Dengan Hormat 

Bila dilihat tulisan dibawah ini , maka sekali lagi perlu diingatkan kepada 
awak media untuk lebih proporsional dalam hal pemberitaan. Banyak 
Wartawan/media yang ssuka memblo-up setiap kejadian dengan harapan peningkatan 
oplah dan pendapatan. 

Pepatah mereka "Bad News is a Good News" ... dan sekarang Media jadi raja . 

Tengok acara Jakarta Lawyer Club ... pimpinan Karni Ilyas .. ini kan cara 
"pengadilan media" dengan mengundang nara sumber mulai artis , pengacara , 
seniman ujungnya nggak jelas .. pokoknya Rame Aja . 

Nah Mungkin ada baiknya pihak IAGI dan juga Dept Pertambangan  Energey membuat 
workshop kalau perlu sertifikasi Wartawan yang bisa meliput berita - berita 
yang berhubungan dengan hal ini. karena baanyak sekali istilah teknis yang 
perlu diperhatikan agar tidak membuat masyarakat makin emosi. 

Sementara Itu dulu .. semoga dapat ditanggapai secara proporsional 

Dandy 

> From: [email protected]
> To: [email protected]; [email protected]; [email protected]
> Date: Fri, 16 Mar 2012 11:49:18 +0000
> Subject: Re: [iagi-net-l] Apakah ini benar ?
> 
> 
> 
> Dengan tetap menghormati pendapat teman2 yg memang sangat ahli di bidangnya, 
> aku sarankan sih kita lanjutkan diskusi serius ini, dgn mengganti "subject" 
> dan memotong "body" tulisan yg tentang "720 milyar hilang setiap hari" tsb. 
> Ini karena sebab musabab dari tulisan tsb adl salah kutip/salah komunikasi 
> belaka.
> 
> Kejadiannya aslinya gini : Pemda Jambi tepatnya Pemda Kabupaten Tanjung 
> Jabung Barat, kepengen tau jumlah sumur di wilayahnya, yg kebetulan adlah 
> WK-nya PetroChina Jabung. Mrk katanya nanya ke DitJen Migas, dan didapat 
> angka 30 sumur itu, padahal itu adalah data sumur eksplorasi saja, tapi 
> disalahartikan oleh Pemda Kab. Tanjung Jabung sebagai seluruh sumur, dan 
> kemudian mrk "ribut", tanpa mengecek ulang ke BPMIGAS atau ke PetroChina, dan 
> mrk lapor ke DPR/DPRD, ke media massa, dgn tuduhan bhw PetroChina memalsukan 
> data dan merugikan negara, dll (kita yg di industri migas tentu sangat faham 
> bahwa gak mungkin cuman 30 sumur di blok Jabung, dan gak mungkin PetroChina 
> memalsukan jumlah sumurnya - gimana caranya ???). Kami, BPMIGAS dan 
> PetroChina sudah mengadakan pertemuan dgn Pemda Kab. Tanjung Jabung Barat dan 
> mereka sudah faham akan kesalahan informasi ini. Namun, apa daya, berita 
> negatif sangat mudah menyebar, dan beberapa pihak memanfaatkannya tanpa 
> melakukan cek dan re-cek.
> 
> Saya harapkan sih temen2 di iagi-net lebih bijaksana dgn berita2 sejenis ini.
> Terima kasih.
> 
> Mungkin pak Elan Biantoro sebagai Kepala Perwakilan BPMIGAS SumBagsel dapat 
> memberikan penjelasan lebih rinci (atau Bli Nyoman Suta, Exploration 
> Manager-nya PetroChina Jabung bisa kasih tambahan ?).
> 
> 
> Salam,
> Nuning
> 
> 
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
> ________________________________
> From: o - musakti <[email protected]>
> Date: Fri, 16 Mar 2012 03:35:29 -0700
> To: <[email protected]>
> ReplyTo: <[email protected]>
> Subject: Re: [iagi-net-l] Apakah ini benar ?
> 
> Ujung-ujungnya semua tergantung pada ROI, return on investment baik dalam 
> term money dan yang lebih fundamental dalam term energy.
> 
> Dalam bingkai uang, faktor penentu adalah harga minyak. Dengan teknologi yang 
> ada serta harga minyak saat ini, apakah extraksi baik hasil new exploration 
> maupun secondary atau tertiary recovery ataupun ekstraksi sumber 
> unconventional masih ekonomis untuk dilakukan.  Pernah baca laporan yang 
> menyatakan bahwa tar sand di Athabasca baru akan ekonomis kalau harga minyak 
> diatas 60. Ada lagi yang bilang harga minimum mesti 80 atau 100 dollar 
> perbarrel. Hal yang serupa dengan deep water di Brazil, West Africa atau 
> explorasi/exploitasi di Artic.
> 
> Yang lebih fundamental (secara fisika) adalah EROEI, energy return on energy 
