Rekan IAGI netters,


Masih ingat ketika Deng Xioping (lebih 30 tahun silam) berkata: "Jika
negara Timur Tengah memiliki minyak bumi, maka China mempunyai LTJ" (LTJ
adalah logam tanah jarang = ‘rare-earth’ minerals).



Pekan lalu*, Uni Eropa dan Jepang mengikuti langkah Amerika Serikat
memprotes pembatasan ekspor mineral langka (‘rare-earth’) dari China.
Eropah dan Jepang secara resmi telah mengajukan keberatan kepada Organisasi
Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO) kemarin 14 Maret 2012.

Mereka menuduh Beijing mencoba menekan harga baku yang digunakan dalam
teknologi maju. Beijing juga dianggap menekan perusahaan internasional agar
memindahkan operasionalnya ke China.

Komisioner Perdagangan Uni Eropa Karel De Gucht mengungkapkan: "pembatasan
ekspor China telah melanggar aturan perdagangan international. Kebijakan
tersebut mengganggu produsen dan konsumen di Uni Eropah dan seluruh dunia,
termasuk produsen perintis teknologi tinggi dan aplikasi bisnis.



Presiden AS, Barack Obama mengomentari: "Amerika menginginkan perusahaan
membangun usaha dan membuat produk-produknya di Amerika, namun untuk
mewujudkan hal tersebut, produsen Amerika perlu memiliki akses ke China
sebagai pemasok utama rare-earth" (Reuters, 14 March 2012).



Namun, Pemerintah China menyatakan pengaduan resmi oleh pihak ketiga negara
tersebut sangat tidak adil meski Beijing mengontrol 90% dari produksi
rare-earth global. Sampai saat ini China nenetapkan kuota ekspor rare-earth
China mencapai 33.353 ton pada 2011. Namun, negara berpenduduk lebih dari
1.3 milyar jiwa itu hanya mengirim 18.587 ton rare-earth tahun 2011.

Hal itu menyebabkan kenaikan harga ekspor sebesar 4 kali lipat selama 2
tahun terakhir serta mendorong pembeli mengalihkan operasional ke China
sekaligus mengembangkan rare-earth tersebut.



China saat ini diperkirakan memiliki cadangan 55 juta ton,  terbesar di
dunia. Negara lain seperti Rusia dan negara bekas Uni Soviet hanya memiliki
cadangan 19 juta ton, AS13 juta ton, India 3.1juta ton, Australia 1,6 juta
ton, Brasil 0.05 juta ton, dan wilayah lainnya 22 juta ton. Adapun total
produksi ‘rare-earth’ yang mengandung 17 mineral penting itu sepanjang 2011
terbesar adalah China sebanyak 15,000 ton, India 3.000 ton, Brasil 550 ton,
dan Malaysia 30 ton



Catatan:

*Tidak seimbangnya pasokan dan permintaan, serta sulitnya proses pemisahan
rare-earth dari mineral induknya yg mengandung unsur radioaktif seperti
uranium dan torium, membuat mineral ini sangat mahal. Beberapa jenis
rare-earth yang paling tinggi nilainya mencapai US$ 2,200 (Rp 19.6 juta)
per kilogram. Negara produsen benda-benda canggih bergantung hampir 97%
pada pasokan rare-earth dari China. Tahun lalu permintaan pasar rare-earth
dunia mencapai 134.000 ton, sementara kapasitas produksinya baru 124.000
(kekuranganya dari hasil ekstraksi mineral yg ada). Tahun 2012 kebutuhan
dunia bisa mencapai 180ribu ton. Jepang (Toyota, Sumitomo, Toshiba, etc)
melakukan eksplorasi ke Kazakhstan, Vietnam, Mongolia). Korea Selatan (LG,
Samsung, etc) melakukan eksplorasi ke Australia. Untuk kebutuhan strategis
masa depan Amerika Serikat, Kongres AS mengadakan sidang khusus untuk
memperpanjang lisensi pertambangan rare-earth di Mount Pass California.
Indonesia, ‘rare-earth’ sudah pernah ditambang di Bangka-Belitung (Babel),
namun belum optimal. Data 2006, PT Timah memiliki 408.000 ton monozite
(78%-oxides rare-earth), 57.000 ton xenotime (65% oxide rare-earth) dan
309.000 ton zircon (54%-itrium dan serium). Beberapa jenis 'rare-earth'
yang paling tinggi nilainya mencapai US$ 2,200 (Rp 19.6 juta) per kilogram.
*

*Indonesia terus mengupayakan mencari mineral ‘rare-earth’ semoga dengan
Perment ESDM No 7 Tahun 2012, Pemerintah bisa menjadi ujung tombak memulai
‘melindih’ mineral logam tanah jarang ?*

* *

**Reuters, March 2012, *

Kirim email ke