Saya pernah berdiskusi soal green economy ini di salah satu group FB; maap ya 
untuk copas-nya. meramaikan diskusi aja. 

***

Dalam sekitar sebulan ke depan akan berlangsung Konferensi Rio+20. banyak hal 
yang berubah dalam 20 tahun terakhir, mobile phone, internet dan 
facebook merupakan beberapa di antaranya.

saya dengar2 agenda pembahasan utama di Rio+20 adalah permasalahan "Green 
Economy".

Pada prinsipnya green economy adalah bagian dari sustainable 
development. melakukan pembangunan yang dapat dipertanggungjawabkan 
secara ekologi dan lingkungan. merubah paradigma ekonomi ekstraktif ke 
ekonomi dengan emisi karbon yang lebih rendah, lebih elasitis terhadap 
iklim, lebih inklusif secara sosial, lebih efisien dalam penggunaan 
resources, dan tentu saja menghargai ecosystem services. 

Eropa
 (terutama bagian barat dan skandinavia) adalah contoh yang lumayan 
sukses, meski belum semuanya, melaksanakan Green Ekonomi ini. Mereka 
sanggup menarik investasi dan menciptakan lapangan kerja dari berbagai 
sektor Green Ekonomi, sehingga konsep Green Ekonomi tidak melulu menjadi
 macan kertas.

Ada memang negara yang tampil secara mengejutkan
 seperti Brasil yang dibawah Presiden Lula sukses mengangkat 30 juta 
penduduknya dari bawah garis kemiskinan, dan menargetkan akan mengangkat
 sekitar 50 juta lagi di bahwa Presiden Roussef dengan resep yang sama.

Kritik terhadap pertumbuhan ekonomi Brasil yang begitu bagus adalah: 
bahwa resep yang mereka gunakan masih bergantung pada ekstraksi sumber 
daya alam seperti minyak, yang jelas tidak sustainable. Masih ada cara 
yang lebih sustainable dalam menggunakan SDA dan akan mengangkat lebih 
banyak populasi Brasil dari bawah garis kemiskinan.

Di 
Indonesia, meski pertumbukan tidak sefantastis Brasil, resep yang 
digunakan tetaplah sama: mengandalkan ekonomi ekstraktif SDA yang tak 
sustainable.

Barangkali kekhawatiran kalangan Selatan selama 
ini bahwa :"Green Economy" adalah sebuah konsep yang dilahirkan di Eropa
 (dimulai dari perkembangan isu lingkungan di Denmark dan Swedia sekitar
 awal 70-an), dan sekarang menjadi komoditas yang akan menyebabkan 
ketergantungan, persis seperti yang sudah-sudah. Tetapi aku pikir 
kekhawatiran ini agak tidak proporsional karena "green economy" bukanlah
 sebuah halaman guideline yang sudah jadi, tetapi perlu improvisasi di 
sana-sini termasuk kreasi di tingkatan lokal.

Lantas apa 
kepentingan kalangan seperti Eropa untuk melakukan kampanye Green 
Economy dan mulai mentraining banyak orang dari Selatan? Mungkin kalau 
ditelisik lebih jauh, pasti memang ada logika ketergantungan di 
dalamnya, itu tidak bisa dihindari. Mulai dari ketergantungan 
epistemologi sampai ke ketergantungan teknologi. Tetapi, hal yang paling
 besar di atas itu semua adalah, karena kita semua hidup dalam satu 
Bumi. Degradasi lingkungan di Selatan, akan berdampak bagi mereka di 
Utara (keywords untuk yang terakhir ini: Climate Change, Virtual Water);
 dan sebaliknya.

tabik
bosman batubara 



________________________________
 From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>
To: [email protected] 
Sent: Friday, June 8, 2012 9:24 AM
Subject: Re: [iagi-net-l] Ekonomi hijau..Ada buku baru
 

Ya silahkan saja. Ini pendapat pribadi saja kok.
Permasalahan seperti ini tidak hanya untuk pemeliharaan lingkungan juga bahkan 
soal HAM. Ini salah satu alasan mengapa Suharto dulu tidak serta merta menerima 
atau meratifikasi tentang aturan usia kerja. Di Indonesia banyak anak-anak yang 
bekerja. Ini sama halnya terjadi di Amerika pada awal kemerdekaannya. Setelah 
sekarang Amerika  maju tentunya hal ini menjadi tidak lagi pantas. 
Pertanyaannya apakah Indonesia pantas hanya karena relatif baru merdeka ?

