Yth. Pak Andang ,
Mohon beribu maaf kalau mang Okim keliru mengartikan tulisan sahabat kita Pak Danny. Mungkin hal ini terjadi karena mang Okim sehari-harinya banyak bergaul dan terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran sederhana dari masyarakat pengrajin batumulia. Mungkin karena itu pulalah pemikiran mang Okim menjadi sederhana saja khususnya dalam membaca dan menginterpretasi fenomena alam, yaitu menerapkan konsep-konsep geologi yang diajarkan di bangku kuliah ( ITB dan IFP ), ditambah dengan pengalaman geologi praktis selama hampir 50 tahunan tanpa jedah ( mang Okim sudah diangkat sebagai pegawai tugas belajar di Direktorat Geologi Bandung sejak tahun 1963 ). Kepada Pak Danny, maapin ya kalau remark mang Okim kurang / tidak berkenan. Walaupun semua itu diniatkan demi kebaikan kita semua, cara mang Okim menyampaikannya sering kurang bijak, padahal di umur yang sudah senja ini , sebaiknya mang Okim harus lebih banyak mawas diri - - - ta’ iya ( terima kasih kepada buku ESQ nya pak Ary Ginanjar yang mang Okim buka lagi sejak kemaren, khususnya yang membahas tentang Zero Mind Process dan menanamkan God Spot dalam diri kita ). Pesan khusus buat pak Danny dan Spouse, kalau kebetulan di Bandung, please do come ke regular meeting di Grand Royal Panghegar nanti malam pkl. 18.30. Thanks. Wassalam, Mang Okim From: sanggam hutabarat [mailto:[email protected]] Sent: 26 Februari 2012 17:36 To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net-l] Fwd: ARTIKEL KORAN PR Banggalah jd alumni Geol ITB, beda pendapat antar eks murid dan eks guru biasa, apalagi eks murid vs eks murid...sangat biasa itu...kalau enggak berbeda itu luar biasa.. thanks dr penikmat diskusi geologi kwarter hingga kambrium/kambium From: "[email protected]" <[email protected]> To: [email protected] Sent: Sunday, 26 February 2012, 7:26 Subject: Re: [iagi-net-l] Fwd: ARTIKEL KORAN PR Mang Okim yang saya hormati, Nyuwun sewu, Saya koq tidak melihat hubungan antara tuduhan yang Mang Okim alamatkan kepada Danny Hilman bhw dia melontarkan kata2 kurang pantas kpd para anak didik geologi ITB dg tulisan yg dipostingnya. Kalau yg saya rasakan dari membaca postingan Danny tsb malahan dia mengapresiasi usaha2 perintisan "geoakrkeologi" yg sdh dilakuakn oleh beliau guru besar kita di ITB. Danny hanya mencoba menganalisis knapa usaha2 itu tdk berlanjut dg meriah, krn orientasi pendidikan kita yg lebih ke eksplorasi-eksploitasi sumberdaya alam (Danny menyebutkannya sbg "tujuannya untuk eksplorasi tambang"). Terus terang saya jadi heran kenapa koq ada yg menangkap tulisan itu berbeda dr kesan saya ya? Mudah2an kita semua selalu diberi kesabaran dan hidayah untuk selalu mengedepankan kebaikan dan ukhuwah. Salam ADB Powered by Telkomsel BlackBerry® From: "miko" <[email protected]> Date: Sun, 26 Feb 2012 03:38:17 +0000 To: [email protected]<[email protected]> ReplyTo: <[email protected]> Subject: Re: [iagi-net-l] Fwd: ARTIKEL KORAN PR Pak Danny, Semoga dosen-dosen geologi dasar, geologi struktur, geomorfologi dll, khususnya di lingkungan ITB tidak membaca judgement /penilaian Anda tentang kualitas para lulusannya. Kata-kata celoteh, bungkam, lack of knowledge, dll. rasanya kurang pantas ditujukan kepada mereka yang telah digembleng oleh Prof. Katili, Prof Sukendar, Prof Koesoema, Prof.Sampurno, Prof Tjia Hong Djin, Prof Sartono, Prof Zaim, dll. Semoga lain kali lebih bijak ya Pak, Salam prihatin, Mang Okim From: "Danny Hilman Natawidjaja" <[email protected]> Date: Sun, 26 Feb 2012 09:52:49 +0700 To: <[email protected]> ReplyTo: <[email protected]> Subject: RE: [iagi-net-l] Fwd: ARTIKEL KORAN PR Artikel yang sangat menarik dan bagus. Konsep yang diketengahkan olek Pak Zaim dalam artikel ini juga menjadi konsep dasar yang kami terapkan, plus