teknik) di masa lalu tidak > harus sama dengan yang kita kenal sekarang. Pak Zaim menguraikan proses > alam pada masa sejarah yang didominasi oleh susut laut – turunnya muka > airlaut, sehingga banyak wilayah yang terkena dampak sedimentasi dan > pendangkalan. Ini benar karena dari Mid-Holocene sampai kurang lebih 100 > tahun lalu muka airlaut global turun sekitar 2-3 meter. Sebaliknya, dari > 20.000 tahun (puncak Zaman Es) sampai Mid-Holocene, muka air laut naik 130 > meter. Jadi tentu banyak peradaban yang ‘terendam’. Interaksi dari > perubahan muka airlaut yang drastis, yang banyak diduga juga berkaitan > dengan kejadian bencana katastropik seperti letusan gunung api, dengan > perkembangan peradaban manusia ini belum banyak dieksplorasi. Kami menduga > kuat ada “ketidakselaran” budaya yang besar yang memisahkan Jaman Sejarah > dan Pra Sejarah; bahkan dari Jaman Kerajaan ke Jaman kita sekarang pun > kelihatannya ‘tidak selaras’. Jangan-jangan ini salah satu penyebab budaya > kita sekarang jadi ‘kurang waras’ J (bercanda). > > Salah satu alasan utama kenapa penelitian arkeo-geologi yang sudah > dirintis oleh Alm. Pak Sartono, kemudian Pak Sampoerno, kemudian juga > diteruskan oleh Pak Zaim ini kurang/tidak berkembang adalah karena ilmu > geologi Kuarter Indonesia tidak berkembang. Ahli geologi kita umumnya > mendapatpengajaran dan training untuk ‘membaca’ sejarah geologi dari masa > pra-manusia (jutaan-puluhan juta tahun lalu) yang ter-rekam pada lapisan > bebatuan, baik pada singkapan ataupun pada data bor, karena tujuannya untuk > eksplorasi tambang. Tapi kita umumnya tidak terlatih untuk membaca proses > dan sejarah geologi dari BENTANG ALAM yang kita lihat disekitar kita > sekarang. Geologiawan Indonesia umumnya akan pandai berceloteh kalau > ketemu singkapan, tapi akan bungkam kalau disuruh mengidentifikasi mana > teras-teras sungai mana tebing patahan aktif, mana alluvial mana collovial, > dlsb; dan bagaimana proses geologi yang membentuk bentang alam > ‘destruktif’ dan ‘konstruktif’ yang terlihat sekarang. Belum lagi tentang > proses-proses gunung api Kuarter-Holosen dan produk-produknya. “Alot’nya > membahas ‘masalah piramid’ tidak terlepas dari “lack of knowledge” kita > dibidang ini. Mudah-mudahan ‘isue piramid’ dapat memberikan angin segar > kepada bidang yang dianggap kering ini, sehingga nyanyian orang yang > berkiprah di bidang ini tidak lagi terlalu serak tapi menjadi serak-serak > basah sehingga merdu. > > Selamat berakhir pekan. > DHN > > > > *From:* Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[email protected]] > *Sent:* Saturday, February 25, 2012 11:04 PM > *To:* IAGI > *Subject:* [iagi-net-l] Fwd: ARTIKEL KORAN PR > > Fyi, > > ---------- Forwarded message ---------- > From: > Date: Sunday, February 26, 2012 > Subject: ARTIKEL KORAN PR > To: [email protected] > Cc: [email protected] > > > Ass.w.w., > Pak Rovicky, > Maaf saya pakai Japri karena kalau pakai jalur IAGI tidak bisa kirim file. > Terlampir dalam attach file saya kirim tulisan saya di Koran Harian > Pikiran Rakyat yang terbit di tahun 1997. Tulisan tersebut saya temukan > tidak sengaja ketika beres2 dan bongkar2 berkas saya yang berantakan di > kantor. Saya kirim copy artikel ini sekedar untuk diketahui bahwa saya > sudah lama mencoba memasyarakatkan Geologi untuk bidang Budaya > (baca:arkeologi). Telah lama sebenarnya saya di bawah dan bersama Almarhum > Prof. Sartono mengembangkan Geologi Kuarter dan Geoarkeologi di ITB dan > Indonesia. Dari sekian upaya kami, salah satunya adalah melalui tulisan > populer di koran yaitu Pikiran Rakyat. > Sekedar bacaan Akhir Pekan. > Wslm, > Zaim > > > -- > *"Sejarah itu tidak pernah usang untuk terus dipelajari"* > > >

