Benar sekali Pak.  Pak Ilik memang pemegang rekor.  Topik beliau yang diminati 
berbagai spesialisasi (geologi, solid geophysics, seismology dll) tentu menjadi 
factor yang mem-boost nilai CI-nya.

Paper tomography-nya, terutama yang pertama (1997) ini memang sangat fenomenal, 
dan software tomography yang beliau kembangkan sejak disertasinya sudah menjadi 
acuan dunia.

 

Salam

DHN

 

 

 

From: E. Suryana [mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, February 29, 2012 12:52 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Fwd: ARTIKEL KORAN PR

 

Pak Danny yang baik,

ngomong2 ttg CI, kita patut berbangga karena ilmuwan/geosaintis kita Sri 
Widiyantoro, professor seismologi pertama ITB&Indonesia, papernya berjudul “The 
Evidence for deep mantle circulation from Global tomography” yang dimuat di 
jurnal sangat bergengsi di dunia “Nature” volume 386, Tahun 1997, misalnya 
telah dirujuk 576 kali!!! Sri Widiyantoro telah menulis 18 paper yang dimuat di 
jurnal-jurnal papan atas, selain Nature juga antara lain dimuat di jurnal 
sangat kredibel di dunia yakni “Science”, “Review of Geophysics”, “Journal of 
Geophysical Research-Solid Earth”, “Earth and Planetary Science Letters”. Total 
Times Cited (jumlah paper dirujuk) Sri Widiyantoro versi Scopus adalah 1.472 
sedangkan versi ISI Web of Knowledge adalah 1.240, merupakan yang tertinggi di 
Asean. Jadi sebenarnya ukuran ilmuwan itu berkelas dunia,rekam jejaknya sudah 
pasti terukur dan pasti juga tidak ada acara klaim-klaiman hehehe

 

  _____  

From: Danny Hilman Natawidjaja <[email protected]>
To: [email protected] 
Sent: Wednesday, February 29, 2012 12:14 PM
Subject: RE: [iagi-net-l] Fwd: ARTIKEL KORAN PR

 

Waduuh kok kesan Pak Yatno seperti itu ya?

Mohon dibaca lagi lebih tenang k e-mail saya dan e-mail2 sebelumnya pak.

Rasanya ulasan saya tidak pake kesel tuh  biasa-biasa saja.  “Lack of 
knowledge” disini tidak juga dimaksudkan untuk mendeskriditkan atau melecehkan 
siapa2 kok pak.

 

Denger – denger teman2 di ITB lagi seneng hobi iseng-iseng mengukur diri dengan 
citation index ini he he he.  Saya engga punya akses ke SCORPUS pak, tapi 
kebetulan ketemu “search engine” gratis di 
http://code.google.com/p/citations-gadget/.  Menurut situs ini, Paper Pak Yatno 
banyak juga ya, sampai 400-an dsengan “H-Index” 11.  Tapi saya lebih banyak 
pak, paper sampai 1200-an dengan H Index 19  J  

Silahkan teman-teman yang iseng mencoba juga.

 

Salam

DHN

 

 

From: Yustinus Suyatno Yuwono [mailto:[email protected]] 
Sent: Tuesday, February 28, 2012 4:20 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [iagi-net-l] Fwd: ARTIKEL KORAN PR

 

Mas Miko, 

Rekan Danny saya liat dari tulisannya di bawah ini keliatan kesal dengan produk 
akhir lulusan Geologi ITB, kenapa minatnya kurang sekali di bidang Geologi 
Kwarter. Tapi cara nulisnya begitu, akhirnya ya ada yang menangkap kesannya 
melecehkan lembaga pendidikan kita (ITB). Kekesalan serupa yang saya alami 
ketika tidak ada mhs yang berminat di Petrologi Volkanik dan Pemetaan Volkanik 
(dulu). Memang kesan tulisan Danny dapat ditangkap kita- kita ini ( geologiwan 
Indonesia ) :“lack of knowledge” pada bidang tertentu, karena makin 
berkembangnya ilmu makin dituntut spesialisasi yang makin mendalam. Oleh karena 
itu, saya hanya mau memberi komentar yang betul-2 saya tahu, supaya saya tidak 
dicap “lack of knowledge”, atau dianggap sok pintar. Di bidang science 
sebetulnya sekarang ini mudah sekali menilai seseorang dengan melihat karya 
ilmiahnya (termasuk bidangnya apa), dengan klik google, untuk melihat “citation 
index”. Dari citation index ini akan kelihatan siapa saja yang dianggap Danny 
sebagai “lack of knowledge”

 

Salam,

YSY (tidak kesal bila tidak ada yang berminat pada bidangnya)

 

From: miko [mailto:[email protected]] 
Sent: Sunday, February 26, 2012 10:38 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Fwd: ARTIKEL KORAN PR

 

Pak Danny,

Semoga dosen-dosen geologi dasar, geologi struktur, geomorfologi dll, khususnya 
di lingkungan ITB tidak membaca judgement /penilaian Anda tentang kualitas para 
lulusannya.

Kata-kata celoteh, bungkam, lack of knowledge, dll. rasanya kurang pantas 
ditujukan kepada mereka yang telah digembleng oleh Prof. Katili, Prof Sukendar, 
Prof Koesoema, Prof.Sampurno, Prof Tjia Hong Djin, Prof Sartono, Prof Zaim, 
dll. Semoga lain kali lebih bijak ya Pak,

Salam prihatin,

Mang Okim 

  _____  

From: "Danny Hilman Natawidjaja" <[email protected]> 

Date: Sun, 26 Feb 2012 09:52:49 +0700

To: <[email protected]>

ReplyTo: <[email protected]> 

Subject: RE: [iagi-net-l] Fwd: ARTIKEL KORAN PR

 

Artikel yang sangat menarik dan bagus. 