Juga safety. Dahulu keselamatan kerja di gedung tinggi Amerika dibangun oleh 
keberanian suku Indian yang dengan santai melenggang di ketinggian. Sekarang 
hal ini dianggap membahayakan dan ada aturan keselamatan yang sangat ketat. 

Dahulu ketika minyak muncrat keluar dari sumur, dianggap kesuksesan karena 
berarti sumurnya banyak minyaknya. Ingat foto yang memperlihatkan orang 
tersenyum didepan sumur yang muncrat. Saat ini gejala ini disebut Blow Out yang 
harus dihindari karena masalah lingkungan dan safety.

Salam

RDP


2012/6/8 <[email protected]>

Bung Rovicky,
>
>Minta ijin mensharing email ini ke tetangga.
>
>Terimakasih,
>
>Yanto Salim
>Powered by Telkomsel BlackBerry®
>________________________________
>
>From:  Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> 
>Date: Fri, 8 Jun 2012 07:37:17 +0700
>To: <[email protected]>
>ReplyTo:  <[email protected]> 
>Subject: Re: [iagi-net-l] Ekonomi hijau..Ada buku baru
>
>
>Untuk negara-negara masju US dan EU, greenomics sudah sewajarnya bahkan sudah 
>seharusnya negara-negara maju ini menjalankannya. Karena mereka dulu, ratusan 
>tahun lalu, mereka sudah menghabiskan hutannya serta banyak pertambangan yang 
>sudah dikeruk. Kerja yang diakatakan ngawur ketika memanfaatkan hutan ini 
>telah menjadikan posisi mereka yg cukup tinggi saat ini, diantara 
>negara-negara lain di dunia. Kesadaran Greenomics muncul setelah mereka sadar 
>bahwa lingkungannya rusak ambyar akibat ulahnya itu.
>Dengan ulah mereka itu jugalah akhirnya negeri-negeri ini memiliki posisi 
>"pengontrol dunia" baik mengontrol ekonomi, politik bahkan cara berpikir yang 
>lebih maju.
>
>Nagara-negara yang memiliki hutan rata-rata adalah negara yang berkembang yang 
>"belum sempat:" mengoptimumkan memanfaatkan hutannya namun sudah dihantam 
>dengan cara berpikir greenomics.
>
>Benar, Greenomics akan menciptakan lapangan kerja cukup banyak, ya itu untuk 
>negeri maju yang saat ini daya dukung lahannya sudah kacau seperti di beberapa 
>tempat di US dan EU. 
>
>Apakah Greenomics akan menyelamatkan dan mengangkat negara-negara berkembang 
>menjadi setara dengan mereka ? Ataukah negara-negara berkembang tetap nasibnya 
>menjadi penyokong dunia termasuk menyokong habitat global termasuk 
>negara-negara maju ?
>
>Nah apa yang perlu kita sikapi dengan greenomics. Apakah negara-negara yang 
>masih "menyisakan hutan dunia" harus merawatnya atau kita ikut merayah 
>kekayaan hutan supaya ada "leverage" dan mendudukkan diri setara dengan mereka 
>?
>
>Up 2 u
>
>RDP
>
>2012/6/8 amien widodo <[email protected]>
>
>Bapak bapak dan ibu ibu pecinta atau tertarik dengan EKONOMI HIJAU
>>
>>
>>Transisi ke ekonomi hijau dapat menghasilkan hingga 60 juta pekerjaan 
>>
>>
>>Transformasi menuju ekonomi hijau bisa menghasilkan 15-60000000 pekerjaan 
>>tambahan secara global selama dua dekade berikutnya dan mengangkat puluhan 
>>juta pekerja keluar dari kemiskinan, menurut sebuah laporan baru yang 
>>dipimpin oleh * ILO / UNEP bersama Green Jobs Initiative. 
>>
>>
>>lenkapnya silahkan baca disini
>>http://www.environmental-expert.com/news/transition-to-green-economy-could-yield-up-to-60-million-jobs-297462 
>>
>>
>>
>>Silahkan menikmati 
>>Buku Laporan - Working towards sustainable development: Opportunities for 
>>decent work and social inclusion in a green economy 
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>Aw
>
>
>-- 
>"Sejarah itu tidak pernah usang untuk terus dipelajari"
>


-- 
"Sejarah itu tidak pernah usang untuk terus dipelajari"

Kirim email ke