Waduuh kok kesan Pak Yatno seperti itu ya? Mohon dibaca lagi lebih tenang k e-mail saya dan e-mail2 sebelumnya pak.
Rasanya ulasan saya tidak pake kesel tuh biasa-biasa saja. "Lack of knowledge" disini tidak juga dimaksudkan untuk mendeskriditkan atau melecehkan siapa2 kok pak. Denger - denger teman2 di ITB lagi seneng hobi iseng-iseng mengukur diri dengan citation index ini he he he. Saya engga punya akses ke SCORPUS pak, tapi kebetulan ketemu "search engine" gratis di http://code.google.com/p/citations-gadget/. Menurut situs ini, Paper Pak Yatno banyak juga ya, sampai 400-an dsengan "H-Index" 11. Tapi saya lebih banyak pak, paper sampai 1200-an dengan H Index 19 J Silahkan teman-teman yang iseng mencoba juga. Salam DHN From: Yustinus Suyatno Yuwono [mailto:[email protected]] Sent: Tuesday, February 28, 2012 4:20 PM To: [email protected] Subject: RE: [iagi-net-l] Fwd: ARTIKEL KORAN PR Mas Miko, Rekan Danny saya liat dari tulisannya di bawah ini keliatan kesal dengan produk akhir lulusan Geologi ITB, kenapa minatnya kurang sekali di bidang Geologi Kwarter. Tapi cara nulisnya begitu, akhirnya ya ada yang menangkap kesannya melecehkan lembaga pendidikan kita (ITB). Kekesalan serupa yang saya alami ketika tidak ada mhs yang berminat di Petrologi Volkanik dan Pemetaan Volkanik (dulu). Memang kesan tulisan Danny dapat ditangkap kita- kita ini ( geologiwan Indonesia ) :"lack of knowledge" pada bidang tertentu, karena makin berkembangnya ilmu makin dituntut spesialisasi yang makin mendalam. Oleh karena itu, saya hanya mau memberi komentar yang betul-2 saya tahu, supaya saya tidak dicap "lack of knowledge", atau dianggap sok pintar. Di bidang science sebetulnya sekarang ini mudah sekali menilai seseorang dengan melihat karya ilmiahnya (termasuk bidangnya apa), dengan klik google, untuk melihat "citation index". Dari citation index ini akan kelihatan siapa saja yang dianggap Danny sebagai "lack of knowledge" Salam, YSY (tidak kesal bila tidak ada yang berminat pada bidangnya) From: miko [mailto:[email protected]] Sent: Sunday, February 26, 2012 10:38 AM To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net-l] Fwd: ARTIKEL KORAN PR Pak Danny, Semoga dosen-dosen geologi dasar, geologi struktur, geomorfologi dll, khususnya di lingkungan ITB tidak membaca judgement /penilaian Anda tentang kualitas para lulusannya. Kata-kata celoteh, bungkam, lack of knowledge, dll. rasanya kurang pantas ditujukan kepada mereka yang telah digembleng oleh Prof. Katili, Prof Sukendar, Prof Koesoema, Prof.Sampurno, Prof Tjia Hong Djin, Prof Sartono, Prof Zaim, dll. Semoga lain kali lebih bijak ya Pak, Salam prihatin, Mang Okim _____ From: "Danny Hilman Natawidjaja" <[email protected]> Date: Sun, 26 Feb 2012 09:52:49 +0700 To: <[email protected]> ReplyTo: <[email protected]> Subject: RE: [iagi-net-l] Fwd: ARTIKEL KORAN PR Artikel yang sangat menarik dan bagus. Konsep yang diketengahkan olek Pak Zaim dalam artikel ini juga menjadi konsep dasar yang kami terapkan, plus hipotesis bahwa perkembangan peradaban termasuk IPTEK, khususnya sejak masa pra-sejarah, itu tidak kontinyu tapi terputus atau dapat ter-reset oleh bencana katastrofis. Demikian juga konsep IPTEK (macam, prinsip, teknik) di masa lalu tidak harus sama dengan yang kita kenal sekarang. Pak Zaim menguraikan proses alam pada masa sejarah yang didominasi oleh susut laut - turunnya muka