karena dulu ketahuan tanker pernah bisa "kencing" bebas di lawe2 kalimantan,
karena pipa prabumulih-palembang masih juga bocor di bbrp tempat sepanjang
puluhan kilometer bentangan, karena sebagian minyak yg diproduksi juga bisa
dipakai untuk kebutuhan sendiri, justru karena mereka juga kirim orang
pabean untuk jadi saksi pengapalan; makanya komunitas migas juga harus
berbesar hati menerima kecurigaan seorang dirjen ttg intransparansi produksi
migas ini; tdk perlu bereaksi seolah industri migas paling hitech dan susah
untuk diakali dan pihak lain sekedar mengukur baju orang di badan sendiri;
ayo positif thinking sama2 membenahi, bangun komunikasi dan pengawasan untuk
transparansi!! (itu lossnya di pipa prabumulih-palembang bisa sampai
4000bopd lho, satu tac sendiri -kata komo- ; belum lagi kalau kita simak
cerita pipa yg dr tempino-plaju).

 

From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[email protected]] 
Sent: Tuesday, April 03, 2012 5:40 PM
To: [email protected]
Subject: Re: Bls: [iagi-net-l] Dirjen Pajak Tak Percaya Lifting Minyak
Indonesia

 

Pak Dirjen kayaknya ngga ngerti mana upstream mana downstream. Mana produksi
minyak dari kilang dan mana lifting minyak. 

Jadi kebocoran di kilang yg memang pernah terjadi dianggap soal lifting
minyak juga sama.

Sisi lain yg positip, hayoo bagaimana dengan keterbukaan informasi publik ?

 

Helow KIP !

(komite Informasi Publik) 

 

rdp

2012/4/3 Bandono Salim <[email protected]>

Gak diundang kalee, ntar mudah mainin pajak lifting,

Kidding aja, salam bd.s
Powered by Telkomsel BlackBerryR


-----Original Message-----
From: "Ismail" <[email protected]>
Date: Tue, 3 Apr 2012 01:36:52
To: <[email protected]>
Reply-To: <[email protected]>
Subject: Re: Bls: [iagi-net-l] Dirjen Pajak Tak Percaya Lifting Minyak
Indonesia
Ini kan masalah persepsi saja ttg kebingungan melihat angka angka lifting yg
bisa 1,4 juta , 970 rb , 950 ribu , bisa tiba tiba turun 900 ribu , dst ,
tidak sekedar  alat ukur saja tapi lebih ke permasalahan di industri migas
secara umum misalnya adanya unplanned shutdown , dll, perbedaan persepsi
ini biasa terjadi bahkan para pengamatpun juga sering mempertanyakan ,
dikirain industri migas itu sama dg industri manufactur spt pabrik baja atau
pabrik tahu .
Dulu saya pernah ikut semacam training/pelatihan ttg tatacara dan prosedure
penghitungan lifting minyak untuk para stakeholder khususnya dibidang
pengawasan spt dari Polri , KPK ,BPK, Bea cukai , Dirjen Kelautan dept
Perhub { Hubla } dll termasuk dari kalangan  ESDM sendiri, cuma kelihatannya
Tidak ada dari Ditjen Pajak

Ism



Sent by Liamsi's Mobile Phone

-----Original Message-----
From: Nugrahani <[email protected]>
Date: Tue, 3 Apr 2012 01:06:47
To: [email protected]<[email protected]>
Reply-To: <[email protected]>
Subject: Re: Bls: [iagi-net-l] Dirjen Pajak Tak Percaya Lifting Minyak
 Indonesia


Ini aku "copas" komentar dr Kadiv Humas BPMIGAS :
http://m.detik.com/read/2012/04/02/204650/1883374/1034/bp-migas-belum-pernah
-ada-gayus-di-perusahaan-minyak.


Memang kayaknya DirJen Pajak itu mengukur bajunya sendiri ke orang lain ;
orang pajak terbiasa cincai-cincai dgn para wajib pajak, sehingga mengira
orang2 di industri migas juga demikian. Padahal gimana caranya, coba !
Metering lifting kan udah urusannya peralatan (dan diperiksa meterannya dlm
jangka waktu tertentu). Itu adalah teknologi, bukan urusan mental orang. Klo
pun gak keluar, pasti tertinggal di pipa/storage, jadi stock (pun klo
dibilang gak bisa mencapai produksi sekian, toh minyaknya gak kemana-mana,
tetap tinggal di reservoar di bawah tanah sana !). Coba tanya ama perusahaan
air (aqua, vit, dll) apakah mereka bisa cincai-cincai dengan angka produksi,
apa mereka bisa kecolongan jumlah liter air / botol yg keluar dari pabriknya
?? (dan ingat, harga air mineral yg teknologi produksinya jauh lebih
sederhana itu harganya gak beda jauh dgn harga bbm subsidi kita).
Lagipula, kita kan diperiksa oleh BPK-BPKP, DPR, dan angka apapun (lifting,
cost recovery) adalah angka pemerintah, bukan angkanya oil company manapun !
Kok pejabat negara gak percaya ama angkanya negara.


