Abah,
Yang paling tepat melaksanakn ini adalah Lembaga penelitian kita yang ada 
LEMIGAS dan BPPT atau LIPI. Idealnyanya sebagian hasil minyak dialokasikan 
untuk riset bukan untuk subsidi terus... Industri bisa memanfaatkan hasilnya.
Sebetulnya  mengadress cadangan tight reservoir oil&gas saja belum tuntas, 
apakah tidak sebaiknya difokuskan ke riset tight reservoir yang risk dan 
costnya lebih rendah..
Just a though.
RUS 1061

-----Original Message-----
From: "Yanto R. Sumantri" <[email protected]>
Date: Mon, 11 Jun 2012 00:06:33 
To: [email protected]<[email protected]>
Reply-To: <[email protected]>
Subject: Re: [iagi-net-l] Re: SHALE GAS

RDP

Kalau kita pesimis HANYA karena tidak mampu menciptakan ahli dan peralatan bor 
sendiri , maka akan habislah SDA kita dinikmati oleh orang lain !!!!
Jadi kuncinya tetap kita harus menghidupkAN KEMAMPUAN ENJINIRING KITA .

AYOOOOOOOOOOOOOOOO DONG .

ehm sedih .

si Abah


________________________________
 From: Ruskamto Soeripto <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected] 
Sent: Friday, June 8, 2012 6:27 PM
Subject: RE: [iagi-net-l] Re: SHALE GAS
 

 
Pak RDP,
Saya bukan ahli SEM, tapi nampaknya yang disebut Shale disini banyak
sekali v fine detritalnya baik dari calc/dol cangkang, seperti Green River FM 
(Cret)
juga dolomitic shale yang kaya organic dan umumnya adalah berumur Ordovician
atau Missipian.  Dari SEM tsb, tidak heran kalau bisa di fract dan di-isi
propan dan bisa mengalirkan gas ya.  Tantangannya, apakah tertiary source
rocks tanah air yang “Pure” shale bisa difract dan mampu
mengalirkan gas at commercial rate terhadap ongkos bgebor yang disononya saja $
10 MM, kalau di Indonesia bisa-bisa mencapai $20 MM/well.
Terimakasih update tentang shale gas, dari sono, nunggu update
yang dari sini.
Ruskamto-1061
 
 
From:Rovicky Dwi
Putrohari [mailto:[email protected]] 
Sent: 08 Juni 2012 10:43
To: IAGI; [email protected]
Subject: [iagi-net-l] Re: SHALE GAS
 
Maaf tadi gambar ketinggalan
2012/6/8 Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>
just a teaser 

Menurut SEM dan analisa petrografi (Gale et al, 2007; Curtis et al, 2010;
Passey et al, 2010; Quirein et al, 2010; Sondergeld et al, 2010), serpih /
shale memiliki tiga sistem pori yang berbeda gas-wet organik porosity, a
primarily water-wet inorganic porosity, dan natural fractures (retakan). 

Shale akhirnya menjadi reservoir gas unik karena : 
        1. Pertama, shale ini akan bertindak baik sebagai batuan induk dan 
batuan reservoir. Ini berbeda dari reservoir gas konvensional, dimana gas 
terperangkap setelah bermigrasi dari sumber. 
        2. Kedua, gas serpih memiliki sifat penyimpanan gas unik. Gas disimpan 
dalam volume pori matriks, seperti reservoir konvensional, dan selain dalam 
matrik juga gas teradsorpsi pada luas permukaan pori-pori, mirip dengan 
reservoir CBM. Kapasitas adsorpsi gas dalam shale/serpih ini dapat dimodelkan, 
mirip dengan gas metan batubara (CBM). 
Itulah sebabnya shale gas ini mungkin lebih
lebih menarik dalam satu sisi dibandingkan CBM. 

Biaya untuk melakukan pengeboran produksi shale gas ini bisa mencapai antara
7-10 juta US$ persumur. Karena sumur ini semestinya berupa sumur
horizontal.  Unsur terpenting mendapatkan keberhasilan
eksplorasi shale gas adalah kemampuan untuk secara efektif membuat retakan
pada batuan ini, Retakan ini akan mengeluarkan gas yg terjebak pada
retakan naturalnya. Dengan turunnya pressure akibat diproduksikan gas dalam
retakan ini menyebabkan gas yang terikat pada water wet dan gas-wet akhirnya
juga akan terambil.

salam week end

RDP
-- 
"Sejarah itu tidak pernah usang untuk terus
dipelajari"



-- 
"Sejarah itu tidak pernah usang untuk terus dipelajari"

Kirim email ke