> invested. Balik ke athabasca tar, ada yang bilang bahwa untuk ekstraksi 3 
> kilojoule energy yang tersimpan dalam berapa volume liquid HC, diperlukan 1 
> kjoule energy dalam bentuk gas untuk steam, bensin untuk menjalankan 
> excavator dan caterpillar dll. Dalam kata lain, EROEI nya hanya 3 , sangat 
> rendah bila dibandingkan dengan conventional oil yang rata-rata EROEI nya 
> sekitar 35. Tertiary production di Minas atau Duri dengan steamfloodnya juga 
> pasti makan energi besar yang menyebabkan EROEI nya makin menurun sampai 
> suatu saat batas 'rate of diminishing return' akan terlampaui dan abandonment 
> merupakan jalan terbaik.
> 
> Jadi, keterbatasan (finiteness) dari migas merupakan suatu keniscayaan yang 
> harus kita akui bersama. There is only so much of oil in the earth to start 
> with......
> 
> 
> 
> --- On Fri, 16/3/12, Sapto Soendjojo <[email protected]> wrote:
> 
> From: Sapto Soendjojo <[email protected]>
> Subject: Re: [iagi-net-l] Apakah ini benar ?
> To: [email protected]
> Received: Friday, 16 March, 2012, 3:39 PM
> 
> Biasanya field ada RF nya, tergantung litologi, por, perm atau
> mempunyai besaran2 petrofisik masing-masing
> Pada saat minyak habis atau dalam kata lain tidak bisa diambil secara
> konvensional maka diupayakan dengan teknologi yang baru misalnya di
> fracturing, diasam, atau yg lainnya di steam.
> Jadi mungkin istilahnya habis dengan cara konvensional tapi masih bisa
> diperas lagi dengan teknologi jadi sepertinya gak habis-habis
> Kalau teknologi berkembang terus mungkin lapangan yg mati bisa
> dihidupkan kembali dengan EOR
> Kadang sumur yg sdh mengair kemudian ditinggal beberapa lama setelah
> dibuka kembali eh nemu minyak lagi.
> Atau nemu minyak di lapisan lain yg secara HC identitas nya minim ...
> seperti low RT.
> Jadi memang harus pinter-pinter cari minyaknya
> 
> Wass
> 
> Pada tanggal 16/03/12, Bandono Salim 
> <[email protected]</mc/[email protected]>> menulis:
> > Aku sekolah puluhan tahun yang lalu, dibilang 20th lagi minyak indonesia
> > habis.
> > Sekarang juga begitu, apakah yakin?
> > Powered by Telkomsel BlackBerry®
> >
> > -----Original Message-----
> > From: "Rahardjo S. 76" 
> > <[email protected]</mc/[email protected]>>
> > Date: Fri, 16 Mar 2012 11:09:37
> > To: 
> > [email protected]</mc/[email protected]><[email protected]</mc/[email protected]>>
> > Reply-To: <[email protected]</mc/[email protected]>>
> > Subject: [iagi-net-l] Apakah ini benar ?
> > Sebentar kang Asep,
> >
> > Apakah A. Daryoko tahu persis dunia minyak, ini yang pertama harus
> > dipertanyakan..
> > Kita hitung sederhana, dari 91 sumur petrokimia (or Petrochina nih??) apa ya
> > semuanya memproduksi minyak?
> > kalau mereka menghilangkan data, terus bgmn caranya, lha wong minyaknya
> > (semoga ga salah) ditransfer  ke Bajubang  - Tempino terus dipompa ke Plaju.
> > Apakah di Bajubangnya tidak ada perhitungan jumlah minyak yang masuk?
> > berandai andai: Misalnya sebagian minyaknya tidak melalui Bajubang, diangkut
> > dengan truk menuju Pelabuhan untuk dikapalkan, pasti akan terjadi trafik
> > yang cukup sibuk krn hilir mudiknya truk pengangkut minyak, kan nyolok
> > banget tuh, apa pemda Jambi akan diam saja.
> >
> > Satu hal lagi jumlah 1,6 juta bbls itu kapan? dan apakah tidak ada "decline
> > rate" (penurunan produksi) karena hukum alam memang demikian.
> >
> > pada hemat saya LSM, Federasi Serikat Pekerja, dsb kadang ga sabaran melihat
> > data dan lebih mengutamakan suara keras dulu.....lebih baik dihitung secara
> > fair saja.
> >
> > Salam
> >
> > Rahardjo S.
> > NPA 0848
> >
> >
> >
> >>________________________________
> >>Dari: Asep Hidayat 
> >><[email protected]</mc/[email protected]>>
> >>Kepada: "[email protected]</mc/[email protected]>" 
> >><[email protected]</mc/[email protected]>>
> >>Dikirim: Jumat, 16 Maret 2012 9:38
