Nah, pak Natan sudah sambut gayung "agar bisa terbuka tabir kebenaran",... seperti kata2 bijak Cak Amien,.. jangan "membelokkan ke sisi (mistis)". Mari kita kembali ke data2 teknis dan bedah secara menyeluruh data2 pemboran dan data2 geologi,.. silahkan dimainkan pak. Yang penting jangan interpretasi sepotong2 dan ambil data atau fakta yang sepengal dan hanya "memilih" data yang mendukung teori kesalahan pemboran tanpa meintegrasikan seluruh data2 teknis yang ada,.. silahkan pak.
Salam, Bambang From: Nataniel Mangiwa [mailto:[email protected]] Sent: Thursday, June 14, 2012 7:59 AM To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net-l] Sebuah Dilema Kegiatan Migas iagi sudah dikomandani orang yang pro pemboran. wamen esdm juga pro pemboran. tinggal dilihat saja akan ada kah secercah harapan agar bisa terbuka tabir kebenaran. On Jun 14, 2012 7:31 AM, "amien widodo" <[email protected]<mailto:[email protected]>> wrote: Sejarah buruk ahli geologist Ini hasil para geolog yang expert "menafsirkan" bawah permukaan yang selalu beda satu sama lain. Perbedaan penafsiran ini akan tercatat dalam sejarah sebagai sejarah buruk ahli geologi, sampai sampai ada yang berusaha membelokkan ke sisi (mistis) yang lain (Timun Emas) dengan harapan akan terpengaruh oleh itu dan memeprcayai bahwa lumpur bagian dari hidup mereka. Masyarakat internasional tidak sama dengan kita dan bahkan masyarakat tidak percaya geolog, tidak butuh geolog, rakyat tidak butuh timun emas, rakyat tidak butuh cerita kontoversi penyebab keluarnya lumpur. YANG MEREKA PERCAYA LUMPUR ITU KELUAR AKIBAT PENGEBORAN MIGAS. Penghentian kegiatan eksplorasi migas merupakan kerugian yang tidak sediikit dan semua itu akan diklaimkan ke pemerintah dan yang jelas akan menurunkan invetasi migas di Indonesia yang lagi butuh ini Inikah yang ingin kita kehendaki? Wahai para geosain ________________________________ From: Ariadi Subandrio <[email protected]<mailto:[email protected]>> To: "[email protected]<mailto:[email protected]>" <[email protected]<mailto:[email protected]>> Sent: Tuesday, June 12, 2012 2:05 AM Subject: Re: [iagi-net-l] Sebuah Dilema Kegiatan Migas Identifikasi saya atas istilah "...semua pihak." : 1. Pemerintah Pusat (ESDM) 2. BPMigas 3. ESDM Provinsi 4. Pelaku Migas (KKKS) 5. Rakyat Indonesia 6. Rakyat setempat. Identifikasi saya atas istilah "KEARIFAN", - tengok fakta bagi hasil migas untuk daerah - tengok fakta antara besaran monetisasi sumberdaya alam yang keluar dari perut bumi setempat thd ekonomic drive kawasan setempat. MAKA mari kita saling berkaca, mari kita saling mengaca. salam, ariadi subandrio- ________________________________ From: amien widodo <[email protected]<mailto:[email protected]>> To: Itsnet ITS <[email protected]<mailto:[email protected]>> Cc: "[email protected]<mailto:[email protected]>" <[email protected]<mailto:[email protected]>> Sent: Tuesday, June 12, 2012 7:20 AM Subject: [iagi-net-l] Sebuah Dilema Kegiatan Migas Sebuah Dilema Sementara produksi migas semakin menurun dan sangat dibutuhkan lapangan migas baru untuk mendukung pembangunan Indonesia , sementara masyarakat Jawa Timur sangat resisten terhadap kegiatan migas (berita Jawa pos pagi ini). Masyarakat Jawa Timur takut karena apa yang mereka lihat pada semburan lumpur di Sidoarjo yang telah menimbulkan ancaman-ancaman baru yang membahayakan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya, dan penanganan semburan lumpur yang berlarut-larut malah menimbulkan dampak lain yang lebih luas serta takut karean setiap semburan lumpur akan "dibencana alamkan". Padahal apa yang dipikiran masyarakat "kalau tidak ada kegiatan eksplorasi migas maka tidak akan keluar semburan lumpur'. Korban akaibat ketakutan ini antara lain: 1. Pada tahun 2011 Exxon survey Seismik di Jombang dihentikan 2. Akhir Mei 2012 kegiatan eksplorasi migas PT Energi Mineral Langgeng (EML) yang sudah melakukan pengeboran di kedalaman 5.602 feet dihenntikan warga Desa Tanjung, Sumenep, Madura, Jawa Timur. Cekungan Jawa Timur Utara merupakan cekungan migas yang potensial di Indonesia, agar semua bisa berjalan lancar maka dibutuhkan kearifan semua pihak untuk mengatasi ini, demi masa depan bangsa. Peran perguruan tinggi dan asosiasi profesi sangat dibutuhkan untuk mencerahkan semua pihak. AW

