Selamat pagi.

Wah, Pak Ban ini serius amat ya J

Kan lebih baik menjadi orang waras yang merasa ‘masih kurang waras’ disbanding 
orang edan yang merasa paling waras…wk wk wk

Perihal apakah kepribadian dan kebudayaan di Jaman Kejayaan Kerajaan (sebelum 
1500 M) ‘selaras’ dengan kebufayaan manusia Indonesia sekarang adalah hal yang 
tidak sederhana tentunya, tapi yang jelas masa kita sekarang dipisahkan oleh 
ratusan tahun masa kolonial dari jaman kejayaan itu.  Dan kita dengan berbagai 
cara dibuat ‘hilang ingatan’ akan jati diri dan akar (sejarah) bangsa (oleh 
para penjajah).  Jangan-jangan usaha ini masih di-“maintain” sampai sekarang 
(secara terselubung).

 

Sekedar contoh kecil.  Bangunan Candi Batujaya dari abad 4 Masehi, khususnya 
kualitas batubatanya itu luarbiasa bagusnya (dan sudah teruji ketahanannya 
selama 1600 tahun).  Kata orang ahli material jauh lebih bagus dari umumnya 
batubata jaman sekarang.  Nah, bisa dibilang perkembangan teknologi yang tidak 
selaras bukan?  Orang jaman sekarang umumnya hanya tahu kehebatan 
bangunan-bangunan yang dibuat Belanda saja.

 

Wass

DHN

 

 

 

From: Bandono Salim [mailto:[email protected]] 
Sent: Monday, February 27, 2012 4:34 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Fwd: ARTIKEL KORAN PR

 

Mohon ijin, ikut nimbrung, mungkin salah besar.

Wah kalau keselarasan pra sejarah ke sejarah agak sulit yaa, krn buktinya tidak 
banyak, meskipun ada. Lha ini kan yang sedang dilacak oleh :DHN AB EJ AA SBY
TuranggaSeta, juga para arkeolog meskipun konsepnya beda.

Kalau jaman kerajaan ke sekarang yaa jelas selaras, semua tercatat. Bukti 
peninggalan berupa karya pujangga masih digunakan di banyak kalangan, perilaku 
sopan santun, acara adat, bela diri, musik, ilmu pengobatan dll masih ada dan 
masih nyambung.

Mungkin erosi budaya dan pendidikan "sekuler" itu yang menyebabkan rasa ketidak 
selarasan para ilmuwan muda karena bertentangan dgn pola pikir "dunia 
barat/baru".

Lha budaya tidak waras itu apakah budaya yang tidak punya kaitan dengan budaya 
kearifan yang masih dipergunakan oleh masyarakat umum, atau budaya yang tidak 
nurut pola pikir "dunia modern"?
Wah aku kagak ngerti juga; mari pencetus ungkapan, jelaskan apa yang sdr 
maksud, lha aku kan bukan budayawan
Salam n selamat pagi.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

  _____  

From: bosman batubara <[email protected]> 

Date: Sun, 26 Feb 2012 10:09:53 -0800 (PST)

To: [email protected]<[email protected]>

ReplyTo: <[email protected]> 

Subject: Re: [iagi-net-l] Fwd: ARTIKEL KORAN PR

 

Saya justru tertarik dengan candanya Pak DHN. Bisa dieksplorasikah Pak bagian 
"ketidakselarasan budaya" dan budaya yang "kurang waras"? Makasih duluan...

 

tabik

bosman batubara 

 

  _____  

From: Danny Hilman Natawidjaja <[email protected]>
To: [email protected] 
Sent: Sunday, February 26, 2012 3:52 AM
Subject: RE: [iagi-net-l] Fwd: ARTIKEL KORAN PR

 

Artikel yang sangat menarik dan bagus. 