> >>Judul: [iagi-net-l] Apakah ini benar ? Kalau benar pantaskah kita dukung
> >> masih pemerintah ?!
> >>
> >>
> >>
> >>
> >>Minyak Senilai Rp 720 Milyar Hilang Setiap Hari
> >>Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Strategis Ahmad Daryoko menyatakan
> >> turunnya lifting akibat adanya penggelapan data sumur minyak yang ada. Dan
> >> nilainya itu sekitar Rp 720 milyar per hari.
> >>“Menurunnya lifting, bukan karena sumur  minyak menipis seperti yang
> >> diklaim Purnomo Yusgiantoro atau pun karena birokrasinya terlalu panjang
> >> seperti yang dipermasalahkan Kurtubi, tetapi karena adanya pencatatan yang
> >> tidak apa adanya,” ungkapnya dalam konfrensi pers tolak kenaikan harga BBM
> >> dan tolak liberalisasi sektor migas Kamis (15/3) siang di Kantor DPP
> >> Hizbut Tahrir Indonesia, Crown Palace Jl Soepomo, Tebet, Jakarta.
> >>Salah satu buktinya, lanjut dia, kasus penggelapan sumur minyak yang
> >> dikelola Petrokimia di Provinsi Jambi.  Jumlah sumur minyak Petrokimia di
> >> Provinsi Jambi berdasarkan catatan BP Migas berjumlah 30 sumur. Kemudian
> >> Pemda Jambi melakukan investigasi sendiri ternyata ada 91 sumur. Berarti
> >> ada 61 satu sumur yang tidak tercatat.
> >>Daryoko pun menyakan temuan Pemda Jambi ini bisa dijadikan langkah awal
> >> untuk menemukan jawaban mengapa sejak berlakunya UU 22 tahun 2001 itu
> >> lifting minyak, jatuh ke kisaran 800-900 ribu barel perhari padahal
> >> sebelumnya sekitar 1.6 juta barel perhari.
> >>“Itu baru satu kontraktor bagaimana dengan kontraktor lainnya seperti
> >> Chevron, Total, Petronas dan lainnya? tidak menutup kemungkinan kontraktor
> >> lainnya juga berbuat demikian. Dan itu kejadian di Jambi dan tidak menutup
> >> kemungkinan di daerah lainnya pun terjadi modus serupa,” prediksinya.
> >>Berdasarkan UU yang meliberalisasikan sektor minyak dan gas tersebut,
> >> Pertamina di sejajarkan dengan kontraktor migas swasta dan asing. Karena
> >> sejajar, Pertamina tentu saja tidak memiliki kewenangan untuk mengawasi
> >> sumur yang dikelola para kontraktor itu. Maka dibentuklah BP Migas untuk
> >> melakukan pengawasan.
> >>“Tetapi BP Migas itu pada faktanya hanya mencatat laporan dari kontraktor,
> >> tidak mengawasi! Berbeda dengan Pertamina yang memiliki inspektor pada
> >> setiap sumur minyak,” ungkapnya.
> >>Maka, sangat dimungkinkan, fakta sebenarnya produksi minyak itu tidak
> >> menurun, tetapi yang dilaporkan ke BP Migas sebagiannya saja. Jadi bila
> >> produksinya tetap 1,6 juta barel maka ada sekitar 800 juta barel
> >> digelapkan.
> >>“Bila satu barel harganya US$ 100 (kurs Rp 9000) maka sekitar Rp 720 milyar
> >> hilang setiap hari!” pungkasnya.(mediaumat.com, 16/3/2012)
> >>
> >>Salam,
> >>Asep
> >>
> >>
> >
> 
> --------------------------------------------------------------------------------
> PP-IAGI 2011-2014:
> Ketua Umum: Rovicky Dwi Putrohari, rovicky[at]gmail.com
> Sekjen: Senoaji, ajiseno[at]ymail.com
> --------------------------------------------------------------------------------
> Jangan lupa PIT IAGI 2012 di Jogjakarta tanggal 17-20 September 2012.
> Kirim abstrak ke email: pit.iagi.2012[at]gmail.com. Batas akhir pengiriman 
> abstrak 28 Februari 2012.
> --------------------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> For topics not directly related to Geology, users are advised to post the 
> email to: [email protected]</mc/[email protected]>
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted 
> on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall 
> IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct or 
> indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of 
> use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any 
> information posted on IAGI mailing list.
> ---------------------------------------------------------------------
> 
> 
                                          

Kirim email ke