Salam,
Nuning


Powered by Telkomsel BlackBerryR
________________________________
From: Surarso Hardjono <[email protected]>
Date: Tue, 3 Apr 2012 08:03:53 +0800
To: [email protected]<[email protected]>
ReplyTo: <[email protected]>
Subject: Bls: [iagi-net-l] Dirjen Pajak Tak Percaya Lifting Minyak Indonesia

Sesungguhnya kemampuan produksi Minyak RI sudah sangat terbatas. Lapangannya
sudah tua tua, pressurenya rendah , water cutnya tinggi ada yang lebih 90 %.
Discovery sudah sangat minim. Lha kalau produksi digeber, anak cucu kita
dapat apa. Dan bagaimana caranya.

Srs 710

Dari: Ruskamto <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Dikirim: Selasa, 3 April 2012 6:59
Judul: Re: [iagi-net-l] Dirjen Pajak Tak Percaya Lifting Minyak Indonesia

Lha Dirjen Pajak kok dari pemain Bursa ? Ngomongnya ngawur, pegawainya
bungkam.. Mosok gak tahu di setiap pelabuhan pengiriman lifting itu ada
petugas Bea Cukai yang mengnyaksikan lifting. Ada custodian meter yang
diterra setiap tahun...
Prihatin pejabat publik kita kualitasnya minim.. RUS
From: Ok Taufik <[email protected]>
Date: Mon, 2 Apr 2012 19:34:36 +0700
To: iagi-net<[email protected]>
ReplyTo: <[email protected]>
Subject: [iagi-net-l] Dirjen Pajak Tak Percaya Lifting Minyak Indonesia


Jakarta - Pembentukan Kantor Pelayanan Pajak Sektor Minyak dan Gas Bumi
serta Pertambangan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) salah satunya
dikarenakan sampai hari ini, Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak Fuad Rahmany
tidak percaya produksi minyak indonesia berapa.

"Ada yang bilang produksi minyak (lifting) 950.000 barel per hari (bph),
bahkan saat ini turun 930.000 bph, atau bahkan pada jaman Presiden Suharto
1,4 juta bph. Jujur saya tidak percaya, pasalnya siapa yang menentukan
lifting produksi minyak kita," kata Fuad di Kantor Wilayah DJP Wajib Pajak
Besar Gambir, Senin (2/4/2012).

Ketidakpercayaan ini sebelumnya juga didasarkan, pada saat dirinya belum
menjabat sebagai Dirjen Pajak sempat bertanya dengan Dirjen Migas.

"Waktu itu saya belum jadi Dirjen Pajak, ketemu sama Dirjen Migas (tapi
bukan Evita Legowo), bertanya, pak siapa yang nentuin dan periksa berapa
lifting minyak kita kok bisa nentuin 1,4 juta barel atau 950 ribu barel per
hari? Nah Dirjen tersebut bilang dengan nada sedikit kesal, lah saya aja
ngak boleh periksa," ungkap Fuad didepan para pegawai pajak.

Apalagi Fuad sendiri yang lama di Pasar Modal, hafal benar kelakuan
perusahaan besar di sektor Migas. "Saya itu lama di Pasar Modal jadi tahu
kelakuan perusahan besar di sektor migas entah itu dia perusahaan terbuka
(tbk) atau terbatas, mereka tidak bisa dipercaya," ujarnya.

Fuad membayangkan kondisi dilapangan, dengan kelakuan perusahaan Migas
seperti itu, mereka tinggal bilang bahwa produksi minyaknya sekian sudah
dipercaya begitu saja. "Mereka tinggal bilang produksi kita sekian, orang
Pertamina atau BP Migas datang lihat dan percaya saja, bayangkan itu, itukan
produksi minyak kita, itu ada pendapatan pajak kita," tambahnya.

"Mereka bilang kita perusahaan besar Bing Four, ada yang mengawasi, ya yang
mengawasi kan pegawai mereka juga, bisa dicincai lah," tandasnya.

--
Sent from my ComputerR




-- 
"Sejarah itu tidak pernah usang untuk terus dipelajari"

Kirim email ke