Konsep yang diketengahkan olek Pak Zaim dalam artikel ini juga menjadi konsep 
dasar yang kami terapkan, plus hipotesis bahwa perkembangan peradaban termasuk 
IPTEK, khususnya sejak masa pra-sejarah, itu tidak  kontinyu tapi terputus atau 
dapat ter-reset oleh bencana katastrofis.  Demikian juga konsep IPTEK (macam, 
prinsip, teknik) di masa lalu tidak harus sama dengan yang kita kenal sekarang. 
 Pak Zaim menguraikan proses alam pada masa sejarah yang didominasi oleh susut 
laut – turunnya muka airlaut, sehingga banyak wilayah yang terkena dampak 
sedimentasi dan pendangkalan.  Ini benar karena dari Mid-Holocene sampai kurang 
lebih 100 tahun lalu muka airlaut global turun sekitar 2-3 meter.  Sebaliknya, 
dari 20.000 tahun (puncak Zaman Es) sampai Mid-Holocene, muka air laut naik 130 
meter.  Jadi tentu banyak peradaban yang ‘terendam’.   Interaksi dari perubahan 
muka airlaut yang drastis, yang banyak diduga juga berkaitan dengan kejadian 
bencana katastropik seperti letusan gunung api, dengan perkembangan peradaban 
manusia ini belum banyak dieksplorasi.  Kami menduga kuat ada “ketidakselaran” 
budaya yang besar yang memisahkan Jaman Sejarah dan Pra Sejarah; bahkan dari 
Jaman Kerajaan ke Jaman kita sekarang pun kelihatannya ‘tidak selaras’.  
Jangan-jangan ini salah satu penyebab budaya kita sekarang jadi ‘kurang waras’  
J (bercanda).

 

Salah satu alasan utama kenapa penelitian arkeo-geologi yang sudah dirintis 
oleh Alm. Pak Sartono, kemudian Pak Sampoerno, kemudian juga diteruskan oleh 
Pak Zaim ini kurang/tidak berkembang adalah karena ilmu geologi Kuarter 
Indonesia tidak berkembang.  Ahli geologi kita umumnya mendapatpengajaran dan 
training untuk ‘membaca’ sejarah geologi dari masa pra-manusia (jutaan-puluhan 
juta tahun lalu) yang ter-rekam pada lapisan bebatuan, baik pada singkapan 
ataupun pada data bor, karena tujuannya untuk eksplorasi tambang.  Tapi kita 
umumnya tidak terlatih untuk membaca proses dan sejarah geologi dari BENTANG 
ALAM yang kita lihat disekitar kita sekarang.  Geologiawan Indonesia umumnya 
akan pandai berceloteh kalau ketemu singkapan, tapi akan bungkam kalau disuruh 
mengidentifikasi  mana teras-teras sungai mana tebing patahan aktif, mana 
alluvial mana collovial, dlsb;  dan bagaimana proses geologi yang membentuk 
bentang alam ‘destruktif’ dan ‘konstruktif’ yang terlihat sekarang.  Belum lagi 
tentang proses-proses gunung api Kuarter-Holosen dan produk-produknya.  
“Alot’nya membahas ‘masalah piramid’ tidak terlepas dari “lack of knowledge” 
kita dibidang ini.  Mudah-mudahan ‘isue piramid’ dapat memberikan angin segar 
kepada bidang yang dianggap kering ini, sehingga  nyanyian orang yang berkiprah 
di bidang ini tidak lagi terlalu serak tapi menjadi serak-serak basah sehingga 
merdu.

 

Selamat berakhir pekan.

DHN

 

 

 

From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[email protected]] 
Sent: Saturday, February 25, 2012 11:04 PM
To: IAGI
Subject: [iagi-net-l] Fwd: ARTIKEL KORAN PR

 

Fyi,

---------- Forwarded message ----------
From:
Date: Sunday, February 26, 2012
Subject: ARTIKEL KORAN PR
To: [email protected]
Cc: [email protected]


Ass.w.w.,
Pak Rovicky,
Maaf saya pakai Japri karena kalau pakai jalur IAGI tidak bisa kirim file.
Terlampir dalam attach file saya kirim tulisan saya di Koran Harian
Pikiran Rakyat yang terbit di tahun 1997. Tulisan tersebut saya temukan
tidak sengaja ketika beres2 dan bongkar2 berkas saya yang berantakan di
kantor. Saya kirim copy artikel ini sekedar untuk diketahui bahwa saya
sudah lama mencoba memasyarakatkan Geologi untuk bidang Budaya
(baca:arkeologi). Telah lama sebenarnya saya di bawah dan bersama Almarhum
Prof. Sartono mengembangkan Geologi Kuarter dan Geoarkeologi di ITB dan
Indonesia. Dari sekian upaya kami, salah satunya adalah melalui tulisan
populer di koran yaitu Pikiran Rakyat.
Sekedar bacaan Akhir Pekan.
Wslm,
Zaim


-- 
"Sejarah itu tidak pernah usang untuk terus dipelajari"

 

Kirim email ke