airlaut, sehingga banyak wilayah yang terkena dampak sedimentasi dan pendangkalan. Ini benar karena dari Mid-Holocene sampai kurang lebih 100 tahun lalu muka airlaut global turun sekitar 2-3 meter. Sebaliknya, dari 20.000 tahun (puncak Zaman Es) sampai Mid-Holocene, muka air laut naik 130 meter. Jadi tentu banyak peradaban yang 'terendam'. Interaksi dari perubahan muka airlaut yang drastis, yang banyak diduga juga berkaitan dengan kejadian bencana katastropik seperti letusan gunung api, dengan perkembangan peradaban manusia ini belum banyak dieksplorasi. Kami menduga kuat ada "ketidakselaran" budaya yang besar yang memisahkan Jaman Sejarah dan Pra Sejarah; bahkan dari Jaman Kerajaan ke Jaman kita sekarang pun kelihatannya 'tidak selaras'. Jangan-jangan ini salah satu penyebab budaya kita sekarang jadi 'kurang waras' J (bercanda). Salah satu alasan utama kenapa penelitian arkeo-geologi yang sudah dirintis oleh Alm. Pak Sartono, kemudian Pak Sampoerno, kemudian juga diteruskan oleh Pak Zaim ini kurang/tidak berkembang adalah karena ilmu geologi Kuarter Indonesia tidak berkembang. Ahli geologi kita umumnya mendapatpengajaran dan training untuk 'membaca' sejarah geologi dari masa pra-manusia (jutaan-puluhan juta tahun lalu) yang ter-rekam pada lapisan bebatuan, baik pada singkapan ataupun pada data bor, karena tujuannya untuk eksplorasi tambang. Tapi kita umumnya tidak terlatih untuk membaca proses dan sejarah geologi dari BENTANG ALAM yang kita lihat disekitar kita sekarang. Geologiawan Indonesia umumnya akan pandai berceloteh kalau ketemu singkapan, tapi akan bungkam kalau disuruh mengidentifikasi mana teras-teras sungai mana tebing patahan aktif, mana alluvial mana collovial, dlsb; dan bagaimana proses geologi yang membentuk bentang alam 'destruktif' dan 'konstruktif' yang terlihat sekarang. Belum lagi tentang proses-proses gunung api Kuarter-Holosen dan produk-produknya. "Alot'nya membahas 'masalah piramid' tidak terlepas dari "lack of knowledge" kita dibidang ini. Mudah-mudahan 'isue piramid' dapat memberikan angin segar kepada bidang yang dianggap kering ini, sehingga nyanyian orang yang berkiprah di bidang ini tidak lagi terlalu serak tapi menjadi serak-serak basah sehingga merdu. Selamat berakhir pekan. DHN From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[email protected]] Sent: Saturday, February 25, 2012 11:04 PM To: IAGI Subject: [iagi-net-l] Fwd: ARTIKEL KORAN PR Fyi, ---------- Forwarded message ---------- From: Date: Sunday, February 26, 2012 Subject: ARTIKEL KORAN PR To: [email protected] Cc: [email protected] Ass.w.w., Pak Rovicky, Maaf saya pakai Japri karena kalau pakai jalur IAGI tidak bisa kirim file. Terlampir dalam attach file saya kirim tulisan saya di Koran Harian Pikiran Rakyat yang terbit di tahun 1997. Tulisan tersebut saya temukan tidak sengaja ketika beres2 dan bongkar2 berkas saya yang berantakan di kantor. Saya kirim copy artikel ini sekedar untuk diketahui bahwa saya sudah lama mencoba memasyarakatkan Geologi untuk bidang Budaya (baca:arkeologi). Telah lama sebenarnya saya di bawah dan bersama Almarhum Prof. Sartono mengembangkan Geologi Kuarter dan Geoarkeologi di ITB dan Indonesia. Dari sekian upaya kami, salah satunya adalah melalui tulisan populer di koran yaitu Pikiran Rakyat. Sekedar bacaan Akhir Pekan. Wslm, Zaim -- "Sejarah itu tidak pernah usang untuk terus dipelajari"

