Ini kan masalah persepsi saja ttg kebingungan melihat angka angka lifting yg
bisa 1,4 juta , 970 rb , 950 ribu , bisa tiba tiba turun 900 ribu , dst , tidak
sekedar alat ukur saja tapi lebih ke permasalahan di industri migas secara
umum misalnya adanya unplanned shutdown , dll, perbedaan persepsi ini biasa
terjadi bahkan para pengamatpun juga sering mempertanyakan , dikirain industri
migas itu sama dg industri manufactur spt pabrik baja atau pabrik tahu .
Dulu saya pernah ikut semacam training/pelatihan ttg tatacara dan prosedure
penghitungan lifting minyak untuk para stakeholder khususnya dibidang
pengawasan spt dari Polri , KPK ,BPK, Bea cukai , Dirjen Kelautan dept Perhub {
Hubla } dll termasuk dari kalangan ESDM sendiri, cuma kelihatannya Tidak ada
dari Ditjen Pajak
Ism
Sent by Liamsi's Mobile Phone
-----Original Message-----
From: Nugrahani <[email protected]>
Date: Tue, 3 Apr 2012 01:06:47
To: [email protected]<[email protected]>
Reply-To: <[email protected]>
Subject: Re: Bls: [iagi-net-l] Dirjen Pajak Tak Percaya Lifting Minyak
Indonesia
Ini aku "copas" komentar dr Kadiv Humas BPMIGAS :
http://m.detik.com/read/2012/04/02/204650/1883374/1034/bp-migas-belum-pernah-ada-gayus-di-perusahaan-minyak.
Memang kayaknya DirJen Pajak itu mengukur bajunya sendiri ke orang lain ; orang
pajak terbiasa cincai-cincai dgn para wajib pajak, sehingga mengira orang2 di
industri migas juga demikian. Padahal gimana caranya, coba ! Metering lifting
kan udah urusannya peralatan (dan diperiksa meterannya dlm jangka waktu
tertentu). Itu adalah teknologi, bukan urusan mental orang. Klo pun gak keluar,
pasti tertinggal di pipa/storage, jadi stock (pun klo dibilang gak bisa
mencapai produksi sekian, toh minyaknya gak kemana-mana, tetap tinggal di
reservoar di bawah tanah sana !). Coba tanya ama perusahaan air (aqua, vit,
dll) apakah mereka bisa cincai-cincai dengan angka produksi, apa mereka bisa
kecolongan jumlah liter air / botol yg keluar dari pabriknya ?? (dan ingat,
harga air mineral yg teknologi produksinya jauh lebih sederhana itu harganya
gak beda jauh dgn harga bbm subsidi kita).
Lagipula, kita kan diperiksa oleh BPK-BPKP, DPR, dan angka apapun (lifting,
cost recovery) adalah angka pemerintah, bukan angkanya oil company manapun !
Kok pejabat negara gak percaya ama angkanya negara.
Salam,
Nuning
Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________
From: Surarso Hardjono <[email protected]>
Date: Tue, 3 Apr 2012 08:03:53 +0800
To: [email protected]<[email protected]>
ReplyTo: <[email protected]>
Subject: Bls: [iagi-net-l] Dirjen Pajak Tak Percaya Lifting Minyak Indonesia
Sesungguhnya kemampuan produksi Minyak RI sudah sangat terbatas. Lapangannya
sudah tua tua, pressurenya rendah , water cutnya tinggi ada yang lebih 90 %.
Discovery sudah sangat minim. Lha kalau produksi digeber, anak cucu kita dapat
apa. Dan bagaimana caranya.
Srs 710
Dari: Ruskamto <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Dikirim: Selasa, 3 April 2012 6:59
Judul: Re: [iagi-net-l] Dirjen Pajak Tak Percaya Lifting Minyak Indonesia
Lha Dirjen Pajak kok dari pemain Bursa ? Ngomongnya ngawur, pegawainya
bungkam.. Mosok gak tahu di setiap pelabuhan pengiriman lifting itu ada petugas
Bea Cukai yang mengnyaksikan lifting. Ada custodian meter yang diterra setiap
tahun...
Prihatin pejabat publik kita kualitasnya minim.. RUS
From: Ok Taufik <[email protected]>
Date: Mon, 2 Apr 2012 19:34:36 +0700
To: iagi-net<[email protected]>
ReplyTo: <[email protected]>
Subject: [iagi-net-l] Dirjen Pajak Tak Percaya Lifting Minyak Indonesia
Jakarta - Pembentukan Kantor Pelayanan Pajak Sektor Minyak dan Gas Bumi serta
Pertambangan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) salah satunya dikarenakan
sampai hari ini, Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak Fuad Rahmany tidak percaya
produksi minyak indonesia berapa.
“Ada yang bilang produksi minyak (lifting) 950.000 barel per hari (bph), bahkan
saat ini turun 930.000 bph, atau bahkan pada jaman Presiden Suharto 1,4 juta
bph. Jujur saya tidak percaya, pasalnya siapa yang menentukan lifting produksi
minyak kita,” kata Fuad di Kantor Wilayah DJP Wajib Pajak Besar Gambir, Senin
(2/4/2012).
Ketidakpercayaan ini sebelumnya juga didasarkan, pada saat dirinya belum
menjabat sebagai Dirjen Pajak sempat bertanya dengan Dirjen Migas.
“Waktu itu saya belum jadi Dirjen Pajak, ketemu sama Dirjen Migas (tapi bukan
Evita Legowo), bertanya, pak siapa yang nentuin dan periksa berapa lifting
minyak kita kok bisa nentuin 1,4 juta barel atau 950 ribu barel per hari? Nah
Dirjen tersebut bilang dengan nada sedikit kesal, lah saya aja ngak boleh
periksa,” ungkap Fuad didepan para pegawai pajak.
Apalagi Fuad sendiri yang lama di Pasar Modal, hafal benar kelakuan perusahaan
besar di sektor Migas. “Saya itu lama di Pasar Modal jadi tahu kelakuan
perusahan besar di sektor migas entah itu dia perusahaan terbuka (tbk) atau
terbatas, mereka tidak bisa dipercaya,” ujarnya.
Fuad membayangkan kondisi dilapangan, dengan kelakuan perusahaan Migas seperti
itu, mereka tinggal bilang bahwa produksi minyaknya sekian sudah dipercaya
begitu saja. “Mereka tinggal bilang produksi kita sekian, orang Pertamina atau
BP Migas datang lihat dan percaya saja, bayangkan itu, itukan produksi minyak
kita, itu ada pendapatan pajak kita,” tambahnya.
“Mereka bilang kita perusahaan besar Bing Four, ada yang mengawasi, ya yang
mengawasi kan pegawai mereka juga, bisa dicincai lah,” tandasnya.
--
Sent from my Computer®