hipotesis bahwa perkembangan peradaban termasuk IPTEK, khususnya sejak masa pra-sejarah, itu tidak kontinyu tapi terputus atau dapat ter-reset oleh bencana katastrofis. Demikian juga konsep IPTEK (macam, prinsip, teknik) di masa lalu tidak harus sama dengan yang kita kenal sekarang. Pak Zaim menguraikan proses alam pada masa sejarah yang didominasi oleh susut laut – turunnya muka airlaut, sehingga banyak wilayah yang terkena dampak sedimentasi dan pendangkalan. Ini benar karena dari Mid-Holocene sampai kurang lebih 100 tahun lalu muka airlaut global turun sekitar 2-3 meter. Sebaliknya, dari 20.000 tahun (puncak Zaman Es) sampai Mid-Holocene, muka air laut naik 130 meter. Jadi tentu banyak peradaban yang ‘terendam’. Interaksi dari perubahan muka airlaut yang drastis, yang banyak diduga juga berkaitan dengan kejadian bencana katastropik seperti letusan gunung api, dengan perkembangan peradaban manusia ini belum banyak dieksplorasi. Kami menduga kuat ada “ketidakselaran” budaya yang besar yang memisahkan Jaman Sejarah dan Pra Sejarah; bahkan dari Jaman Kerajaan ke Jaman kita sekarang pun kelihatannya ‘tidak selaras’. Jangan-jangan ini salah satu penyebab budaya kita sekarang jadi ‘kurang waras’ J (bercanda). Salah satu alasan utama kenapa penelitian arkeo-geologi yang sudah dirintis oleh Alm. Pak Sartono, kemudian Pak Sampoerno, kemudian juga diteruskan oleh Pak Zaim ini kurang/tidak berkembang adalah karena ilmu geologi Kuarter Indonesia tidak berkembang. Ahli geologi kita umumnya mendapatpengajaran dan training untuk ‘membaca’ sejarah geologi dari masa pra-manusia (jutaan-puluhan juta tahun lalu) yang ter-rekam pada lapisan bebatuan, baik pada singkapan ataupun pada data bor, karena tujuannya untuk eksplorasi tambang. Tapi kita umumnya tidak terlatih untuk membaca proses dan sejarah geologi dari BENTANG ALAM yang kita lihat disekitar kita sekarang. Geologiawan Indonesia umumnya akan pandai berceloteh kalau ketemu singkapan, tapi akan bungkam kalau disuruh mengidentifikasi mana teras-teras sungai mana tebing patahan aktif, mana alluvial mana collovial, dlsb; dan bagaimana proses geologi yang membentuk bentang alam ‘destruktif’ dan ‘konstruktif’ yang terlihat sekarang. Belum lagi tentang proses-proses gunung api Kuarter-Holosen dan produk-produknya. “Alot’nya membahas ‘masalah piramid’ tidak terlepas dari “lack of knowledge” kita dibidang ini. Mudah-mudahan ‘isue piramid’ dapat memberikan angin segar kepada bidang yang dianggap kering ini, sehingga nyanyian orang yang berkiprah di bidang ini tidak lagi terlalu serak tapi menjadi serak-serak basah sehingga merdu. Selamat berakhir pekan. DHN From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[email protected]] Sent: Saturday, February 25, 2012 11:04 PM To: IAGI Subject: [iagi-net-l] Fwd: ARTIKEL KORAN PR Fyi, ---------- Forwarded message ---------- From: Date: Sunday, February 26, 2012 Subject: ARTIKEL KORAN PR To: [email protected] Cc: [email protected] Ass.w.w., Pak Rovicky, Maaf saya pakai Japri karena kalau pakai jalur IAGI tidak bisa kirim file. Terlampir dalam attach file saya kirim tulisan saya di Koran Harian Pikiran Rakyat yang terbit di tahun 1997. Tulisan tersebut saya temukan tidak sengaja ketika beres2 dan bongkar2 berkas saya yang berantakan di kantor. Saya kirim copy artikel ini sekedar untuk diketahui bahwa saya sudah lama mencoba memasyarakatkan Geologi untuk bidang Budaya (baca:arkeologi). Telah lama sebenarnya saya di bawah dan bersama Almarhum Prof. Sartono mengembangkan Geologi Kuarter dan Geoarkeologi di ITB dan Indonesia. Dari sekian upaya kami, salah satunya adalah melalui tulisan populer di koran yaitu Pikiran Rakyat. Sekedar bacaan Akhir Pekan. Wslm, Zaim -- "Sejarah itu tidak pernah usang untuk terus dipelajari"