Konsep yang diketengahkan olek Pak Zaim dalam artikel ini juga menjadi konsep 
dasar yang kami terapkan, plus hipotesis bahwa perkembangan peradaban termasuk 
IPTEK, khususnya sejak masa pra-sejarah, itu tidak  kontinyu tapi terputus atau 
dapat ter-reset oleh bencana katastrofis.  Demikian juga konsep IPTEK (macam, 
prinsip, teknik) di masa lalu tidak harus sama dengan yang kita kenal sekarang. 
 Pak Zaim menguraikan proses alam pada masa sejarah yang didominasi oleh susut 
laut – turunnya muka airlaut, sehingga banyak wilayah yang terkena dampak 
sedimentasi dan pendangkalan.  Ini benar karena dari Mid-Holocene sampai kurang 
lebih 100 tahun lalu muka airlaut global turun sekitar 2-3 meter.  Sebaliknya, 
dari 20.000 tahun (puncak Zaman Es) sampai Mid-Holocene, muka air laut naik 130 
meter.  Jadi tentu banyak peradaban yang ‘terendam’.   Interaksi dari perubahan 
muka airlaut yang drastis, yang banyak diduga juga berkaitan dengan kejadian 
bencana katastropik seperti letusan gunung api, dengan perkembangan peradaban 
manusia ini belum banyak dieksplorasi.  Kami menduga kuat ada “ketidakselaran” 
budaya yang besar yang memisahkan Jaman Sejarah dan Pra Sejarah; bahkan dari 
Jaman Kerajaan ke Jaman kita sekarang pun kelihatannya ‘tidak selaras’.  
Jangan-jangan ini salah satu penyebab budaya kita sekarang jadi ‘kurang waras’  
J (bercanda).

 

Salah satu alasan utama kenapa penelitian arkeo-geologi yang sudah dirintis 
oleh Alm. Pak Sartono, kemudian Pak Sampoerno, kemudian juga diteruskan oleh 
Pak Zaim ini kurang/tidak berkembang adalah karena ilmu geologi Kuarter 
Indonesia tidak berkembang.  Ahli geologi kita umumnya mendapatpengajaran dan 
training untuk ‘membaca’ sejarah geologi dari masa pra-manusia (jutaan-puluhan 
juta tahun lalu) yang ter-rekam pada lapisan bebatuan, baik pada singkapan 
ataupun pada data bor, karena tujuannya untuk eksplorasi tambang.  Tapi kita 
umumnya tidak terlatih untuk membaca proses dan sejarah geologi dari BENTANG 
ALAM yang kita lihat disekitar kita sekarang.  Geologiawan Indonesia umumnya 
akan pandai berceloteh kalau ketemu singkapan, tapi akan bungkam kalau disuruh 
mengidentifikasi  mana teras-teras sungai mana tebing patahan aktif, mana 
alluvial mana collovial, dlsb;  dan bagaimana proses geologi yang membentuk 
bentang alam ‘destruktif’ dan ‘konstruktif’ yang terlihat sekarang.  Belum lagi 
tentang proses-proses gunung api Kuarter-Holosen dan produk-produknya.  
“Alot’nya membahas ‘masalah piramid’ tidak terlepas dari “lack of knowledge” 
kita dibidang ini.  Mudah-mudahan ‘isue piramid’ dapat memberikan angin segar 
kepada bidang yang dianggap kering ini, sehingga  nyanyian orang yang berkiprah 
di bidang ini tidak lagi terlalu serak tapi menjadi serak-serak basah sehingga 
merdu.

 

Selamat berakhir pekan.

DHN

 

 

 

From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[email protected]] 
Sent: Saturday, February 25, 2012 11:04 PM
To: IAGI
Subject: [iagi-net-l] Fwd: ARTIKEL KORAN PR

 

Fyi,

---------- Forwarded message ----------
From:
Date: Sunday, February 26, 2012
Subject: ARTIKEL KORAN PR
To: [email protected]
Cc: [email protected]


Ass.w.w.,
Pak Rovicky,
Maaf saya pakai Japri karena kalau pakai jalur IAGI tidak bisa kirim file.
Terlampir dalam attach file saya kirim tulisan saya di Koran Harian
Pikiran Rakyat yang terbit di tahun 1997. Tulisan tersebut saya temukan
tidak sengaja ketika beres2 dan bongkar2 berkas saya yang berantakan di
kantor. Saya kirim copy artikel ini sekedar untuk diketahui bahwa saya
sudah lama mencoba memasyarakatkan Geologi untuk bidang Budaya
(baca:arkeologi). Telah lama sebenarnya saya di bawah dan bersama Almarhum
Prof. Sartono mengembangkan Geologi Kuarter dan Geoarkeologi di ITB dan
Indonesia. Dari sekian upaya kami, salah satunya adalah melalui tulisan
populer di koran yaitu Pikiran Rakyat.
Sekedar bacaan Akhir Pekan.
Wslm,
Zaim


-- 
"Sejarah itu tidak pernah usang untuk terus dipelajari"

 

Kirim email ke